Senin, 9 Januari 2017
🔪PENYEMBELIHAN ISMAIL
Kisah penyembelihan dimulai dari mimpi . Ibrahim as melihat dirinya di dalam mimpi menyembelih putranya. Sejumlah riwayat mengemukakan bahwa ia didatangi oleh seseorang di dalm mimpi. Orang itu berkata : “Sesungguhnya Allah memerintahmu untuk menyembelih putramu .”
Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi, berkaitan dengan mimpi Ibrahim itu bahwa Riwayat Muslim dari Ibn Umar berkata Rasulullah Saw bersabda :
“Mimpi yang benar adalah satu dari tujuh bagian kenabian”
Rusydi Al badrawi mengisahkan bahwa di pagi hari, Ibrahim memikirkan dan merenungkan mimpinya itu . Ia ingin memastikan bahwa apakah mimpi itu berasal dari Allah atau dari setan. Kelak, waktu dimana Ibrahim as. memikirkan dan merenungkan mimpinya itu. Kelak dimana Ibrahim memikirkan tentang mimpinya itu disebut hari “tarwiyah”. Sore hari, Ibrahim as. sampai ke keyakinan bahwa mimpinya itu berasal dari Allah. Kelak ia sampai pada keyakinannya tersebut disebut dengan hari “Arafah”.Malam di hari ke tiga Ibrahim as. mengalami mimpi yang sama. Maka ia pun bertekad menyelesaikan mimpinya itu. Waktu dimana Ibrahim as. memiliki tekad melaksanakan perintah itulah yang disebut dengan hari “An Nahr”. Maka di pagi hari itu Ismail berkata kepada Ismail as.: “Wahai putraku, ambillah tali dan pisau, lalu marilah kita menemui orang-orang itu untuk menyampaikan sesuatu.”
Abu Hurairah menyampaikan dari Ka’ab Al Akhbar, demikian pula Ibn Ishaq menyampaikan dari sejumlah orang bahwa ketika nabi Ibrahim as. melihat dalam mimpi bahwa ia menyembelih putranya, setan berkata: “Demi Allah, jika aku tidak dapat menipu daya keluarga Ibrahim as, maka kau tidak akan dapat menipudaya seorang pun dari keturunan mereka selama-lamanya.” Maka setan pun mewujudkan dirinya sebagai seorang pria, mendatangi ibu anak itu, lalu berkata kepadanya: “Tahukah engkau kemana Ibrahim pergi bersama putranya?” Sang ibu berkata: “Untuk berbicara kepada orang-orang itu.” Setan berkata “Tidak! Demi Allah dia tidak pergi bersama anaknya, kecuali untuk menyembelihnya!” Sang Ibu berkata :”Sekali-kali tidak, dia lebih sayang kepadanya dariku dan dia sangat mencinbtainya.” Setan berkata: “Dia mengira bahwa Allah memerintahkan dirinya untuk menyembelihnya.” Sang ibu berkata: ”Jika perintahnya memang demikian, maka ia lebih baik mematuhi perintah Tuhan Pemeliharanya dan memasrahkan diri kepada perintah Allah Yang Maha Tinggi itu.”
Setan pun pergi meninggalkan sang ibu, lalu mengejar sang putra yang berada di belakang ayahnya. Setan berkata kepadanya: “Nak, tahukah engkau kemana ayahmu membawamu pergi?” Sang putra berkata : “Untuk berbicara kepada keluarga kami dari kalangan orang-orang itu.” Setan membantah: “Tidak demi Allah, tidak dia tidak bermaksud lain selain menyembelihmu!” Sang putra berkata “Jika tidak?” Setan menjawab: “Ia menduga bahwa Allah memerintahnya untuk menyembelihmu!” Sang putra berkata, jika demikian, maka dia harus melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, mendengar dan patuh kepada perintah-Nya.”
Karena sang putra menampiknya, setan menemui Ibrahim as. berkata: kepadanya:”Hendak kemana engkau wahai orang tua?” Ibrahim as. berkata aku hendak menemui orang-orang itu untuk suatu keperluan.” Setan berkata: “Demi Allah aku benar-benar telah melihat bahwa setan telah datang dalam mimpimu, lalu memerintahmu menyembelih anak ini!” Ibrahim as. sadar lalu berkata: “Enyahlah dari diriku wahai makhluk terlaknat!, Sungguh, aku benar-benar akan melaksanakan perintah Tuhan pemeliharaku.” Iblis pun berlalu dari mereka dengan membawa kegagalan. Allah telah menolong Ibrahim as. dengan keluarganya dari pada tipu daya setan.
Setan menghalangi Ibrahim lalu menghalanginya, namun Ibrahim melewatinya, lalu berjalan ke Jumrah Al Aqobah. Setan menghalangi kembali, lalu Ibrahim pun melemparinya dengan tujuh batu kecil hingga setan pun pergi. Setan kembali menghalanginya di Jumrah Al Aqobah Wustha, maka Ibrahim kembali melemparinya dengan tujuh batu kecil hingga setan pun pergi. Setan kembali menghalanginya di Jumrah Al Sughra, maka Ibrahim kembali melemparinya dengan tujuh batu kecil hingga setanpun pergi.
Sebelum perintah Allah di laksanakan Ibrahim memandang perlunya, sang putra diberi tahu terlebih dahulu. Juga memberi tahu akan niatnya bahwa mimpi Nabi itu adalah benar, seperti yang dikutip dari Al Qur’an surah Ash Shaffat : 99 – 111
Dan Ibrahim berkata: Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.
100. Wahai Tuhanku, anugerahilah aku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh;
101. Maka Kami gembirakan dia dengan (kelahiran) seorang anak yang amat sabar.
102. Maka tatkala anak itu telah sampai pada usia dapat membantu bapaknya, berkatalah Ibrahim : 'Wahai anakku sayang, sesungguhnya aku melihat didalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Untuk itu bagaimanakah pendapatmu ?' Anaknya menjawab: 'Hai Bapakku, laksanakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapati aku termasuk golongan orang-orang yang sabar'.
103. Maka tatkala keduanya (bapak dan anak) telah menyerahkan diri (kepada Allah) dan Ibrahim telah merebahkan anaknya diatas pipinya (ditempat penyembelihan dan hampir menyembelihnya).
104. Maka Kami panggillah dia, 'Wahai Ibrahim' (Janganlah engkau lanjutkan perbuatan itu.)
105. Sungguh, engkau telah membenarkan (melaksanakan perintahKu dalam) mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."
106. "Sesungguhnya (perintah penyembelihan) ini benar-benar suatu ujian yang nyata,
107. Dan Kami tebus sembelihan itu dengan sembelihan yang agung,
108. dan Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.
109. Yaitu, Kesejahteraan yang senantiasa dilimpahkan atas Ibrahim."
110. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,
111. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
Untuk melaksanakan tugas ayahnya itu Ismail berpesan kepada ayahnya, “Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka.”
“Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulkan rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma'il.
Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!”
Kemudian Nabi Ibrahim as menggoreskan pedangnya sekuat tenaga ke bagian leher putranya yang telah diikat tangan dan kakinya, namun beliau tak mampu menggoresnya.
Ismail berkata, “Wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat megetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalan perintah semata-mata karena-Nya.”
Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya dengan sekuat tenaganya, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya karena pedangnya selalu terpental. Tak puas dengan kemampuanya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu, dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi mengapa kau tak mampu menembus daging?” gerutu beliau.
Atas izin Allah SWT, pedang menjawab, “Hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih, sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman, ‘jangan disembelih’. Jika begitu, kenapa aku harus menentang perintah Allah?”
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106)
Ibn Abbas meriwayatkan, bahwa Ismail diganti dengan seekor domba kibas yang dulu pernah dikurbankan oleh Habil dan selama itu domba itu hidup di surga. Malaikat Jibril datang membawa domba kibas itu dan ia masih sempat melihat Nabi Ibrahim AS menggoreskan pedangnya ke leher putranya.
Selanjutnya Ibrahim as. pun menyebelih kibas itu sebagai pengganti putranya. Hari itu kelak disebut dengan Yaum An Nahr (Hari penyembelihan)
Dan pada saat itu juga semesta alam beserta seluruh isinya ber-takbir (Allâhu Akbar) mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran kedua umat-Nya dalam menjalankan perintahnya. Melihat itu, malaikat Jibril terkagum-kagum lantas mengagungkan asma Allah, “Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar”. Nabi Ibrahim AS menyahut, “Lâ Ilâha Illallâhu wallâhu Akbar”. Ismail mengikutinya, “Allâhu Akbar wa lillâhil hamd”.
Kemudian bacaan-bacaan tersebut dibaca pada setiap hari raya kurban (Idul Adha).
🐏🐐🐑 Ibrahim as dan Ismail as adalah uswah hamba Allah dalam menjalankan segala keta’atan tanpa syarat, semuanya dilakukan dengan “Sami’na wa atho’na”. Dan juga sebagai uswah bagaimana hubungan antara seorang bapak dengan anaknya.
📢📢 Bagaimana konsep tarbiyah Aulad ini kita wujudkan dalam kehidupan kita?... serta bagaimana suami dan anak-anak kita dapat menjadi sosok Ibrahim as dan Ismail as? Beritakan kisah ini dalam keluarga agar menjadi contoh...
Oleh : Ustazah Amalia Bahar (Usz. Yuyu)
🔪PENYEMBELIHAN ISMAIL
Kisah penyembelihan dimulai dari mimpi . Ibrahim as melihat dirinya di dalam mimpi menyembelih putranya. Sejumlah riwayat mengemukakan bahwa ia didatangi oleh seseorang di dalm mimpi. Orang itu berkata : “Sesungguhnya Allah memerintahmu untuk menyembelih putramu .”
Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi, berkaitan dengan mimpi Ibrahim itu bahwa Riwayat Muslim dari Ibn Umar berkata Rasulullah Saw bersabda :
“Mimpi yang benar adalah satu dari tujuh bagian kenabian”
Rusydi Al badrawi mengisahkan bahwa di pagi hari, Ibrahim memikirkan dan merenungkan mimpinya itu . Ia ingin memastikan bahwa apakah mimpi itu berasal dari Allah atau dari setan. Kelak, waktu dimana Ibrahim as. memikirkan dan merenungkan mimpinya itu. Kelak dimana Ibrahim memikirkan tentang mimpinya itu disebut hari “tarwiyah”. Sore hari, Ibrahim as. sampai ke keyakinan bahwa mimpinya itu berasal dari Allah. Kelak ia sampai pada keyakinannya tersebut disebut dengan hari “Arafah”.Malam di hari ke tiga Ibrahim as. mengalami mimpi yang sama. Maka ia pun bertekad menyelesaikan mimpinya itu. Waktu dimana Ibrahim as. memiliki tekad melaksanakan perintah itulah yang disebut dengan hari “An Nahr”. Maka di pagi hari itu Ismail berkata kepada Ismail as.: “Wahai putraku, ambillah tali dan pisau, lalu marilah kita menemui orang-orang itu untuk menyampaikan sesuatu.”
Abu Hurairah menyampaikan dari Ka’ab Al Akhbar, demikian pula Ibn Ishaq menyampaikan dari sejumlah orang bahwa ketika nabi Ibrahim as. melihat dalam mimpi bahwa ia menyembelih putranya, setan berkata: “Demi Allah, jika aku tidak dapat menipu daya keluarga Ibrahim as, maka kau tidak akan dapat menipudaya seorang pun dari keturunan mereka selama-lamanya.” Maka setan pun mewujudkan dirinya sebagai seorang pria, mendatangi ibu anak itu, lalu berkata kepadanya: “Tahukah engkau kemana Ibrahim pergi bersama putranya?” Sang ibu berkata: “Untuk berbicara kepada orang-orang itu.” Setan berkata “Tidak! Demi Allah dia tidak pergi bersama anaknya, kecuali untuk menyembelihnya!” Sang Ibu berkata :”Sekali-kali tidak, dia lebih sayang kepadanya dariku dan dia sangat mencinbtainya.” Setan berkata: “Dia mengira bahwa Allah memerintahkan dirinya untuk menyembelihnya.” Sang ibu berkata: ”Jika perintahnya memang demikian, maka ia lebih baik mematuhi perintah Tuhan Pemeliharanya dan memasrahkan diri kepada perintah Allah Yang Maha Tinggi itu.”
Setan pun pergi meninggalkan sang ibu, lalu mengejar sang putra yang berada di belakang ayahnya. Setan berkata kepadanya: “Nak, tahukah engkau kemana ayahmu membawamu pergi?” Sang putra berkata : “Untuk berbicara kepada keluarga kami dari kalangan orang-orang itu.” Setan membantah: “Tidak demi Allah, tidak dia tidak bermaksud lain selain menyembelihmu!” Sang putra berkata “Jika tidak?” Setan menjawab: “Ia menduga bahwa Allah memerintahnya untuk menyembelihmu!” Sang putra berkata, jika demikian, maka dia harus melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, mendengar dan patuh kepada perintah-Nya.”
Karena sang putra menampiknya, setan menemui Ibrahim as. berkata: kepadanya:”Hendak kemana engkau wahai orang tua?” Ibrahim as. berkata aku hendak menemui orang-orang itu untuk suatu keperluan.” Setan berkata: “Demi Allah aku benar-benar telah melihat bahwa setan telah datang dalam mimpimu, lalu memerintahmu menyembelih anak ini!” Ibrahim as. sadar lalu berkata: “Enyahlah dari diriku wahai makhluk terlaknat!, Sungguh, aku benar-benar akan melaksanakan perintah Tuhan pemeliharaku.” Iblis pun berlalu dari mereka dengan membawa kegagalan. Allah telah menolong Ibrahim as. dengan keluarganya dari pada tipu daya setan.
Setan menghalangi Ibrahim lalu menghalanginya, namun Ibrahim melewatinya, lalu berjalan ke Jumrah Al Aqobah. Setan menghalangi kembali, lalu Ibrahim pun melemparinya dengan tujuh batu kecil hingga setan pun pergi. Setan kembali menghalanginya di Jumrah Al Aqobah Wustha, maka Ibrahim kembali melemparinya dengan tujuh batu kecil hingga setan pun pergi. Setan kembali menghalanginya di Jumrah Al Sughra, maka Ibrahim kembali melemparinya dengan tujuh batu kecil hingga setanpun pergi.
Sebelum perintah Allah di laksanakan Ibrahim memandang perlunya, sang putra diberi tahu terlebih dahulu. Juga memberi tahu akan niatnya bahwa mimpi Nabi itu adalah benar, seperti yang dikutip dari Al Qur’an surah Ash Shaffat : 99 – 111
Dan Ibrahim berkata: Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.
100. Wahai Tuhanku, anugerahilah aku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh;
101. Maka Kami gembirakan dia dengan (kelahiran) seorang anak yang amat sabar.
102. Maka tatkala anak itu telah sampai pada usia dapat membantu bapaknya, berkatalah Ibrahim : 'Wahai anakku sayang, sesungguhnya aku melihat didalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Untuk itu bagaimanakah pendapatmu ?' Anaknya menjawab: 'Hai Bapakku, laksanakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapati aku termasuk golongan orang-orang yang sabar'.
103. Maka tatkala keduanya (bapak dan anak) telah menyerahkan diri (kepada Allah) dan Ibrahim telah merebahkan anaknya diatas pipinya (ditempat penyembelihan dan hampir menyembelihnya).
104. Maka Kami panggillah dia, 'Wahai Ibrahim' (Janganlah engkau lanjutkan perbuatan itu.)
105. Sungguh, engkau telah membenarkan (melaksanakan perintahKu dalam) mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."
106. "Sesungguhnya (perintah penyembelihan) ini benar-benar suatu ujian yang nyata,
107. Dan Kami tebus sembelihan itu dengan sembelihan yang agung,
108. dan Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.
109. Yaitu, Kesejahteraan yang senantiasa dilimpahkan atas Ibrahim."
110. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,
111. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
Untuk melaksanakan tugas ayahnya itu Ismail berpesan kepada ayahnya, “Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka.”
“Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulkan rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma'il.
Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!”
Kemudian Nabi Ibrahim as menggoreskan pedangnya sekuat tenaga ke bagian leher putranya yang telah diikat tangan dan kakinya, namun beliau tak mampu menggoresnya.
Ismail berkata, “Wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat megetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalan perintah semata-mata karena-Nya.”
Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya dengan sekuat tenaganya, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya karena pedangnya selalu terpental. Tak puas dengan kemampuanya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu, dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi mengapa kau tak mampu menembus daging?” gerutu beliau.
Atas izin Allah SWT, pedang menjawab, “Hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih, sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman, ‘jangan disembelih’. Jika begitu, kenapa aku harus menentang perintah Allah?”
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106)
Ibn Abbas meriwayatkan, bahwa Ismail diganti dengan seekor domba kibas yang dulu pernah dikurbankan oleh Habil dan selama itu domba itu hidup di surga. Malaikat Jibril datang membawa domba kibas itu dan ia masih sempat melihat Nabi Ibrahim AS menggoreskan pedangnya ke leher putranya.
Selanjutnya Ibrahim as. pun menyebelih kibas itu sebagai pengganti putranya. Hari itu kelak disebut dengan Yaum An Nahr (Hari penyembelihan)
Dan pada saat itu juga semesta alam beserta seluruh isinya ber-takbir (Allâhu Akbar) mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran kedua umat-Nya dalam menjalankan perintahnya. Melihat itu, malaikat Jibril terkagum-kagum lantas mengagungkan asma Allah, “Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar”. Nabi Ibrahim AS menyahut, “Lâ Ilâha Illallâhu wallâhu Akbar”. Ismail mengikutinya, “Allâhu Akbar wa lillâhil hamd”.
Kemudian bacaan-bacaan tersebut dibaca pada setiap hari raya kurban (Idul Adha).
🐏🐐🐑 Ibrahim as dan Ismail as adalah uswah hamba Allah dalam menjalankan segala keta’atan tanpa syarat, semuanya dilakukan dengan “Sami’na wa atho’na”. Dan juga sebagai uswah bagaimana hubungan antara seorang bapak dengan anaknya.
📢📢 Bagaimana konsep tarbiyah Aulad ini kita wujudkan dalam kehidupan kita?... serta bagaimana suami dan anak-anak kita dapat menjadi sosok Ibrahim as dan Ismail as? Beritakan kisah ini dalam keluarga agar menjadi contoh...
Komentar
Posting Komentar