Selasa, 11 April 2017
Pukul 20.00-21.00
🌹Narasumber : Ai Santiani
🌹Host : Ardaniya Rizka
🌹Co Host : Wiwit Simponi
🌹Notulen : Tantia
FAMILY PROJECT DAN KECERDASAN ANAK
Setelah kita memahami secara detil tentang apa itu Family Project dan sudah menjalankannya dengan tantangan 10 hari, maka kali ini kita akan kembali membahas bagaimana family project ini bisa menjadi sarana kita untuk melihat sisi-sisi kecerdasan anak yang harus kita amati.
Family Project dan Kecerdasan Intellectual
Family Project adalah sarana anak-anak belajar sesuatu, belajar hal baru melalui berbagai tema-tema yang kita kemas dalam berbagai project. Di dalam ilmu pembelajaran kita bisa mempelajarinya lebih lanjut tentang Project Based Learning.
Selama menjalankan Family project ini kita bisa melihat apakah :
a. Apakah rasa Ingin tahu anak-anak terhadap sesuatu menjadi semakin tinggi?
b. Apakah Kreativitas dan Daya Imajinasinya menjadi semakin besar?
c. Apakah muncul gairah belajar dan inovasi baru yang anak-anak dapatkan selama menjalankan family project?
d. Bagaimana anak-anak menyikapi pengetahuan baru, pengalaman baru yang mereka dapatkan selama menjalankan Family Project?
e. Apakah anak-anak menemukan gairah untuk selalu berkarya dan menemukan hal baru demi kehidupan mereka yang lebih baik?
Family Project dan Kecerdasan Emosional
a. Apakah selama menjalankan Family Project muncul kesadaran diri secara penuh dari anak-anak?
b. Apakah anak-anak makin mengenal emosi yang muncul ( senang, bahagia, sedih) selama menjalankan Family Project?
c. Apakah emosi anak stabil/meledak-ledak ketika menghadapi tantangan selama Family Project berjalan?
d.Apakah anak bisa mengerti perasaan dan kebutuhan orang lain, sehingga orang lainpun merasa senang dan dimengerti perasaannya?
e. Apakah anak sanggup mengelola emosi yang dia dapatkan dari orang lain, sehingga tercipta ketrampilan sosial yang tinggi?
Family Project dan Kecerdasan Spiritual
Family project sebagaimana kita tahu adalah pemberian makna yang mendalam terhadap aktivitas sehari-hari yang kita lakukan di rumah. Sehingga aktivitas keluarga sehari-hari + management dan organisasi = Family Project = Aktivitas keluarga yang penuh makna.
Kecerdasan Spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna ( value), kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
Dengan menjalankan Family Project kita akan bisa melihat hal-hal sebagai berikut:
a. Apakah anak-anak bisa makin mengenal ciptaan Allah dan makin menyayangi antara sesama makhluk ciptaan Allah selama menjalankan Family Project ini?
b. Apakah anak-anak makin melihat dirinya dan keluarganya sebagai sesuatu yang unik yang diciptakan Allah berbeda dengan yang lain, selama menjalankan Family Project ini?
c. Apakah rasa syukur anak-anak makin meningkat selama menjalankan Family Project?
d. Apakah anak-anak makin ridho dan konsisten dengan segala perintah dan laranganNya selama menjalankan Family Project?
e. Apakah anak-anak mendapatkan berbagai akhlak mulia yang bisa dia dapatkan untuk dipraktekkan selama menjalankan Family project?
f. Apakah anak-anak semakin tunduk dan taat terhadap kehendak penciptaNya, selama menjalankan Family Project?
g. Apakah anak-anak semakin bergairah untuk menebar benih manfaat di muka bumi ini, dan sadar perannya sebagai Khalifah di muka bumi ini, selama menjalankan Family project?
Family Project dan Kecerdasan Menghadapi Tantangan ( AI)
Selama menjalankan Family Project pasti kita dan anak-anak menghadapi berbagai macam tantangan dan cobaan. Dari sinilah kita paham seberapa kuat anak-anak kita menghadapi tantangan hidup.
a. Apakah selama menjalankan Family Project anak-anak mampu mengontrol dirinya ?
b. Bagaimana reaksi anak-anak ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan yang dia inginkan seama menjalankan Family project?
c. Apakah anak-anak sanggup membangun konsistensi dan komitmen terhadap kesepakatan yang sudah dia putuskan bersama selama menjalankan Family Project?
d. Apakah anak-anak menunjukkan inisiatif besar untuk aktivitas yang dia inginkan, dan sanggup menanggung semua resiko yang akan muncul selama menjalankan Family Project?
e. Bagaimana reaksi anak-anak setiap menjumpai “tantangan” selama family project berjalan, apakah mereka bisa mengubahnya menjadi sebuah peluang?
f. Apakah anak-anak tidak mudah putus asa?
g.Apakah anak-anak berani mengakui sebuah kesalahan dan mau belajar dari kesalahan yang dia buat selama menjalankan Family Project?
h.Apakah kemandirian anak mulai terlihat selama menjalankan Family project?
Dari berbagai kasus yang kita dapatkan selama menjalankan Family project ini sebenarnya selain untuk melihat kecerdasan anak-anak, kita juga bisa mengamati kecerdasan diri kita dan pasangan. Sehingga kita semakin paham bagaimana cara kita “memantaskan diri” agar semakin layak mendidik anak-anak hebat. Dan hal-hal apa saja yang harus kita tambahkan selama perjalanan di Universitas Kehidupan.
Salah satu contoh hal kecil ketika menjalankan tantangan 10 hari di Game –game kelas Bunda Sayang ini, kita mengalami kesulitan dalam mengatur waktu sehingga tidak sanggup menuliskan tantangan 10 hari tersebut secara berturut-turut, apakah kita langsung menyerah berhenti disini saja? Kalau iya kecerdasan menghadapi tantangan kita masuk kategori Quitters, Apakah kita cukup menuliskan poin-poin penting saja dan tidak usah menyempurnakannya, yang penting mengumpulkan tugas? Kalau iya, berarti ita tipe campers. Atau kita termasuk orang yang berusaha mengubah manajemen waktu kita, mencari strategi terbaik, membuat sistem penulisan, sehingga memudahkan kita untuk menuliskannya setiap hari? Kalau iya, selamat berarti kecerdasan anda memasuki tahap Climbers.
Silakan amati kecerdasan-kecerdasan yang lainnya yang ada pada diri kita selama mengerjakan Tantangan-tantangan 10 Hari di kelas Bunda Sayang ini.
Dan untuk bisa mendapatkan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik ke anak - anak dan keluarga kita, mulailah dari diri kita terlebih dahulu
for things to CHANGE, I must CHANGE first
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
📚Sumber Bacaan:
D.Paul Relly, “Success is Simple, Gramedia, Jakarta
Stoltz, Paul G, PhD, 1992, Adversity Intellegence, Mengubah Hambatan Menjadi peluang
Melva Tobing. Mpsi, Daya Tahan Anak menghadapi Kesulitan, Jakarta, 2013
Materi Tentang Kecerdasan anak dan Kebahagiaan Hidup, IIP, bunda sayang
https://www.youtube.com/watch?v=n9LNFH4TW7k
???SESI TANYA JAWAB???
Host:
Assalamu'alaikum wr.wb
Apa kabar bunda sayang? Insya Allah masih penuh semangat untuk menuntut ilmu.
Semoga semua yang ada di sini diberi kesehatan lahir dan batin.
Bagi yang sedang sakit, sama-sama kita doakan agar diangkat penyakitnya oleh Allah dan diberi kesembuhan.
Kali ini kita akan bersama Teh Ai, Mba Zy, dan Mba Wiwit untuk berdiskusi review game level #3 Bag.2.
Silakan Teh Ai dan Mba Wiwit.
Ohya, kita doakan semoga Mba Zy segera sehat kembali ya...
Apa kabar bunda sayang? Insya Allah masih penuh semangat untuk menuntut ilmu.
Semoga semua yang ada di sini diberi kesehatan lahir dan batin.
Bagi yang sedang sakit, sama-sama kita doakan agar diangkat penyakitnya oleh Allah dan diberi kesembuhan.
Kali ini kita akan bersama Teh Ai, Mba Zy, dan Mba Wiwit untuk berdiskusi review game level #3 Bag.2.
Silakan Teh Ai dan Mba Wiwit.
Ohya, kita doakan semoga Mba Zy segera sehat kembali ya...
Co-Host:
Ada kata pembuka dari Teh Ai
Teh Ai: Langsung saja mbak wiwit...
Teh Ai: Langsung saja mbak wiwit...
Co-Host:
Baik Teh..untuk pertanyaan pertama dr Bunda Tantia
1⃣ Bunda Tantia
Assalamualaikum wr wb, teh Ai dan Mba zy, Mau tanya😊
Bagaimana jika dalam setiap tahapan kecerdasan itu ada yang belum terpenuhi, misal dalam kecerdasan Emosional, anak masih meledak- ledak emosinya ketika bersama- sama menjalankan project, ketika hasil karyanya di ganggu oleh adiknya atau sebaliknya kakak menganggu, apa yang perlu kita lakukan& asah, agar emosi anak-anak stabil?
Begitu juga dengan kecerdasan yang lain apa yang perlu kita asah apabila, ada point2 yg dalam review belum tercapai? Jazakillah
Assalamualaikum wr wb, teh Ai dan Mba zy, Mau tanya😊
Bagaimana jika dalam setiap tahapan kecerdasan itu ada yang belum terpenuhi, misal dalam kecerdasan Emosional, anak masih meledak- ledak emosinya ketika bersama- sama menjalankan project, ketika hasil karyanya di ganggu oleh adiknya atau sebaliknya kakak menganggu, apa yang perlu kita lakukan& asah, agar emosi anak-anak stabil?
Begitu juga dengan kecerdasan yang lain apa yang perlu kita asah apabila, ada point2 yg dalam review belum tercapai? Jazakillah
Jawaban:
1⃣ Bunda Tantia
Wa'alaikumsalam wr wb..
Untuk melatih kecerdasan Emosional, perbanyaklah family project.. dan..
Untuk bisa mendapatkan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik ke anak-anak dan keluarga kita, mulailah dari diri kita terlebih dahulu.
For things to CHANGE, I must CHANGE first
Tambahan :
Jadilah teladan yang baik, pelajari lagi tg manajemen emosi.✅
Jadi nambah Peer ya bunda Tantia 😅
Wa'alaikumsalam wr wb..
Untuk melatih kecerdasan Emosional, perbanyaklah family project.. dan..
Untuk bisa mendapatkan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik ke anak-anak dan keluarga kita, mulailah dari diri kita terlebih dahulu.
For things to CHANGE, I must CHANGE first
Tambahan :
Jadilah teladan yang baik, pelajari lagi tg manajemen emosi.✅
Jadi nambah Peer ya bunda Tantia 😅
Teh Ai:
Silahkan kalau ada tanggapan langsung saja disini.
Bunda Nana:
Nah, itu teh Ai, supaya ga baperan dan suhu di keluarga relatif stabil itu...😅 apalagi jelang pms, ada ga Tips nya
Co-Host:
Wuaa bener itu pms berpengaruh terhadap emosi 😬
Host:
Kecapean juga bisa mempengaruhi emosi.. 😅
Bunda Nana:
Hihi, bener mba ika. Udah pms terus kelelahan 😂
Teh Ai:
Gunakan afirmasi positif pada tubuh kita, misal menjelang PMS. Katakan pada tubuh kita, tidak ada kata PMS dalam kamusku. Emosiku tetap stabil dan aku bisa...
Silahkan atur sendiri kata2 positifnya.
Bunda nana:
Wah begitu ya, teh. Noted, insyaallah diterapkan
Co-Host:
Sejenis Hypnoteraphy ya Teh Ai..insyaAllah mau coba ah
Teh Ai:
Komunikasi terhadap dirisendiri di pagi hari dengan doa juga insyaAllah berpengaruh.
Co- Host:
Iya teh 👍🏼
Bunda Nana:
Bener banget, kalau subuh kesiangan 😭😭😭, ini dampaknya panjang banget ke saya pribadi. Makasih banyak reminder nya yaa.. Dari saya cukup teh Ai
Co- Host:
Ada tanggapan lainnya kah Bunda atau kita next ke pertanyaan selanjutnya?
Teh Ai:
Ikut mengingatkan diri sendiri juga, "Jika ingin memperbaiki hubungan dengan manusia, perbaikilah hubungan kita dengan Allah"
Sampaikan proposal keinginan kita di sepertiga malam terakhir (bila perlu, semacam presentasi, dengan gambar dsb.)
Bersahabat dengan Al-Quran, bisa memeperbaiki time manajemen kita.
InsyaAllah...
Co- Host:
Masyaa Allah 😍
Well noted Teh Ai..terima ksih pengingatnya 😭
Langsung refleksi ke diri sendiri
Teh Ai:
Langsung pertanyaan selanjutnya...
Co- Host:
Baik teh Ai
2⃣ Bunda Mila
1.Saya merasa dlm mengerjakan family project ini saya yg lebih dominan dari mulai merencanakan sampai pelaksanaan. Suami jarang terlibat krn sepertinya belum tertarik,dan anak2 pun kadang2 semangat mengerjakan,kadang2 tidak.Tapi kalau saya tanya anak2 mau mengerjakan apa,juga gak tau.Bagaimana saya bisa mengusulkan ide project yang bisa menarik minat anak2 dan suami?
2.Dalam pelaksanaan project, kenapa sulit bagi saya mempraktekkan secara konsisten untuk berkomunikasi efektif dengan anak2 dan suami?
Jawaban:
2⃣ Bunda Mila
1. Kalau bunda lebih dominan, mungkin bunda bisa jadi Pimpronya, tapi tetap diskusikan dengan keluarga, proyek apa yang akan dibuat.
Amati kegiatan yang disukai anak-anak selama ini bun.. jadikan family project..
Contohnya:
bisa dimulai dari yang kecil-kecil dulu.. jika anak-anak suka bermain mainan yang ada dirumah misalnya, siapa yang bertanggungjawab merapihkan mainannya sesuai tempatnya. Kapan harus mensortir mainan yang sudah jarang dimainkan atau sudah rusak,
yang masih bagus bisa disumbangkan, yang sudah rusak bisa dibuang..
Berapa kali dalam sebulan melakukan itu? Catat tanggalnya bun.. dan berikan apresiasi pada anak..
Kalo si ayah bisa menjadi pengawas atau bagian pencairan dana, kapan boleh beli mainan dan harganya berapa, minimal ikut terlibat😊
2. Berarti tantangannya ada di komunikasi efektif bun..
Bisa dibaca kembali di materi Komunikasi Produktif.. 😊
Perbanyak mengobrol sambil ngeteh, sambil main, sambil santai..
Teh Ai:
Ini jawaban dari mbak Zy, lengkap sekali ya...😍
Co- Host:
Masya Allah
Kereen contohnya dan aplikatif 👍🏼
Teh Ai:
Waktunya berjalan cepat, langsung pertanyaan berikutnya mbak wit,
Tanggapan sambil berjalan...
Co- Host: Baik kalau begitu..langsung saja
3) Bunda Ardiani Putri
Bagaimana caranya untuk mengubah diri saya sendiri dari tipe quiters, menjadi campers lalu menjadi climbers.
Jawaban:
3⃣ Bunda Ardiani Putri
Coba cek lagi kondisi kecerdasan Daya juang anda dengan menjawab lembaran tes tersebut.
Menurut Jean Piaget tentang menumbuhkan daya juang seseorang bisa dilakukan dengan cara :
-meningkatkan kepekaan terhadap orang lain.
-lebih mampu memahami tentang arti pentingnya Menghargai dan Menghormati.
-memiliki kesiapan ketika suatu saat nanti berada pada kondisi yang tidak nyaman.
-belajar tentang sudut pandang orang lain. Tidak hanya menggunakan sudut pandangnya sendiri.
-mampu menunda keinginan.
-tidak merasa diri "paling" dalam segala hal. Misal: merasa paling pintar, paling hebat, paling bisa, paling memiliki dsb. Sehingga terhindar dari sikap superioritas atau senioritas.
-merasakan fitrah kehidupan yang sesungguhnya.
-termotivasi untuk menjadi contoh yang baik.
-memiliki kecenderungan besar untuk memiliki sikap rendah hati dan terjauh dari sikap sombong.
-terhindar dari keterlenaan.
sumber bacaan:
Adversity Quotient, Miarti Yoga ✅
Co- Host:
Noted Teh Ai 👍🏼
Teh Ai:
Ok, klo blm ada tanggapan, bisa dilanjutkan...
Co Host:
Baik pertanyaan selanjutnya
4⃣ Bunda Laela
Jika dalam family project yang kami lakukan kemarin, anak anak menjadi semakin antusias untuk melaksanakan project project selanjutnya, tapi mereka banyak memilih project mandiri atau berdua bersama saudaranya tanpa ingi melibatkan orang tua, setelah ditanya alasan mereka menjawab ingin menunjukkan kemandirian mereka, apakah hal ini sebaiknya di dorong atau lebih baik tetap mangajaknya melakukan project keluarga.
Dimana disini ada sisi positif kemandirian meningkat tapi kerja sama dengan orang tua seakan menurun
Jawaban:
4⃣ Bunda Laela
Alhamdulillah, patut di apresias antusiasme anak2 dalam mengerjakan projectnya.
Tidak apa bun jika anak senang melakukan family project bersama saudaranya. Terkadang anak memang tidak mau dicampuri urusannya, 😁
Mungkin bunda bisa jadi pengawasnya saja.
Atau bisa juga si kakak sebagai pimpronya, adik sebagai sekretarisnya, bunda dan ayah sebagai pesertanya.. 😊
InsyaAllah jika projectnya semakin meningkat, kita bisa ikut terlibat, menawarkan bantuan.
Lakukan family forum untuk melakukan mastermind dan apresiasi, bersama keluarga. Sehingga secara tidak langsung semua ikut terlibat dalam projectnya.✅
Bunda Laela:
Noted, berarti pengawasan termasuk dlm project ya
Teh Ai:
12 menit lagi, silahkan mau menanggapai.
Co- Host: Silahkan bunda2 waktunya 8 menit lg 🤗
Teh Ai:
Sebelum lupa...
Ada tambahan untuk pembahasan keterlibatan para suami (ayah) dalam fampro ini, untuk jangan mengeluh, hal ini akan menyedot energi besar kita ke anak-anak
Selama suami tidak mengganggu aktivitas kita bersama anak-anak saja itu SUDAH BAIK.
Tetapi apabila suami mau terlibat itu BAIK BANGET.
Jadi pilihannya hanya BAIK dan BAIK BANGET
Berbagilah kebahagiaan terus ke suami, jangan berbagi beban, pasti beliau akan "iri" dg kebahagiaan anak dan istrinya, kalau sampai nggak pengin gabung, kebangeten hehehehe.
Co- Host:
Beneer bangeet Teh..suka sama kata2nyaa..
Berbagi kebahagiaan bukan berbagi beban 👍🏼👍🏼
Baik dan Baik bangeet pilihannya 😄
Bunda Laela:
Setuju teh Ai
Bunda Nana:
Pernah suatu hari, saya pikir paksu juga ngga begitu ngeh walau udah berbuih cerita pe er kelas bunsay, ternyata malah paksu yang ngasih ide proyek.. Bener banget reminder teh Ai, meski kayanya cuek, para ayah itu perhatian dengan caranya sendiri ya...
Bunda Putri:
Noted
Bunda Ika:
Sama ini, Mba. Malah disemangati sama si abi untuk terus ditulis tantangan 10 harinya☺
Teh Ai:
Bener banget mbak, kunci keberhasilannya kan komunikasi dan konsistensi seperti pada review bagian pertama.
Host:
Teh Ai, ada penutup kah? Sudah pukul 21.00
Teh Ai: Ok, mbak ika... Silahkan ditutup saja mbak Ika... Dari saya sdh cukup Saya pamit ya...
Wassalam....
Host:
Tak terasa sudah pukul 21.10 WIB. Sudah saatnya memberikan hak tubuh beristirahat. Kami yang bertugas undur diri. Mohon maaf jika banyak kekurangan.
Terima kasih Teh Ai dan Mba Zy atas pencerahannya.
Selamat beristirahat dan memeluk para buah hati sebelum tidur..
Wassalamu'alaikum wr.wb
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Label
*KuliahBunSayIIP*
Label:
*KuliahBunSayIIP*
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya



Komentar
Posting Komentar