RESUME MATERI DAN TANYA JAWAB MATRIKULASI IIP DEPOK BATCH #2 KULWAPP SESI 6, SELASA 22 NOVEMBER 2016, PUKUL 20.00 – 21.00
IBU MANAJER KELUARGA HANDAL
Motivasi Bekerja Ibu
Ibu rumah tangga adalah sebutan yang
biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu
Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat
definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja yang wajib
professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik
maupun publik.
Apapun ranah bekerja yang ibu pilih,
memerlukan satu syarat yang sama, yaitu
kita harus “SELESAI” dengan
management rumah tangga kita
Kita harus merasakan rumah kita itu
lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai
ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan
pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik,
tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan
kita di ranah domestik.
Mari kita tanyakan pada diri sendiri,
apakah motivasi kita bekerja ?
๐Apakah masih ASAL KERJA, menggugurkan kewajiban saja?
๐Apakah didasari sebuah KOMPETISI sehingga selalu ingin
bersaing dengan orang/ keluarga lain?
๐Apakah karena PANGGILAN HATI sehingga anda merasa ini
bagian dari peran anda sebagai Khalifah?
Dasar motivasi tersebut akan sangat
menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita
๐Kalau anda masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan
mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai
beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.
๐Kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi
anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses
๐Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang
terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada.
Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.
Ibu Manajer Keluarga
Peran Ibu sejatinya adalah seorang
manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita
Saya Manager Keluarga
kemudian bersikaplah, berpikirlah
selayaknya seorang manager.
๐Hargai diri anda sebagai manager keluarga, pakailah
pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai
manager keluarga.
๐Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan
baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi
๐Buatlah skala prioritas
๐Bangun Komitmen dan konsistensi anda dalam
menjalankannya.
Menangani Kompleksitas Tantangan
Semua ibu, pasti akan mengalami
kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka
ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :
a. PUT FIRST THINGS FIRST
Letakkan
sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama
tentulah anak dan suami. - Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari
ini - aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.
b.ONE BITE AT A TIME
Apakah
itu one bite at a time?
-Lakukan
setahap demi setahap -Lakukan sekarang -Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan
c. DELEGATING
Delegasikan
tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke
asisten rumah tangga kita.
_ Ingat anda adalah manager, bukan
menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya,
anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda_
Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latihlagi-percayakan
lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya
Karena pendidikan anak adalah dasar
utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan
delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan
anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.
Perkembangan Peran
Kadang ada pertanyaan, sudah berapa
lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah
menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak?
Karena selama ini kita masih
SEKEDAR MENJADI IBU
Ada beberapa hal yang bisa bunda
lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu
lagi, antara lain:
๐Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap
suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah
habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang.
Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan
keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “managjer keuangan keluarga.
๐Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya
memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban
saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak.Sudah itu saja, hal ini membuat
kita jenuh di dapur.
Mari kita cari ilmu tentang manajer
gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.
๐Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita
adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah
pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru
banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak
sekolah.
Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak,
sehingga meningkatkan peran saya menjadi “manajer pendidikan anak”.
Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka
bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.
๐Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst
Jangan sampai kita terbelenggu dengan
rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai
lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.
Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan
pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi. Meskipun anda sudah menjalankan peran selama
10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal
yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.
Hanya ada satu kata
BERUBAH atau KALAH
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
SUMBER BACAAN:
Institut Ibu Profesional, Bunda
Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP,
2015
Hasil diskusi Nice Homework
Matrikulasi IIP Batch #1, 2016
Irawati Istadi, Bunda Manajer
Keluarga, halaman featuring, Success Mom's Story: Zainab Yusuf As'ari, Amelia
Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda
Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma
Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009
link Youtube:
https://youtu.be/Cr9JSJS7CIM
----------------------------------------------------------------------------
Tanya Jawab
1⃣ mimil
Bun, seringkali ketika saya telah
membuat schedule dan menjalankannya, kadang merasa seperti terjebak dalam
rutinitas, ada rasa bosan, bagaimana cara mengubah kegiatan yg sudah rutin agar
tidak hanya menggugurkan kewajiban dan kita tidak merasa monoton?
Contoh, memasak, mengantar anak ke
sekolah, padahal saya tau dan niatnya sudah bulat. Tp kadang diri masih
merasakan ada kebosanan. Bagaimana memelihara niat agar bekerja dengan hati?
Bahwa semua ini bukan beban dan bukan rutinitas yg bikin bosan sehingga timbul
keinginan menghindarinya
Terimakasih
➡1⃣ Jenuh dg rutinitas itu hal yg sgt
wajar mb mimil, saya pun kadang mengalaminya. Yg saya lakukan adalah tafkiyatun
nafs, mengingat kembali peran hidup saya di dunia ini, lalu saya melihat lg
jadwal harian saya, apakah ada yg perlu diapdet spy saya lbh nyaman terutama
menyangkut tugas2 rutin harian, apakah saya bisa membuat rutinitas tsb menjadi
aktivitas yg menyenangkan, apakah saya sdh alokasikan waktu untuk refreshing
sejenak dr rutinitas, dsb ✅
2⃣ siti
muslihah
Pertanyaan: Bagaimana cara meningkatkan kompetensi diri
pada periode galau (misalnya saat fisik drop, tanpa ART utk delegasi ,
sementara suami jg sibuk kerja atau kerja nya LDR) kadang manusiawi merasa
jenuh dengan rutinitas ranah domestik, bahkan kadang teringat juga ingin
kembali bisa kerja di ranah publik
(bidang yg juga membuat mata berbinar). ?
➡2⃣ Lihat jawaban no.1 ya ☺
Saya ingin menanggapi pertanyaan no.
1&2
Jenuh itu sangat wajar, maka saat
kita jenuh, kita coba berhenti sejenak
(berpikir) untuk mengatur strategi yang lebih kreatif dan menyenangkan.
Lalu bagaimana jika mengalami
kelelahan?
Maka silahkan bunda cek dan ricek,
pasti ada ketidakseimbangan disana..
Entah itu kita kurang istirahat,
asupan kita kurang sementara energi banyak terbuang habis, pikiran kita butuh
di refresh atau kita butuh me time. Coba diskusikan dengan suami dan anak-anak
tentang hal ini.
3⃣ ulfa
Mengenai pendelegasian tugas. Yang
ingin saya tanyakan adalah tentang pendelegasian tugas domestik kepada ART.
Bertahun tahun kemarin, saya bekerja
hampir full day. Karena selain mengajar di full day school juga mengelola
sebuah yayasan. Saya punya ART di rumah yang hanya membantu saya dalam tugas
domestik.
Sementara urusan anak, sepenuhnya menjadi
tanggung jawab saya dan suami.
Sekarang saya resign dan merasa
sangat tidak terampil dalam melaksanakan tugas domestik. ๐
Akhirnya saya memutuskan
memberhentikan ART dengan hormat karena ingin belajar kembali menghandle
pekerjaan rumah.
Tapi suami saya berharap kami tetap
punya ART karena beliau berharap saya lebih fokus dengan pengembangan diri saya
(seperti yang saya tulis di NHW#1).
Mohon saran..
Apakah saya harus mengikuti keinginan
suami saya memilki ART (pulang pergi) atau saya tetap berusaha berlatih agar
target saya tercapai (menjadi buncek) ? Jazaakillaah khayran katsir.
➡3⃣ teh ulfa, menjadi bunda cekatan
bukan berarti semua harus ditangani sendiri ☺
Kalo sanggup (=mampu dan mau) akan
lbh baik , krn kita akan walk the talk.
Tapi kalo tidak sanggup dan butuh
bantuan, maka kita harus meningkatkan peran kita dg mendelegasikan tugas kpd
ART, tantangannya adalah bgmn mendidik ART spy bisa melaksanakan tugasnya
sesuai dg standar kita, itu juga salah satu target buncek. ✅
4⃣ Wiwit
Saya merasa tertampar dg materi sesi
ke-6 ini. Deeply Question! Apa motivasi ibu bekerja..
Tetapi saya masih merasa kesulitan
utk cara yg ke-3 menangani kompleksitas tantangan menjadi ibu,yaitu
Delegating..terkadang saya ingin sesuai dg standar saya saja (cenderung
perfeksionis).mhn pencerahan dr tim fasilitator? Jazakillah khairan katsiraa ๐๐๐ผ
➡4⃣ Lakukan pendelegasian tsb secara
bertahap mb wiwit, sama spt kita melatih anak kita.
Latih -percayakan - kerjakan
-tingkatkan - latih lagi -percayakan lagi - tingkatkan lagi dst sampai mencapai
standar yg kita mau ✅
5⃣ maria susanti
Apakah tolak ukur kita BERUBAH atau
KALAH itu mesti 10.000 jam terbang dulu ya?Kalau masih seperti itu juga
aktifitas kita tiap hari berulang2 sampe bertahun berarti kita sudah dibilang
KALAH ya mba. Bisa tolong dijelaskan mba?
➡5⃣ Kalo menunggu 10rb jam terbang baru
tersadar kalo KALAH kok ya sayang banget ya mba ๐
Bisa kita cek dari milestones yg sdh
kita buat, jika tidak ada peningkatan segera evaluasi ✅
6⃣ Nana
Saya tertarik dengan penjelasan ibu
septi di bagian pengembangan peran. Apakah ada tips nya, bagaimana agar kita
bisa memulai, menemukan dan memperbanyak peran peran yang bisa kita perkaya
bagi seorang ibu?
➡6⃣ Peran seorang ibu itu sangaat
banyak, mengurus finansial, guru, koki, perawat dsb.
Pilih slh satu dr peran tsb , lalu
tingkatkan levelnya secara bertahap mulai dari sekarang ✅
7⃣ Diyan
saat masih bekerja saya lebih saklek
dg kerapihan rumah, jadi sering ngomel kl saat pulang rumah berantakan,
terutama saat suami di rumah bersama anak. Saat sudah resign, saya berusaha
untuk menurunkan target kerapihan rumah, lebih santai dan tidak pake ngomel-ngomel
lagi. Tapi dalam hati saya ngedumel sendiri, saya jadi merasa ini tidak sehat,
tapi ga mau pake ngomel jg. Saya cenderung cepat naik darah kalo kata
orang. Jadi bagaimana saya sebaiknya
bersikap ya mbak?
➡7⃣ Pilih kondisi yg paling nyaman buat
mb Diyan ๐✅
8⃣ tantia
Bagaimana menyikapi/ apa yg harus qt
lalukan jika ada tamu yg tdk d undang, misal tetangga tanpa janjian datang, dan
ngobrol panjang lebar sementara agenda qt belum selesai? D sisi lain tetangga
tersebut juga butuh bantuan dr qt
➡8⃣ Kalo ini terjadi pada saya, saya
akan luangkan sejenak waktu untuk tetangga tersebut , katakan 15-30 menit.
Setelah itu saya akan katakan kalo ada urusan yg harus saya selesaikan,
ngobrolnya disambung lain waktu ✅
9⃣ Nia
apakah bunda sebagai manajer keluarga
harus bisa melakukan semua hal dengan tangannya sendiri? Di saat anak2 masih
balita dan kndisi yg ga memungkinkan utk ada asiten rumah tangga atau sarana
bantuan lainnya dlm rangka pendelegasian tugas, gmn mengatur semua tugas ibu?
Skala prioritasnya bgmn?
➡ 9⃣ Prioritaskan yg paling PENTING dan
MENDESAK dulu mb Nia , bertahap sampai yg paling TIDAK PENTING dan TIDAK
MENDESAK
๐ laela
"Pendidikan anak sebagai
aktivitas utama seorang ibu , jika harus mendelegasikan ke orang lain adalah
pilihan terakhir"
Apakah disini bisa diartikan sebagai
Home schooling adalah pilihan yang terbaik?
Atau tergantung pada anak, dan
bagaimana melihat anak lbh cocok HS atau sekolah utk anak usia preschool (4-6
th)
➡๐ Menurut saya bukan soal HS atau
sekolah formal, pd dasarnya amanah yg kita emban sbg org tua adalah
"Mendidik Anak" dengan ilmu dan akhlak yg baik. Jika kita merasa ilmu
kita kurang, maka tugas kita untuk selalu upgrade kemampuan tsb ✅
diskusi tambahan
๐ Tria
Jd sebenarnya, apakah kita yg
menentukan kita sanggup utk HS atau anak yg menentukan dia mao sekolah formal
atau HS dg kita di rumah?
➡Saya juga sempat galau menginginkan pendidikan yg terbaik utk
anak2,, di saat pilihan utk hs menggiurkan.
Tapi mmg benar schooling atw
unscholling,, mendidik adalah kewajiban ortu,, home education adalah keharusan
bagi kita
➡Saya pribadi menyerahkan pilihan tsb kepada anak. Jika dia
senang dg sekolah formalnya maka saya ajan berkolaborasi dg guru2nya, saling
melengkapi , itu yg saya lakuian skrg
➡bu madrasah utama dan pertama,, sekolah hanya ikhtiar utk
mengisi waktu anak saat sy tinggal bekerja di ranah publik.
Komentar
Posting Komentar