🌹MODUL #08 🌹
By: Usz. Amalia Husna Bahar
Kamis, 23 Maret 2017
LELUHUR MUHAMMAD
3⃣ Hasyim bin Abdu Manaf
Hasyim bin Abdu Manaf (meninggal 497) adalah pendiri dari Bani Hasyim, dan buyut dari Nabi Muhammad dan Ali bin Abu Thalib.
Nama sesungguhnya adalah Amar dan bergelar Ala. Ia merupakan saudara kembar dari 'Abd asy-Syams.
Saudara Kembar
Hasyim dan 'Abd Asy-Syams merupakan saudara kembar. Diriwayatkan oleh para sejarawan bahwa pada saat kelahiran Hasyim dan 'Abd asy-Syams, sebuah jari Hasyim tertusuk ke dahi 'Abd Asy-Syams. Darah mengalir deras ketika mereka dipisahkan, dan orang-orang menganggap kejadian ini sebagai pertanda buruk.
Hal ini dapat dilihat dari kenyataan sejarah, di mana Bani Hasyim, yang menurunkan Ali dan Bani 'Abd Asy-Syams yang menurunkan Bani Umayyah, melalui Muawiyah di mana kemudian terjadi Pertempuran Shiffin. Syahidnya Husain di Karbala juga terjadi di bawah kepemimpinan Yazid yang merupakan keturunan dari Bani Umayyah. Selain itu perang yang terus menerus antara Bani Abbasiyah—keturunan Bani Hasyim— dan Bani Umayyah.
Hasyim adalah orang yang bertindak sebagai penanggung jawab atas penanganan air (As-Siqayah) dan penyediaan makanan (Ar Rifadah) terhadap Baitullah dari keluarga Bani 'Abdi Manaf ketika terjadi perundingan antara Banu 'Abdi Manaf dan Banu 'Abdud Daar dalam masalah pembagian kekuasaan antar kedua belah pihak.
Hasyim dikenal sebagai orang yang hidup dalam kondisi yang baik dan memiliki martabat tinggi. Dia lah orang pertama yang menyediakan makanan berbentuk Ats-Tsarid (semacam roti yang diremuk dan direndam dalam kuah) kepada jama'ah-jama'ah haji di Mekkah. Nama aslinya adalah 'Amru, adapun kenapa dia dinamakan Hasyim,hal ini dikarenakan pekerjaannya yang meremuk-remukan roti (sesuai dengan arti kata Hasyim dalam Bahasa Arab).
Dia juga lah orang pertama yang mencanangkan program dua kali rihlah (bepergian) bagi kaum Quraisy, yaitu: Rihlatus Syitaa' ; bepergian di musim dingin dan Rihlatush Shaif; bepergian di musim panas (sebagaimana dalam surat Quraisy ayat 2). Berkenaan dengan hal ini, seorang penyair bersenandung:
'Amru lah orang yang menghidangkan At-Tsarid kepada kaumnya Kaum yang ditimpa kurang hujan dan paceklik Dia lah yang mencanangkan bagi mereka dua rihlah musiman Rihlah/bepergian di musim dingin dan di musim panas
Diantara kisah tentang dirinya; suatu hari dia pergi ke kota Syam untuk berdagang, namun ketika sampai di Madinah dia menikah dahulu dengan Salma binti 'Amru, salah seorang puteri 'Uday bin An-Najjar. Dia tinggal bersama isterinya untuk beberapa waktu kemudian berangkat ke kota Syam (ketika itu isterinya ditinggalkan bersama keluarganya dan sedang mengandung bayinya yang kemudian dinamai dengan Syaibah.
Hasyim akhirnya meninggal di kota Ghazzah (Ghaza) di tanah Palestina. Isterinya, Salma melahirkan puteranya, Syaibah ('Abdul Muththalib) pada tahun 497 M. Ibunya menamakannya dengan Syaibah karena tumbuhnya uban (yang dalam Bahasa 'Arabnya adalah "syaibah") di kepalanya.
Dia mendidik anaknya di rumah ayahnya (Hasyim) di Yatsrib sedangkan keluarganya yang di Mekkah tidak seorang pun diantara mereka yang tahu tentang dirinya.
Hasyim mempunyai empat orang putera dan lima orang puteri. Keempat puteranya tersebut adalah: Asad, Abu Shaifi, Nadhlah dan 'Abdul Muththalib. Sedangkan kelima puterinya adalah: asy-Syifa', Khalidah, Dha'ifah, Ruqayyah dan Jannah.
4⃣ ABDUL MUTHTHALIB
Abdul Muthalib : dari pembahasan yang telah lalu kita telah mengetahui bahwa tanggung jawab atas penanganan As-Siqayah dan Ar-Rifadah setelah Hasyim diserahkan kepada saudaranya, Al Muththalib bin Abdu Manaf {Dia adalah orang yang ditokohkan, disegani dan memiliki kharisma di kalangan kaumnya. Orang-orang Quraisy menjulukinya dengan Al-Fayyadh karena kedermawanannya (sebab Al-Fayyadh artinya dalam Bahasa Arab adalah yang murah hati)}.
Ketika Syaibah (Abdul Muththalib) menginjak remaja sekitar usia 7 tahun atau 8 tahun lebih, Al Muththalib, pamannya mendengar berita tentang dirinya lantas dia pergi mencarinya. Ketika bertemu dan melihatnya, berlinanglah air matanya, lalu direngkuhnya erat-erat dan dinaikkannya ke atas tunggangannya dan memboncengnya namun ponakannya ini menolak hingga diizinkan dahulu oleh ibunya.
Pamannya, Al Muththalib kemudian meminta persetujuan ibunya agar mengizinkannya membawa serta keponakannya tersebut tetapi dia (ibunya) menolak permintaan tersebut. Al Muththalib lantas bertutur: "Sesungguhnya dia akan ikut bersamanya menuju kekuasaan yang diwarisi oleh ayahnya (Hasyim), menuju Tanah Haram Allah". Barulah kemudian ibunya mengizinkan anaknya dibawa. Abdul Muththalib dibonceng oleh kakeknya, Al Muththalib dengan menunggangi keledai miliknya. Orang-orang berteriak: "inilah Abdul Muththalib!"(Budak Al Mutalib). Pamannya, Al-Muththalib memotong teriakan tersebut sembari berkata: "celakalah kalian! Dia ini adalah anak saudaraku (keponakanku), Hasyim".
Abdul Muththalib akhirnya tinggal bersamanya hingga tumbuh dan menginjak dewasa. Al-Muthtthalib meninggal di Rodman, di tanah Yaman dan kekuasaannya kemudian digantikan oleh keponakannya, 'Abdul Muththalib. Dia menggariskan kebijakan terhadap kaumnya persis seperti nenek-nenek moyang dulu akan tetapi dia berhasil melampaui mereka; dia mendapatkan kedudukan dan martabat di hati kaumnya yang belum pernah dicapai oleh nenek-nenek moyangnya terdahulu; dia dicintai oleh mereka sehingga kharisma dan wibawanya di hati mereka semakin besar.
Ketika Al Muththalib meninggal dunia, Naufal (paman Abdul Muththalib) menyerobot kekuasaan keponakannya tersebut. Tindakan ini menimbulkan amarahnya yang serta merta meminta pertolongan para pemuka Quraisy untuk membantunya melawan sang paman. Namun mereka menolak sembari berkata: "Kami tidak akan mencampuri urusanmu dengan pamanmu itu". Akhirnya dia menyurati paman-pamannya dari pihak ibunya, Bani An Najjar dengan rangkaian bait-bait sya'ir yang berisi ungkapan memohon bantuan mereka.
Pamannya, Abu Sa'd bin 'Uday bersama delapan puluh orang kemudian berangkat menuju ke arahnya dengan menunggang kuda. Sesampai mereka di Al-Abthah, sebuah tempat di Mekkah dia disambut oleh 'Abdul Muththalib yang langsung bertutur kepadanya: "Silahkan mampir ke rumah, wahai paman!". Pamannya menjawab: "Demi Allah, aku tidak akan ( mampir ke rumahmu) hingga bertemu dengan Naufal", lantas dia mendatanginya dan mencegatnya yang ketika itu sedang duduk-duduk di dekat al-Hijr (Hijr Isma'il) bersama para sesepuh Quraisy. Abu Sa'd langsung mencabut pedangnya seraya mengancam: "Demi Pemilik rumah ini (Ka'bah)! Jika tidak engkau kembalikan kekuasaan anak saudara perempuanku (keponakanku) maka aku akan memenggalmu dengan pedang ini". Naufal berkata: "sudah aku kembalikan kepadanya!". Ucapannya ini disaksikan oleh para sesepuh Quraisy tersebut. Kemudian barulah dia mampir ke rumah 'Abdul Muththalib dan tinggal di sana selama tiga hari. Selama disana, dia melakukan umrah (ala kaum Quraisy dahulu sebelum kedatangan Islam-red) kemudian pulang ke Madinah. Menyikapi kejadian yang dialaminya tersebut, Naufal akhirnya bersekutu dengan Bani Abdi Syams bin Abdi Manaf untuk menandingi Bani Hasyim. Suku Khuza'ah tergerak juga untuk menolong 'Abdul Muththalib setelah melihat pertolongan yang diberikan oleh Bani an-Najjar terhadapnya. Mereka berkata (kepada Bani anNajjar):"kami juga melahirkannya ('Abdul Muththalib juga merupakan anak/turunan kami-red) seperti kalian, namun kami justru lebih berhak untuk menolongnya". Hal ini lantaran ibu dari 'Abdi Manaf adalah keturunan mereka. Mereka memasuki Darun Nadwah dan bersekutu dengan Bani Hasyim untuk melawan Bani 'Abdi Syams dan Naufal. Persekutuan inilah yang kemudian menjadi sebab penaklukan Mekkah sebagaimana yang akan dijelaskan nanti
▶ Selanjutnya ada 3 buah peristiwa penting yang terjadi dalam kepemimpinan Abdul Muthalib sebelum kelahiran Muhammad Rasulullah Saw, yaitu
1. Penggalian kembali sumur zam zam
2. Wafatnya Abdullah bin Abdul Muthalib
3. Penyerangan tentara bergajah
🙏🙏 Insya Allah akan dibahas pada modul modul selanjutnya....
Komentar
Posting Komentar