Senin, 2 Januari 2017
ISMAIL AS. DAN HAJAR DI HIJAZ
Sebelum menceritakan bagaimana kerinduan Ibrahim as kepada anak dan istrinya yang telah ditinggalkan 13 tahun yang lalu maka kita akan membahas terlebih dahulu bagaimana kisah ketika Ibrahim as, meninggalkan Hajar dan Ismail as.
Kalimat yang terucap dari lisan Hajar “Kalau memang demikian, Dia tidak akan mengabaikan kami. “ (setelah Ibrahim menjawab pertanyaan Hajar “Apakah ini perintah Tuhanmu?”, dan dijawab “ya” oleh Ibrahim as), adalah kalimat yang sangat luar biasa, mencerminkan identitas pemiliknya, dialah Hajar, seorang wanita yang telah ditarbiyah selama 11 tahun oleh Ibrahim as.
Setelah ditinggalkan dan kemudian bekal yang disiapkan untuk Hajar dan Ismail akhirnya habis, maka Hajar segera bangkit untuk mencari solusi atas persoalan yang dihadapi. Ia menoleh kiri dan kanan, berharap ada seseorang yang mendekat dan membawa air. Namun, tidak nampak ada seorang pun di lembah yang sangat tandus itu.
Hajar pun bangkit, lalu menyusuri bukit shafa hingga ke puncaknya. Di sana ia sapukan pandangannya ke setiap penjuru, berharap melihat dari kejauhan. Nihil, Hajar turun dari bukit Shafa, lalu menyusuri bukit Marwah hingga ke puncaknya. Di sana, ia sapukan kembali pandangannya ke setiap penjuru, berharap melihat air. Lagi-lagi nihil. Hajar turun dari bukit Marwah, lalu naik lagi ke bukit Shafa, melakukan yang sebelumnya telah dilakukannya. Hasilnya tetap saja nihil. Ia kembali lagi naik ke bukit Marwah dan, demikian seterusnya. Ia bolak balik antara kedua bukit tersebut. Jarak antara bukit shafa dan bukit Marwah adalah 405 m,. Ia bolak-balik antara kedua bukit itu hingga tujuh kali, yang berarti Hajar telah belari sebanyak lebih dari 2,835 km dan hasilnya tetap saja nihil.
Imam Ath Thabari mengatakan bahwa ketika itu, Allah mengutus Malaikat Jibril untuk memancarkan air dengan sayapnya. Dan ketika Hajar datang menemui Ismail, karena khawatir sesuatu terjadi padanya sejak ditinggalkan untuk mencari air, tiba-tiba ia melihat air yang memancar tersebut dan menciduknya. Diriwayatkan, setiap kali Hajar menciduk mata air itu semakin deras memancar. Demikianlah berlangsung terus menerus. Sehingga Hajar membendungnya dan berkata “zamzam, zam zam” artinya berkumpullah. Zam-zam juga dapat diartikan yang melimpah.
Terkait dengan keajaiban ini, Rasulullah bersabda,”Allah memberi rahmat kepada ibunda Ismail, “Semoga Allah merahmati ibunda Isma’il, seandainya saja ia membiarkan zamzam, atau seandainya ia tidak menggayung, maka air zamzam akan mengalir terus”.
Dikemudian hari peristiwa ini menjadi salah satu rukun haji yaitu berlari antara Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اسْعَوْا إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْىَ
“Lakukanlah sa’i karena Allah mewajibkan kepada kalian untuk melakukannya.” (HR. Ahmad 6: 421.).
Hikmah dari kejadian ini adalah bahwa kehidupan merupakan perjuangan. Permasalahan dalam kehidupan merupakan hal wajar, sehingga kita sebagai manusia perlu berusaha dan bertawakkal kepada Allah SWT. Sikap tidak mudah putus asa dalam ruang dan waktu, dan menjalani kehidupan dengan sabar dan ikhlas disertai sikap optimis merupakan hikmah ritual ini. Karena pada akhirnya, Allah SWT yang menentukan hasil dari jerih payah kita. Dibalik kesulitan ada kemudahan. Kita juga harus mengingat akan firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’ad : 11).
Berapa waktu kemudian, sekelompok orang dari bani Jurhum melintas di dekat Mekkah. Mereka heran melihat burung-burung beterbangan mengitari suatu tempat. Burung tidak akan berlaku seperti itu kecuali berada di dekat air dan mereka tahu bahwa tidak ada air di lembah tandus ini. Arah terbang burung-burung itu pun diikuti hingga mereka menemukan Hajar,ismail as dan zam-zam.
Orang-orang Jurhum itu meminta izin untuk tinggal bersama Hajar di sekitar mata air Zamzam. Hajar mengizinkan, Maka berdatanglah pria-pria lain dari Bani Jurhum memboyong istri-istri dan anak-anak serta unta-unta mereka.
Dilain waktu, dua orang Amaliq menggembalakan unta-unta milik sukunya disekitar lembah itu. Saat mereka haus kedua orang itupun melihat burung-burung beterbangan di sekitar lembah itu. Mereka pun mengikuti burung-burung itu dan menemukan Hajar, Ismail as dan Zamzam. Mereka pun bertanya siapa yang telah menggali mata air itu? Hajar menjawab: “Itu adalah sajian minuman dari Allah!”. Orang orang Amaliq itu pun meminta izin untuk tinggal bersama Hajar di sekitar mata air. Hajar mengizinkan. Maka berdatanglah pria-pria lain suku itu memboyong istri-istri, anak-anak, domba-domba dan unta-unta mereka.
Hamparan lembah yang semula tandus, tidak dapat ditumbuhi pohon, dan nyaris tidak ada kehidupan. Di tanah itu, Allah telah membukakan pintu-pintu keberkatan dari langit. Inilah jawaban atas do’a yang dipanjatkan oleh Ibrahim as.
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
"Ya Rabb-kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb-kami (yang demikian itu), agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rejekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS.14:37)
Allah telah menggerakkan hati orang-orang dari Kabilah Jurhum dan Amaliq untuk mendekat kepada Hajar dan Ismail as. Jadilah keduanya bagian dari keluarga dua kabilah itu dan hidup dalam perlindungan mereka. Berkat pancaran mata air zam-zam, lembah tandus itupun mulai ditumbuhi tanman-tanaman. Kini mereka membangun perkampungan disekitar mata air yang diberkahi itu. Kelak para kabilah itu mengetahui bahwa Hajar adalah Istri dari seorang nabi, yaitu Nabi Ibrahim as.
Pelajaran dari sejarah sumur zamzam adalah do’a, tawakkal dan ikhtiar. Akankah kita mengambil ibrahnya dengan mencontoh sikap Hajar tersebut?... Semoga Allah memberi petunjuk ke arah itu. Aamiin... Kisah selanjutnya.... tentang kerinduan Ibrahim as. kepada keluarganya... Hajar dan Ismail as.🚶🏻
Oleh: Ustadzah Amalia Bahar (usz. Yuyu)
Sebelum menceritakan bagaimana kerinduan Ibrahim as kepada anak dan istrinya yang telah ditinggalkan 13 tahun yang lalu maka kita akan membahas terlebih dahulu bagaimana kisah ketika Ibrahim as, meninggalkan Hajar dan Ismail as.
Kalimat yang terucap dari lisan Hajar “Kalau memang demikian, Dia tidak akan mengabaikan kami. “ (setelah Ibrahim menjawab pertanyaan Hajar “Apakah ini perintah Tuhanmu?”, dan dijawab “ya” oleh Ibrahim as), adalah kalimat yang sangat luar biasa, mencerminkan identitas pemiliknya, dialah Hajar, seorang wanita yang telah ditarbiyah selama 11 tahun oleh Ibrahim as.
Setelah ditinggalkan dan kemudian bekal yang disiapkan untuk Hajar dan Ismail akhirnya habis, maka Hajar segera bangkit untuk mencari solusi atas persoalan yang dihadapi. Ia menoleh kiri dan kanan, berharap ada seseorang yang mendekat dan membawa air. Namun, tidak nampak ada seorang pun di lembah yang sangat tandus itu.
Hajar pun bangkit, lalu menyusuri bukit shafa hingga ke puncaknya. Di sana ia sapukan pandangannya ke setiap penjuru, berharap melihat dari kejauhan. Nihil, Hajar turun dari bukit Shafa, lalu menyusuri bukit Marwah hingga ke puncaknya. Di sana, ia sapukan kembali pandangannya ke setiap penjuru, berharap melihat air. Lagi-lagi nihil. Hajar turun dari bukit Marwah, lalu naik lagi ke bukit Shafa, melakukan yang sebelumnya telah dilakukannya. Hasilnya tetap saja nihil. Ia kembali lagi naik ke bukit Marwah dan, demikian seterusnya. Ia bolak balik antara kedua bukit tersebut. Jarak antara bukit shafa dan bukit Marwah adalah 405 m,. Ia bolak-balik antara kedua bukit itu hingga tujuh kali, yang berarti Hajar telah belari sebanyak lebih dari 2,835 km dan hasilnya tetap saja nihil.
Imam Ath Thabari mengatakan bahwa ketika itu, Allah mengutus Malaikat Jibril untuk memancarkan air dengan sayapnya. Dan ketika Hajar datang menemui Ismail, karena khawatir sesuatu terjadi padanya sejak ditinggalkan untuk mencari air, tiba-tiba ia melihat air yang memancar tersebut dan menciduknya. Diriwayatkan, setiap kali Hajar menciduk mata air itu semakin deras memancar. Demikianlah berlangsung terus menerus. Sehingga Hajar membendungnya dan berkata “zamzam, zam zam” artinya berkumpullah. Zam-zam juga dapat diartikan yang melimpah.
Terkait dengan keajaiban ini, Rasulullah bersabda,”Allah memberi rahmat kepada ibunda Ismail, “Semoga Allah merahmati ibunda Isma’il, seandainya saja ia membiarkan zamzam, atau seandainya ia tidak menggayung, maka air zamzam akan mengalir terus”.
Dikemudian hari peristiwa ini menjadi salah satu rukun haji yaitu berlari antara Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اسْعَوْا إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْىَ
“Lakukanlah sa’i karena Allah mewajibkan kepada kalian untuk melakukannya.” (HR. Ahmad 6: 421.).
Hikmah dari kejadian ini adalah bahwa kehidupan merupakan perjuangan. Permasalahan dalam kehidupan merupakan hal wajar, sehingga kita sebagai manusia perlu berusaha dan bertawakkal kepada Allah SWT. Sikap tidak mudah putus asa dalam ruang dan waktu, dan menjalani kehidupan dengan sabar dan ikhlas disertai sikap optimis merupakan hikmah ritual ini. Karena pada akhirnya, Allah SWT yang menentukan hasil dari jerih payah kita. Dibalik kesulitan ada kemudahan. Kita juga harus mengingat akan firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’ad : 11).
Berapa waktu kemudian, sekelompok orang dari bani Jurhum melintas di dekat Mekkah. Mereka heran melihat burung-burung beterbangan mengitari suatu tempat. Burung tidak akan berlaku seperti itu kecuali berada di dekat air dan mereka tahu bahwa tidak ada air di lembah tandus ini. Arah terbang burung-burung itu pun diikuti hingga mereka menemukan Hajar,ismail as dan zam-zam.
Orang-orang Jurhum itu meminta izin untuk tinggal bersama Hajar di sekitar mata air Zamzam. Hajar mengizinkan, Maka berdatanglah pria-pria lain dari Bani Jurhum memboyong istri-istri dan anak-anak serta unta-unta mereka.
Dilain waktu, dua orang Amaliq menggembalakan unta-unta milik sukunya disekitar lembah itu. Saat mereka haus kedua orang itupun melihat burung-burung beterbangan di sekitar lembah itu. Mereka pun mengikuti burung-burung itu dan menemukan Hajar, Ismail as dan Zamzam. Mereka pun bertanya siapa yang telah menggali mata air itu? Hajar menjawab: “Itu adalah sajian minuman dari Allah!”. Orang orang Amaliq itu pun meminta izin untuk tinggal bersama Hajar di sekitar mata air. Hajar mengizinkan. Maka berdatanglah pria-pria lain suku itu memboyong istri-istri, anak-anak, domba-domba dan unta-unta mereka.
Hamparan lembah yang semula tandus, tidak dapat ditumbuhi pohon, dan nyaris tidak ada kehidupan. Di tanah itu, Allah telah membukakan pintu-pintu keberkatan dari langit. Inilah jawaban atas do’a yang dipanjatkan oleh Ibrahim as.
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
"Ya Rabb-kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb-kami (yang demikian itu), agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rejekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS.14:37)
Allah telah menggerakkan hati orang-orang dari Kabilah Jurhum dan Amaliq untuk mendekat kepada Hajar dan Ismail as. Jadilah keduanya bagian dari keluarga dua kabilah itu dan hidup dalam perlindungan mereka. Berkat pancaran mata air zam-zam, lembah tandus itupun mulai ditumbuhi tanman-tanaman. Kini mereka membangun perkampungan disekitar mata air yang diberkahi itu. Kelak para kabilah itu mengetahui bahwa Hajar adalah Istri dari seorang nabi, yaitu Nabi Ibrahim as.
Pelajaran dari sejarah sumur zamzam adalah do’a, tawakkal dan ikhtiar. Akankah kita mengambil ibrahnya dengan mencontoh sikap Hajar tersebut?... Semoga Allah memberi petunjuk ke arah itu. Aamiin... Kisah selanjutnya.... tentang kerinduan Ibrahim as. kepada keluarganya... Hajar dan Ismail as.🚶🏻
Komentar
Posting Komentar