🌹MODUL #11 🌹
By: Ustadzah Amalia Husnah Bahar (Usz. Yuyu)
Senin, 3 April 2017
💞ABDULLAH DAN AMINAH
Pada saat pengorbanaan unta bagi Abdullah telah dilakukan dan diterima, Abdul Muthalib berfikir untuk mencarikan istri bagi putra kesayangannya itu, setelah menimbang-nimbang, pilihannya jatuh pada Aminah, putri Wahab, cucu Zuhrah, saudara Qushay. Wahab adalah pemimpin bani Zuhrah, namun telah meninggal. Kini Aminah diasuh oleh pamannya, Wahaib, yang meneruskan jabatannya sebagai pemimpin kabilah. Wahaib sendiri memiliki seorang anak perempuan yang telah mencapai usia menikah, bernama Halah.
Abdul Muthalib melamar Aminah untuk dinikahkan dengan putranya dan Halah dinikahi untuk dirinya sendiri. Wahaib setuju dan segera dilakukan persiapan untuk pesta dua pernikahan pada waktu dan tempat yang sama.
Pada hari yang telah ditentukan, Abdul Muthalib menggandeng putranya dan kedua-duanya mendatangi kediaman Bani Zuhrah. Dalam perjalanan itu mereka mesti melewati kediaman Bani Asad. Ketika itu, Qutaylah bin Naufal, saudara perempuan Waraqah bin Naufal (Saudara sepupu Khadijah, dan merupakan salah seorang dari empat orang Hanif yang berada di Mekkah dan beragama Nashrani) berdiri di depan pintu rumahnya- mungkin ia berharap menyaksikan perayaan yang telah diketahui oleh penduduk Mekkah sebagai upacara pernikahan besar-besaran. Abdul Muthalib saat itu telah berusia lebih dari tujuh puluh tahun, namun ia masih tampak lebih muda dari usianya. Langkah gontai kedua mempelai yang berwibawa dan anggun itu memperindah pemandangan saat itu.
Namun ketika mereka telah cukup dekat, Qutaylah hanya memperhatikan yang lebih muda, yaitu Abdullah. Qutaylah terpesona pada cahaya yang memancar dari wajahnya. Mereka telah melewati Qutaylah, dan tiba-tiba ia menyapa, Ia berseru “Abdullah”, Qutaylah bertanya kepada Abdullah, kemana ia akan pergi. “Bersama ayahku” jawabnya singkat. “tetaplah disini dan jadikan aku sebagai istrimu,”kata Qutaylah dan engkau akan memiliki onta, sejumlah onta yang akan dikurbankan untukmu. “Aku harus mengikuti ayahku, aku tak dapat melanggar keputusannya, dan aku tak mungkin meninggalkannya,” jawab Abdullah.
Pernikahanpun dilangsungkan sesuai rencana. Dua pasangan pengantin itu tinggal beberapa hari dikediaman Wahaib. Pada waktu itu, Abdullah keluar untuk mengambil sesuatu dari rumahnya sendiri, dan ia bertemu lagi dengan Qutaylah, saudara perempuan Waraqah. Mata Qutaylah menatap wajah Abdullah dengan seksama ketika ia berhenti di dekatnya. Abdullah berharap Qutaylah mengajaknya berbicara, Ketika Qutaylah diam saja, Abdullah bertanya mengapa ia tak berkata lagi seperti kemarin. Ia menjawab, “Cahaya yang ada padamu kemarin telah hilang, Hari ini engkau tidak lagi bisa memenuhi harapanku.
😔WAFATNYA ABDULLAH BIN ABDUL MUTHALIB
Tidak berselang lama, Abdul Muthalib mengutus Abdullah untuk pergi ke Madinah memanen kurma, namun akhirnya ia meninggal di sana. Riwayat lain menyebutkan bahwa Abdullah melakukan perjalanan dagang selama beberapa bulan. Ia mencapai Gaza di Syam lalu kembali lagi, kemudian ia menyempatkan diri singgah di tempat saudara ayahnya di Madinah. Ia mengunjungi mereka untuk sekaligus beristirahat melepas lelah setelah perjalanan yang panjang. Akan tetapi saat ia akan kembali pulang ke Mekkah bersama kafilah dagangnya, ia jatuh sakit di tempat saudara ayahnya. Maka kafilah dagang itu pulang lebih dahulu, meninggalkannya dan setiba di Mekkah, mereka menyampaikan kabar sakitnya Abdullah kepada Ayahnya.
Segera setelah mendengar laporan kafilah, Abdul Mutholib mengutus Harits, anak sulungnya untuk pergi ke Madinah. Abdul Mutholib meminta Harits membawa pulang Abdullah. Namun setibanya di Madinah, Harits mendapati Abdullah sudah meninggal dan sudah dikuburkan satu bulan setelah kafilahnya pulang ke mekkah. Maka Harits bergegas pulang ke Mekkah dengan perasaan duka yang mendalam atas kematian adiknya.
Harits menemui ayahnya dan menceritakan apa yang terjadi pada Abdullah. Tentu saja Abdul Muthalib berduka mendengar kabar itu. Ia ingat menantunya Aminah yang harus kehilangan suami yang selama ini menjadi tumpuan kebahagiaannya. Abdul Muthalib juga sangat menyayangi Abdullah. Peristiwa penebusan Abdullah belum pernah terjadi dalam sejarah bangsa Arab sebelumnya. Peristiwa itu menunjukkan kecintaan Abdul Muthalib dan kaum Quraisy kepada Abdullah.
Abdullah mewariskan 5 (lima) ekor unta, beberapa ekor kambing, dan budak wanita Habsyi yang bernama Barakah dan kelak dijuluki Ummu Aiman.
❓ Peristiwa besar apakah selanjutnya? Insya Allah lebih hebat dan menarik... selamat menanti, sembari bersyukur atas ilmu yang sudah diberi Allah... Barakallah.
Komentar
Posting Komentar