Oleh: ustadzah Amalia Bahar (usz. Yuyu)
0⃣7⃣ KEMBALI KE HIJAZ
Setelah menunaikan tugasnya untuk mengantarkan Hajar dan Ismail as ke lembah tandus “Hijaz”, maka Ibrahim as. kembali ke Hebron.
Dalam surah Hud juga pada surah Adz Dzariat, Al Qur’an menyebutkan tentang kedatangan beberapa Malaikat menemui Ibrahim as.
Malaikat tersebut datang di kediaman Nabi Ibrahim. Ketika para malaikat menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya, maka Nabi Ibrahim as. menjawab ucapan salam mereka dan segera menyambut mereka dengan sambutan layaknya kepada tamu. Allah Ta’ala telah memberinya rezki yang berlimpah, kemuliaan yang agung serta rumahnya menjadi tempat singgah bagi para tamu.
Nabi Ibrahim as. segera mendatangi keluarganya secara sembunyi-sembunyi, tanpa diketahui para tamunya dan membawa anak sapi yang gemuk, lalu membakar dagingnya dan menghidangkannya ke hadapan mereka, seraya berkata, “Silahkan kamu makan.” (Adz-Dzariyat: 27).
Allah SWT berfirman, “Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka.”
Kemudian Malaikat mengatakan janganlah kalian takut, lalu mereka memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim as. dengan kelahiran seorang putera yang alim (Ishaq).
Mendapat kabar tersebut, Sarah menjerit serta menepuk wajahnya dengan penuh keheranan, sehingga bercampur antara perasaan bahagia, bingung serta ragu-ragu, seraya berkata, "Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib. (Hud 82)
Allah memberikan kebahagiaan kepada keduanya dengan kelahiran Nabi Ishaq.
Berkenaan dengan kebahagiaan itu, maka Nabi Ibrahim as. memuji Allah atas kesempurnaan ni’mat-Nya, seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a.” (Ibrahim: 39)
Beberapa bulan berlalu sejak kunjungan para malaikat sebelumnya, Sarah yang ketika itu sudah berusia 90 tahun mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Ketika kandungannya telah cukup bulan, ia pun melahirkan seorang putra yang diberi nama Ishaq. Lalu di hari ke-8 Ibrahim mengkhitan putranya itu.
Al Khatib Al Bhagdadi menambahkan bahwa orang-orang Kan’an nyaris tidak percaya bahwa Ishaq adalah putra Ibrahim as. dan Sarah. Bagi mereka, Ibrahim as. dan Sarah sudah terlalu tua untuk memiliki anak. Maka untuk menghapus keraguan itu. Allah menjadikan Ishaq as. mirip dengan Ibrahim as.
⏳ Beberapa waktu setelah Ishaq as. lahir Ibrahim teringat dengan Ismail as. dan Ibunya. Lalu bagaimana kelanjutannya.. nantikan modul selanjutnya🤗🤗🤗
Kamis, 29 Desember 2016
Setelah menunaikan tugasnya untuk mengantarkan Hajar dan Ismail as ke lembah tandus “Hijaz”, maka Ibrahim as. kembali ke Hebron.
Dalam surah Hud juga pada surah Adz Dzariat, Al Qur’an menyebutkan tentang kedatangan beberapa Malaikat menemui Ibrahim as.
Malaikat tersebut datang di kediaman Nabi Ibrahim. Ketika para malaikat menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya, maka Nabi Ibrahim as. menjawab ucapan salam mereka dan segera menyambut mereka dengan sambutan layaknya kepada tamu. Allah Ta’ala telah memberinya rezki yang berlimpah, kemuliaan yang agung serta rumahnya menjadi tempat singgah bagi para tamu.
Nabi Ibrahim as. segera mendatangi keluarganya secara sembunyi-sembunyi, tanpa diketahui para tamunya dan membawa anak sapi yang gemuk, lalu membakar dagingnya dan menghidangkannya ke hadapan mereka, seraya berkata, “Silahkan kamu makan.” (Adz-Dzariyat: 27).
Allah SWT berfirman, “Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka.”
Kemudian Malaikat mengatakan janganlah kalian takut, lalu mereka memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim as. dengan kelahiran seorang putera yang alim (Ishaq).
Mendapat kabar tersebut, Sarah menjerit serta menepuk wajahnya dengan penuh keheranan, sehingga bercampur antara perasaan bahagia, bingung serta ragu-ragu, seraya berkata, "Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib. (Hud 82)
Allah memberikan kebahagiaan kepada keduanya dengan kelahiran Nabi Ishaq.
Berkenaan dengan kebahagiaan itu, maka Nabi Ibrahim as. memuji Allah atas kesempurnaan ni’mat-Nya, seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a.” (Ibrahim: 39)
Beberapa bulan berlalu sejak kunjungan para malaikat sebelumnya, Sarah yang ketika itu sudah berusia 90 tahun mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Ketika kandungannya telah cukup bulan, ia pun melahirkan seorang putra yang diberi nama Ishaq. Lalu di hari ke-8 Ibrahim mengkhitan putranya itu.
Al Khatib Al Bhagdadi menambahkan bahwa orang-orang Kan’an nyaris tidak percaya bahwa Ishaq adalah putra Ibrahim as. dan Sarah. Bagi mereka, Ibrahim as. dan Sarah sudah terlalu tua untuk memiliki anak. Maka untuk menghapus keraguan itu. Allah menjadikan Ishaq as. mirip dengan Ibrahim as.
⏳ Beberapa waktu setelah Ishaq as. lahir Ibrahim teringat dengan Ismail as. dan Ibunya. Lalu bagaimana kelanjutannya.. nantikan modul selanjutnya🤗🤗🤗
Komentar
Posting Komentar