🌹MODUL #15 🌹
By: ustadzah Amalia Husnaa B ( usz. Yuyu)
Senin, 17 April 2017
Perjalanan Menuju Ka’bah Baitullah
Salah satu tokoh Yaman dan pemimpinnya, Dzu Nafar menemui kaumnya kemudian mengajak mereka dan orang-orang Arab yang merespon ajakan mereka untuk memerangi Abrahah dan berjuang melawannya demi mempertahankan Baitullah yang suci, serta menggagalkan rencana Abrahah untuk menghancurkannya. Ajakan Dzu Nafar disambut orang-orang yang sependapat dengannya, kemudian ia beserta pengikutnya dapat dengan mudah dikalahkan oleh Abrahah, dan Dzu Nafar sendiri jatuh menjadi tawanann perang. Ketika Abrahah hendak membunuhnya, Dzu Nafar berkata,”Paduka Raja jangan bunuh aku, karena barangkali keberadaanku bersama itu lebih baik dari pada engkau membunuhku. “Abrahah membatalkan keinginannya membunuh Dzu Nafar dan sebagai gantinya ia menahannya dalam dalam keadaan terikat.
Abrahah melanjutkan perjalannnya untuk mewujudkan keinginannya. Ketika sampai di negeri Khats’am, keluarlah An-Nufail bin Habib Al-Khats’ami dan beberapa orang dari kabilah Arab. Mereka berusaha menyerang Abrahah berikut tentaranya, namun Abrahah mampu mengalahkan An-Nufail dan pasukannya, lalu An-Nufail berkata, “Wahai raja, sesungguhnya aku ulurkan kedua tanganku bersama para pengikutku dan kami akan tunduk di bawah kekuasaanmu.” Akhirnya Abrahah pun membiarkan An-Nufail hidup dan bergabung bersama Abrahah untuk menunjukkan jalan menuju tempat di mana Ka’bah berada.
Tatkala rombongan Abrahah sampai di Thaif, Mas’ud bin Mu’attab bersama para pembesar penduduk Tsaqif keluar untuk menemui Abrahah sembari berkata, “Wahai sang raja, kami adalah budakmu dan kami mengakui kehebatanmu. Kami tidak akan menghalangi keinginanmu untuk menghancurkan Ka’bah di Makkah. Rumah kami yaitu rumah Al Lata (Al Lata adalah rumah ibadah orang-orang Tsaqif di Thaif. Mereka mengagungkannya seperti mengagungkan Ka’Bah), bukanlah rumah yang engkau kehendaki, namun rumah ibadah yang engkau kehendaki adalah rumah ibadah di Mekkah. Oleh karena itu kami berniat mengutus seseorang yang akan menunjukkan jalanmu ke sana. Lalu mereka mengutus salah seorang penunjuk jalan bernama Abu Righal. Kemudian dia pergi bersama rombongan Abrahah. Sampai akhirnya ketika mereka sampai di Mughammas (sebuah daerah yang berdekatan dengan kota Makkah yang berada di jalur Tha’if), Abu Righal tiba-tiba mati dan akhirnya dikubur di situ. Kuburan inilah yang di kemudian hari dilempari batu oleh orang-orang yang melintasinya.
Abrahah kemudian mengutus salah seorang penduduk Mughammas yang bernama Al-Aswad bin Maqshud. Dengan menaiki seekor kuda, Al-Aswad pun berangkat menuju kota Makkah. Kedatangan Al-Aswad disambut oleh penduduk Makkah. Mereka kemudian bernegoisasi, hingga akhirnya Abdul Muthalib harus kehilangan 200 onta miliknya yang berada di daerah Arik. Kemudian Abrahah kembali mengutus Hunathah Al-Himyari ke Makkah. Abrahah berpesan padanya, “Tanyakan pada penduduk Makkah, siapakah orang yang dianggap terhormat oleh penduduk Makkah dan sampaikan padanya jika kedatanganku ke Makkah bukan untuk berperang. Aku datang hanya untuk menghancurkan Ka’bah.”
Hunathah pun pergi, sehingga manakala sampai di Makkah, dia bertemu dengan Abdul Muthalib bin Hasyim, lalu berkata, “Sesungguhnya sang raja mengutusku untuk bertemu dengan kamu. Dia mengabarkan bahwasanya kedatangannya ke Makkah bukan untuk berperang kecuali jika kalian semua memeranginya. Dia datang hanya untuk menghancurkan Ka’bah agar kalian berpaling darinya.” Abdul Muthalib hanya menjawab, “Kami tidak akan berperang dengan Abrahah. Kami akan membiarkan dia melakukan apa pun terhadap Ka’bah. Urusan dia dengan Ka’bah, kami pasrahkan semuanya kepada Allah. Sungguh demi Allah kami tidak memiliki daya untuk mencegahnya.” “Kalau begitu ikutlah bersama kami untuk bertemu dengan Abrahah.”
Akhirnya, Abdul Muthalib pergi bersama Hunathah. Sehingga sampailah Abdul Muthalib di perkemahan Abrahah dan pasukannya. Ternyata Dzu Nafar yang dari awal setia menemani Abrahah adalah teman dekat Abdul Muthalib. Kemudian Abdul Muthalib mendatangi Dzu Nafar dan berkata padanya, “Wahai Dzu Nafar, apakah kamu memiliki kekuatan untuk mengatasi musibah yang menipa kami? Dzu Nafar menjawab, “Tidaklah mungkin seorang yang tertawan memiliki kekuatan. Bahkan kami sendiri tidak merasa aman dari kematian, bisa jadi besok pagi ataupun sore hari nanti kami akan terbunuh. Tetapi aku akan mengirim kamu ke Unais, sahabatku, pengurus ternak gajah. Aku akan memerintahkan padanya agar menemui sang raja dan engkau dapat berbicara dengan raja serta meminta apa yang engkau inginkan.
Kemudian Dzu Nafar mengirim Abdul Muthalib untuk bertemu dengan Unais. Berkata Dzu Nafar kepada Unais, “Sesungguhnya ini adalah pemimpin suku Quraisy, pemilik mata air Makkah (Zamzam) yang dengannya dia memberikan minuman kepada manusia di bumi dan binatang-binatang liar di pegunungan. Raja Abrahah juga terah merampas onta miliknya yang berjumlah 200 ekor. Berilah pembelaan kepadanya sesuai dengan kemampuanmu.” Unais berkata, “itu akan aku kerjakan”.
Tak lama kemudian Unais menemui Abrahah dan berkata. “Wahai sang raja, ini adalah pemimpin Quraisy dan pemilik mata air Makkah (Zamzam) yang dengannya dia memberikan minuman kepada manusia di bumi dan binatang-binatang liar di pegunungan. Dia meminta izin padamu dan sangat berharap kamu akan mengizinkannya. Dia datang kepadamu dalam kondisi tidak memerangimu dan tidak melawan. Oleh karena itu, izinkanlah dia untuk menemuimu. Dia adalah Abdul Muthalib, seorang laki-laki yang terhormat, besar, dan sangat gagah.”
Pertemuan Abdul Muthalib dan Abrahah adalah pertemuan dua pemimpin,...
Bagaimana pertemuan tersebut terjadi dan apa saja yang bicarakan...
🤗🤗 tunggu pada modul selanjutnya
Komentar
Posting Komentar