RESUME MATERI REVIEW NHW# 3 DAN TANYA JAWAB MATRIKULASI IIP DEPOK BATCH# 2 Senin, 7 November 2016 Pukul 20.00 - 21.00 ➖➖➖➖➖➖➖
MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH
Kalau kamu ingin berbincang-bincang dg
DIA, maka temuilah DIA dengan caramu,
Tetapi apabila kamu ingin mendengar DIA berbicara, memahami apa
kehendakNya padamu, maka IQRA', bacalah semua tanda cintaNya untuk kita, mulai
dari surat cintaNya sampai dengan orang-orang dan lingkungan di sekeliling kita
Apa yang sudah teman-teman lakukan di
proses nice homework #3 ini adalah
proses IQRA'( membaca).
Dimulai dari membuat surat cinta.
Mengapa harus membuat surat cinta? karena bagaimana anda bisa merasakan surat
cintaNya, kalau anda sendiri tidak pernah menghargai betapa beratnya menuliskan
sebait demi sebait surat cinta untuk kekasih anda.
Dan kita semua belajar bagaimana
melihat respon, surat cinta yang disampaikan dengan hati, kadang tidak pernah
berharap apapun, mulai dari dicuekin, meski tanda centang sudah berubah warna
biru 😀 sampai dengan surat cinta balasan suami yang ditulis
di wall FB yang membuat hati makin mengharu biru.😍
Demikianlah Sang Maha Pemberi Cinta,
kadang memberi tanpa meminta. Surat cinta sudah dikirim, waktu pertemuan sudah
ditentukan, candle light dg hidangan istimewa di sepertiga malam terakhir sudah
disiapkan, tapi kita kekasihnya tetap dingin dengan seribu satu alasan.
Tetapi DIA tetap mencintai kita,
tanpa Pamrih.
Menyitir puisi Sapadi Djoko Damono,
aku ingin mencintaimu dengan
sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya
abu
aku ingin mencintaimu dengan
sederhana
dengan isyarat yang tak sempat
disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Maka tetaplah alirkan cinta kepada
pasangan anda, anak-anak anda, jangan pernah berhenti, seberapapun
menyakitkannya balasan yang anda terima.
Terima kasih untuk kebesaran hati
teman-teman mempercayakan grup ini untuk menerima aliran rasa anda.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
"Kemudian mulailah dengan melihat
dua fase ini."Kalimat ini yang perlu teman-teman pahami dari hari ke
hari"
MAKNA "MISI KEHIDUPAN"
DUA HARI YANG PALING PENTING DALAM HIDUPMU ADALAH HARI SAAT KAMU
DILAHIRKAN DAN HARI DISAAT KAMU MENEMUKAN JAWABAN MENGAPA KAMU DILAHIRKAN
MAKNA" MISI KELUARGA"
DUA FASE YANG PALING PENTING DALAM HIDUPMU ADALAH FASE SAAT KAMU
MENEMUKAN JODOHMU DAN FASE SAAT KAMU MENEMUKAN JAWABAN MENGAPA KALIAN
DIPERTEMUKAN
Pahamilah bahwa semua menginginkan
'keberadaan' anda, anda diciptakan dengan tidak sia-sia."
"Maka bersungguh-sungguhlah
dalam menjaga "amanah" yang sudah diberikan dengan sepenuh cinta
untuk kita."
Inilah VISI HIDUP kita semua dalam
membangun peradaban, terlalu berat apabila dikerjakan sendiri-sendiri, maka
kerjakanlah dengan misi spesifik kita masing-masing.
Jangan pernah bandingkan diri anda/anak
anda/keluarga anda dengan diri/anak/keluarga lain. Tapi bandingkanlah dengan
diri/anak/keluarga anda sendiri. Apa perbedaan anda hari ini dengan perbedaan
anda satu tahun yang lalu.
Kuncinya bukan pada seberapa banyak
harta yang kita miliki, melainkan seberapa BERSUNGGUH_SUNGGUH nya kita dalam
menjalankan MISI HIDUP kita"
Sumber Bacaan
materi matrikulasi membangun
peradaban dari dalam rumah, IIP, 2016
Tulisan-tulisan Nice Homework #3 dari
para peserta matrikulasi IIP, 2016
Hasil diskusi penajaman misi hidup
dengan bapak Dodik Mariyanto dan Abah Rama Royani
〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Sesi tanya jawab
1. Bunda Septi Marryanti
Apakah misi spesifik keluarga harus
sama? Misal klrg Aa Gym sbg klrg dakwah, klrg ibu Septi Peni sbg klrg
motivator, klrg gen halilintar sbg klrg
enterperneur. Apakah jika suami memilih sebagai enterpreneur sedangkan istri
sbg abdi negara alias pns tidak bisa ikut serta sebagai keluarga yang menorehkan peradaban?
➡ Bunda Septi Marryanti, satu visi misi bukan berarti satu
jenis pekerjaan. Karena pasti setiap orang memiliki potensi bakatnya
masing-masing. Dan visi misi keluarga lebih dari sekedar profesi. Visi keluarga
merupakan garis besarnya, misi merupakan peran yang kita jalankan untuk meraih
visi tersebut. Dimana masing masing anggota keluarga berhak memilih peran hidup
yang diminati selama masih on track dengan visi keluarga.
Jika disebut keluarga Aa Gym, nampak
bahwa misi keluarga adalah dakwah. Namun tidak semua keluarga menjadi da'i
seperti ayahnya. Anak pertama Aa Gym, Ghaida berdakwah melalui bisnis hijab dan
fashion muslim. Pentingnya menjaga value dan visi sehingga apapun peran dan
profesi masing-masing anggota keluarga memiliki benang merah.
Kuncinya adalah sinergi, mari digali bersama
sama, karya apa yang bisa disinergikan untuk keluarga, dengan suami yang
enterpreneur dan Bunda sebagai abdi negara.✅
2. Bunda Wiwit
MasyaAllah,tahapan NHW yg diberikan
semakin DALAM materinya. Yg saya ambil
paling penting dr NHW 3 ini yaitu "Proses dalam Membaca (IQRA)".
Proses ini seperti mengevaluasi semua proses dlm kehidupan.
Mohon pencerahan,adakah sebaiknya
waktu khusus/rutin dlm mengevaluasi
proses membaca tersebut dan sebaiknya setiap kapan waktu yg tepat?
➡ Bunda Wiwit, belajar dari bu Septi dan apa yang saya sendiri
lakukan, waktu untuk evaluasi yang saya lakukan adalah setiap hari. Prinsip
Hari ini HARUS lebih baik dari hari kemarin. Kita bisa melatih hati kita.
Bersihkan hati dan jiwa dari ilham yang tidak baik, maka kita akan senantiasa
bisa melatih "rasa" membaca maksud penciptaan kita.✅
3. Bunda Arssy
Bagaimana cara membangkitkan smangat
diri dan kepercayaan diri saya,buat memberikan yg terbaik buat keluarga.
Coz masih banyak hasil yg saya lihat
masih banyak kekurangan.
➡ Mbak Arsy, selalu ingat yang disampaikan bu Septi di review
tadi,
"Maka bersungguh-sungguhlah
dalam menjaga "amanah" yang sudah diberikan dengan sepenuh cinta
untuk kita."
kita ini spesial, keluarga kita spesial. Maka alirkan lagi energi cinta kita
untuk menambah semangat. Jadikan yang kurang sebagai motivasi untuk lebih baik
lagi.✅
4. Bunda Umira
Kami telah memiliki visi misi dalam
membangun sebuah keluarga. Namun terkadang berbenturan dgn pandangan ortu dan
akibatnya sering terjadi konflik. Bagaimana caranya agar orangtua kami bisa
menerima pilihan kami?
➡ Bunda Umira, komunikasikan dengan santun visi misi keluarga
kita dan hargai pendapat orangtua. Sampaikan dengan detail rencana keluarga
kita dan mengapa visi misi tersebut itu baik menurut keluarga kita.
Seperti diskusi selasa pekan lalu, Izinkan saya
cuplik kembali ya.
Bu Septi mengajarkan yaitu dengan
mendengarkan dengan senyuman apa yang disampaikan oleh orang tua kita,
hargailah pendapatnya dan keinginannya. Lalu kemudian pelan pelan utarakan visi
misi keluarga kepada orang tua. Komunikasikan secara produktif, karena
sebetulnya ini masalah komunikasi. Keberhasilan komunikasi manakala frame of
reference dengan frame of experience sudah sama dengan orang tua, jadi samakan
frame-nya dulu maka komunikasi akan lebih nyaman.
Setelah itu cobalah pelan pelan
diyakinkan bahwa visi misi ini adalah jalan hidup yang telah kita yakini dan
minta doa padanya sehingga akan kita buktikan keberhasilannya.
Kebanyakan orangtua hanya khawatir
saja anaknya tidak berhasil terhadap pilihan tersebut
Saya coba tulis ulang yang pernah
disampaikan bu Septi, ketika ibunya ragu atas pilihan bu Septi menjadi Ibu
Rumah Tangga (redaksi tidak persis sama):
"Ibu, dalam Islam ketika
perempuan belum menikah ridho Allah terletak pada ridho orangtua. Setelah
menikah, bagi seorang perempuan ridho Allah terletak pada ridho suami. Izinkan
saya untuk dapat mentaati suami dalam bidang yang telah kami pilih sehingga
Allah ridho pada saya dan Ibu beroleh pahala dengan ketaatan saya pada suami.
Lalu ibunya bu Septi mengatakan
"Buktikan."
Dan bu Septi telah membuktikannya 😊
Demikian semoga ada inspirasi ✅
5. Bunda Fitri Purbasari
Bun, misi sudah disusun dg
kesungguhan hati. Nah dlm pelaksanaannya seringkali mood nya up n down. Apa
kiatnya agar istiqomah menjalankan misi" tsb dg penuh kewarasan &
keikhlasan?
➡ Bunda Fitri, ini yang saya sedang berusaha lakukan belajar
dari matrikulasi:
1. Menanamkan dalam hati dengan
sungguh-sungguh bahwa saya dan keluarga ingin ikut andil membangun peradaban
yang lebih baik
2. Bergabung dengan komunitas yang
sejalan yang bisa menjadi support group.
3. Fokus pada misi spesifik kita
masing-masing, artinya fokus pada peran yang kita sukai/potensi kita, sehingga
tidak kesannya berat.
4. Jangan pernah bandingkan diri dan
keluarga dengan orang lain atau keluarga lain. Tapi bandingkanlah dengan
diri/anak/keluarga anda sendiri. Apakah
saya dan keluarga hari ini lebih baik
dari kemarin. Lebih baik dari setahun yang lalu.
Silakan temukan cara yang terbaik
menurut Bunda Fitri dan keluarga. Ini #selfreminder untuk saya sendiri juga.
Jika cocok yuk bersama-sama kita laksanakan. Karena 4 poin yang berusaha saya
tanam kuat, seberapapun saya masih banyak kekurangannya, saya tidak patah
arang, bangkit lagi perbaiki diri lagi.✅
6. Bunda Marie
Pencarian misi spesifik keluarga
idealnya berapa lama ya? Dan jika worst casenya kami belum menemukan misi
spesifik tersebut, apa yang sebaiknya hrs dilakukan?
➡ mbak Marie, setiap insan dan keluarga punya waktunya yang
tepat untuk hal ini. Seperti contoh keluarga Pak Dodik dan bu Septi saya kutip
berikut ya,
Apa misi spesifik keluarga bu Septi
dan Pak Dodik?
Dari awal menikah, Pak Dodik sudah
punya misi “membangun peradaban dari dalam rumah”, sehingga meminta
saya sebagai calon istrinya untuk melepas SK Pegawai Negeri saya, dan full
menjadi ibu bagi anak-anaknya.
Pada usia berapa tahun menemukan misi
spesifik hidup?
Kalau saya baru menemukan misi
spesifik hidup setelah dikaruniai Enes dan Ara. Perlu proses panjang. Kalau pak
Dodik kayaknya sebelum menikah sudah punya. Saya banyak belajar dari beliau.
Boleh tau apa misi spesifik hidup?
Misi spesifik hidup
saya “INSPIRATOR”tugas saya di muka bumi ini ternyata ingin menginspirasi
banyak orang. Semua pekerjaan yang berhubungan dengan “inspirasi” selalu membuat
saya berbinar-binar. Dan lebih spesifik lagi khusus untuk pendidikan anak dan
keluarga. Kalau pak Dodik "Developer dan Educator” beliau
selalu berbinar ketika menjalankan peran membangun hal baru yang berhubungan
dengan pendidikan. Saat ini kami sedang mengamati 3 peran hidup
anak-anak, sedang kita lihat konsistensinya
Tahapan memetakan visi misi yang
disampaikan Bu Septi:
Dimulai dari pemetaan diri kita
berdua sebagai pasangan suami istri, kemudian setelah itu berdua memahami
anak-anak yang dihadirkan dalam keluarga ini, selanjutnya potensi unik alam,
tempat kita tinggal, komunitas sekeliling kita dan lain-lain. Disanalah kita
bakal paham, mengapa Allah menjadikan keluarga kita seperti ini.
Ada gejala-gejalanya, antara lain,
ketika kita melakukan hal tersebut, mata kita selalu berbinar-binar, energi
tidak pernah habis, serasa ada energi yang terbarukan, tidak pantang menyerah,
setiap kali ada ujian, selalu makin bersemangat. (Itu versi saya).
Kalau versi Abah Rama, ada 4 E
(Enjoy, Easy, Excellent, Earn). Nah untuk itu perlu dicoba satu
persatu, ketika menemukan sesuatu yang “gue banget” segera tekuni dan
jangan berganti-ganti (mengingat faktor U- umur) disitulah kita akan
semakin memahami mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini.
Mba Marie,yuk temukan dan declare
yang *"gue banget"*itu di hidup kita 😊 ✅
7. Bunda Syifa
Di review td dijelaskan jgn berhenti
menabur cinta sesakit apapun balasan yg kita terima.
Tapi sbgai manusia, sy yg ekspresif
menunjukan cinta, sering dongkol ketika ekspresi itu direspon datar suami. Bgmn
menjembatani perbedaan karakter sprt itu?
➡ Bunda Syifa, hal itu manusiawi sekali saya juga mengalami
hal yang sama dengan bunda. Suami saya blas tidak ekspresif. Awal pernikahan
saya juga gondok betul masih berlangsung sampe akhirnya belajar di kelas
matrikulasi ini. "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana" begitulah
puisi Sapardi Djoko Damono membenak di hati Saya. Bahwa kesederhanaan cinta itu
tulus. Unconditional. Maka terima seikhlasnya sifat suami. Barangkali suami
punya caranya sendiri mengungkapkan rasa cinta.
Tetaplah ekspresif mengungkap sayang
bila itu memang cara kita. Walopun balasan yang kita dapat tatapan aneh atau
senyum kecut 😆.
Dengan penerimaan ini kita lapang.
Selama suami gak keberatan dengan keeskrpresifan kita, teruskan. Yang terjadi
di suami saya lama lama sih cair 😊 walopun gak drastis. Saya masih terus berusaha.✅
8⃣. Dinda
Bagaimana cara mencari dan menentukan
misi spesifik keluarga?
Karena ada yang bilang misi itu lekat
dengan gen yg ada di keluarga besar? Sekarang ini bahkan banyak keluarga tdk
hapal lagi silsilah keluarga besarnya. "Pareum obor" kata orang sunda
mah.
➡ Mbak Dinda, saya melihatnya tidak terlalu relevan dengan
sejarah keluarga besar misal sampe tujuh keturunan ke atas. Namun gen keluarga
besar akan memberikan nuansa bakat dan kecenderungan potensi yang diturunkan
kepada kita, nah tinggal diolah dan digali menjadi misi hidup. Sehingga jika
pareum obor atau kepaten obor dalam isitilah Jawa, bukan tantangan dalam
mencari misi hidup. Karena misi itu sebetulnya berkaitan dengan skenario Sang
Pencipta atas diri dan keluarga kita saat ini. Mengenai caranya bu Septi
memberikan clue lihat pada jawaban pertanyaan mbak Marie nomor 6⃣.✅
9. Bunda Resti
Pertanyaan saya:
Bagaimana cara meluluhkan hati suami
yg dingin & gengso menyatakan perasaan
➡ Bunda Resti, sayang kurang spesifik menyatakan perasaan apa
ya...rasa cintakah? Jika iya, pertanyaannya senada dengan Bunda Syifa di no.7⃣ ya coba disimak. Jika cocok coba terapkan. ✅
Silakan juga bagi Bunda yang punya
tips perihal ini yuk kita sharing ☺
10. Bunda Ardaniya Rizka
Bagaimana jika potensi anak tidak
sesuai dengan hukum Islam. Misalnya: potensi anak saya di musik. sangat mudah
belajar musik dan suka musik, sedangkan dalam Islam, sebaiknya tidak
mendengarkan musik/lagu. Apa yang bisa saya lakukan dengan potensinya itu?
➡ Bunda Ardaniya, musik itu spektrumnya luas. Pemanfaatannya
pun beragam. Sepemahaman saya tetabuhan masih dibunyikan pada jaman nabi untuk
menghormati perayaan tertentu, misal hari besar mapun pernikahan. Maka
perdalamlah ilmu mengenai musik dalam pandangan Islam ini Bunda. Mulai kenalkan
pandangan Islam mengenai musik ini kepadanya pelan pelan. Beri pemahaman dan
ajak berdiskusi; Apakah kegiatannya itu mendekatkan dirinya pada Tuhannya?
Lalu beri pandangan opsi aktivitas
lain yang bisa menyalurkan bakatnya. Batas bisa mencoba beberapa kegiatan
hingga menjelang aqil baligh. Mengenai bagaimana mengarahkan bakat dan potensi
anak nanti ada di materinya berikutnya.
Mba Zy juga mengalami hal yang sama
dengan putrinya. Dulu putrinya sempat suka sekali menari namun seiring
bertambahnya pemahaman keislamannya maka sudah tidak menyukai menari lagi.
Lebih lanjut mbak Zy bisa mengelaborasi pengalamannya ya mbak. ✅
➡Zy Fauziah: Terimakasih mba nia..
Untuk pengalaman ini memang sy alami
sendiri..
Saat anak saya usia 5 tahun dia minta
les menari karena pernah dipilih tampil menari saat acara perpisahan di TKnya.
Dia sangat aktif bergerak.. kesukaannya senam, musik dan menari.
Sy sempat diskusi dengan suami untuk
hal ini. Kami sebagai orangtua sangat khawatir kesukaannya ini akan berlanjut
sampai besar.
Dan hampir tdk memenuhi keinginannya
untuk ikut les menari.
Tapi setelah diskusi dengan suami dan
pernah konsultasi juga dengan bu Septi.. akhirnya kami memfasilitasinya dengan
mendaftarkannya ketempat les, mengajarinya bernyanyi, dan main pianika, dan
kami sudah berencana saat ia kelas 6 SD kegiatannya itu dialihkan.. dan akan
kami jelaskan karena tidak sesuai dengan Core Value keluarga kami.
Tapi, Setelah 2 tahun berjalan,
ternyata ketentuan Allah lebih cepat. Anak saya ber keinginan masuk pesantren,
ia mulai paham dan berhenti menari sesuai keinginannya sendiri
Komentar
Posting Komentar