📚 Resume Kulwap MATRIKULASI HEbAT #3 Live dari Regional Timur
HEbAT Community 📚
Jum‟at, 27 Januari 2017
> SME : Bunda Septi Peni Wulandani
> Admin : Bunda Ina (Kalimantan)
> Host & Co Host : Bunda Dini (Sulawesi) & Bunda Maufiroh (Surabaya)
> Notulis : Bunda Yuli (Bandung)
Teknik Pendidikan Post Aqil Baligh Usia> 15 tahun
SME:
Ibu Septi Peni Wulandani
====================
Tema aktivitas anak-anak di susia 15 th > ini adalah KAYA KEGIATAN.
Perbanyak aktivitas anak-anak yg mereka bener-bener merasa enjoy. Di usia ini anak-anak diajarkan unt tuntas melakukan pilihan kegiatannya.
Apa yg sdh dipilih harus diselesaikan. Tidak boleh setengah-setengah. Perkara nanti mau ganti aktivitas yg lain silakan, syaratnya yg pertama harus selesai. It's nice to do what you love, but the secret of life is to love what you do.
Dari sisi visi dan misi hidup, anak-anak aqil baligh sudah menemukan potensi dirinya dan mampu mengembangkan potensi diri, potensi alam dan potensi zaman. Uruan Iman, Adab, Akhlak dan Bicara sudah tidak di mulai dari awal. Anak-anak yang sudah masuk aqil baligh ini tinggal mengimplementasikan ke 4 hal tersebut dalam kehidupan sehari-harinya. Karena anak-anak aqil baligh ini sudah harus mengusung visi peradaban.
Anak aqil baligh ini sudah harus melatih kemampuan mengadabkan manusia, mampu mengadabkan alam, zaman, dan memiliki akhlak mulia. Karena misi kehidupan para aqil baligh tidak akan jauh dari misi hidup Rasulullah yaitu menyempurnakan akhlak
manusia.
Maka mereka akan memiliki peran peradaban:
1. Sebagai khalifah fil Ardh
2. Mampu memikul kewajiban syar’i secara individu dan social
3. Menjadi muzakki
Di usia aqil baligh para alim ulama sepakat bahwa apabila kita masih menyediakan segala keperluan pribadi anak, termasuk kebuthan dasarnya, maka sifatnya bukan wajib melainkan sedekah. Anak-anak sering diajak melihat case case kehidupan di sekitarnya, kemudian menjadi problem solving.
Contohnya:
kemacetan di Bandung, challenge: andaikan kamu yang pegang Bandung, apa yang akan kamu lakukan?
Kemudian di break down dengan langkah kecil ang bias dia lakukan sekarang. Lama-lama anak akan jadi project based talent leader.
Di titik ini anak sudah dibekali ilmu ikhtiar dan rizqi, sehingga saat 15 tahun ke atas anak paham bahwa bukan tugas kita mengkhawatirkan rizqi, melainkan menyiapkan jawaban “dari mana” dan “untuk apa” atas tiap karunia. Ikhtiar itu bagian dari ibadah, sedangkan rizqi itu urusan Allah. Ikhtiar itu laku perbuatan yang harus dilakukan sungguh-sungguh, rizqi itu kejutan dari-Nya.
Semakin dini kita persiapkan pendidikan berbasis potensi dan akhlak kepada anak-anak kita, maka semakin cepat anak-anak “terpanggil” dalam menunaikan ibadah syar’I termasuk diantaranya haji dan nikah di usia muda. Karena prinsipnya bukan orang yang “mampu” yang akan dipanggil oleh Allah SWT, melainkan Allah akan “memampukan” orang yang terpanggil.
======================
??SESI TANYA JAWAB??
1⃣. Sherly - Malang
Assalamualaikum bunda Septi,
Bagaimana bila cita-cita anak di bidang yg mengharuskan ia menempuh jalur akademis. Seperti dokter, bidan, tentara dsb. Sehingga sulit bila anak diharapkan mandiri di usia 15 tahunan. Bagaimana menyiasati hal ini? Terimakasih 🙏
👩 Bunda Septi
Wa'alaykumsalam wr.wb bunda sherly di Malang, kemandirian itu tidak selalu dinilai dengan kemandirian finansial. Bisa dimulai dari kemandirian pemikiran. Anak-anak sdh bisa jadi pembuat keputusan untuk dirinya, tidak bergantung pada orang lain, meskipun itu ayah dan ibunya. Sudah bisa diberikan tanggung jawab atas peran hidupnya dll. Sehingga sekolah yg memerlukan waktu lama tidak selalu identik dengan masa "pembocahan" yg dilamakan pula.
Contoh :
Saya masuk jalur akademis,
Ketika saya dulu masuk kuliah awal, harus berpisah kotq dg ibu saya. Beliau memberikan sejumlah uang yg beliau kumpulkan dari mulai saya di kandungan - SMA, kemudian pesan beliau hanya satu
"Ini uang untuk kuliah dan hidupmu dari awal sampai lulus, ibu nggak mau kamu pulang karena uangmu habis dan minta ibu, ibu ingin kamu pulang karena kangen sama ibu, karena ibu yakin kamu bisa mengelola hidupmu lebih baik"
Disaat itulah saya harus mulai berpikir, menyusun strategi hidup, belajar survival, mencari berbagai ilmu.
Dan masa itulah pelajaran besar bagi saya untuk bekal hidup saat mulai berkeluarga.
Saya jadi paham bagaimana menjadi produsen bukan konsumen, bagaimana menjadi leader bukan follower, bagaiman menjadi driver bukan passenger. Karena hidup setelah aqil balighlah yang mendorong saya untuk bisa menjadi khalifah di muka bumi ini✅
2⃣. Elly Nurhayati - Depok
1. Club talent yg diikuti anak2 bu Septi itu seperti apa ya?dibuat sendirikah atau seperti "sekolah/les khusus"?
2. Lalu jika kita selaku ortu memiliki keterbatasan tempat dan waktu untuk memasukkan anak ke club talent, adakah solusi lain?
3. Bagaimana cara membaca bakat anak oleh kita sendiri?
👩 bunda Septi
Ibu Elly di depok
1. Untuk club talent anak-anak tidak selalu masuk club. Ada yg dia kerjakan sendiri, komitmen setiap hari berapa jam mengasah passion nya terlebih dahulu. Ada juga yg berkelompok dengan membuat project based. Ada juga yg masuk club karena kami tidak punya fasilitasnya. Semua itu kondisional, beragam caranya.
2. Kalau orangtua punya keterbatasan tempat dan waktu kami mensiasatinya dengan membuat CBE. Sehingga anak-anak bisa mengasah talent mereka antar komunitas saja.
3.Saya membuat konsep pandu 45 untuk memberikan panduan beragam aktivitas anak-anak yg kemungkinan besar mengarah pada bakat mereka ✅
3⃣. Arny (jakarta)
Assalamualaikum Bunda Septi, juga AyBun HEbAT yg dirahmati Allah😍
Jika anak (>15th) sudah bisa mencari maisyah, namun belum bisa memanage penggunaan uang dg baik dan masih meminta pada orangtua bagaimana ya?
Kriteria apa saja yg menjadikan anak bisa dkatakan mandiri, jazakumullah khoiron katsir😊
👩 bunda Septi
Wa'alaykumsalam bu arny, tantangan yg ibu hadapi banyak dialami oleh keluarga-keluarga yg lain.
Selama ini kita mendidik anak-anak kita, menyekolahkan anak-anak kita, dg harapan agar mereka bisa mendapatkan pendapatan sendiri. Tapi kita lupa untuk mrlatih mereka pada pengelolaan uangnya.
Maka saya dulu sebelum aqil baligh, hanya dilatih ibu untuk mengelola uang terlebih dahulu bukan dituntut untuk mendapatkan uang.
Contoh:
Saya bertugas mengelola uang belanja bulanan sejak kelas 4 SD.
Setiap kali ibu saya terima gaji, beliau mengajarkan pada saya bagaimana membagi-baginya untuk hak Allah, hak masa depan, hak orang lain dan hak diri sendiri.
Yg hak diri sendiri diserahkan ke saya selaku kepala rumah tangga ( yg mengatur segala keperluan rumah ).
Terus menerus dilatih sampai akhirnya dipasrahi uang untuk keperluan hidup saya sendiri saat aqil baligh
Nah di saat aqil baligh itulah saya belajar bagaimana caranya mendapatkan uang. Tapi sdh lihai dengan pengelolaan
Maka siapkanlah anak-anak kita cara mengelola uang terlebih dahulu sebekum mereka bisa mendapatkannya.✅
4⃣. Tia-serang
assalamualaikum
saya pernah membaca artikel ttg org tua "helikopter" yaitu org tua yg "terbang rendah" dalam mengawasi anakny( kasarnya gk mau jauh2 Dari anakny shg mudah mengawasi).org tua model ini yg ditakutkan menciderai fitrah kemandirian anak.
pertanyaan saya:
1.saya merasa mjd ortu yg mengarah kesitu krn saat ini meskipun anak saya masih balita saya tdk mau jauh2 Dari anak saya.Apakah hal ini bisa terjadi ketika anak saya sdh 15 th keatas? pdhl dikatakan bahwa anak yg sdh baligh tdk mau terlalu dicampuri urusannya.
2.saya seorang instruktur/pengajar yg biasa mengajar anak2 remaja Dan alhamdulilah saya bisa menjadi teman bagi murid-murid saya.Apakah saya bisa melakukan hal tersebut terhadap anak saya kelak?(mengingat saya merasa ada bakat utk mjd ortu "helikopter"
3.jika kita membantu menyiapkan kebutuhan dasar anak2 yg sdh baligh dianggap sedekah apakah jika anak2 yg sdh baligh membantu orang tuanya juga disebut sedekah?
semoga pertanyaan2 ini sempat terjawab.terimakasih?
👩 bunda Septi
Wa'alaykumsalam Ibu Tia di Serang
1. Orangtua "helikopter" tidak harus selalu dimaknai dg terbang rendah saat mengawasi anaknya. Tetapi bisa juga dengan "helicopter view". Kalau menghadapi tantangan di keluarga/anak-anaknya maka lihatlah tantangan tsb dengan jangakauan pandangan yg lebih luas, jangan hanya apa yg kita lihat di depan mata.
Kalau anda tipe yg ingin selalu dekat dengan anak terus menerus, ya terima, mungkin memang fitrah penjagaan anak dan tipe anak-anak anda cocok dg gaya tersebut, shg tidak masalah. Yg jadi masalah adalah ketika anda mengkerdilkan kemandirian mereka. apa-apa serba ditolong.
2.Prinsip saya sebagai ibu dan istri, kalau di luar saya tampil cantik, maka di dalam rumah harus lebih cantik. Di luar sabar dg anak orang lain, maka di dalam rumah harus lebih sabar. Hanya itu. Dan semua berjalan dengan baik.
3.Anak baligh yg membantu orangtuanya yg masih produktif dan mampu, itu hadiah.
Anak baligh yg membantu orangtuanya yg produktif dan tidak mampu itu sedekah.
Anak baligh yg membantu orangtuanya yg sdh udzur, tidak produktif dan tidak mampu itu kewajiban✅
Penutup
👩 bunda Septi
Home Education itu adalah hal alamiah yg sudah menjadi fitrah keayahbundaan kita. Jadi yang mudah jangan dibuat sulit yang alamiah jangan dibuat-buat menjadi tidak alamiah.
Temanilah anak-anak kita dengan baik, jangan jejalkan apapun. Karena mendidik itu adalah proses membangkitkan apa yg sudah ada dalam diri anak-anak kita
Selamat menjalanai proses Home Education bersama anak-anak
Mungkin memang tidak mudah, tapi kita bisa membuatnya menjadi lebih menyenangkan
Home Education itu adalah hal alamiah yg sudah menjadi fitrah keayahbundaan kita. Jadi yang mudah jangan dibuat sulit yang alamiah jangan dibuat-buat menjadi tidak alamiah
Noted ibu... akan kami ingat selalu pesan dari ibu. Semoga Ayah Bunda semakin rileks dalam menjalani kesejatian perannya. Aamiin...
Alhamdulillah, terima kasih ibu sdh berkenan membagikan mutiara ilmu yg bermanfaat, semoga kami mampu menyerap hikmah dan mampu mengaplikasikannya dlm keseharian membersamai anak anak menumbuhkan fitrahnya. Aamiin
Mari kita tutup kulwap siang ini dengan membaca hamdalah istigfar dan doa kafaratul majelis
Alhamdulillahirabbil'alamiin...
Astagfirullahadziim...
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
“Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allailahailla anta astaghfiruka wa’atubu ilaik”
Artinya : “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada tiada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi, Shahih)
HEbAT Community 📚
Jum‟at, 27 Januari 2017
> SME : Bunda Septi Peni Wulandani
> Admin : Bunda Ina (Kalimantan)
> Host & Co Host : Bunda Dini (Sulawesi) & Bunda Maufiroh (Surabaya)
> Notulis : Bunda Yuli (Bandung)
Teknik Pendidikan Post Aqil Baligh Usia> 15 tahun
SME:
Ibu Septi Peni Wulandani
====================
Tema aktivitas anak-anak di susia 15 th > ini adalah KAYA KEGIATAN.
Perbanyak aktivitas anak-anak yg mereka bener-bener merasa enjoy. Di usia ini anak-anak diajarkan unt tuntas melakukan pilihan kegiatannya.
Apa yg sdh dipilih harus diselesaikan. Tidak boleh setengah-setengah. Perkara nanti mau ganti aktivitas yg lain silakan, syaratnya yg pertama harus selesai. It's nice to do what you love, but the secret of life is to love what you do.
Dari sisi visi dan misi hidup, anak-anak aqil baligh sudah menemukan potensi dirinya dan mampu mengembangkan potensi diri, potensi alam dan potensi zaman. Uruan Iman, Adab, Akhlak dan Bicara sudah tidak di mulai dari awal. Anak-anak yang sudah masuk aqil baligh ini tinggal mengimplementasikan ke 4 hal tersebut dalam kehidupan sehari-harinya. Karena anak-anak aqil baligh ini sudah harus mengusung visi peradaban.
Anak aqil baligh ini sudah harus melatih kemampuan mengadabkan manusia, mampu mengadabkan alam, zaman, dan memiliki akhlak mulia. Karena misi kehidupan para aqil baligh tidak akan jauh dari misi hidup Rasulullah yaitu menyempurnakan akhlak
manusia.
Maka mereka akan memiliki peran peradaban:
1. Sebagai khalifah fil Ardh
2. Mampu memikul kewajiban syar’i secara individu dan social
3. Menjadi muzakki
Di usia aqil baligh para alim ulama sepakat bahwa apabila kita masih menyediakan segala keperluan pribadi anak, termasuk kebuthan dasarnya, maka sifatnya bukan wajib melainkan sedekah. Anak-anak sering diajak melihat case case kehidupan di sekitarnya, kemudian menjadi problem solving.
Contohnya:
kemacetan di Bandung, challenge: andaikan kamu yang pegang Bandung, apa yang akan kamu lakukan?
Kemudian di break down dengan langkah kecil ang bias dia lakukan sekarang. Lama-lama anak akan jadi project based talent leader.
Di titik ini anak sudah dibekali ilmu ikhtiar dan rizqi, sehingga saat 15 tahun ke atas anak paham bahwa bukan tugas kita mengkhawatirkan rizqi, melainkan menyiapkan jawaban “dari mana” dan “untuk apa” atas tiap karunia. Ikhtiar itu bagian dari ibadah, sedangkan rizqi itu urusan Allah. Ikhtiar itu laku perbuatan yang harus dilakukan sungguh-sungguh, rizqi itu kejutan dari-Nya.
Semakin dini kita persiapkan pendidikan berbasis potensi dan akhlak kepada anak-anak kita, maka semakin cepat anak-anak “terpanggil” dalam menunaikan ibadah syar’I termasuk diantaranya haji dan nikah di usia muda. Karena prinsipnya bukan orang yang “mampu” yang akan dipanggil oleh Allah SWT, melainkan Allah akan “memampukan” orang yang terpanggil.
======================
??SESI TANYA JAWAB??
1⃣. Sherly - Malang
Assalamualaikum bunda Septi,
Bagaimana bila cita-cita anak di bidang yg mengharuskan ia menempuh jalur akademis. Seperti dokter, bidan, tentara dsb. Sehingga sulit bila anak diharapkan mandiri di usia 15 tahunan. Bagaimana menyiasati hal ini? Terimakasih 🙏
👩 Bunda Septi
Wa'alaykumsalam wr.wb bunda sherly di Malang, kemandirian itu tidak selalu dinilai dengan kemandirian finansial. Bisa dimulai dari kemandirian pemikiran. Anak-anak sdh bisa jadi pembuat keputusan untuk dirinya, tidak bergantung pada orang lain, meskipun itu ayah dan ibunya. Sudah bisa diberikan tanggung jawab atas peran hidupnya dll. Sehingga sekolah yg memerlukan waktu lama tidak selalu identik dengan masa "pembocahan" yg dilamakan pula.
Contoh :
Saya masuk jalur akademis,
Ketika saya dulu masuk kuliah awal, harus berpisah kotq dg ibu saya. Beliau memberikan sejumlah uang yg beliau kumpulkan dari mulai saya di kandungan - SMA, kemudian pesan beliau hanya satu
"Ini uang untuk kuliah dan hidupmu dari awal sampai lulus, ibu nggak mau kamu pulang karena uangmu habis dan minta ibu, ibu ingin kamu pulang karena kangen sama ibu, karena ibu yakin kamu bisa mengelola hidupmu lebih baik"
Disaat itulah saya harus mulai berpikir, menyusun strategi hidup, belajar survival, mencari berbagai ilmu.
Dan masa itulah pelajaran besar bagi saya untuk bekal hidup saat mulai berkeluarga.
Saya jadi paham bagaimana menjadi produsen bukan konsumen, bagaimana menjadi leader bukan follower, bagaiman menjadi driver bukan passenger. Karena hidup setelah aqil balighlah yang mendorong saya untuk bisa menjadi khalifah di muka bumi ini✅
2⃣. Elly Nurhayati - Depok
1. Club talent yg diikuti anak2 bu Septi itu seperti apa ya?dibuat sendirikah atau seperti "sekolah/les khusus"?
2. Lalu jika kita selaku ortu memiliki keterbatasan tempat dan waktu untuk memasukkan anak ke club talent, adakah solusi lain?
3. Bagaimana cara membaca bakat anak oleh kita sendiri?
👩 bunda Septi
Ibu Elly di depok
1. Untuk club talent anak-anak tidak selalu masuk club. Ada yg dia kerjakan sendiri, komitmen setiap hari berapa jam mengasah passion nya terlebih dahulu. Ada juga yg berkelompok dengan membuat project based. Ada juga yg masuk club karena kami tidak punya fasilitasnya. Semua itu kondisional, beragam caranya.
2. Kalau orangtua punya keterbatasan tempat dan waktu kami mensiasatinya dengan membuat CBE. Sehingga anak-anak bisa mengasah talent mereka antar komunitas saja.
3.Saya membuat konsep pandu 45 untuk memberikan panduan beragam aktivitas anak-anak yg kemungkinan besar mengarah pada bakat mereka ✅
3⃣. Arny (jakarta)
Assalamualaikum Bunda Septi, juga AyBun HEbAT yg dirahmati Allah😍
Jika anak (>15th) sudah bisa mencari maisyah, namun belum bisa memanage penggunaan uang dg baik dan masih meminta pada orangtua bagaimana ya?
Kriteria apa saja yg menjadikan anak bisa dkatakan mandiri, jazakumullah khoiron katsir😊
👩 bunda Septi
Wa'alaykumsalam bu arny, tantangan yg ibu hadapi banyak dialami oleh keluarga-keluarga yg lain.
Selama ini kita mendidik anak-anak kita, menyekolahkan anak-anak kita, dg harapan agar mereka bisa mendapatkan pendapatan sendiri. Tapi kita lupa untuk mrlatih mereka pada pengelolaan uangnya.
Maka saya dulu sebelum aqil baligh, hanya dilatih ibu untuk mengelola uang terlebih dahulu bukan dituntut untuk mendapatkan uang.
Contoh:
Saya bertugas mengelola uang belanja bulanan sejak kelas 4 SD.
Setiap kali ibu saya terima gaji, beliau mengajarkan pada saya bagaimana membagi-baginya untuk hak Allah, hak masa depan, hak orang lain dan hak diri sendiri.
Yg hak diri sendiri diserahkan ke saya selaku kepala rumah tangga ( yg mengatur segala keperluan rumah ).
Terus menerus dilatih sampai akhirnya dipasrahi uang untuk keperluan hidup saya sendiri saat aqil baligh
Nah di saat aqil baligh itulah saya belajar bagaimana caranya mendapatkan uang. Tapi sdh lihai dengan pengelolaan
Maka siapkanlah anak-anak kita cara mengelola uang terlebih dahulu sebekum mereka bisa mendapatkannya.✅
4⃣. Tia-serang
assalamualaikum
saya pernah membaca artikel ttg org tua "helikopter" yaitu org tua yg "terbang rendah" dalam mengawasi anakny( kasarnya gk mau jauh2 Dari anakny shg mudah mengawasi).org tua model ini yg ditakutkan menciderai fitrah kemandirian anak.
pertanyaan saya:
1.saya merasa mjd ortu yg mengarah kesitu krn saat ini meskipun anak saya masih balita saya tdk mau jauh2 Dari anak saya.Apakah hal ini bisa terjadi ketika anak saya sdh 15 th keatas? pdhl dikatakan bahwa anak yg sdh baligh tdk mau terlalu dicampuri urusannya.
2.saya seorang instruktur/pengajar yg biasa mengajar anak2 remaja Dan alhamdulilah saya bisa menjadi teman bagi murid-murid saya.Apakah saya bisa melakukan hal tersebut terhadap anak saya kelak?(mengingat saya merasa ada bakat utk mjd ortu "helikopter"
3.jika kita membantu menyiapkan kebutuhan dasar anak2 yg sdh baligh dianggap sedekah apakah jika anak2 yg sdh baligh membantu orang tuanya juga disebut sedekah?
semoga pertanyaan2 ini sempat terjawab.terimakasih?
👩 bunda Septi
Wa'alaykumsalam Ibu Tia di Serang
1. Orangtua "helikopter" tidak harus selalu dimaknai dg terbang rendah saat mengawasi anaknya. Tetapi bisa juga dengan "helicopter view". Kalau menghadapi tantangan di keluarga/anak-anaknya maka lihatlah tantangan tsb dengan jangakauan pandangan yg lebih luas, jangan hanya apa yg kita lihat di depan mata.
Kalau anda tipe yg ingin selalu dekat dengan anak terus menerus, ya terima, mungkin memang fitrah penjagaan anak dan tipe anak-anak anda cocok dg gaya tersebut, shg tidak masalah. Yg jadi masalah adalah ketika anda mengkerdilkan kemandirian mereka. apa-apa serba ditolong.
2.Prinsip saya sebagai ibu dan istri, kalau di luar saya tampil cantik, maka di dalam rumah harus lebih cantik. Di luar sabar dg anak orang lain, maka di dalam rumah harus lebih sabar. Hanya itu. Dan semua berjalan dengan baik.
3.Anak baligh yg membantu orangtuanya yg masih produktif dan mampu, itu hadiah.
Anak baligh yg membantu orangtuanya yg produktif dan tidak mampu itu sedekah.
Anak baligh yg membantu orangtuanya yg sdh udzur, tidak produktif dan tidak mampu itu kewajiban✅
Penutup
👩 bunda Septi
Home Education itu adalah hal alamiah yg sudah menjadi fitrah keayahbundaan kita. Jadi yang mudah jangan dibuat sulit yang alamiah jangan dibuat-buat menjadi tidak alamiah.
Temanilah anak-anak kita dengan baik, jangan jejalkan apapun. Karena mendidik itu adalah proses membangkitkan apa yg sudah ada dalam diri anak-anak kita
Selamat menjalanai proses Home Education bersama anak-anak
Mungkin memang tidak mudah, tapi kita bisa membuatnya menjadi lebih menyenangkan
Home Education itu adalah hal alamiah yg sudah menjadi fitrah keayahbundaan kita. Jadi yang mudah jangan dibuat sulit yang alamiah jangan dibuat-buat menjadi tidak alamiah
Noted ibu... akan kami ingat selalu pesan dari ibu. Semoga Ayah Bunda semakin rileks dalam menjalani kesejatian perannya. Aamiin...
Alhamdulillah, terima kasih ibu sdh berkenan membagikan mutiara ilmu yg bermanfaat, semoga kami mampu menyerap hikmah dan mampu mengaplikasikannya dlm keseharian membersamai anak anak menumbuhkan fitrahnya. Aamiin
Mari kita tutup kulwap siang ini dengan membaca hamdalah istigfar dan doa kafaratul majelis
Alhamdulillahirabbil'alamiin...
Astagfirullahadziim...
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
“Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allailahailla anta astaghfiruka wa’atubu ilaik”
Artinya : “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada tiada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi, Shahih)
Komentar
Posting Komentar