Senin, 12 Desember 2016
Hanya ada 2 Nabi yang disebutkan secara eksplisit kepada manusia untuk menjadikannya uswah, yaitu kepada Nabi Ibrahim as, dan kepada Nabi Muhammad Saw.
Surah Al Mumtahanah ayat 4
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُا۟ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ
Artinya : Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali
Dan Surah Al Qashas ayat 21
Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
❓Bagaimana kehidupan Ibrahim yang akhirnya dapat di sambungkan kisahnya kepada Muhammad Saw, diuraikan berdasarkan peta perjalanan Beliau
1⃣ Di UR
🔺KELAHIRAN
Nabi Ibrahim dilahirkan di kota Ur, pada sekitar tahun 1978 M (Terjadi polemik saat ini, antara letak kota Ur di Irak atau letak kota Ur di Turki.)
Ayahnya bernama Asar (Tarih) dan Ibunya bernama Ahilah, ketika ia masih berada di dalam kandungan, menurut riwayat, Namrud bermimpi melihat seorang anak melompat dan masuk ke kamarnya, kemudian merampas mahkota yang dipakainya, lalu menghancurkannya.
Setelah mendengar berita ini Namrud menjadi gelisah. dia sadar bahwa anak ini akan membawa pada kejatuhannya. Dengan segera Raja Namrud mengumumkan bahwa siapa yang melahirkan anak akan dibunuh bersama anaknya.
Masa persalinan tiba, Ahilah melahirkan Ibrahim as. dengan selamat. Menyadari bayinya laki-laki , ia segera menyembunyikan bayi. Selanjutnya Ahilah menuju ke tempat suaminya berada dan mengabari bayi telah lahir, laki-laki.
Bersama istrinya segera menuju ke tempat di mana bayi disembunyikan. Mereka menemukan sang bayi masih hidup ddan tumbuh dengan sehat. Maka, Ibrahim as merekapun merawat dan Ahilah menyusukannya hingga masa penyapihan.
Jika telat menyusui atau ketika air susunya mengering. Ahilah seringkali menemukan Ibrahim as. mengisap ibu jarinya sendiri. Dari ibu jarinya itu, air susu dan madu memancar.
🔺KENABIAN
Kegelisahan Ibrahim as terhadap kesesatan agama masyarakatnya telah tumbuh sejak masa kanak-kanak. Al Khathib Al Baghdadi, misalnya, menyampaikan apa yang diriwayatkan oleh Al Kalabi bahwa suatu hari, terjadi dialog antara Ibrahim as. Kecil dengan Ibunya.
“Siapakah Tuhan pemeliharaku?” tanya Ibrahim as.
“Aku!”, jawab sang ibu.
“Lalu, siapa Tuhan pemeliharamu?”. Tanya Ibrahim as
“Ayahmu,” jawab sang ibu.
“Lalu, siapa Tuhan pemelihara ayahku?”. Tanya Ibrahim as
“Raja Namrud!”. Jawab sang ibu
“Lalu, siapa Tuhan pemelihara Namrud?”. Tanya Ibrahim as
“Diamlah engkau!”, bentak sang ibu. “Raja Namrud adalah tuhan pemelihara paling agung. Tidak ada lagi Tuhan di atasnya.”
“Apakah wajahku lebih elok dari wajahmu, bu?” tanya Ibrahim lagi.
“Tentu saja engkau lebih elok,” jawab sang ibu.
“Lalu apakah wajahmu lebih elok dari wajah ayahku? Tanya Ibrahim as.
“Tentu saja aku lebih elok”, jawab sang ibu.
“Lalu apakah wajah ayahku lebih elok dari wajah Namrud? Tanya Ibrahim as.
“Tentu saja aku lebih elok”, jawab sang ibu.
Mendengar jawaban sang Ibu. Ibrahim as. berkata:”Wahai sang Ibu, jika Raja adalah yang menciptakan ayahku maka dia tidak akan menciptakannya lebih elok dari dirinya sendiri. Jika ayahku adalah yang menciptakanmu lebih elok dari dirinya sendiri. Demikian pula engkau tidak akan menciptakanku lebih elok dari dirimu sendiri.”
Ayahnya seorang pemahat patung, suatu ketika ia melihat ayahnya membuat patung tuhan berhala dari kayu. Wujudnya dibuat mirip dengan manusia. Namun bagian kedua kuping patung itu dibuat besar. Saat Ibrahim as. bertanya mengapa kuping patung itu besar, ayahnya menjawab bahwa kuping yang besar menandakan bahwa tuhan berhala itu memiliki pengetahuan yang dalam.
Saat beranjak dewasa, semakin sering Ibrahim as. melihat ayahnya mencari kayu atau melebur patung besi yabg sudah ada untuk dibuat patung lain. Sering sekali ia duduk di samping ayahnya, menyalakan tungku api.
Suatu hari Ibrahim diperintahkan ayahnya untuk menjual sejumlah patung dewa buatannya ke pasar, Ia menawarkan kepada orang-orang “siapakah yang mau membeli benda-benda yang tidak akan mencelakakan dan juga tidak berguna ini“, cara ini membuat orang enggan membeli barang dagangannya.
Di perjalanan, ia singgah di sebuah sungai, lalu menceburkan kepala patung-patung itu ke dalam air sambil berkata “Minumlah air ini!.”
Di malam hari, Ibrahim as. bangun dan menyaksikan bagaimana serangga-serangga malam masuk ke lubang kuping atau mata patung-patung itu. Mereka tidak berdaya sedikit pun untuk menghalau hewan-hewan itu. Muncul rasa heran bagaimana benda-benda yang tidak dapat melindungi diri-dirinya sendiri malah menjadi tumpuan terkabulnya harapan orang-orang.
Mereka, bahkan, rukuk dan sujud di hadapannya. Rasa heran pun muncul pada diri Ibrahim as. saat melihat bagaimana patung-patung yang tidak bernyawa dan tidak bergerak itu telah diyakini sebagai tuhan.
Surah Al An’am 75-79, telah menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim as. melalui masa-masa perenungan untuk mencari tahu tentang Tuhan.
“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.
Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata : “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata : “Aku tidak suka kepada yang tenggelam.”
Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”
Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas dari apa yang kamu persekutukan.”
Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah orang-orang yang musyrik.”
Pada usia 40 tahun Nabi Ibrahim diangkat menjadi Nabi, dan sejak itu amanah dakwah melekat pada diri Ibrahim as. Peristiwa besar yang dialami Ibrahim, menunjukkan kecerdasan dan keberaniannya adalah penghancuran patung di kuil yang menyebabkan Ibrahim mendapat hukuman dibakar hidup-hidup. Tetapi Allah berkehendak lain memerintahkan api untuk dingin kemudian selamatlah Ibrahim as.
Nabi Ibrahim as. menikah di Ur dengan seorang perempuan yang berparas cantik yaitu Sarah. Ditemani dengan Sarah dan Luth as. keponakannya, beliau berdakwah.
Setelah selamat dari hukuman pembakaran, Ibrahim as melakukan safari dakwah ke kota Haran bersama, Sarah, Asar, Nahur (saudaranya) dan istrinya Milkah, Luth as, dan sejumlah orang yang telah beriman kepadanya.
🍂Baca dengan seksama karena akan ada kisah seru berikutnya
2⃣ DI HARRAN...🔜...
Oleh : Ustadzah Amalia Bahar (Usz.
Yuyu)
Surah Al Mumtahanah ayat 4
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُا۟ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ
Artinya : Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali
Dan Surah Al Qashas ayat 21
Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
❓Bagaimana kehidupan Ibrahim yang akhirnya dapat di sambungkan kisahnya kepada Muhammad Saw, diuraikan berdasarkan peta perjalanan Beliau
1⃣ Di UR
🔺KELAHIRAN
Nabi Ibrahim dilahirkan di kota Ur, pada sekitar tahun 1978 M (Terjadi polemik saat ini, antara letak kota Ur di Irak atau letak kota Ur di Turki.)
Ayahnya bernama Asar (Tarih) dan Ibunya bernama Ahilah, ketika ia masih berada di dalam kandungan, menurut riwayat, Namrud bermimpi melihat seorang anak melompat dan masuk ke kamarnya, kemudian merampas mahkota yang dipakainya, lalu menghancurkannya.
Setelah mendengar berita ini Namrud menjadi gelisah. dia sadar bahwa anak ini akan membawa pada kejatuhannya. Dengan segera Raja Namrud mengumumkan bahwa siapa yang melahirkan anak akan dibunuh bersama anaknya.
Masa persalinan tiba, Ahilah melahirkan Ibrahim as. dengan selamat. Menyadari bayinya laki-laki , ia segera menyembunyikan bayi. Selanjutnya Ahilah menuju ke tempat suaminya berada dan mengabari bayi telah lahir, laki-laki.
Bersama istrinya segera menuju ke tempat di mana bayi disembunyikan. Mereka menemukan sang bayi masih hidup ddan tumbuh dengan sehat. Maka, Ibrahim as merekapun merawat dan Ahilah menyusukannya hingga masa penyapihan.
Jika telat menyusui atau ketika air susunya mengering. Ahilah seringkali menemukan Ibrahim as. mengisap ibu jarinya sendiri. Dari ibu jarinya itu, air susu dan madu memancar.
🔺KENABIAN
Kegelisahan Ibrahim as terhadap kesesatan agama masyarakatnya telah tumbuh sejak masa kanak-kanak. Al Khathib Al Baghdadi, misalnya, menyampaikan apa yang diriwayatkan oleh Al Kalabi bahwa suatu hari, terjadi dialog antara Ibrahim as. Kecil dengan Ibunya.
“Siapakah Tuhan pemeliharaku?” tanya Ibrahim as.
“Aku!”, jawab sang ibu.
“Lalu, siapa Tuhan pemeliharamu?”. Tanya Ibrahim as
“Ayahmu,” jawab sang ibu.
“Lalu, siapa Tuhan pemelihara ayahku?”. Tanya Ibrahim as
“Raja Namrud!”. Jawab sang ibu
“Lalu, siapa Tuhan pemelihara Namrud?”. Tanya Ibrahim as
“Diamlah engkau!”, bentak sang ibu. “Raja Namrud adalah tuhan pemelihara paling agung. Tidak ada lagi Tuhan di atasnya.”
“Apakah wajahku lebih elok dari wajahmu, bu?” tanya Ibrahim lagi.
“Tentu saja engkau lebih elok,” jawab sang ibu.
“Lalu apakah wajahmu lebih elok dari wajah ayahku? Tanya Ibrahim as.
“Tentu saja aku lebih elok”, jawab sang ibu.
“Lalu apakah wajah ayahku lebih elok dari wajah Namrud? Tanya Ibrahim as.
“Tentu saja aku lebih elok”, jawab sang ibu.
Mendengar jawaban sang Ibu. Ibrahim as. berkata:”Wahai sang Ibu, jika Raja adalah yang menciptakan ayahku maka dia tidak akan menciptakannya lebih elok dari dirinya sendiri. Jika ayahku adalah yang menciptakanmu lebih elok dari dirinya sendiri. Demikian pula engkau tidak akan menciptakanku lebih elok dari dirimu sendiri.”
Ayahnya seorang pemahat patung, suatu ketika ia melihat ayahnya membuat patung tuhan berhala dari kayu. Wujudnya dibuat mirip dengan manusia. Namun bagian kedua kuping patung itu dibuat besar. Saat Ibrahim as. bertanya mengapa kuping patung itu besar, ayahnya menjawab bahwa kuping yang besar menandakan bahwa tuhan berhala itu memiliki pengetahuan yang dalam.
Saat beranjak dewasa, semakin sering Ibrahim as. melihat ayahnya mencari kayu atau melebur patung besi yabg sudah ada untuk dibuat patung lain. Sering sekali ia duduk di samping ayahnya, menyalakan tungku api.
Suatu hari Ibrahim diperintahkan ayahnya untuk menjual sejumlah patung dewa buatannya ke pasar, Ia menawarkan kepada orang-orang “siapakah yang mau membeli benda-benda yang tidak akan mencelakakan dan juga tidak berguna ini“, cara ini membuat orang enggan membeli barang dagangannya.
Di perjalanan, ia singgah di sebuah sungai, lalu menceburkan kepala patung-patung itu ke dalam air sambil berkata “Minumlah air ini!.”
Di malam hari, Ibrahim as. bangun dan menyaksikan bagaimana serangga-serangga malam masuk ke lubang kuping atau mata patung-patung itu. Mereka tidak berdaya sedikit pun untuk menghalau hewan-hewan itu. Muncul rasa heran bagaimana benda-benda yang tidak dapat melindungi diri-dirinya sendiri malah menjadi tumpuan terkabulnya harapan orang-orang.
Mereka, bahkan, rukuk dan sujud di hadapannya. Rasa heran pun muncul pada diri Ibrahim as. saat melihat bagaimana patung-patung yang tidak bernyawa dan tidak bergerak itu telah diyakini sebagai tuhan.
Surah Al An’am 75-79, telah menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim as. melalui masa-masa perenungan untuk mencari tahu tentang Tuhan.
“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.
Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata : “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata : “Aku tidak suka kepada yang tenggelam.”
Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”
Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas dari apa yang kamu persekutukan.”
Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah orang-orang yang musyrik.”
Pada usia 40 tahun Nabi Ibrahim diangkat menjadi Nabi, dan sejak itu amanah dakwah melekat pada diri Ibrahim as. Peristiwa besar yang dialami Ibrahim, menunjukkan kecerdasan dan keberaniannya adalah penghancuran patung di kuil yang menyebabkan Ibrahim mendapat hukuman dibakar hidup-hidup. Tetapi Allah berkehendak lain memerintahkan api untuk dingin kemudian selamatlah Ibrahim as.
Nabi Ibrahim as. menikah di Ur dengan seorang perempuan yang berparas cantik yaitu Sarah. Ditemani dengan Sarah dan Luth as. keponakannya, beliau berdakwah.
Setelah selamat dari hukuman pembakaran, Ibrahim as melakukan safari dakwah ke kota Haran bersama, Sarah, Asar, Nahur (saudaranya) dan istrinya Milkah, Luth as, dan sejumlah orang yang telah beriman kepadanya.
🍂Baca dengan seksama karena akan ada kisah seru berikutnya
2⃣ DI HARRAN...🔜...
Komentar
Posting Komentar