🌸MODUL #04🌸
oleh: Ustadzah Amalia Husna Bahar
(Uz. Yuyu)
Selasa, 7 Maret 2017
🕋 PENGELOLAAN KA’BAH (4)
Popularitas Mekkah semakin terdengar hingga ke Yaman. Melalui kajian mereka terhadap taurat, para Rabbi Yahudi tahu bahwa seorang nabi akan meuncul di kota Mekkah dengan membawa agama baru yang akan tersebar luas ke seantero dunia. Mereka berangan angan dapat menguasai Mekkah, menghancurkan Ka’bah kemudian mengambil dan membawa batu-batunya ke Yaman. Dengan batu-batu ka’bah itu, mereka akan mendirikan sebuah bangunan suci di Yaman yang akan menjadi tempat tujuan peziarah.
Demi tujuan itulah Tubba, raja Yaman berkali kali mengirimkan pasukannya untuk menyerang Mekkah. Dari Tubba I hingga Tubba III semuanya gagal, hingga akhirnya sebelum Tubba meninggalkan Mekkah ia memberikan hadiah kepada Ka’bah berupa pintu Ka’bah dan kain penutup Ka’bah (kiswah) yang indah yang dibuat di Yaman.
Selama dipimpin oleh orang Khuza’ah, Mekkah berubah menjadi sarang kebobrokan. Banyak orang yang memuja keyakinan yang sesat dan menyimpang dari agama Ibrahim. Situasi tersebut dimanfaatkan oleh pendeta dan peramal. Mereka mendapatkan uang dengan cara menyesatkan pikiran orang-orang yang meminta nasehat nasehat dan ramalan mereka mengenai urusan keseharian. Akhirnya Isaf dan Nailah, simbol dosa menjadi tuhan mereka puja dan mereka beri persembahan. Keduanya menjadi tuhan yang sangat dijunjung tinggi
Aisyah ra berkata :
“Kami dahulunya selalu mendengar kisah mengenai Isaf dan Nailah, mereka berdua adalah laki-laki dan wanita dari suku Jurhum, mereka berdua berzina di dalam Ka’bah, maka Allah mengubah mereka berdua menjadi dua buah batu.
Ulama ahli Tafsir Ath-Thabari membawakan atsar dari Asy-Sya’bi,
“Ada sebuah berhala di zaman jahiliyah di Shafa yang bernama “isaf” dan satu lagi berhala di Marwah yang dinamakan Nailah. Masyarakat jahiliyah jika thawaf di Ka’bah, mereka mengusap [mengharap berkah] kedua berhala tersebut. Tatkala datang Islam, kedua berhala tersebut dihancurkan.
Ajaran murni Ibrahim hampir punah ditelan lautan penyimpangan hingga beberapa anak keturunan Ismail ikut terpengaruh dan menyimpang dari agama nenek moyang mereka. Paganisme tumbuh di jazirah Arab seiring dengan pengagungan mereka terhadap fenomena alam. Ketika itu, bangsa Arab frela melakukan apa saja untuk membahagiakan benda-benda alam- dengan menyembahnya atau memberi sesaji- agar tetap memberi manfaat dan kebaikan pada mereka. Orang-orang Arab meyakini bahwa hidup mereka tergantung pada benda-benda tersebut. Maka berbagai macam bentuk benda-benda dijadikan sembahan, baik itu berupa pohon maupun bebatuan yang diukir dan bentuk manusia dan hewan. Ada juga sesembahan yang tidak berbentuk karena dianggap simbol kekuatan alam. Selain itu juga melakukan thawaf, mengelilingi sesembahan itu. Mereka membawa “tuhan” mereka pada saat berdagang dan aktivitas lain, kemudian menjadikan tempat diletakkannya sesembahan atau tuhan itu sebagai “tanah haram”
Suku Khuza’ah menguasai Ka’bah selama kurang lebih 5 (lima) abad, sampai kemudian muncul suku Quraisy yang berhasil menyatukan barisan dan kekuatan untuk menggeser kekuasaan Khuza’ah. Pemimpin Khuza’ah yang terakhir yaitu Khalil bin Habasyiah,memiliki seorang anak perempuan bernama Huba, yang dinikahkan dengan Qushay bin Kilab seorang suku Quraisy. Nama “Quraisy” diambil dari nama Fihr (Quraisy).
(lihat silsilah dari Fihr ke Qushay).

Komentar
Posting Komentar