Kemandirian
Anak dan Adversity Quotient
Berbagai
rutinitas harian anak, seringkali menantang dan menghadapkan kita pada pilihan
apakah akan 'membantunya' atau 'melatihnya melakukan sendiri'. Sebut saja,
misalnya: makan, memakai sepatu, mandi, membereskan mainan, dan lain-lain.
Dengan
alasan 'sudah terlambat', seringkali kita pada akhirnya 'membantu' menyuapi si
tiga tahun. Tak jarang juga, kita bantu pasangkan sepatu si dua tahun, hanya
karena tak sabar melihatnya berproses memakai sepatunya. Lalu bagaimana dengan
si 10 tahun yang akan berangkat sekolah? Dengan alasan yg kurang lebih sama,
kita sibuk menyiapkan seragam dan berbagai kebutuhan sekolahnya.
Padahal,
yang kita cita-citakan bersama tentulah mempersiapkan calon ibu yang tangguh,
serta calon ayah yang penuh tanggung jawab bukan? Dan kemandirian sejak dini
adalah kunci awalnya.
Maka, bila
anak-anak kita yang masih berusia 0-1 tahun masih sepenuhnya bergantung pada
orang lain di sekitarnya, seiring dengan pertumbuhannya, sepatutnya kita
melatih juga kemandirian anak. Misal: anak usia 3 tahun sewajarnya bila sudah
tidak disuapi lagi, dan anak usia 4 tahun sepatutnya sudah bisa membersihkan
tubuhnya sendiri.
Adalah
Adversity Quotient yang menggambarkan pola seseorang dalam mengolah tanggapan
atas semua bentuk dan intensitas dari kesulitan. Menurut Paul G. Stoltz,
Adversity Quotient merupakan kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan
kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.
Adversity
Quotient memiliki tiga tingkatan dengan
terminologi pendaki gunung.
1
1. AQ rendah
Mereka
cenderung mudah menyerah dan tidak berdaya. Mudah menyalahkan orang lain tanpa
memperbaiki situasi. Kesulitan yang dihadapi mempengaruhi semua aspek hidupnya
sehingga selalu merasa dikelilingi kesulitan.
Seringkali menolak kesempatan yang diberikan. Mereka diidentikkan
sebagai orang yang terhenti ( quitter)
2
2. AQ sedang
Memiliki
banyak perhitungan. Mereka mampu memandang kesulitan sebagai sesuatu yang
sementara dan cepat berlalu, tetapi ketika kesulitan itu semakin menumpuk, maka
akan membuat putus harapan dan memandang kesulitan tersebut akan berlangsung
lama dan menetap.
Seringkali
sudah melakukan sedikit lalu berhenti di tengah jalan. Mereka mau mendaki
meskipun akan berhenti di pos tertentu dan merasa cukup sampai disitu ( camper)
3
3. AQ tinggi
Inilah
pembelajar seumur hidup. Mereka mempu untuk mengendalikan setiap kesulitan.
Kesulitan yang muncul pada satu aspek kehidupan tidak meluas pada aspek yang
lain. Mereka memandang kesulitan yang ada bersifat sementara dan cepat berlalu.
Mampu memandang apa yang ada di balik tantangan tanpa memikirkan suatu hal
sebagai hambatan. Mereka membuktikan diri untuk terus mendaki ( climber)
Pandu
anak-anak supaya terbentuk AQ yang tinggi. Bukankah ini penting bagi mereka
dalam menghadapi tantangan sehari-hari? Supaya mereka bisa melewati tantangan
hidup. Menyelesaikan masalah, mulai dari yang sederhana hingga yang sulit dapat
mereka lakukan dengan penuh percaya diri.
Salam Ibu
Profesional,
/Tim
Fasilitator Bunda Sayang/
๐Bahan
Inspirasi :
Stoltz, P.G.
2000. Adversity Quotient, Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. PT. Grasindo
Komentar
Posting Komentar