📚 Resume Kulwap MATRIKULASI HEbAT #3 Live dari Regional Tengah HEbAT Community📚
Jum‟at, 27 Januari 2017
> SME : Ust. Adriano Rusfi
> Admin : Bunda Yuli (Bandung)
> Host & Co Host : Bunda Rita (Jabar Raya) & Bunda Rima (Banyumas)
> Notulis : Bunda Yuli (Bandung)
KONSEP HE POST AQIL BALIGH USIA >15 TAHUN
Oleh :Ibu Septi Peni Wulandani
Narasumber:
Ust. Adriano Rusfi
===================
Usia 15 tahun ke atas ini anak-anak kita sudah bukan anak-anak lagi, karena mereka sudah masuk aqil baligh, Insya Allah. Anak-anak ini sudah menjadi individu yang sama dengan orangtuanya. Sama-sama memiliki tanggung jawab sosial dan memikul kewajiban syariah selaku individu aqil baligh.
Di usia ini hubungan kita dengan anak-anak harus bisa menjadi sahabat. Tidak boleh terlalu ikut campur tangan urusan mereka, arena kita pun juga tidak terlalu suka jika orang lain ikut campur urusan kita.
Prinsipnya “apa yang kita tidak suka orang lain perlakukan kepada diri kita, maka jangan lakukan pada anak kita yang sudah aqil baligh ini”.
Anak-anak aqil baligh sudah mulai melatih kemampuan mengadabkan manusia, mampu mengadabkan alam, zaman, dan memiliki akhlak mulia. Karena misi kehidupan para aqil baligh tidak akan jauh dari misi hidup Rasulullah yaitu menyempurnakan akhlak manusia.
Peran peradaban ada 2, yaitu
1. Peran peradaban personal dan
2. Peran peradaban komunal.
Peran peradaban personal sebagai hasil dari pendidikan fitrah personal, sementara fitrah peradaban komunal sebagai hasil mengintegrasikan pendidikan fitrah personal dan fitrah komunal secara kolektif.
Peran peradaban personal adalah Rahmatan lil Alamin (green and peace) dan Bashiro wa Nadziro (solution maker, reminder).
Peran peradaban komunal adalah Ummatan wasathon (mediator, orchestrator and integrator) dan Khoiru Ummah (best community model).
Fitrah keimanan, anak usia 15 tahun ke atas sudah menjalankan perannya sebagai khalifah fil ardl.
Mereka sudah mampu memikul kewajiban syariah secara individual dan sosial (masa taklif). Penanaman iman, akhlak, adab, dan bicara sudah harus matang tertanam di diri anak-anak.
Anak anak yang sudah masuk aqil baligh ini tinggal mengimplementasikan ke 4 hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Karena anak-anak aqil baligh ini sudah harus mengusung visi peradaban.
Bagaimana dengan fitrah belajarnya? Anak-anak usia 15 tahun ke atas sudah harus bisa mengimplementasikan ilmu yang dia dapat untuk kemaslahatan dirinya, keluarga dan umat. Sehingga bekal ilmu yang bermanfaat akan makin dia cari dengan motivasi internal, bukan lagi eksternal motivation.
Fitrah Bakat anak-anak di usia 15 tahun ke atas seharusnya sudah menemukan passionnya, mereka akan mengembangkañ diri dan passionnya bersama dengan para mentor / chaperon sesuai dengan bidang keahliannya.
Fitrah Perkembangan anak-anak sudah tumbuh dengan berbagai aktivitas fisik. Jika mungkin yang disunahkan Rasul yaitu berenang, memanah, dan berkuda. Menjaga tubuhnya ala Rasul. Makan cara rasul, tidur cara rasul, dan pengobatan cara rasul.
Di titik ini anak sudah dibekali ilmu ikhtiar dan rizqi, sehingga saat 15 tahun ke atas anak paham bahwa bukan tugas kita mengkhawatirkan rizqi, melainkan menyiapkan jawaban “dari mana” dan “untuk apa” atas tiap karunia. Ikhtiar itu bagian dari ibadah, sedangkan rizqi itu urusan Allah. Ikhtiar itu laku perbuatan yang harus dilakukan sungguh-sungguh, rizqi itu kejutan dariNya.
Semakin dini kita persiapkan pendidikan berbasis potensi dan akhlak kepada anak- anak kita, maka semakin cepat anak-anak “terpanggil” dalam menunaikan ibadah syar’i termasuk diantaranya haji dan nikah di usia muda.
Karena prinsipnya bukan orang yang “mampu” yang akan dipanggil oleh Allah SWT, melainkan Allah akan “memampukan” orang yang terpanggil.
SESI ??Tanya Jawab ??
1) Bunda Nafis
dari pandangan artikel SME tsb bhw anak2 aqil baligh seharusnyalah tidak perlu kumpul2 gerombolan di pos ronda, merokok2, namun pada kenyataannya masih banyak yg seperti itu. Sebagai bagian dari masyarakat, apa yg seharusnya kita lakukan? syukron. 🙏
Jawaban :
Bunda Nafis, mereka bergerombol, merokok dan buang waktu karena sebenarnya mereka belum aqil, sehingga masih galau dan bingung dengan tanggung jawab yang harus mereka pikul.
Untuk itu, berhadapan dengan anak-anak usia tersebut, perlakukan saja mereka sebagai orang dewasa, walaupun kenyataannya belum. Beri mereka tugas dan tanggung jawab sosial. Perlakukan mereka sebagai "orang dewasa dibawah bimbingan" (undersupervisory adulthood)
Ajak mereka untuk menyepakati aturan main yang harus dilakukan di pos ronda. Kalau perlu bikinkan mereka organisasi kecil, semacam "organisasi pemuda ronda". Ajak mereka berdiskusi tentang masalahmasalah keamanan kampung.
Bahkan jika mereka melakukan tindakan asosial, asusila dan destruktif, jangan segan-segan melaporkan mereka ke polisi. Jangan terusmenerus beranggapan bahwa mereka masih anak-anak✅
Host :
“orang dewasa dibawah bimbingan” Perlu digaris bawahi nih.
2) Bunda Tasa - Jogja
izin bertanya....
Apa yg masih dapat dilakukan apabila seorang yg sdh aqil baligh telah terbentuk pola pikirnya. Misalkan mereka yg berusia diatas 30 thn. Apakah masih bisa dikembalikan ke fitrahnya sementara dia spt punya self resistant bila di ingatkan utk hal-hal baik. Terimakasih
Jawaban :
Insya Allah masih bisa, Bunda Tasa. Selama nyawa seorang hamba belum sampai di kerongkongan, pintu taubat dan perubahan itu masih terbuka sangat lebar. Keberhasilan dari sebuah berubahan tidak semata-mata tergantung pada pendidikan, tapi juga hidayah. Maka, seimbangkan antara ikhtiar dan doa.
Pada mereka yang telah berusia di atas usia 30, boleh jadi yang dibutuhkan bukan hanya nasihat. Karena saya rasa mereka telah kenyang dan paham akan nasihat. Yang mereka butuhkan adalah konsekuensi dan resiko
Seringkali tak ada perubahan pada manusia seusia itu karena toh tak ada akibat apa-apa dari perbuatannya. Itu juga karena kita tak tega memberikan konsekuensi dan resiko atas perilakunya.
Untuk itu, belajarlah untuk tega memberikannya konsekuensi dan resiko kepadanya. Perubahan pola pikir pada orang yang self-resistant terhadap nasihat adalah pengalamannya sendiri. Biarlah pengalamannya sendiri yang membuatnya berubah
Belajarlah bertawakkal kepada Allah atas keputusan kita dan keputusan yang ia buat sendiri. Orang yang terlalu protektif terhadap konsekuensi dan resiko yang dipikul oleh seorang anak, adalah orang yang kurang tawakkalnya kepada Allah ♻
Host :
Selama nyawa seseorang belum sampai kerongkongan, pintu taubat dan perubahan itu masih terbuka lebar
Terharu mendengarnya...
3) Bunda Elya - Bangka Belitung
Assalamualaikum ustadz mau nanya..
1. Bgm menyiasati agar anak2 bisa sholat nya mandiri soalnya klu ngak disuruh suka lalai ,begitu juga sholat tahajud pd hal mrk dibangun sdh pkl 04.00 hampir dekat subuh tpi masih aja sholat tpi mata nya tidur ,umur anak sy 12 dan 15 th.
2. Bgm solusi nya ketika mrk sdh males utk menghfl quran pd hal anak 1 sdh hafal 4 jus lebih tpi sdh hampir 1 th susah lagi klu disuruh ngafal nya klu dulu itu keinginannya utk menghafal.anak ke 2 sdh 3 jus tpi sama juga sekarang sdh susah utk menghafalnya. solusinya bagaimana ustadz..syukran katsiran
Jawaban :
Bunda Elya, kenapa anak usia 10 tahun boleh dipukul jika nggak shalat ? Karena Allah sudah mengijinkan orangtua untuk memaksa anak melakukan sesuatu kebaikan. Jadi anak 10 tahun ke atas sudah boleh dipaksa shalat dengan konsekuensi dan resiko tertentu.
Namun demikian, hal yang utama bukanlah paksaan, namun kesadaran. Dan kesadaran itu lahir dari niat. Jadi bangunlah niat anak melalui proses penyadaran tanpa henti.
Saya rasa hal itu juga terjadi pada kasus anak-anak yang mulai malas mengaji. Karena starting point-nya tak bermula dari pembangunan niat yang kuat. Harusnya ajak dulu anak-anak untuk mencintai AlQur'an, baru menghafal AlQur'an.
Hafalan AlQur'an adalah amalan pilihan, bukan amalan wajib. Jadi, bagi anak yang memilih menghafal AlQur'an sebagai amalan sunnahnya, silakan dilanjutkan dan dimotivasi. Sedang anak yang memilih amalan sunnah lainnya, jangan dipaksa untuk tahfizhul Qur'an, yang jangan dipaksa menjadi hafiizh. Jangan lupa, shahabat Rasullullah SAW yang hafal AlQur'anpun sangat sedikit.
Host :
Bangunlah niat anak melalui penyadaran tanpa henti
4) Bunda Ririn - Boyolali
Assalamu'alaikum ust Aad. Sy ingin menanyakan 2 hal:
1. Untuk usia awal post aqil baligh, apakah anak sudah mulai diperintah untuk mandiri secara finansial?
2. Dari awal perkembangan orang tua sudah mengupayakan untuk mendidik sesuai fitrah secara optimal, ternyata si anak tidak sesuai dengan ekspektasi, maka apa yg harus dilakukan oleh orang tua sebagai bentuk ikhtiar selanjutnya?
Atas jawabannya sy ucapkan jazakumulloh khoiron katsir.
Jawaban :
Betul, Bunda Ririn. Kalau toh nggak bisa mandiri total, minimal ia bisa memenuhi kebutuhan uang jajannya sendiri. Nanti begitu usia 16 sudah bisa memenuhi kebutuhan uang makannya. 20 tahun sudah memenuhi kebutuhan hidup minimalnya (KHM).
Kalau sudah dididik ternyata anak tak sesuai ekspektasi, nggak perlu kecewa. Karena Allah tak membebani hambanya lebih dari kewajibannya. Zaman sekarang memang sulit untuk mendidik anak sesuai ekspektasi.
Tapi kita harus berharap, saat anak berusia 12 tahun, 60 % ekspektasi sudah terpenuhi. Usia 15 tahun 80 % ekspektasi sudah terpenuhi. Dan pada usia 20 tahun 100 % ekspektasi aqil-baligh telah terpenuhi.
Yang harus dilakukan selanjutnya adalah lebih mengintensifkan pendidikannya, dan mulai memberikan konsekuensi dan resiko pada anak atas perbuatan dan keputusannya.
Sekali lagi, dalam hal mewujudkan ekspektas "ilmu tega" harus diperkuat
Penutup
Ust. Adriano Rusfi
Ada dua hal yang ingin saya pesankan untuk diri saya sendiri dan ayahbunda semua :
Pertama, mulailah segala ikhtiar pendidikan dengan pendidikan aqidah, agar tumbuh rasa cinta dan ridha akan Allah, Islam dan RasulNya. Aqidah adalah akar. Jika akarnya baik maka pohonnya akan kuat dan buahnya akan lebat. Sesungguhnya shalat, hafalan AlQur'an, tahajjud, produktivitas dsb adalah buah-buah dari akar aqidah yang baik.
Kedua, penghalang terbesar bagi gagalnya pendidikan bagi generasi pasca aqil-baligh adalah tidak dimilikinya "ilmu tega" pada ayahbunda. Hal itu biasanya disebabkan oleh lebih tingginya cinta kita pada anak daripada cinta kita pada Allah, rasulNya dan jihad fii sabilillah.
Namun kita harus hati-hati. Jika cinta kita pada anak lebih tinggi daripada cinta kita pada Allah, maka biasanya akan lahir anak-anak yang lebih cinta pada teman dan orang lain daripada ayahbundanya
Dan agar ayahbunda lebih rileks dalam menjalani peran sebagai orangtua, maka ikutilah nurani dan bertawakkallah kepada Allah ♻
Doa Kafaratul Majelis
Alhamdulillahirabbil'alamiin... Astagfirullahadziim...
“Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allailahailla anta astaghfiruka wa‟atubu ilaik”
Artinya : “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada tiada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi, Shahih)
🍃🍂🍁🌿🍃🍂🍁🌿🍃🍂🍁🌿🍃🍂🍁🌿🍃🍂🍁🌿🍃🍂🍁🌿
Komentar
Posting Komentar