🌹MODUL #13 🌹
By: Usz. Amalia Husna Bahar
Senin, 10 April 2017
🔥🔥 PENYERANGAN TENTARA BERGAJAH 2
Pada modul sebelumnya dikisahkan bahwa Abdullah telah mendapatkan seorang guru baru yaitu Faymiyun, dan ajaran Faymiyun dianggap lebih baik dari pada penyihir agung...kisah selanjutnya.
`Abdullah meneruskan perjalanannya ke penyihir agung. Dalam tiap langkahnya ia terus merenungkan apa yang dikatakan oleh Faymiyun. Perasaan saat bersama Faiamayun sangat berbeda dengan saat ia bersama penyihir agung. Di sana ia melihat beragam hewan diikat dan setumpuk buku sihir. Setelah belajar dasar-dasar sihir `Abdullah kembali ke Najran dan mencermati keadaan penduduk yang hidup menderita dan merana. Ia bercita-cita untuk mengakhiri penderitaan itu secepatnya.
Sejak bertemu dengan Faymiyun, `Abdullah sering menemui Faymiyun dan belajar agama. Baginya injil yang dibacakan Faymiyun kepadanya dapat membuatnya tenang. Sebaliknya, sihir yang ia pelajari dari penyehir agung hanya membuatnya semakin hari semakin muak. Ketika tahu trik yang dimainkan penyihir ia semakin benci dan merasa selama ini telah ditipu.
Hingga pada suatu hari ketika `Abdullah menyusuri jalan pulang yang berada diantara bukit ia melihat kerumunan orang tepat di depannya.
“Apa yang terjadi? Mengapa kalian berkerumun di sini?” Tanya `Abdullah pada salah seorang dari mereka
“Anak muda…, bukankah engkau adalah murid dari penyihir agung?” orang itu malah balik bertanya
“Benar sekali.., mengapa kalian berhenti di sini?”
“Di sana ada ular besar menghalangi jalan. Kami takut dan tidak bisa menyingkirkannya.” Selesai berkata demikian orang itu langsung berteriak “Saudara saudara sekalian mari beri jalan… murid penyihir agung ada di sini, ia akan menyingkirkan ular itu”
Sambil berbicara satu sama lain, orang itu memberikan jalan kepada`Abdullah. Dalam hati `Addullah membatin, “Hari ini akan jelas siapa yang benar, Faymiyun atau guruku” sejurus kemudian ia mengacungkan tangan tinggi tinggi, “Ya Allah, jika perkara kakek tua yang rajin beribadah lebih Engkau daripada perkara para penyihir, maka matikan orang ini agar orang-orang bisa lewat dengan selamat” gumam `Abdullah lirih.
Selesai mengucapkan kata-kata itu, `Abdullah segera meraih batu kecil dan ia lemparkan kea rah ular itu. Sungguh ajaib, ular besar itu terkapar dengan lidah terjulur kaku. Semua yang melihat kejadian itu terpukau dan terpaku keheranan. Bagaimana cara anak muda ini mematikan ular raksasa itu?
“Apakah engkau membunuhnya dengan mantera sihir, anak muda?”
“Tidak saudaraku…, Allah lah yang membunuhnya. Ular itu diciptakan Allah swt, matahari, langit dan bulan, manusia, kita semua dan para nenek moyang kita yang lama telah tiada. Dia menyeruh kita untuk menyembah-Nya dan tidak menyembah selain Dia. Jadi hanya kepadaNyalah kita menyembah dan bersujud.” Terang `Abdullah panjang lebar
“Maksudmu kami tidak boleh menyembah Paduka Raja Dzu Nuwas?”
“Tepat sekali, raja itu ialah manusia yang sama seperti kalian. Ia mengalami lapar haus dan juga sakit. Ia manusia lemah yang tidak patut disembah dan berlaku keji terhadap hambah Allah. Allah menciptakannya sebagaimana kalian diciptakan. Dia kuasa untuk mencabut nyawanya sekarang juga, kemudian dimintai tanggung jawab atas semua kezalimannya”
Usai mengucapkan kata-kata tersebut `Abdullah meninggalkan orang-orang yang masih dalam keheranan. Celakanya, di antara kerumunan orang tadi ada mata mata Dzu Nuwas. Ia pun segera menghadap Dzu Nuwas dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Dzu Nuwas marah besar. Dia langsung memanggil penyihir agung yang mengajarinya sihir.
“Paduka, kirimlah prajurit untuk membawanya kemari. Tuan akan mendapatkan apa yang Tuan inginkan” pinta penyihir agung dengan wajah tertunduk
Prajurit Dzu Nuwas segera ke rumah Tsamir
“Mana anakmu? Paduka Raja Dzu Nuwas menginginkan anakmu menghadap segera juga” kata prajurit itu dengan garang
“Anakku..? ia sedang belajar sihir pada penyihir agung, apa yang telah ia berbuat hingga kalian bersikap kasar seperti ini?”
“Anakmu itu telah menyeruh orang-orang untuk menyembah Allah dan berpaling dari Raja Dzu Nuwas”
“Apa…? Apa…? Kalian pasti salah. Tidak mungkin anakku melakukan hal yang kalian tuduhkan”
Prajurit tidak menghiraukan apa yang Tsamir katakan ia terus mencari `Abdullah. Hingga akhirnya `Abdullah tertangkap dan menghadap Dzu Nuwas
"Mengapa kau menyeruh penduduk untuk menyembah Allah dan berpaling padaku?” Tanya Dzu Nuwas saat `Abdullah berada di depannya.
“Padaku Raja, engkau hanyalah satu di antara hambah Allah yang diberi kekuasaan. Maka dari itu, sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan apa pun. Tinggalkan kekufuran dan kesesatan sekarang juga. Sudah cukup engkau merampas harta dan kekayaan alam negeri ini. Allah pasti memintamu bertanggung jawab atas semua perbuatanmu, lalu memberikan balasan yang setimpal atas perbuatanmu” jawab `Abdullah dengan penuh wibawa dan amat meyakinkan.
“Cukup! Hentikan omong kosongmu itu bocah! Dengarkan baik-baik. Jika engkau tidak mencabut kata-kata mu dan bersujud padaku sekarang juga, serta member tahu penduduk bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali aku, maka aku akan membunuhmu dengan kejam!”
“Sayang, aku tidak gentar dengan ancamanmu Raja,” jawab `Abdullah sambil tersenyum
“Pengawal…! Tangkap Abdullah dan lemparkan dia dari atas gunung jika tidak mau mencabut kata-katanya!”
Titah ini segera dilaksanakan prajurit. `Abdullah dibawa ke atas gunung.
Allah swt mengirimkan badai pada puncak gunung itu. Para prajurit yang hendak mengeksekusi `Abdullah, gugur berjatuhan. `Abdullah selamat dan tidak cedera sedikit pun. Ia segera kembali menemui Dzu Nuwas
“Engkau belum mati, engkau pasti telah membunuh prajuritku dengan sihirmu” kata Dzu Nuwas tak dapat menyembunyikan ketakutannya
“Kau salah besar Tuan. Allah lah yang telah menyelamatkanku dengan kekuasaan dan kekuatan-Nya” jawab Abdullah mantab.
“Pengawal bawa pemuda ini ke tengah laut, ikat tubuhnya dengan batu besar, lalu tenggelamkan” perintahnya pada pengawalnya
“Raja, engkau tidak akan dapat membunuhku kecuali dengan izin Allah” kata Abdullah
Prajurit kemudian membawa `Abdullah ke tengah laut. `Abdullah berkata kepada mereka “Prajurit, ikutilah seruanku dan berimanlah kepada Tuhan, agar Dia tidak menuntut balas atas kalian”
`Abdullah berdoa, “Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki”
Belum selesai `Abdullah berdoa seketika langit diselimuti awan hitam, ombak laut bergejolak membalikkan perahu yang ditumpanginya. Semua prajurit mati sedangkan `Abdullah terapung hingga ke pantai. Seakan tidak pernah jera, `Abdullah kembali lagi ke istana. Dzu Nuwas hampir gila melihat pemuda itu masih hidup
“Allah telah menyelamatkanku dari mereka. Dzu Nuwas bertaubatlah kepada Allah, pasrahkan dirimu pada-Nya, dan tinggalkan kesesatanmu”
“Aku pasti akan membunuhmu sekarang!”
“Jika kau hendak membunuhku, kumpulkan seluruh penduduk di alun alun dan ikat aku pada kayu, lalu panah aku sambil membaca, ‘Atas nama Allah, Tuhan pemuda ini”. Hanya ini cara untuk membunuhku. Aku adalah hamba Allah dan Nasibku berada di tangannya.
Dzu Nuwas mengikuti saran dari `Abdullah. Ia segera mengumpulkan penduduk di alun-alun dan mengikat `Abdullah pada kayu salib. Ia segera mengambil busur panah milik `Abdullah sendiri. “Bismillahi rabbil ghulam” gumamnya lirih. Ia lepaskan anak panah itu dan tepat mengenai pelipis `Abdullah. Pemuda saleh ini pun mati dengan senyum tersungging.
Peristiwa ini membuat orang-orang yang berkumpul di alun-alun memberontak. Keyakinan mereka terhadap Allah semakin mantab. Buktinya `Abdullah bisa mati dengan mengucapkan nama Allah sebelumnya. Pemberontakan besar terjadi. Mereka seketika berubah menjadi orang-orang yang tidak takut mati. Namun, pasukan Dzu Nuwas berhasil mengendalikan keadaan. Dzu Nuwas yang telah naik pitam kemudian, memerintahkan prajuritnya untuk menggali parit mengelilingi alun-alun dan membuat kobaran api pada parit tersebut.
Orang-orang yang beriman dilemparkan ke dalam kobaran api. Hingga tibalah giliran seorang wanita yang memiliki tiga orang anak. Kedua anaknya direnggut darinya dan dilemparkan ke dalam kobaran api. Wanita itu hanya bisa mengelus dada menyaksikan hal tersebut. Naluri keibuannya tersentuh ketika melihat anak bungsunya yang masih menyusu. Air matanya berlinang membasahi pipi. Mukjizat pun terjadi, bayi yang masih merah itu dapat berbicara dengan lancar “Ibuku..bersabarlah… engkau berada di jalan yang benar” melihat kebesaran Allah dengan mata kepalanya sendiri. Memantapkan keyakinannya. Tanpa dipaksa, ia dengan sendirinya melompat ke dalam kobaran api dengan membawa iman.
Dalam targedi ini 20.000 penduduk Najran meninggal dalam keadaan Syahid
🤔 Tetapi , ada seorang diantara mereka yang berhasil selamat dari pembunuhan massal itu. Dia bernama Daus Dzu Tsa’laban.
Apa peran Daus Bin Tsa’laban ini ?...
🐪 Kelanjutan kisahnya menjadi penyambung antara ashabul ukhdud dengan penyerangan Raja Abrahah kepada tentara bergajah.
Komentar
Posting Komentar