Cemilan Rabu #1 ๐๐ Materi 3 : PENTINGNYA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK DEMI KEBAHAGIAAN HIDUP Rabu, 22 Maret 2017
KECERDASAN MENGHADAPI
TANTANGAN
Adversity Quotient atau Adversity Intelligence
merupakan sebuah teori yang merumuskan tentang apa yang dibutuhkan untuk
mencapai KESUKSESAN. Adversity
Quotient dikembangkan oleh seorang konsultan bisnis yang dikenal secara
internasional bernama Paul G. Stoltz, PhD. Menurut Stoltz, dengan AQ kita akan
lebih produktif, kreatif, dan kompetitif walaupun kita berada di tengah
lingkungan yang terus bergolak. AQ menggabungkan riset psikologis kognitif,
psikoneuroimunologi, dan neurofisiologi untuk membentuk suatu gambaran lengkap
tentang bagaimana cara manusia dalam mendekati kesulitan. Sementara pada
kenyataannya, kesulitan adalah suatu hal yang paling banyak dihindari. Namun dalam
AQ, kesulitan justru sebuah TANTANGAN yang akan menjadikan hidup lebih hidup.
AQ merupakan sebuah alat ukur yang akan menentukan beberapa
kondisi kontradiktif dalam diri seseorang.
Kondisi kontradiktif tersebut adalah pilihan. Bagi mereka
yang berharap sukses maka sikap-sikap positiflah yang pasti diambil.
Sebaliknya, mereka yang tidak bertekad untuk berhasil, sangat wajar jika
kemudian hanya berkutat pada kondisi statis, tidak mau bergerak, cepat merasa
puas, dan hanya mampu berdiam diri ketika menghadapi kegagalan. Selanjutnya,
kondisi kontradiktif tersebut bisa memberikan gambaran kepada kita tentang
sikap-sikap yang bisa membangun AQ berikut:
● Ketangguhan
● Keyakinan
● Kekuatan
● Kepercayaan Diri
● Berbesar Hati
● Daya Tahan
● Daya Juang
● Tak pernah bosan untuk mencoba
● Berani memulai
● Kreatif
● Optimisme
● Ketekunan
● Keuletan
● Vitalitas
● Orientasi masa depan
● Kaya akan berbagai kemungkinan
Antara AQ dan
Pendakian
Pendakian adalah sebuah analogi cukup tegas
bagi Adversity Quotient. Pendakian yang dimaksud adalah proses.
Proses apa saja kira-kira?
1. Proses dari tidak ada menjadi ada
2. Proses dari tidak punya menjadi punya
3. Proses dari tidak bisa menjadi bisa
4. Proses dari sikap bergantung menuju kehidupan yang lebih
mandiri
5. Proses dari sebuah harapan mewujud kenyataan
6. Proses dalam menggerakan tujuan hidup
7. Dan proses-proses lainnya.
Mendaki disini bukanlah mendaki sebuah gunung dalam
arti denotatif, melainkan mendaki gunung kehidupan dengan segala hambatan dan
rintangan. Mendaki gunung kehidupan yang kaya dengan liku-liku perjalanan.
Mendaki gunung harapan dengan segala onak dan durinya. Mendaki gunung impian
dengan segala bentuk upaya dan kesungguhan.
Stoltz menganalogikan tiga jenis kepribadian manusia yang
bisa menggambarkan kemampuan AQ, yaitu
Quitters (berhenti), Campers (berkemah),
dan Climbers (pendaki).
1. Quitters (Berhenti)
Mereka yang disebut quitters adalah orang yang
berhenti melakukan pendakian jauh sebelum menuju puncak atau bahkan menolak
terhadap pendakian dan memutuskan untuk berdiam diri.
● menolak untuk mendaki lebih tinggi
● gaya hidupnya datar dan tidak 'lengkap'
● bekerja sekedar cukup untuk hidup
● cenderung menghindari tantangan berat yang muncul dari
komitmen yang sesungguhnya
● jarang sekali memiliki persahabatan yang sejati
● mereka cenderung melawan atau lari dalam menghadapi
perubahan
● terampil menggunakan kata yang sifatnya membatasi, seperti
'tidakmau'
● kemampuannya kecil, tidak memiliki keyakinan akan masa
depan, kontribusinya kecil
2. Campers (Berkemah)
Mereka yang disebut campers adalah orang yang
menghentikan perjalanan (pendakian) dengan dalih ketidakmampuan atau sudah
merasa cukup. Mereka beranggapan bahwa berhentinya pendakian adalah sebagai
tanda telah dilakukannya berbagai upaya dan pengorbanan.
● mereka mau mendaki, meskipun akan 'berhenti' di pos
tertentu dan merasa cukup sampai di situ
● mereka cukup puas telah mencapai suatu tahapan tertentu
● masih memiliki sejumlah inisiatif, sedikit semangat dan
beberapa usaha
● mengorbankan kemampuan individunya untuk mendapatkan
kepuasan
● menahan diri terhadap perubahan
● menggunakan bahasa dan kata-kata yang kompromistis,
misalnya 'ini cukup bagus'; 'cukup sampai di sini saja'
● meski sudah melalui berbagai rintangan, namun mereka
akan erhenti juga pada suatu tempat dan
'berkemah' di situ
3. Climbers (Pendaki)
Mereka yang disebut climbers adalah orang yang
terus bertahan melakukan pendakian sampai pendakian tersebut benar-benar menuju
puncak. Mereka tidak menghiraukan lelah dan letih. Mereka juga tidak
menghiraukan harta dan tenaga yang telah dikorbankan. Bagi mereka, totalitas
dan komitmen adalah keniscayaan. Oleh karena itu, segala bentuk rintangan dan
hambatan dinikmatinya sebagai tantangan yang akan mendongkrak dirinya untuk menjadi
pahlawan yang sebenarnya.
● mereka membaktikan dirinya untuk terus 'mendaki', pemikir
yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan
● hidupnya 'lengkap' karena telah melewati dan mengalami
semua tahapan sebelumnya
● menyambut baik tantangan, memotivasi diri, memiliki
semangat tinggi dan berjuang mendapatkan yang terbaik dalam hidup
● berani menjelajahi potensi-potensi tanpa batas
● menyambut baik setiap perubahan
● bahasa yang digunakan adalah bahasa dan kata yang penuh
kemungkinan, berbicara tentang apa yang bisa dikerjakan dan caranya, berbicara
tentang tindakan
● memberikan kontribusi besar karena bisa mewujudkan potensi
yang ada pada dirinya
● tidak asing dengan situasi sulit
Kaitan AQ dengan pendakian, salah satu tugas utama kita
sebagai orangtua adalah meyakinkan buah hati kita untuk mampu bertahan melewati
semua tahapan kehidupan dengan segala problema dan dilematikanya. Selain itu,
kita juga mampu meyakinkan kepada mereka bahwa segala sesuatu tidak bisa
didapat secara instan. Segala sesuatu tidak terjadi secara tiba-tiba karena
semua ada proses yang mengiringinya.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
๐ Sumber bacaan :
Yoga, Miarti. Adversity Quotient, agar anak tak gampang
menyerah. Tinta Medina
http://personalityfajar.wordpress.com/tag/adversity-quotient/
Komentar
Posting Komentar