🌼🌼 MODUL #03 🌼🌼
oleh: Ustadzah Amalia Husna Bahar(
usz. Yuyu)
Kamis, 02 Maret 2017
🕋 PENGELOLAAN KA’BAH (3)
Iyad meninggalkan Mekah setelah mengalami kekalahan dari saudaranya Mudhar. Tapi sebelum meninggalkan Mekkah Iyad dan pengawalnya berthawaf di Ka’bah dan pergi menuju Hajar Aswad, dan kemudian mengambilnya dan membawanya ke tempat sepi.
Namun ia tidak menyangka bahwa ada mata yang mengawasi semua perbuatannya itu. Ketika ia berusaha menyembunyikan batu Hitam itu, seseorang mengawasinya di kegelapan. Ia adalah seorang wanita dari suku Khuza’ah, yang kebetulan datang untuk berthawaf di Ka’bah. Ia mengikuti Iyad membawa pergi danmenyembunyikan Hajar Aswad. Wanita itu kembali kepada kaumnya dan menceritakan apa yang ia saksikan.
Orang-orang Khuza’ah yang telah menantikan saat yang tepat untuk mengambil alih kekuasaan di Mekkah, merasa sangat senang mendengar kabar itu dan menganggap kejadian itu sebagai kesempatan emas untuk merebut kepemimpinan atas Mekkah dan Ka’bah.
Keesokan harinya orang-orang mendapati Hajar Aswad telah lenyap dari tempatnya. Mudhar sangat sedih karena ia tahu bahwa saudaranya telah melarikan diri dan membawa serta batu hitam itu. Tidak lama kemudian suku Khuza’ah mendatanginya dan berkata “Wahai pemimpin keturunan Isma’il, bagaimana seandainya kami memberitahumu keberadaan batu hitam itu?”. Sebelum Mudhar menjawab, kepala suku Khuza’ah itu melanjutkan. “Aku akan memberitahumu dengan syarat keturunan Ismail harus menyerahkan kepengurusan Rumah Tuhan kepada suku Khuza’ah.”
Mudhar tidak dapat melakukan apa-apa selain menyetujui tuntutan kepala suku itu Ia merasa senang, karena dapat mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya semula, sekaligus merasa sedih atas perbuatan sudaranya yang telah memaksanya menyerahkan kepengurusan rumah Tuhan kepada suku Khuza’ah. Dengan pengawasan yang ketat terhadap Makkah dan Ka’bah, orang Khuza’ah memulai babak baru yang tidak berbeda dengan kepemimpinan Bani Jurhum. Mereka melakukan berbagai pelanggaran dan kejahatan, salah satu bentuk pelanggaran paling jahat dilakukan suku Khuza’ah adalah yang di lakukan oleh Amru bin Luhay.
Ia membawa berhala bernama Hubal dan menempatkannya di dalam Ka’bah, kemudian ia menyuruh kaumnya untuk mengelilinginya dan memberinya persembahan. Perbuatan ini menandai era baru penyembahan berhala. Sebagai seorang pengelana dan pedagang, Amru bin Luhay biasa berthawaf di Ka’bah dan kemudian membawa beberapa potong batu Ka’bah setiap kali berpergian sebagai sebentuk pengingat akan rumah Tuhan. Di perjalanan, ia akan mengitari batu-batu itu.
Pada salah satu perjalanannya ke Syria, ia melihat penduduk negeri itu menyembah berhala dalam beragam bentuk, seperti Isytar, Ba’l, Hadad, dan lain-lain. Amru menyukai adat kebiasaan mereka itu tanpa menyadari bahwa tindakan seperti itu merupkan bentuk kekufuran terhadap Allah dan agama Ibrahim.
Saat pulang dari Syria, ia membawa berhala Hubal, yang terbuat dari batu akik dan menempatkannya di dalam Ka’bah. Secara rutin ia mempersembahkan sesajian dan kemudian mengitarinya. Tindakan serupa pernah terjadi pada masa kekuasaan Jurhum, dan meskipun orang orang memprotesnya, ia bersikeras menyembah Hubal. Orang-orang mulai membencinnya, namun ketika ia berkuasa di Mekkah, ia memaksa semua orang untuk menyembah berhala, bentuk penyembahan yang sesat.
👺👺👺 Setan ternyata tidak pernah istirahat, terus menerus menggoda umat manusia, Bumi Hijaz yang dahulu bersih dari penyembahan berhala akhirnya ternodai. Kepemimpinan Amru bin Luhay menjadi sejarah buruk, ia menjadi kaki tangan setan laknatullah. Betapa berat Amru bin Luhay harus mempertanggungjawaban kepemimpinannya di hari penghisaban kelak.👎👎👎
Komentar
Posting Komentar