📚Resume Kulwap MATRIKULASI Regional Tengah HEbAT Community 📚
👳🏽 Narasumber: Ust. Adriano
Rusfi, Psi
Rabu,
21 Desember 2016
👱🏻♀ Admin : Bunda Rima (Banyumas)
👱🏻♀ Host : Bunda Lala (Semarang)
👱🏻♀ Co Host : Bunda Nifah
(Bandung)
👱🏻♀ Notulis : Bunda Yuli (Bandung)
📝 Materi
"Tetap
optimis, karena Allah telah menginstall parenting pada tiap fitrah
ayahbunda."
Bahkan pada
tiap ayahbunda parenting yang diinstall pun berbeda-beda. Begitulah hebatnya
ilmu Allah.
Selain
belajar tentang fitrah anak, mari belajar fitrah ayahbunda. Karena yang paling
ahli mendidik anak bukanlah saya, tapi ayahbunda mereka.
Fitrah ayah
dan fitrah bunda adalah karakter-karakter yang Allah lekatkan pada mereka, yang
mempengaruhi perilaku dan pola asuh mereka terhadap anak-anak mereka.
Fitrah
ayahbunda itu minimal ada tiga :
Pertama, fitrah sebagai manusia biasa
yang punya kebutuhan, kelebihan, kelemahan, kegembiraan, keletihan, emosi dan
sebagainya. Jadi, dalam pendidikan anak perlu disadari bahwa : ayahbunda juga
manusia, bukan robot parenting
Kedua, fitrah sebagai laki-laki dan
perempuan, yang wujud dalam maskulinitas dan femininitas. Sehingga, dalam
pengasuhan dan pendidikannya ayah dan bunda harus berbasis pada karakternya sebagai
laki-laki dan perempuan.
Ketiga, fitrah sebagai orangtua bagi
anak-anaknya, yang memiliki hak, kewenangan dan kewajiban atas anak-anak.
Mereka bukan hanya pengasuh dan pelayan, tapi juga pemimpin dan pengelola.
Jangan
sampai teori parenting yang kita pelajari melumpuhkan naluri, intuisi dan
firasat parenting kita.
"Minta
fatwalah pada hatimu, karena kebajikan adalah apa-apa yang menenteramkan
hati" (AlHadits)
Mereka-mereka
yang terbiasa dengan amalan nafilah (sunnah), maka Allah akan menjadi mata,
telinga, tangan dan kaki, yang dengannya di melihat, mendengar, bekerja dan
berjalan (dari Hadits Qudsi)
Belakangan
kita agak mengabaikan dan kurang mempertajam firasat. Padahal Rasulullah SAW
bersabda :
"Hati-hatilah
dengan firasat mu'min. Sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah"
Parenting
yang baik adalah parenting yang mampu meningkatkan kepercayaan diri para
Ayahbunda untuk mendidik anak-anaknya sendiri berdasarkan fitrah pendidikan.
Parenting yang
buruk adalah parenting yang membuat Ayahunda tergantung kepada para mentor
parenting dalam mendidik anak-anaknya.
Jika
ditanyakan kepada saya "apa modal yang terbaik dalam parenting?",
maka saya akan mengatakan modal terbaik dalam parenting adalah cinta dan
ketulusan.
Sebagai
Ayahbunda dengan segala kelemahannya, maka kita pasti akan melakukan sejumlah
kesalahan dalam mendidik anak-anak kita. Namun, cinta dan ketulusan akan
mengkoreksi segala kelemahan dan kesalahan tersebut.
Sungguh,
andai kita hanya mengandalkan kemampuan kita saja dalam mendidik anak-anak
kita, tentulah anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang kacau dan
durhaka.
Namun, Allah
tak pernah tidur mengintervensi dan memperbaiki segala kelemahan dan kesalahan
kita dalam mendidik anak-anak kita.
Maka setiap
malam sebelum tidur bermohonlah kepada Allah agar Ia mendidik anak-anak kita,
serta mengkoreksi segala kesalahan dan kelemahan kita.
Bashirah
dalam hal apapun lahir dari totalitas, dedikasi dan kepedulian yang tinggi
terhadap segala hal yang akan kita tangani.
Allah telah
berjanji bahwa orang-orang yang total dan dedikatif dalam menangani segala hal,
maka Allah akan menunjukkan banyak jalan baginya. Dan mereka mereka yang telah
menjual dirinya kepada Allah, diantaranya melalui pendidikan bagi anak-anaknya,
maka Allah akan menjadi penyantun baginya.
Sahabat,
Tentang cara mempertajam bashirah saya sudah menyampaikannya di atas
Salah satu
indikatornya adalah : jika hati kita tenteram untuk melaksanakan sesuatu
terhadap anak-anak kita, walaupun itu bertentangan dengan sejumlah teori
parenting, maka sesungguhnya ketentraman hati itu adalah pertanda dari bashirah
Islamiyah.
Bashirah
Islamiyah itu bukan hanya menjadi hak prerogatif dari orang-orang yang memiliki
tingkat keimanan tertentu saja, karena sesungguhnya Allah tidak pernah kikir
memberikan ilham-ilhamNya kepada siapa saja.
Bahkan ilham
dari Allah Ia berikan terhadap orang kafir sekalipun. Makanya tak mengherankan
jika kreasi iptek banyak Allah ilhamkan kepada orang-orang kafir.
Jadi jangan
pernah merasa tak cukup bertaqwa untuk bertanya pada hati. Allah tidak se
selektif yang kita bayangkan. Kasih-sayangNya jauh melampaui angan-angan paling
optimis kita
Sahabat,
Jauhi hal-hal yang meragukan, lakukan hal-hal yang hati kita yakin
Yakin itu
bermula dari ilmu yang melahirkan pemahaman. Jika sebuah ilmu justru melahirkan
keraguan dan ketidakpercayaan diri, maka ilmu itu harus dijauhi
Ragu dan
waswas itu datang dari syaithan. Obatnya adalah ilmu dan ta'awudz
---------------------------------------------
♻
Disusun kembali oleh Tim Fasilitator HEbAT Community
📚📚📚📖📰📖📚📚📚
====================
❓❓
Tanya Jawab ❓❓
1⃣ Mentor Parenting bagi
ABK
📝
Endang - Malang
Assalamualaikum...
Tadi
dikatakan di materi kalau parenting yg buruk jika kita tergantung dgn mentor.
Kalau kasus anak ABK (korban KDRT) yg sedang menjalani terapi perilaku, sejauh
mana kita bisa bersinergi dengan mentor dalam menjalankan terapi tersebut?
Jazakillah Khoir
Jawaban :
1⃣ Bunda Endang di Malang :
Dalam
parenting kita memang butuh mentor, yaitu orang yang menguasai konsep-konsep
pendidikan dan perkembangan anak, tentunya yang berbasis Islami.
Namun
demikian, mentor yang terbaik dalam mendidik anak kita sendiri adalah Allah,
sedangkan pendidik terbaik tetaplah ayahbundanya.
Untuk
anak-anak dengan kasus spesial, seperti ABK, korban KDRT dsb, tentunya kita
butuh pendampingan ahli, karena kasusnya luar biasa dan tidak normal. Dalam hal
itu kita bisa mempercayai mentor lebih banyak.
Namun
demikian, pendidikan itu juga sangat melibatkan hati dan hubungan rasa. Dan ini
adalah wilayah kekuasaan ayahbundanya.
Sehingga
jika rekomendasi mentor pada saat tertentu terhadap anak kita tak cocok dengan
nurani kedua ayahbundanya, maka janganlah rekomendasi mentor kita telan
mentah-mentah.
Pada saat
itu, kita membutuhkan opini kedua (second opinion) dari ahli yang lain. Dan
yang harus kita ikuti adalah opini yang paling meyakinkan dan menenteramkan
hati kita.
Pada situasi
semacam itu kita juga butuh petunjuk dari Allah. Sehingga jangan lupa banyak
berdoa✅
2⃣ Bingung Teori Parenting
Anizar -
Situbondo
Tia-Serang,
Banten
Rina-Banyumas
Assalamu'alaikum
1. Saya
ingin bertanya dalam mendidik anak saya sering bingung krn terlalu banyak
membaca referensi ttg parenting baik yg islami maupun yg bukan, bahkan saya
sering membaca ttg pendidikan yg dilakukan dirumah oleh beberapa bunda yg
menurut saya sangat bagus. Akhirnya saya kebingungan sendiri mau pake metode yg
mana. Terus terang sampai saat ini saya masih belum bisa menentukan bagaimana cara
saya harus mendidik anak saya yg ada di fase 0-7. Mohon pencerahannya...
2. Setelah
saya melihat banyaknya ilmu parenting, melihat orang lain yg memposting
cara-cara mereka mendidik anak kok membuat saya minder. Jujur saya adalah ibu
bekerja dimana pendidikan saya dibantu oleh ibu saya. Namun, org2 yg memposting
itu jg ibu2 bekerja tapi sepertinya hebat kok bisa gitu pikir saya. Jadi kadang
saya berpikir bisa ga ya minimal saya bisa mendidik anak seperti ibu saya,
padahal ibu saya tdk memakai ilmu parenting alhamdulilah bisa dikatakan sukses.
Pertanyaan
saya bagaimana meningkatkan kepercayaan diri saya dlm mendidik anak dgn adanya
fenomena yg sy ceritakan di atas disamping itu ada perbedaan cara mendidik saya
dgn suami.
3. Mengenai
mempertajam bashirah, saya kadang menemukan dua teori parenting yg menurut
saya, sekali lagi menurut saya sama2 baik dan keduanya memiliki rujukan yg
benar dan argumen yg kuat. Lalu dalam penerapannya saya pilih salah satu yg
saya mampu menjalaninya atau dgn kata lain mudah dan simple. Bagaimana agar
pilihan saya memang benar2 terbaik diantara yg baik.
Terima kasih
🙏🏾😊
Jawaban :
2⃣ Pada dasarnya Allah
telah mengilhamkan pada diri kita tentang prinsip-prinsip dasar pendidikan
anak. Bahkan Allah telah mengilhamkan parenting yang berbeda untuk anak yang
berbeda.
Oleh karena
ini, mari kita menggali ke dalam diri kita sendiri ilham-ilham parenting yang
telah Allah install ke dalam hati kita, agar kita tak menjadi robot-robot
parenting yang mengikuti pandangan pakar.
Dalam hal
ini pandangan-pandangan ahli parenting sebenarnya bersifat pendukung dan
pemantap bagi ilham parenting yang Allah berikan. Pandangan ahli parenting juga
berfungsi untuk membimbing kita pada petunjuk Allah.
Maka jika
ada dua pendapat pakar parenting yang sama-sama meyakinkan, pilihlah salah satu
yang hati kita tenteram untuk mengikutinya. Terkadang, untuk anak A pandangan
ahli parenting X lebih mengena. Sedangkan untuk anak B justru pandangan ahli Y
lah yang lebih pas.
Untuk itu,
ayahbunda perlu lebih mengasah nurani dan intuisi parenting, dengan lebih
banyak tilawah, ibadah sunnah dan berdoa.
Untuk itu,
rasa percaya diri bahwa kita dipandu Allah dalam mendidik anak-anak kita perlu
lebih ditingkatkan.
Jangan lupa,
perilaku anak-anak kita juga merupakan cermin terbaik apakah parenting yang
telah kita pilih dan lakukan telah tepat atau tidak ✅
3⃣ Fitrah Ayah Bunda/Anak
Terciderai
Sri Oksari -
Pontianak
Ajeng -
Depok
Pratiwi -
Banjarmasin
Ummu al
Fatih - Semarang
1. Fitrah
ayah/bunda adalah karakter yg Allah lekatkan yg mempengaruhi pola asuh anak.
Bagaimana jika fitrah ayah/bunda sudah terciderai (mungkin krn pola asuh di rmh ayah/bunda ketika kecil, lingkungan
dll) atau karakter2nya sudah jauh dr fitrah iman. Seberapa besar ia akan
mempengaruhi anak? Dan bagaimana cara memperbaiki jika anak sudah terlanjur di
didik dg cara yg tidak sesuai fitrah? terimakasih atas kesempatan belajar di
grup ini dan ilmu nya ust. Adriano.
2. Klau ada
fenomena orang tua yg malah menyakiti anaknya berbuat kasar bahkan membunuh
anak kandungnya sendiri, lalu di manakah fitrah keayahbundaan nya?
3. Bagaimana
jika ada orangtua yg sifat maskulinitas cenderung dimiliki oleh ibu dan feminim
dimiliki oleh ayah? Bgmn pngaruhnya hal ini pd anak dan bgmn hrsnya ortu tsb
bersikap? Jazaakallahu
4. 'Fitrah
sebagai manusia biasa'. Sebagai orangtua yg memiliki kekurangan dan kelemahan
ada kalanya sulit mengendalikan "emosi" dalam menghadapi sesuatu hal
terhadap anak, terutama anak remaja. Jika emosi sudah terlontarkan dan
menciderai fitrah anak tersebut, lalu bagaimana kita letakkan fitroh tersebut?
apa cukup kita pahami kesalahan tersebut lalu memperbaiki diri atau bagaimana?
Jawaban :
3⃣ Pada dasarnya tak ada
ayahbunda yang sempurna. Toh pakar parenting sekalipun bukanlah manusia
sempurna yang mendidik anaknya tanpa cela. Bahkan banyak pakar parenting yang
menjadi "pakar" karena belajar banyak dari kesalahan yang
dilakukannya
Oleh karena
itu, seberapapun buruknya kepribadian pada ayahbunda, sebagai produk pendidikan
yang keliru dari masa lalu, harus tetap percaya diri bahwa dia sanggup memikul
amanah dalam mendidik anak-anaknya.
Adalah
mustahil Allah memberikan amanah anak-anak pada kita seandainya kita tak pantas
untuk mendidiknya. Allah Maha Tahu tentang apa yang Dia amanahkan dan kepada
siapa Dia amanahkan.
Untuk itu,
banyak-banyaklah minta hidayah kepada Allah tentang cara terbaik dalam mendidik
anak, apalagi saat kita sadar betapa kita memiliki masa lalu yang begitu
bermasalah dalam pendidikan.
Ketika kita
merasa sering melakukan kekeliruan dalam pendidikan anak, minta ampunlah kepada
Allah, dan mintalah Allah untuk mengkoreksi kesalahan tersebut pada anak,
menutupi kekurangannya, membasuh luka yang ditimbulkannya dan sebagainya.
Ayahbunda
sekalian, sungguh seandainya Allah tak terlibat dalam mendidik anak-anak kita,
dan hanya mengandalkan kecakapan mendidik yang kita miliki saja, tentulah anak
kita akan menjadi anak-anak durhaka semua.
Allah-lah
sebenarnya yang telah mengkoreksi kekeliruan kita dalam mendidik anak-anak
kita.
Selain itu,
mari kita terus menerus memperbaiki dan meluruskan fitrah kita. Ayahbunda
dengan fitrah yang lurus insya Allah akan mendidik anak-anaknya ke jalan yang
lurus, walau ia buta parenting ✅
4⃣ Kewajiban pada anak VS Kewajiban berdakwah
pada masyarakat
Opik -Baubau
Astri
-Jakarta
Assalamualaikum...
1. Setelah
menyelami ilmu2 HEbAT ini sy jd bingung mau menyekolahkan anak2 sy, apakah dgn
menyekolahkan di sekolah Islam sdh bisa menjawab HE?.
2. Setelah
menjadi bagian dari komunitas HEbAT ini, peran2 apa yg bisa kita berikan kpd
masyarakat melihat fenomena pemuda yg telah aqil tp belum baligh dimana mereka
tidak memiliki wadah utk berkreasi dan mengaktualisasikan diri, bahasa trendnya mereka sedang mencari jati
diri.
3. Ust.
Aad...
Manakah yang
lebih prioritas ketika ada tuntutan kewajiban untuk berdakwah di luar dengan
mendidik anak?. Sering disampaikan bahwa ketika qt menolong agama Allah maka
Allah yang akan menjaga anak-anak qt.
Jawaban :
4⃣ Mendidik anak-anak kita
sendiri adalah tanggung jawab utama yang tak dapat dialihkan dan digantikan.
Bahkan jika karena mendidik anak sendiri kita tak lagi punya waktu untuk
berdakwah dan mendidik anak-anak lain, maka itu sama sekali tak berdosa.
Ada beberapa
hal yang keliru yang harus kita luruskan dalam pendidikan anak-anak kita :
Pertama,
anggapan bahwa "Sebagaimana aku lebih cakap dalam mendidik anak orang
lain, semoga ada orang lain yang juga cakap dalam mendidik anakku". Seakan
kita ingin bertukar peran dengan orang lain dalam mendidik anak-anak.
Kedua,
anggapan bahwa "Jika kita menolong agama Allah, dengan berdakwah, maka
Allah akan menolong kita dengan cara mengutus orang lain untuk mendidik
anak-anak kita"
Saya rasa
kedua pandangan itu keliru, menyesatkan, dan apologetik. Mari kita kembali pada
prinsip ajaran Islam : Mana yang wajib, mana yang sunnah; mana yang prioritas
mana yang bukan.
Harus diakui
bahwa terkadang mendidik anak orang lain seakan lebih mudah daripada mendidik
anak sendiri, sehingga dicari-carilah alasan untuk tak mendidik anak sendiri.
Tapi justri
disinilah letak mujahadahnya. Bagaimana segala kendala ini tak membuat kita
mudah menyerah dan mencari-cari alasan.
Kita
terkadang masih sulit membedakan antara mendidik dengan mengajar. Mengajar anak
orang lain memang lebih mudah daripada mengajar anak sendiri. tapi percayalah
bahwa mendidik anak sendiri lebih mudah daripada mendidik anak orang lain.
Pertanyaannya
adalah : apakah selama ini kita mendidik anak atau mengajarinya.
Terakhir :
marilah kita banyak-banyak bersyukur, agar Allah membuka mata kita bahwa sebenarnya
kita adalah pendidik hebat yang telah melakukan banyak perubahan pada anak-anak
kita.
Seringkali
jiwa tak bersyukurlah yang membuat kita merasa gagal dan tak layak mendidik
anak sendiri. ✅
5⃣ Menumbuhkan fitrah ayah
bunda
Dian
Kusumawardani -Surabaya
Ajeng -
Depok
Assalamualaikum
1. Mau
bertanya, bagaimana bisa optimal menumbuhkan fitrah keayahbundaan shg menjadi
sebuah kekuatan dalam mendidik anak-anak?
2. Fitrah
kebundaan itu sesuatu yg alamiah tumbuh atau perlu ada usaha pembinaan utk
menumbuhkannya?
3. Ketika
kita punya anak yg sudah remaja apa perlu juga menumbuhkan fitrah tersebut dlm
program program HE?
Jawaban :
5⃣ Fitrah ayahbunda
tersebut alamiah tapi sekaligus harus digali dan ditumbuhkan. Fitrah itu
bagaikan bibit dan benih, ia telah Allah titipkan ke dalam diri kita. Namun ia
harus dijaga, dirawat, dibersihkan dari hama dan disemai.
Maka, hal
pertama yang harus dimiliki oleh ayahbunda agar fitrah keayahbundaan itu
tergali dan tumbuh dengan baik adalah dengan meyakini, percaya diri dan terus
bertanya pada diri sendiri tentang pendidikan anak terbaik, sebelum bertanya
pada orang lain atau pakar parenting.
Fitrah
keayahbundaan itu akan terbenam ketika kita tanpa sadar menganggap ada yang
lebih ahli daripada Allah dalam mendidik anak-anak kita. Sehingga kita lebih
ingin berkonsultasi pada mereka daripada kepada Allah.
Pada
dasarnya pada diri kita telah tertanam fitrah tentang yang baik dan yang buruk,
yang benar dan yang salah, yang patut dan yang tak pantas. Jika itu kita ikuti,
maka kita telah menjadi pendidik yang baik. Dan semua kebaikan itu akan kita
lakukan dengan benar jika landasan utama pendidikan adalah KASIH dan SAYANG.
Marilah kita
belajar dari Ramadhan : Kenapa agar kita kembali kepada fitrah (iedul fithri)
kita harus shaum ? Karena shaum membuat kita lebih jernih dalam merasakan
sesuatu : jernih dalam menghayati rasa lapar, lebih berempati terhadap orang
kehausan dsb.
Nah begitu
pula dengan upaya untuk mengembalikan fitrah keayahbundaan kita :
rajin-rajinlah "berpuasa", rajin-rajinlah menghayati sesuatu ketika
sesuatu itu jauh dari kita.
Orang baru
akan sadar pentingnya air saat dia haus. Orang baru sadar pentingnya oksigen
saat dia sesak nafas. Orang baru sadar pentingnya kasur saat dia mengantuk.
Nah
begitulah fitrah bekerja : menyadari sesuatu saat ia tiada.
Membangun
fitrah ayahbunda juga begitu : mencoba menghayati "seandainya saya menjadi
anak"
Mungkin
penjelasan ini terlalu filosofis. Semoga dapat dipahami. ✅
6⃣ Batasan Mendampingi Anak
Riva -
Surabaya
Tantia,
Depok
Assalamualaikum.Wr
Wb ustadz.
1. Selama
ini saya terbiasa melakukan 'ritual' memeluk anak lalu mendoakannya dan di
aamiin-kan bersama-sama. Alhamdulillah saya tenang melakukan ini, dan anak juga
lebih mudah diarahkan.
Namun kadang
ada 'polusi' yang datangnya dari keluarga juga (sepupu, seumuran), keliatan
banget perbedaan tingkah anak saya. Efeknya, saya jadi sensi kalo anak saya
main bareng, kadang saya kurung dan maen di rumah saja. Tapi di sisi lain saya
juga ingin anak saya melakukan kegiatan (eksplorasi) di luar. Bagaimana
sebaiknya saya bersikap ustadz? Jazakallah khair.
2. Ustadz
fitrah Ayah Bunda yg ketiga adalah fitrah sebagai ortu bagi anak2 nya yang
memiliki hak, kewenangan dan kewajiban atas anak2 nya. Yang saya tanyakan,
sejauh mana batasannya atas hak, kewenangan & kewajiban tersebut mengingat
mendidik bukan menjejalkan "OUTSIDE IN".
Jazakallah
ustadz..
Jawaban :
6⃣ Jangan terlalu takut
dengan "polusi", karena anak-anak kita juga butuh "polusi"
tersebut. Kita baru disebut berhasil dalam mendidik anak, jika dalam situasi
pergaulan yang penuh "polusi" ternyata anak-anak kita tidak
terkontaminasi.
Yang harus
kita lakukan bukanlah memisahkan anak-anak kita dari lingkungan yang penuh
polusi tersebut. Tapi bagaimana agar anak kita mampu membersihkan dirinya dari
polusi.
Bisa saja
dalam pergaulannya anak-anak kita terkena satu polusi, tapi sekaligus mampu
menebar sepuluh kebaikan. Bukankah itu sangat bagus dan luarbiasa ?
Justru
anak-anak yang merugi adalah anak-anak yang sama sekali tak terkena
"polusi" tapi iapun tak menebar kebaikan apapun bagi lingkungannya.
Untuk itu,
tugas kita adalah mendidik anak-anak kita dengan ego yang kuat, agar ia
mempengaruhi, bukan terpengaruh.
Betapa
banyaknya orangtua yang mendidik anak-anaknya dengan kebaikan yang banyak,
namun egonya lemah. Akhirnya kebaikan itu
pelan-pelan pupus karena pengaruh buruk dari lingkungannya.
Jadi,
mendidik kebaikan itu penting, tapi membentuk ego yang kuat juga amat penting.
Tentang hak,
kewajiban dan kewenangan orangtua, itu adalah hal yang tak terpisahkan dengan
amanah yang dipikulnya. Tak mungkin Allah mengamanahkan pendidikan anak-anak
kepada kita tanpa adanya hak dan kewenangan.
Diantara hak
dan kewenangan ayahbunda terhadap anak-anaknya adalah hak dan kewenangan untuk
membimbingnya kepada jalan Allah, lengkap dengan tuntunan aqidah dan
syari'ahnya. Ayahbunda punya hak dan kewenangan untuk
"mengintervensi" anak-anaknya agar ia tetap di jalan Allah.
hak dan
kewenangan itu telah dinyatakan dalam syari'at dengan istilah "amar ma'ruf
- nahi munkar" : menyuruh pada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar.
Tentunya hak
dan kewenangan amar ma'ruf - nahi munkar ini tidak bersifat mekanistik dan
robotik, tapi harus dimulai dari pendidikan aqidah dan pembentukan niat.
Jangan
sampai atas alasan inside-out, lalu seakan-akan kita kehilangan hak dan
kewenangan amar ma'ruf - nahi munkar terhadap anak-anak kita✅
7⃣ Bashiroh Islamiyah
Iqomah -
Bekasi
Tantia-Depok
Assalamu'alaikum
Ust,
1. Selain
dari ketentraman hati, indikator dari Bashirah Islamiyah dalam mendidik anak
apalagi ya ustad? Lalu bagaimana menyelaraskan Bashirah kita antara suami dan
istri agar tumbuh dan tajam bersama? Terima kasih.
2. Apa
kesalahan terbesar yang sering dilakukan orang tua dalam mendidik anak / menumbuhkan
fitrah dalam diri anak?
Jawaban :
7⃣ Selain ketenteraman
hati, indikator dari bashirah Islamiyah itu adalah kemampuan kita dalam
menafsirkan ajaran-ajaran Islam ke dalam upaya-upaya pendidikan. Misalnya, saat
kita membaca perintah Allah untuk berjihad, maka kita paham apa yang harus kita
didikkan pada anak agar ia mencintai jihad, lengkap dengan motif, tujuan dan
metodenya.
Indikator
lain dari bashirah Islamiyah adalah dimudahkannya kita untuk memahami dan
menyelesaikan masalah anak-anak kita tanpa terlalu bergantung pada teori-teori
dan ajaran-ajaran parenting dari ahlinya.
Untuk
menyelaraskan antara bashirah ayah dengan bunda adalah dengan sering-sering
shalat berjama'ah, istri menta'ati suaminya, dan suami mendengarkan curhat
istrinya. Selain itu sering berdoa kepada Dzat yang menguasai hati manusia agar
Dia menyatukan hati kita.
Kesalahan
terbesar orangtua dalam menumbuhkan fitrah anak adalah mengembangkan pendidikan
yang penuh dengan rekayasa serta sangat interventif. Inilah pendidikan yang tak
mengakui bahwa pada dasarnya setiap anak adalah baik, bahwa dalam diri anak
telah terinstall tentang nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.
Pendidikan
model ini biasanya sangat mengandalkan cara-cara pembiasaan (conditioning)
semata, dengan mengabaikan pendidikan untuk menumbuhkan rasa cinta pada Allah,
Rasul dan Islam. Pendidikan ini juga mengabaikan niat dan motivasi dalam
beramal. ✅
====================
Penutup
Sedikit
pesan untuk merawat fitrah ayahbunda :
Apapun
masalah yang dihadapi dalam mendidik anak, bertanyalah pada diri sendiri
terlebih dahulu, sebelum bertanya pada ahlinya.
Bertanya
pada ahlinya baru diperlukan saat kita telah "kepentok". Terkadang,
belajar sok tahu itu berguna. (Ust. Adriano Rusfi, Psi)
Komentar
Posting Komentar