Kamis, 22 Desember 2016
0⃣5⃣ DI HEBRON
Ibrahim berangkat dari Mesir menuju Hebron, kota yang sebelumnya sudah disinggahi. Perjalanan itu adalah perintah Allah SWT. Bersama segenap keluarga, harta benda dan ternak-ternaknya hijrah menuju Hebron. Usia Ibrahim pada saat itu sudah semakin bertambah tua, sedangkan ia belum diberi keturunan, oleh karena itu Ibrahim memohon kepada Allah :
“Tuhan Pemeliharaku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shaleh “ (QS. 37 : 100)
Atas do’a Nabi Ibrahim as. tersebut, Allah menjawab: “Maka kami memberinya kabar gembira (bahwa dia akan dianugrahi) dengan seorang anak yang sangat penyantun (QS.37:101)
Sekalipun Allah dengan tegas menjawab permohonan Ibrahim, tetap muncul dari dalam dirinya pertanyaan : bagaimana Allah akan menganugrahkan anak kepadanya? Istrinya semakin menua dan anak yang dirindukannya itu belum juga hadir.
Setelah 10 tahun berada di Hebron, Sarah menyadari bahwa betapa rindunya sang suami terhadap anak, maka Sarah pun menghadiahkan Hajar, budaknya itu, kepada Ibrahim as. untuk dinikahi. Ia berharap sang suami mendapatkan anak darinya. Apa yang dilakukan Sarah merupakan sesuatu yang lazim ketika itu. Majikan perempuan akan memperlakukan anak yang lahir dari budak perempuannya sebagai anak sendiri. Itu karena budak perempuan itu adalah miliknya.
Sudah menjadi suatu hal yang alamiah seorang istri ingin mendapatkan perhatian penuh oleh suaminya dan tidak ingin membaginya dengan yang lain. Dorongan alamiah ini tumbuh secara diam-diam pada diri seorang istri. Demikian halnya dengan Sarah. Perlakuan-perlakuan kasar mulai ditunjukkan kepada Hajar. Adakalanya Sarah beralasan bahwa Hajar bersikap angkuh kepadanya sejak diperistri oleh suaminya, Ibrahim as. Padahal Hajar adalah budak dan ia adalah majikannya. Alasan Sarah ini mungkin terlalu dibuat-buat. Bagaimana mungkin Hajar bersikap kurang ajar kepada mantan majikannya, padahal ia berada jauh dari negerinya sendiri, pula jauh dari keluarga dan sanak famili?
Namun agaknya Ibrahim as. memaklumi dorongan alamiah pada diri Sarah itu, karena itu Ibrahim as. berkata kepada Sarah: “Jangan hiraukan (keangkuhan) budakmu ini, lakukan saja olehmu di hadapannya apa yang baik menurutmu!” Namun perlakuan tidak baik dari Sarah kepada Hajar tidak berkurang sekalipun Ibrahim as. telah mengingatkan. Nyaris saja Hajar kabur karenanya jika Allah tidak menurunkan wahyu kepada Ibrahim agar Hajar bersabar atas perlakuan buruk yang dialaminya.
Dalam waktu yang telah ditentukan, Hajarpun melahirkan anaknya Ibrahim as. menamai putranya yang baru lahir itu dengan nama Ismail. Ketika Hajar melahirkan anaknya, Ibrahim telah berusia 86 tahun. Hajar melewati masa kehamilannya dibawah tekanan Sarah. Ibrahim as. sangat tersentuh dengan kesabaran dan ketabahan Hajar itu. Kebahagiaan menyambut sang bayi tidak mengurangi tekanan Sarah. Ibrahim as. terus berfikir bagaimana cara mengeluarkan diri dari kemelut ini hingga akhirnya, ia pun menyimpulkan bahwa Sarah dan Hajar tidak dapat hidup bersama lagi. Bisa jadi, terpikir dalam diri Ibrahim as. ditempat lain. Namun dimana?
Dalam suasana kebingungan semacam ini, Ibrahim memasrahkan perkaranya kepada Allah. Ia pun menanti petunjuk langit. Ia ternyata tidak perlu menunggu lama, karena kemudian Allah mengizinkannya membawa hajar dan Ismail ke Mekkah di Hijaz.🐪
⭐⭐Silahkan disimak, semoga menjadi pelajaran yang baik ⭐⭐
Oleh : Ustadzah Amalia Bahar (Usz.
Yuyu)
0⃣5⃣ DI HEBRON
Ibrahim berangkat dari Mesir menuju Hebron, kota yang sebelumnya sudah disinggahi. Perjalanan itu adalah perintah Allah SWT. Bersama segenap keluarga, harta benda dan ternak-ternaknya hijrah menuju Hebron. Usia Ibrahim pada saat itu sudah semakin bertambah tua, sedangkan ia belum diberi keturunan, oleh karena itu Ibrahim memohon kepada Allah :
“Tuhan Pemeliharaku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shaleh “ (QS. 37 : 100)
Atas do’a Nabi Ibrahim as. tersebut, Allah menjawab: “Maka kami memberinya kabar gembira (bahwa dia akan dianugrahi) dengan seorang anak yang sangat penyantun (QS.37:101)
Sekalipun Allah dengan tegas menjawab permohonan Ibrahim, tetap muncul dari dalam dirinya pertanyaan : bagaimana Allah akan menganugrahkan anak kepadanya? Istrinya semakin menua dan anak yang dirindukannya itu belum juga hadir.
Setelah 10 tahun berada di Hebron, Sarah menyadari bahwa betapa rindunya sang suami terhadap anak, maka Sarah pun menghadiahkan Hajar, budaknya itu, kepada Ibrahim as. untuk dinikahi. Ia berharap sang suami mendapatkan anak darinya. Apa yang dilakukan Sarah merupakan sesuatu yang lazim ketika itu. Majikan perempuan akan memperlakukan anak yang lahir dari budak perempuannya sebagai anak sendiri. Itu karena budak perempuan itu adalah miliknya.
Sudah menjadi suatu hal yang alamiah seorang istri ingin mendapatkan perhatian penuh oleh suaminya dan tidak ingin membaginya dengan yang lain. Dorongan alamiah ini tumbuh secara diam-diam pada diri seorang istri. Demikian halnya dengan Sarah. Perlakuan-perlakuan kasar mulai ditunjukkan kepada Hajar. Adakalanya Sarah beralasan bahwa Hajar bersikap angkuh kepadanya sejak diperistri oleh suaminya, Ibrahim as. Padahal Hajar adalah budak dan ia adalah majikannya. Alasan Sarah ini mungkin terlalu dibuat-buat. Bagaimana mungkin Hajar bersikap kurang ajar kepada mantan majikannya, padahal ia berada jauh dari negerinya sendiri, pula jauh dari keluarga dan sanak famili?
Namun agaknya Ibrahim as. memaklumi dorongan alamiah pada diri Sarah itu, karena itu Ibrahim as. berkata kepada Sarah: “Jangan hiraukan (keangkuhan) budakmu ini, lakukan saja olehmu di hadapannya apa yang baik menurutmu!” Namun perlakuan tidak baik dari Sarah kepada Hajar tidak berkurang sekalipun Ibrahim as. telah mengingatkan. Nyaris saja Hajar kabur karenanya jika Allah tidak menurunkan wahyu kepada Ibrahim agar Hajar bersabar atas perlakuan buruk yang dialaminya.
Dalam waktu yang telah ditentukan, Hajarpun melahirkan anaknya Ibrahim as. menamai putranya yang baru lahir itu dengan nama Ismail. Ketika Hajar melahirkan anaknya, Ibrahim telah berusia 86 tahun. Hajar melewati masa kehamilannya dibawah tekanan Sarah. Ibrahim as. sangat tersentuh dengan kesabaran dan ketabahan Hajar itu. Kebahagiaan menyambut sang bayi tidak mengurangi tekanan Sarah. Ibrahim as. terus berfikir bagaimana cara mengeluarkan diri dari kemelut ini hingga akhirnya, ia pun menyimpulkan bahwa Sarah dan Hajar tidak dapat hidup bersama lagi. Bisa jadi, terpikir dalam diri Ibrahim as. ditempat lain. Namun dimana?
Dalam suasana kebingungan semacam ini, Ibrahim memasrahkan perkaranya kepada Allah. Ia pun menanti petunjuk langit. Ia ternyata tidak perlu menunggu lama, karena kemudian Allah mengizinkannya membawa hajar dan Ismail ke Mekkah di Hijaz.🐪
⭐⭐Silahkan disimak, semoga menjadi pelajaran yang baik ⭐⭐
Komentar
Posting Komentar