🎯 RESUME KULWAPP MATRIKULASI HEbAT #3 🎯
🎯 Home Education based on Akhlaq and Talent (HEbAT) Community
Hari,
tanggal : Kamis, 29 Desember 2016
Pukul :
19:30 - 21:00 WIB
Tempat :
Grup WA Matrikulasi HEbAT batch #3
Host : Dinda
Permatasari
SME : Ustadz
Adriano Rusfi
Notulis :
Dinda Permatasari
Admin : Noni
📖 Materi Pokok 5⃣
Oleh: Ust. Harry
Santosa
Assalamu'alaikum
wr.wb.
Ayah bunda
para pendidik peradaban, apa kabar? Semoga selalu ithminan dan istiqomah,
rileks tenang dan konsisten dalam mendidik generasi peradaban.
Salam takzim
utk Ayah Bunda semua.
Ayah bunda,
esensi pendidikan sejati adalah pendidikan
berbasis fitrah. Tugas kita adalah menemani anak2 kita menjaga fitrahnya, menyadari fitrahnya lalu membangkitkannya
menjadi peran2 sesuai fitrah yg Allah kehendaki itu. Inilah esensi
pendidikan berbasis potensi dan akhlak Dengan fitrah Allah itulah Allah
menciptakan manusia. Tiada yg berubah dari ciptaan Allah swt.
Fitrah itu setidaknya meliputi fitrah
keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah perkembangan.
Topik malam
ini adalah pendidikan utk usia 0-7 tahun, tentu saja pendidikan fitrah2 yg ada
juga harus melihat fitrah perkembangan. Tiap tahap memiliki sunnatullahnya
sendiri, memiliki cara dan tujuan mendidik yg khusus.
Pendidik
sejati adalah seperti petani sejati. Pendidikan ibarat taman bukan pabrik atau
perkebunan. Para petani harus memahami tahapan menanam, dia mesti memperlakukan
tiap anak2nya bagai bunga2 di taman, yg masing2 memiliki kekhasan, keunikan dan
keindahannya masing2. Maka cara memperlakukannyapun setiap bunga adalah khas,
tidak bisa seragam. Petani sejati harus rileks dan konsisten, dia tdk boleh
bernafsu menggegas dan menyeragamkan demi produktifitas dan kepentingan
siapapun yg tdk relevan dgn tanamannya. Petani sejati tdk boleh sembarang
memakai bahan kimia yg menggegas pertumbuhan tanaman, yg malah merusak tanaman
itu sendiri. Petani sejati harus meyakini qodrat Allah swt thd segala sesuatu
yg ada pd tanamannya dan yg ada di sekitarnya.
Dasar
panduan kita adalah jelas, bhw tiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Tugas kita
bukan merubahnya, merekayasanya, menuntutnya sesuai obsesi kita tetapi menemaninya.
Imaji2 positif yg baik akan melahirkan
persepsi positif, dan persepsi positif akan memunculkan pensikapan yg baik
ketika mereka dewasa kelak. Imaji2 negatif akan memunculkan luka persepsi,
dan luka persepsi akan melahirkan pensikapan yg buruk ketika mereka dewasa
kelak.
Seorang
pendidik yg arif mengatakan bhw kesan baik sehari saja ketika anak2, akan
menyelamatkan banyak hari ketika mereka dewasa kelak. Aqidah atau fitrah
keimanan perlu dan sebaiknya ditumbuhkan dengan pola2 seperti ini. Silahkan
berkreasi.
Fitrah
belajar juga demikian. Setiap anak yg lahir adalah pembelajar yg tangguh, para
ilmuwan menyebut bayi yg lahir adalah scientist. Itu krn Allah telah
mengkaruniai fitrah belajar ini pd setiap anak. Tidak ada bayi yg memutuskan
utk merangkak seumur hidupnya, ketika mereka belajar berjalan dan jatuh berkali-kali.
Fitrah
keimanan pd usia 0-7 tahun, disadarkan dengan membangun imaji2 positif,
inspirasi kisah, bacaan bersastra baik, bahasa ibu yg sempurna, banyak bermain
di alam terbuka. Rasulullah saw ketika kecil hidup di gurun, mendaki bukit,
menggembala kambing, bertutur fasih dari bahasa ibu yg murni, mengenal akhlak2
dan tradisi2 baik warga desa. Bagi anak-anak imaji2 positif penting, karenanya
melarang perbuatan keras yg merusak imaji2 ini. Rasulullah saw membiarkan Hasan
dan Husein bermain kuda2an ketika beliau Sholat, membiarkan Aisyah kecil
bermain boneka dan kain bergambar dstnya. Ini semata2 utk melahirkan imaji2
positif, atau kesan2 baik ttg Allah, ttg ibadah, ttg dirinya, ttg orangtua
(yang sementara menjadi standar kebaikan dan keburukan sebelum mereka mengenal
Rabbnya dan syariah-Nya), ttg alam, ttg masyarkatnya
Tugas kita,
para ortu sekali lagi, hanyalah menemani mereka, memberi semangat, menunjukkan
hal2 yg baik, memfasilitasi, lalu rileks dan konsisten, tenang dan istiqomah,
shabar dan syukur.
Bunda Septi
memberi tips utk membangkitkan kesadaran fitrah belajar ini dengan istilah
intelectual curiosity, dsbnya
Penelitian2
modern menjelaskan bhw anak2 akan bisa belajar mandiri hanya dengan diberi
"jalan" saja, tidak perlu dijejalkan, tdk perlu banyak formalitas yg
bahkan mengekang kebebasan, kemerdekaan memilih dan curiositynya. Ada ahli
parenting yg bilang bhw anak2 kita lebih pandai menjawab, daripada pandai
bertanya.✅
=========================
Sesi ❓✏❔ Tanya Jawab ❓✏❔
🙍🏼 Host
Assalamu'allaikum
Wr. Wb. Wilujeng sumping Ustadz...
Apakah
Ustadz sudah hadir bersama kami disini?
👳🏻 Ust. Aad : Wa
alaikumus salam
🙍🏼 Host : Alhamdulillah Ust telah hadir bersama kami
disini..
Apa kabar
Ustad? Semoga sehat dan bahagia selalu..
Perkenalkan
saya Dinda yang akan memandu kulwap bersama Ust. 90 malam ini..
Mungkin ada
pendahuluan yg akan ustadz berikan sebelum kulwap?
👳
Ust Adriano Rusfi : Alhamdulillah baik
Saya rasa
bisa langsung saja. Atau nunggu yang lagi shalat 'Isya.
👩🏻 Host
Alhamdulillah,
siap Ust. langsung kepertanyaan pertama ya Ustadz..
👩🏻 Host
1⃣.
Rancangan Kurikulum Pendidikan HE Anak agar Selaras baik dgn Pasangan, Orang
Terdekat, maupun Lingkungan
Bunda Nungki
- Balikpapan
Bunda Yulia
- Bekasi
Bunda Wening
- Yogya
Bunda Zila -
Malang
Bunda Rina –
Banjarnegara
1
Assalamualaikum Ustadz, Insyaa allah setelah lulus dari TK B
(usia 6 tahun) anak saya akan beristirahat dari sekolah selama 1 tahun hingga
nanti masuk SD usia 7 tahun. Alasannya adalah belum tersedianya anggaran utk
melanjutkan di sekolah yang dimau. Bagaimana tahapan persiapan yang harus saya
lakukan mulai dari sekarang? Kondisi spesifiknya, anak saya diduga (belum
konfirmasi ke klinik tumbuh kembang) termasuk dalam kategori gifted
disinkronisasi (kecerdasan yg dominan di linguistik dan musikal, terlalu peka
terhadap suara, masih ketinggalan di motorik kasar dan halus dan dominan kidal,
kemampuan mengelola perasaan masih belum maksimal untuk usianya), selain itu
insyaa allah pada awal maret saya akan bersalin untuk anak kedua. Jazakillah
khoyr atas jawabannya
2
Sy masih bingung cara mendidik/pendidikan apa
saja yg sesuai fitrah utk anak2 sy 4 thn dan 2 thn. Yang cocok diterapkan
disaat bersamaan.
3 Bagaimana
pendidikan 0-7tahun utk keluarga/ anak yg sejak bayi nya tinggal di kota besar,
sehingga sehari harinya rumahan banget. karena keluar rumah jalan besar,
sekitar rumah pertokoan. Jadi jarang eksplorasi di alam. Apalagi mengenal cara
merawat ternak dan bertani 😟
4
Apakah pendidikan berbasis fitrah hanya bisa
dilakukan oleh orangtua kandung ?, bagaimana mengomunikasikan dengan guru di
sekolah agar pembelajaran anak sejalan dengan konsep HE?
5
Mengenai belajar bersama alam, kira2 bagaimana
solusi untuk balita yg tinggal di perkotaan yg minim fasilitas ruang terbuka?
tentu beda dgn pedesaan yg sehari2 hidup dekat dgn alam. Mohon pencerahannya.
Terima kasih 😊 🙏
👳🏽 Ust. Aad
1⃣
Pada dasarnya pendidikan anak di bawah 7 tahun adalah di rumahnya, sehingga
jika akses ke ruang terbuka atau alam bebas terbatas, itu tak terlalu
bermasalah pada anak usia tersebut. Yang penting bagaimana mengoptimalkan
eksplorasi anak pada apa-apa yang terdapat di dalam rumah.
Jadi konsep
belajar bersama alam harus dipahami dalam dua konteks : pertama, alam yang
dimaksud adalah segala sesuatu yang alami (natural); Kedua, harus dipahami
bahwa ruang tamu adalah alam, meja adalah alam, kamar adalah alam, halaman
belakan adalah alam.
Ketika anak
akan menjelang usia tujuh tahun, yang harus dipersiapkan adalah modalitas dasar
untuk memasuki usia latihan (tadrib), seperti konsentrasi, pengendalian gerak,
menarik garis lurus, menarik garis lengkung, membedakan ukuran, membedakan
warna, membedakan bentuk dan sebagainya. Disiplin juga mulai diperkenalkan
menjelang usia tujuh tahun.
Namun,
keberhasilan untuk mempersiapkan kemampuan berlatih juga sangat ditentukan dari
apakah hak-hak anak cukup terpenuhi pada usia 0-7 tahun, seperti hak bermain,
hak individualitas, hak untuk berkreasi dsb.
Tentang
pendidikan yang tak bisa dilakukan oleh orangtua kandung, pada dasarnya berlaku
dua prinsip : Pertama, jika kedua orangtua kandungnya masih hidup secara wajar,
maka pendidikan berbasis fitrah hanya akan Allah ilhamkan kepada orangtua
kandungnya. Namun, jika kedua orangtua kandungnya meninggal atau memiliki
kendala pendidikan yang bersifat permanen, maka Allah akan menjadi pengganti
kedua orangtuanya.
Mensejalankan
pendidikan di sekolah dengan di rumah memang bukan hal yang mudah. Untuk itu,
cermatilah sistem dan metode pendidikan di sebuah sekolah, sebelum memutuskan
untuk memasukkan anak ke dalamnya. Dan rajin-rajinlah berkomunikasi dengan
sekolah untuk pendidikan anak-anak kita ✅
👩🏻
Host
2⃣
Bagaimana memberlakukan Hukuman pada Anak dengan Tidak menciderai Fitrahnya
Bunda Sherly
- Malang
Bunda Yulia –
Bekasi
1
Assalamualaikum Ustadz, Dijelaskan bahwa hukuman dan hadiah
termasuk behaviouristik, yg mana metode ini krg tepat untuk mendidik anak.
Padhl Yg kita tahu anak sangat senang diberi hadiah. Dan salah satu alasan
kenapa anak sekarang suka main d gadget Krn gadget memberi perhatian dan
perhargaan pada anak. Bagaimana menyikapi hal ini terkait pemberian hadiah pd
anak? 🙏
2
Sy pnh baca resume HE, klo anak 0-7thn blm blh
dikenalkan dgn hukuman. Tp sy jg pnh membaca artikel mendidik anak lupa
sumbernya siapa, bila anak melakukan kesalahan kita memberi dia hukuman kecil
misal tdk blh menonton, main, atau berdiri selama 5 mnt agar si anak tau
kesalahannya dmn. Sebaiknya bgmn y? Mohon pencerahan.
👳🏽 Ust. Aad
2⃣
Pada anak anak 0 sd 7 tahun, pendekatan hukuman bukanlah pendekatan yang utama.
Akan lebih baik jika pada anak seusia tersebut diperkenalkan consequential
learning : tangan mencencang - bahu memikul. Biarkan anak merasakan akibat dari
perbuatannya : jika main air basah, jika main api terbakar. Sejauh hal itu tak
membahayakan jiwa harta dan kehormatannya.
Sedangkan
tentang ganjaran atau hadiah, hal itu sudah boleh diberikan sejak dini. Hadiah
tersebut tidak selalu bersifat kebendaan, tapi bisa juga berbentuk pujian dsb.
Dan perlu diusahakan bahwa hadiah tersebut juga bagian dari konsekuensi
perilaku.
Untuk anak 0
sd 7 tahun pada dasarnya hukuman tak akan terlalu efektif, karena usia tersebut
adalah usia negativistik atau usia perlawanan : di suruh ke kanan malah
bergerak ke kiri.
Yang bisa
dilakukan pada anak-anak seusia itu jika melakukan hal-hal negatif adalah,
nasihat, teguran dan, sekali lagi, consequential learning : jika kasar pada
orang lain, maka akan dikasari orang lain atau dimusuhi.
Saya
tentunya juga tak setuju bahwa kenakalan anak pada usia 0 sd 7 tahun dibiarkan
begitu saja, sebagaimana yang belakangan sering terjadi. Namun, mengapresiasi
kebaikan anak adalah bentuk pembelajaran tentang yang mana yang boleh dan yang
tidak boleh. ✅
👩🏻
Host
Jawabannya
yg sangat menginspirasi😍, Kami lanjut
pertanyaan ketiga ya Ustadz...
👩🏻 Host
3⃣
Bagaimana melatih Emosi dan sisi Egosentris Anak
Bunda Yardha
- Surabaya
Bunda Ludfi
- Solo
Bunda Ria
Hayati – Surabaya
1.
Usia 0-7
th identik dengan tumbuhnya egosentris dalam diri anak. Ustadz, bagaimana
menyikapi egosentris dua anak 4 dan 6 tahun yang sama-sama tidak mau mengalah
tanpa mencederai fitrah mereka?
2.
Bagaimana mensikapi anak usia 2th yg sedang
seneng2nya membantah dan mudah marah bahkan memukul? Jazakallah atas jawabannya
ustadz.
3.
Lalu ttg
adab, saya kesulitan betul mengajarkan anak untuk tidak iri dg mainan temannya
pun rebutan mainan, mengajarkan untuk
tidak memukul orang tua (biasanya krna gemas),
bagaimana teknik mengajarkan adab itu?
👳🏽 Ust. Aad
3⃣ Ada dua
ciri pada anak 0 sd 7 tahun, dan hal ini saling berkaitan : egosentrisme dan
negativistik. Dikatakan berkaitan karena perilaku negativiastik (melawan,
memukul, marah) adalah bagian dari pengembangan ego dan konsep diri. jadi, ketika seorang anak tak mau mengalah, berebut mainan, saling
membantah satu sama lain, jika itu terjadi dantara anak sesama usia 0 sd 7
tahun, maka tugas kita hanya satu : biarkan, perhatikan dan amati. Jika
perilaku tersebut sampai membahayakan jiwa, harta dan kehormatan, saat itulah
kita mulai intervensi turun tangan.
Namun, jika konflik tersebut terjadi antara anak usia 0-7 tahun dengan anak di atas 7 tahun, maka kita harus memberikan pengertian pada anak di atas 7 tahun untuk mengalah, selama tak mengganggu hak-hak asasinya.
Patut untuk kita pahami bahwa pertengkatan, perebutan bahkan perkelahian diantara anak, apalagi bersaudara, adalah cara mereka untuk saling didik dan saling berkasih sayang, walau dengan cara yang kita tak mengerti dan memusingkan. Jadi, sejauh bisa dibiarkan, biarkanlah.
Tentang pendidikan adab atau akhlaq, dalam tata urutan pendidikan Islam ini adalah tahap pendidikan terakhir, dan bukan pada usia 0-7 tahun. Pada usia 0-7 tahun titik tekannya adalah pendidikan aqidah yang berbasis pada cinta kebenaran dan benci kebatilan.
Adab-adab pada usia ini lebih banyak diberikan secara tak langsung, baik melalui keteladanan, cerita-cerita, lagu-lagu dsb. dalam hal ini ada prinsip yang perlu diperhatikan :
Namun, jika konflik tersebut terjadi antara anak usia 0-7 tahun dengan anak di atas 7 tahun, maka kita harus memberikan pengertian pada anak di atas 7 tahun untuk mengalah, selama tak mengganggu hak-hak asasinya.
Patut untuk kita pahami bahwa pertengkatan, perebutan bahkan perkelahian diantara anak, apalagi bersaudara, adalah cara mereka untuk saling didik dan saling berkasih sayang, walau dengan cara yang kita tak mengerti dan memusingkan. Jadi, sejauh bisa dibiarkan, biarkanlah.
Tentang pendidikan adab atau akhlaq, dalam tata urutan pendidikan Islam ini adalah tahap pendidikan terakhir, dan bukan pada usia 0-7 tahun. Pada usia 0-7 tahun titik tekannya adalah pendidikan aqidah yang berbasis pada cinta kebenaran dan benci kebatilan.
Adab-adab pada usia ini lebih banyak diberikan secara tak langsung, baik melalui keteladanan, cerita-cerita, lagu-lagu dsb. dalam hal ini ada prinsip yang perlu diperhatikan :
"Adab
anak adalah adab orangtuanya. Emosi anak adalah emosi orangtuanya. Agresivitas
anak adalah agresivitas orangtuanya. Ayahbuda yang mauthma'innah cenderung
mewujudkan anak yang muthma'innah pula" ✅
👩🏻 Host
Terimakasih
ustadz..
Kami lanjut
pertanyaan ke-4...
4⃣
Bagaimana membangkitkan dan melatih Fitrah Keimanan Anak
Bunda Ria
Hayati - Surabaya
Ummu Alfatih
- Semarang
Laras -
Bekasi
Ummi Rahmi –
Kendari
1.
Assalamualaikum Perkenalkan saya ria hayati dg 1 anak laki-laki usia 2 thun. Pertanyaan saya; sebelumnya di sebutkan
bahwa usia 2-7 adalah golden age anak untuk meningkatkan fitrah iman, dan waktu
yg tepat untuk mengajarkan adab. Sedangkan saya saat ini kesulitan untuk
memulai hal tsb (meningkatkan iman dan mengajarkan adab). Ttg iman, apa n
bagaimana cara yg sebaiknya kita lakukan? Biasanya saya hanya memperlihatkan
kpd anak saat saya sholat, mengaji, pun
berdoa ; sejauh ini respon anak kadang mencontoh kadang acuh, bagaimana
memastikan si anak mengenal konsep iman?
2.
✍ apakah anak yang
"nakal" yang terjadi pada usia 11tahun contoh. ~ pemalas terutama
belajar dan sholat~suka membantah~bicara kasar. Apakah itu terjadi karena
fitroh anak 0-7thn yg tidak berkembang dengan baik?lalu bagaimana
mengembalikan dan membersemai fitroh tsb
untuk saat ini.seolah sudah terlambat. Mohon penjelesannya. Syukron katsiiro.
3.
Assalamualaikum ust. Apa yg terjadi apabila salah satu
dari pendidikan fitrah pra-aqil baliq 0-7th tdk terlaksana? Apakah pertumbuhan
anak akan mengalami ketimpangan? Misal, dlm fitrah keimanan tdk terlaksananya tadabur
alam... Jazakillah ust 🙏🏻
4.
Assalamualaikum, salam kenal bunda sy ummi
rahmi dr kndar Pertaxann u ustad hari😊 Melatih anak sejak dini dgn kebiasaan
baik apakah termasuk bagian dr menumbuhkan fitrah, mis...menggunakan hijab krn
sbgian orng mngatakan,..."kasian bu anakx nnti kepanasan belum tau jg
alasanx knp berhijab...nnti klw sdh besar jg jika sdh tau alasan pake hijabx
pasti bakal pake juga".
👳🏽 Ust. Aad
4⃣ Inti pendidikan fitrah anak pada
usia 0 sd 7 tahun ada dua : pendidikan keimanan dan individualitas. Dan kedua
hal ini sangat berhubungan. Sulit mengharapkan keimanan yang kokoh jika ego
anak rapuh.
Pendidikan aqidah dan keimanan ini sangat esensial, karena sangat menentukan pendidikan-pendidikan fitrah yang lainnya. Manusia hanya akan mengenal fitrahnya jika dia mengenal Tuhannya.
Oleh karena itu, tak perlulah terlalu terburu-buru mencampur pendidikan fitrah keimanan anak dengan pendidikan-pendidikan lainnya, seperti syari'ah, muamalah, adab dsb.
Pendidikan aqidah dan keimanan ini sangat esensial, karena sangat menentukan pendidikan-pendidikan fitrah yang lainnya. Manusia hanya akan mengenal fitrahnya jika dia mengenal Tuhannya.
Oleh karena itu, tak perlulah terlalu terburu-buru mencampur pendidikan fitrah keimanan anak dengan pendidikan-pendidikan lainnya, seperti syari'ah, muamalah, adab dsb.
Bukan apa-apa, pendidikan keimanan itu sangat penting dan butuh fokus, Ia adalah pondasi dari sebuah rumah dan akar dari sebuah pohon. Kita akan mengalami kesulitan dalam pendidikan fitrah lainnya, ketika landasan imannya rapuh.
Contoh : betapa sulitnya kita mengajarkan anak amal apapun, jika niat tak diajarkan sebelumnya. Karena "setiap amal itu bergantung pada niat" (hadits)
janganlah kita jadikan anak-anak kita seperti mobil mogok, yang baru akan bergerak jika kita dorong. Biarlah mereka menjadi supir atas mobil mereka sendiri, dan itu modalnya adalah fitrah keimanan.
Tentang pendidikan syari'ah, seperti penggunaan hijab, seluruh kitab pendidikan anak dalam Islam mengajarkan bahwa itu baru perlu diajarkan dan dilatihkan saat anak telah berusia 7 tahun. Berikanlah hak anak kepadanya. Jangan sampai kelak anak kita komplain kepada Allah karena haknya pernah kita ambil, seperti memakai pita rambut sebelum usia 7 tahun.
Begitu pula tentang pendidikan adab. Adab sebagai kaidah yang diajarkan, baru diajarkan pada usia mumayyiz, yaitu 7 tahun ke atas. Sedangkan pada usia sebelum itu, biarlah adab menjadi refleksi dari aqidahnya, dan menjadi peniruan dari adab ayahbundanya.
Andai ada fitrah-fitrah anak yang tak berkembang baik pada usia 0-7 tahun, tentunya itu akan berdampak pada pendidikan dan perilaku anak sesudahnya. Jika itu terjadi, mari kita sempurnakan semampu yang kita bisa. Sisanya adalam minta ampun pada Allah, dan meminta Allah untuk mengkoreksi dan menyempurnakannya. Karena Allah adalah murabbi alam semesta (Rabbul 'aalamiin) ✅
👩🏻 Host
Meminta
ampun pada Allah atas khilaf yg dilakukan orangtua dan meminta Allah untuk
mengkoreksi dan menyempurnakannya. Karena Allah adalah murabbi alam semesta
(Rabbul 'aalamiin)...
Kami bold
kalimat ini sebagai pengingat kami..
Lanjut ke
pertanyaan kelima ustadz..
5⃣.
Melatih Kemandirian Anak sesuai Fitrah
Bunda Suci -
Surabaya
Bunda Ludfi –
Solo
1.
Bagaimana cara menyakinkan suami dan sy sendiri
bahwa anak2 perlu mandiri dan mereka diberikan kebebasan berkreasi
sendiri, kami menyadari kalo kadang sbg
ortu protektif tapi kami khawatir saja trhdp mereka yg blm tahu bahaya. Maturnuwun
🙏
2.
Bagaimana menumbuhkan kembali kemandirian anak
usia 5th? Dulu usia 2-3th banyak yg sudah dikerjakan sendiri tapi semakin besar
malah semakin bergantung sama ortunya. Ntah karna malas atau memang ingin
selalu diperhatikan sama ortu.karna anak ini juga sering minta gendong,
dipangku. Jadi sering rebutan sama adiknya (2th). Jazakallah khoir.
👳🏽 Ust. Aad
5⃣ Seharusnya
tak perlu ada istilah "menyatukan persepsi" antara ayah dengan bunda
dalam mendidik anak-anak. Karena seharusnya visi, misi dan strategi pendidikan
anak adalah tanggung jawab ayah, tentunya setelah mendapatkan masukan dari
bunda.
Seorang suami pada dasarnya baru bisa diyakinkan sesuatu jika diberikan argumentasi-argumentasi dan alasan-alasan rasional. Untuk itu, jelaskan pada suami bahwa anak berusia 0-7 tahun adalah anak yang memiliki dunianya sendiri, penuh fantasi, imajinasi dan kreativitas. Mari kita ingat tentang diri sendiri pada saat berusia tersebut.
Seorang suami pada dasarnya baru bisa diyakinkan sesuatu jika diberikan argumentasi-argumentasi dan alasan-alasan rasional. Untuk itu, jelaskan pada suami bahwa anak berusia 0-7 tahun adalah anak yang memiliki dunianya sendiri, penuh fantasi, imajinasi dan kreativitas. Mari kita ingat tentang diri sendiri pada saat berusia tersebut.
Ingatkan juga pada suami bahwa pada setiap manusia telah ada naluri
untuk mempertahankan diri, menyelamatkan diri dan menghindari bahaya. Ini
sifatnya naluriah. Jangankan anak kecil, bayi dalam perutpun telah memilikinya.
Jadi janganlah terlalu cemat berlebihan. Tugas ayah bunda adalah membiarkan,
mengamati dan mengawasi. Intervensi bisa dilakukan saat perilaku anak telah
membahayakan, jiwa, harta dan kehormatannya.
Tentang kemandirian anak, pendidikan kemandirian baru akan terjadi di
usia 7 tahun ke atas. Yang dibutuhkan oleh anak usia 0-7 tahun adalah
kemanjaan. Anak yang cukup kenyang dengan kemanjaan pada waktunya, insya Allah
akan mandiri dan percaya diri pada waktunya.
Jadi wajar jika anak ibu tiba-tiba kembali manja, setelah sebelumnya ia
sempat mandiri. Ia sedang mengambil hak-haknya kembali. Saya agak terkejut
bahwa anak usia 2-3 tahun telah mandiri. Karena anak yang mandiri terlalu dini
biasanya akan berkembang menjadi anak yang miskin emosi, buruk empati, kurang
percaya diri, dan mudah terkena penyakit. Beruntunglah sang anak segera
menuntut haknya sebelum usia 7 tahun. Jika telat, justru lebih susah untuk
menutupinya.
Mari kita sadari bahwa manusia jauh lebih unggul daripada hewan adalah
karena manusia terlambat mandiri dibandingkan hewan. Hewan hanya butuh maksimal
satu tahun untuk mandiri, sedangkan manusia butuh belasan tahun. Terlambatnya
manusia mandiri menyebabkannya diasuh lebih lama, sehingga jauh lebih unggul ✅
👩🏻 Host
Afwan Ustadz
msh ada 3 pertanyaan lagi, apakah masih bisa dilanjutkan?
👳🏽 Ust. Aad
Kayaknya
dicukupkan dulu, karena ada kulwap lainnya.
👩🏻 Host
Baik
Ustadz...
Terimakasih
Ustadz telah meluangkan waktu untuk berbagi ilmunya bersama kami disini.
Semoga
Ustadz sehat selalu dan diberi umur serta ilmu yang berkah dan dibalas Allah
dengan berlipat ganda.
Untuk sisa
pertanyaan yg belum terjawab, jika ustadz berkesempatan menjawab, Insya Allah
akan kami susulkan dalam resume 😊🙏🏻 Jazakallah khairan katsira Ustadz..
Terima kasih
juga kami haturkan kepada Ayah Bunda yang telah menyimak dan tim Matrikulasi
yang bertugas🙏🏻🙏🏻
👳🏽 Ust. Aad
Aamiin. Wa
iyyaki
Wa alaikumus
salam wr. wb.
👩🏻
Host
Kita tutup
dengan ucapan hamdallah...Alhamdulillahirabil'alamin...
Dan doa
kafaratul majelis
“Subhanakallahumma
wabihamdika asyhadu allailahailla anta astaghfiruka wa’atubu ilaik”
Artinya :
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada tiada
Tuhan melainkan Engkau, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
(HR. Tirmidzi, Shahih)
Kami yang
bertugas mohon undur diri☺🙏🏻
Wassalamu'allaikum
Wr. Wb..
Komentar
Posting Komentar