🌹MODUL #12 🌹
By. Ustadzah Amalia Husnah B (Usz. Yuyu)
Kamis, 6 April 2017
PENYERANGAN TENTARA BERGAJAH 1
Sebab-sebab penyerangan
Ketika Dzu Nuwas seorang raja Himyar di Yaman berkuasa, kabilah-kabilah Yaman bersatu dibawah kekuasaannya. Salah satu wilayah dari kabilah-kabilah tersebut adalah Najran, yang merupakan tempat kisah Ashabul Ukhdud dan Dzu Nuwas adalah Shohibul Ukhdud (Baca Surah Al Buruj).
Ashabul Ukhdud adalah kisah yang mengawali mengapa Abrahah hendak melakukan penyerangan terhadap Ka’bah di Mekkah.
Bagaimana kisahnya bermula?
Kisah Tragedi Parit (Ashabul Ukhdud) yang menyebabkan 20.000 manusia mati syahid terjadi pada penduduk Najran yang pada saat itu diperintah oleh raja yang bernama Dzu Nuwas. Awalnya Dzu Nuwas adalah raja yang bijaksana dan tegas dalam mengambil keputusan. Namun dalam perjalanan pemerintahannya, seiring waktu Dzu Nuwas menjelma menjadi raja yang angkuh dan hanya memikirkan dirinya sendiri (al-Buruuj [85] 4-11).
Dzu Nuwas membebankan pajak yang harus dibayar oleh rakyatnya. Petani harus menyerahkan semua hasil jeri payahnya kepada Dzu Nuwas. Ia juga mempekerjakan buruh bangunan secara paksa dan tidak dibayar. Ironisnya pada masa itu sebagian besar penduduk tetap saja menyembah berhala.
Suatu hari sampai ke telinga Dzu Nuwas tentang hadirnya orang yang membawa agama Nabi Isa ke Najran. Orang itu bernama Faymiyun. Faymiyun membawa ajaran akan adanya Tuhan pencipta semesta yang berkuasa atas segala yan terjadi di muka bumi ini. Dengan keramahan dan ketenangannya menyampaikan agama Allah swt, ia seketika memiliki banyak pengikut yang tertarik dengan agama Allah, secara perlahan masyarakat Najran mulai meninggalkan menyembah berhala.
Mengatahui keadaan ini, Dzu Nuwas naik pitam. Ia memerintahkan prajuritnya untuk membunuh Faymiyun. Perintah ini didengar oleh salah satu pengikut setia Faymiyun. Ia pun segera berlari dan mengabarkan kabar ini kepada Faymiyun dan menyarankannya agar pergi dari kota.
Faymiyun menerima saran dari pengikutnya. Ia tidak takut pada ancaman Dzu Nuwas, melainkan ia hanya ingin menjalankan agama Allah dengan tenang. Ia pun bersembunyi dalam sebuah gua dipinggir kota. Di dalam gua ia terus berdoa semoga kelak Dzu Nuwas diberikan petunjuk ke jalan yang benar.
Di salah satu sudut kota tinggal seorang pembatik yang bernama Tsamir. Ia selalu membuat dan mengukir batik untuk Dzu Nuwas. Dengan keahliannya ini, Dzu Nuwas senang dan memerintahkan prajuritnya untuk tidak mengganggu. Tsamir memiliki seorang putra yang bernama `Abdullah, meski ia bekerja sebagai pembatik, namun ia bercita cita agar anaknya menjadi seorang penyihir nomor satu. Cita citanya ini cukup beralasan, karena pada saat itu orang yang menjadi orang kepercayaan Dzu Nuwas adalah seorang penyihir.
Suatu hari penyihir kerajaan mengadakan lomba menyihir. Hal ini ia lakukan untuk mencari bibit penyihir baru. Bagi pemenangnya nanti akan diajarkan teknik menyihir dari penyihir Dzu Nuwas. Impian Tsamir terwujud, anaknya `Abdullah berhasil memenangkan perlombaan tersebut.
Abdullah adalah anak yang mengalami hidup semasa kecil cukup menyenangkan dan jauh dari gangguan prajurit Dzu Nuwas yang selalu meminta pajak. Mendapat kesempatan ini ia dengan sungguh sungguh mengikuti ajaran yang diajarkan oleh penyihir Dzu Nuwas. Ketika itu pula ia bercita cita untuk menjadi penyihir nomor satu.
Suatu hari dalam perjalanan ke istana, `Abdullah melihat gua yang dari balik pohon besar. Dengan rasa penasaran, ia kemudian memasuki gua tersebut. Beginilah cara Tuhan untuk mempertemukan `Abdullah dengan Faymiyun, supaya ia belajar pengetahuan yang hakiki dan benar dari laki saleh tersebut.
Dalam kunjungannya tersebut Abdullah diajarkan tentang keimanan dan nasehat-nasehat tentang kehidupan.
“Nasihatmu telah membuka mataku Paman… awan kelabu yang semulah menyelimuti mataku kini telah sirna. Awalnya aku tidak tahu tujuan dan makna kehidupan. Ayahku menggiringku untuk belajar sini sihir, tapi sekarang engkau telah membawaku pada dunia lain yang sangat berbeda dengan sihir. Tuan.. aku segera mohon diri. Aku harus segera menemui penyihir agung sekarang juga.. semogo kita bertemu lagi”
Bagaimana dengan si penyihir agung yang juga merupakan guru dari Abdullah?.. ikuti terus kisah Ashabul Ukhdud ini.
Komentar
Posting Komentar