🌹MODUL #10 🌹
By: Usz. Amalia Husna Bahar
Jum’at, 31 Maret 2017
5⃣ ABDULLAH DAN PERISTIWA PENYEMBELIHANNYA
Abdullah bin Abdul Muththalib atau Abdullah bin Syaibah, ia lahir pada tahun 545 dan meninggal pada tahun 570.
Masyarakat Arab jahilliah amat berbangga jika mereka dikurniakan anak yang ramai. Lebih-lebih lagi jika anak lelaki yang ramai. ini karena pada masa itu mereka mempunyai semangat perang yang tinggi. Mereka akan merasa malu jika mereka dikurniakan anak perempuan, kerana anak perempuan bagi mereka lebih banyak mendatangkan kesusahan dari kesenangan, terutamanya bila berlakunya peperangan. Karena itulah ada diantara masyarakat Arab jahilliah dulu sanggup mengubur anak-anak perempuan mereka hidup-hidup dalam pasir.
Demikian pula seperti apa yang dirasakan oleh Abdul Muthalib, tetapi Abdul Muthalib amat sayang akan anak-anaknya, Abdul Muthalib mempunya jiwa yang sangat hebat dan bersih. Dia tidak terikut-ikut dengan budaya Arab jahilliah ketika itu.
Oleh kerana Abdul Muthalib sangat menginginkan anak lelaki, maka ia bernazar pada Allah swt. Nazar yang belum pernah di lakukan oleh masyarakat Arab ketika itu.
Dia bernazar jika dia dikurniakan 10 orang anak lelaki dia akan menyembelih seorang dari mereka sebagai korban kepada berhala.
Dengan Izin Allah, maka Abdul Muthalib pun dikurniakan dengan 10 orang anak lelaki, setelah 30 tahun menunggu.
Sepuluh orang puteranya, adalah: Harits, Zubair, Abu Thalib, Abdullah, Hamzah, Abdul Uzza (Abu Lahab), Ghaidaaq, Muqawwim, Shaffar, Abbas.
Ada riwayat yang menyebutkan bahwa mereka berjumlah sebelas orang, yaitu ditambah dengan seorang putera lagi yang bernama Qutsam. Ada lagi versi riwayat yang menyebutkan bahwa mereka berjumlah tiga belas orang ditambah (dari nama-nama yang sudah ada pada dua versi diatas) dengan dua orang putera lagi yang bernama 'Abdul Ka'bah dan Hajla. Namun ada riwayat yang menyebutkan bahwa 'Abdul Ka'bah ini tak lain adalah al-Muqawwim diatas sedangkan Hajla adalah al-Ghaidaaq dan tidak ada diantara putera-puteranya tersebut yang bernama Qutsam. Adapun puteri-puterinya berjumlah enam orang, yaitu: Ummul Hakim (yakni al-Baidha'/si putih), Barrah, 'Atikah, Arwa dan Umaimah.
'Abdullah, adalah ayahanda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam : Ibu 'Abdullah bernama Fathimah binti 'Amru bin 'Aaiz bin 'Imran bin Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah. 'Abdullah ini adalah anak yang paling tampan diantara putera-putera 'AbdulMuththalib, yang paling bersih jiwanya dan paling disayanginya.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa, Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Mu’awiyyah yang mengisahkan
Rasul pernah dipanggil dengan “Ibnu Adz-Dzabihaini” oleh sahabat Ibnu ‘Arabi. Beliau hanya tersenyum tanpa sedikitpun menyangkalnya.
Sahabat lain pun bertanya: “Siapa Dzabihaini itu ya Rasulullah?” “Mereka berdua Isma il dan Abdullah”, Jawab Rasul.
Bahkan, --dalam kaitannya dengan julukan Abdullah sebagai Adz-Dzabih-- Ibnu Burhanuddin, mengangkat sebuah hadits yang dengan bahasa telanjang Rasulullah menyebut dirinya, “Ana ibnu Dzabihaini”. Namun dia tidak mengingkari ke-gharib-an hadits ini dikarenakan dalam sanadnya ada satu periwayat yang majhul [tidak diketahui].
Terlepas dari perdebatan ulama tentang status hadits pengakuan Nabi sebagai ibnu Dzabihaini, banyak hadits lain yang substansinya sejalan dengan klaim Nabi tersebut.
Karena Adz-Dzabih untuk Abdullah bin Abdul Muthalib berkaitan erat dengan kisah mimpi Abdul Muthalib yang diperintah Allah menggali sumur Zamzam.
Maka sejarah Abdullah bin Abdul Muthalib bergulir dari sini. Saat itu pembesar Quraisy menentang keras hasrat Abdul Muthalib menggali sumur Zamzam, di karenakan letaknya yang berada di antara dua berhala, Isaf dan Nailah. Selain itu, mereka juga mengetahui Abdul Muthalib tidak mempunyai apa dan siapa, kecuali seorang anak laki-laki yaitu Harits. Masih ditambah lagi dengan aura homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia yang lain) yang sedang menjangkiti kabilah-kabilah besar penguasa tanah arab. Maka lengkaplah alasan Abdul Muthalib untuk tidak berdaya.
Abdul Muthalib pun beranjak pergi dalam galau yang mendalam. Lalu berdiri di hadapan Ka’bah dan bernadzar kepada Allah SWT. Ketika Abdul Muthalib bin Hasyim menyadari bahwa hanya sedikit kemampuan yang dia miliki untuk menggali Zamzam, dia pun bernadzar,
“Jika aku dikaruniai sepuluh anak laki-laki, dan setelah mereka dewasa mampu melindungiku saat aku menggali Zamzam, maka aku akan menyembelih salah seorang dari mereka di sisi Ka’bah sebagai bentuk korban”.
Seiring perjalanan zaman, anak-anak Abdul Muthalib pun menjadi besar dan telah genap sepuluh orang. Abdul Muthalib berniat merealisasikan rencananya menggali Zamzam, sambil bersiap-siap mengorbankan salah satu anaknya sebagai bentuk pelaksanaan dari nadzar yang dia ucapkan.
Maka dilakukanlah undian atas sepuluh anaknya, lalu keluarlah nama anaknya yang paling kecil, Abdullah.
Ketika nama Abdullah keluar dalam undian, maka orang yang ada di sekitarnya berusaha menolak, mereka mengatakan tidak akan membiarkan Abdullah disembelih. Abdullah saat itu terkenal sebagai seorang yang bersih, tidak pernah menyakiti siapa pun. Muatan rohaninya demikian jernih, dan hatinya yang mulia seolah taman bunga di tengah gurun sahara yang tandus. Sungguh Abdullah telah menarik simpati masyarakat di sekitarnya.
Oleh karena itu, semua manusia datang kepadanya dan menentang usaha penyembelihannya.
Para pembesar Quraisy berkata, “Lebih baik kami menyembelih anak-anak kami sebagai tebusan baginya, daripada ia yang harus disembelih. Tidak ada yang lebih baik dari dia. Pertimbangkanlah kembali masalah ini, dan biarkan kami bertanya kepada Kahin (Peramal-dukun)”.
Abdul Muthalib tidak mampu menghadapi tekanan ini, lalu mempertimbangkan kembali apa yang telah ditetapkannya. Kemudian pembesar Quraisy mendatangi seorang Kahin.
“Berapa taruhan yang kalian miliki?” Tanya Kahin. “Sepuluh ekor unta.” Jawab mereka. “Datangkanlah sepuluh unta,
lalu lakukanlah kembali undian atasnya dan atas nama Abdullah, jika dalam pengundian yang keluar nama Abdullah lagi maka tambahlah sepuluh ekor unta, begitu seterusnya, hingga tidak keluar lagi nama Abdullah”, Perintah Kahin kepada mereka.
Kemudian dilakukanlah undian atas nama Abdullah dan sepuluh ekor unta yang besar.
Undian itu pun masih selalu mengeluarkan nama Abdullah, dan Abdul Muthalib menambah sepuluh ekor unta lagi,
hingga saat jumlah unta mencapai seratus ekor maka keluarlah nama unta tersebut.
Masyarakat begitu gembira hingga berlinang air mata, demi menyaksikan Abdullah berhasil diselamatkan. Kemudian disembelihlah seratus ekor unta di sisi Ka’bah sebagai ganti Abdullah. Kedua hadits di atas [hadits pengakuan nabi sebagai ibnu Adz-Dzabihaini dan hadits kisah penyembelihan Abdullah] mengisyaratkan sebuah konklusi, walau keduanya berbeda dalam status, namun keduanya bersepakat bahwa Abdullah bin Abdul Muthalib adalah Adz-Dzabih sebagaimana Ismail.
Demikianlah akhirnya Abdulllah tidak jadi dikurbankan, dan sebagai penggantinya adalah unta.
Modul selanjutnya berkisah tentang Abdullah dan Aminah
Komentar
Posting Komentar