04 November 2017
setelah belajar tentang "Membangun Peradaban dari Dalam Rumah" maka pekan ini tugas NHW#3 belajar mempraktekkannya satu persatu.
Selamat membaca hati dan menuliskannya dengan nurani. Sehingga kata demi kata di nice homework #3 kali ini akan punya ruh, dan menggerakkan hati yang membacanya.
Salam Ibu Profesional
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/
Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.
Respon dari suami saya adalah membalas dengan berkirim surat karena pekan ini suami lagi tugas keluar kota. Dalam suratnya berisi iringan doa semoga Allah senantiasa menyempurnakan ilmu dan keikhlasan menuju kesempurnaan sebagai istri yang sholihah, keyakinan dan keteguhan hati untuk menerima apa yang Allah takdirkan, pasti akan berbuah keberkahan, walau terkadang akan banyak ujian karena itu sunatullah, hijrahnya keluarga kami ke Depok untuk dapat memulai dengan semangat baru dan komitmen baru (dulu kami tinggal di Yogyakarta dan anak pertama kami meninggal), sabar atau tidak sabar itu tergantung pada pengendaliannya kl bisa menahan maka tidak akan ada sumbu yang menyala, menyadari tanggung jawab pendidikan anak adalah pada orangtuanya terutama suami untuk menghantarkan menjadi Fatatun mu’tadzibah.... mar’atush sholihah kemudian ummu sholihah...
Bersama-sama berkomitmen untuk menciptakan suasana surgawi di rumah tangga dan keluarga, berkomitmen untuk menjadi yang pertama dalam urusan akhirat, berkomitmen dengan rizki yang halal, berkomitmen untuk mencetak anak-anak penghafal Al-Qur’an.
B. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
1. Aisyah H S (6y 4m)
2. Hanifa F Z (22 m)
C. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
Alhamdulillah saya dihadirkan di tengah – tengah keluarga ini, semua ini tidak ada yang kebetulan, ini adalah bagian dari takdir Allah agar saya mau berbenah diri (belajar menjadi ibu dan istri yang dirindukan, yang bermanfaat) dan fastabiqul Khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) bekal untuk menuju akhirat dengan anggota keluarga kami. Hadirnya saya di dalam keluarga ini adalah menjadi satu tim dengan suami dan anak -anak saling melengkapi (saya yang crewet suami cenderung tidak banyak bicara, saya yang labil gampang esmosa e esmosi suami saya sabar, ya… ya saya banyak diingatkan dan melihat suami bagaimana bersikap dengan kesabaran, saya yang cenderung tertib dan rapi dalam segala urusan suami saya cenderung tidak tertib dan rapi. Begitu juga dengan sifat kelebihan dan kekurangan anak-anak saya, dengan sifatnya itu saya harus belajar sabar semoga dengan bekal yang Allah berikan saya bisa memahami dan menghantarkan anak-anak sesuai fitrahnya), saya ada kekurangan, suami dan anak-anak menyempurnakan, mengingatkan begitu juga sebaliknya yang terjadi pada suami jika ada kekurangan tugas kami dan anak-anak menyempurnakan, mengingatkan suami, dan jika anak-anak ada kekurangan tugas kami orang tua menyempurnakan, mengingatkan anak-anak. Karena segala sesuatu akan dimintai pertanggung Jawabannya kelak di yaumil akhir...
Setelah menjawab pertanyaan - pertanyaan tersebut di atas, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya "peran spesifik keluarga" anda di muka bumi ini.
Menurut saya peran spesifik keluarga berdasarkan uraian diatas terbagi menjadi 2 yaitu:
1. Peran internal
Melihat potensi, kelemahan, peluang dan tantangan yang ada pada anak-anak maka peran keluaga adalah mendidik anak sesuai dengan potensi (fitrah) yang ada pada anak-anak sebagai kekuatan untuk mereduksi kelemahan menjadi kekuatan sehingga anak-anak akan berkembang sesuai dengan fitrahnya.
Sebagai istri yang menyadari sepenuhnya dengan kelemahan maka peran keluarga sebagai sarana untuk terus memperbaiki diri agar mampu berperan secara maksimal dalam mendidik anak-anak bersama suami.
2. Peran eksternal
Keluarga menginisiasi terbentuknya kajian keislaman di mushola sehingga mampu memberikan stimulus untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.
๐ MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH ๐
Membaca judul nya saja sudah berfikir keras MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM
RUMAH… Butuh penelaahan mendalam karena bagi saya yang sudah menikah 9 th ini
sesuatu yang baru, baru tersadarkan akan tugas mulia ini, tidak disambi- sambi
butuh totalitas untuk Membangun peradapan dari dalam rumah. Hampir 2
tahun terakhir ini saya beralih dari tugas ranah publik beralih ke ranah
domestik.
Tersadar akan butuh ilmu untuk layak dan pantas menjadi perempuan yang
profesional hingga menghantarkan saya kedalam komunitas ini, terutama ikut
Matrikulasi ini benar-benar membuat saya semangat belajar, semangat memperbaiki
diri. “Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota
keluarganya menuju peran peradabannya ”. Rumah adalah pondasi
sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah
untuk pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu
sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Pemberi Amanah, sudah
selayaknya kita jalankan dengan sungguh -sungguh. Maka tugas utama kita sebagai
pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya,
bukan mencetaknya sesuai keinginan kita (Tim Matrikulasi Ibu Profesional).
Karena kurang ilmunya kami, tanpa sadar mendidik anak-anak sesuai keinginan
kita, lupa akan KehendakNya, kita belum tajam dalam membaca pesan-pesan Robb
kami, suka tergesa-gesa ingin melihat hasilnya, padahal kita hanya
diperintahkan untuk menemani, membersamai dalam menumbuhkan fitahnya, karena
pada dasarnya anak terlahir dalam keadaan fitrah.
setelah belajar tentang "Membangun Peradaban dari Dalam Rumah" maka pekan ini tugas NHW#3 belajar mempraktekkannya satu persatu.
Selamat membaca hati dan menuliskannya dengan nurani. Sehingga kata demi kata di nice homework #3 kali ini akan punya ruh, dan menggerakkan hati yang membacanya.
Salam Ibu Profesional
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/
Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.
A.
Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang
menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah
bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
Bismillahirrohmairrohiim…..
Assalamualaikum wr.wb…..
Teruntuk suamiku… Belahan jiwaku… jodoh
dunia akhiratku….
Solihku… 9 th qta lalui bahtera rumah
tangga…
Bulan oktober/ syawal ( kalender H) adalah awal-awal, detik- detik qta di
persatukan dalam ikatan suci, Misaqon Golido… janji yang Agung.
Masih terkenang prosesi akad, dag dig dug …. Ya grogi, malu senang
campur jadi satu.
Untuk mengurangi grogi dan memohon kepada Allah atas kelancaran niatan suci
ini din tilawah dan alhamdulillah bisa menyelesaikan 1 juz.
Ya...Ya… ya… saat itu din masih usia 20 an, mungkin usia segitu lagi
cantik-cantiknya, he he… kali ya…. Sampai-sampai Ab kepincut( he he)
Saat menikah din belum banyak ilmu, kuliah juga masih d tempuh, hanya
berbekal “ jika ada seorang lelaki yang solih yang meminangmu, maka terimalah…”
ya benar se simple itu.
Din menikah dengan Ab karena alasan agamanya, selain sifat pribadi yang
mendukung yaitu sabar dan pantang menyerah( inti berkaitan dengan kalau
nantinya menjemput nafkah).
Din yakin jika seorang lelaki taat kepada Allah pasti tidak akan
menyia-yiakan anggota keluarga nya( istri dan anak-anaknya, kelak)
Berbekal janji Allah dan ingin menjaga kesucian akad terjalain.
Din bertipikal sumbu pendek, gampang tersinggung,gampang marah jika kondisi
capek. Alhamdulillah Allah karuniakan solihku dalam kehidupan ini.
Sampai saat ini alhamdulillah Allah telah mengizinkan 3 permata hati tumbuh
dalam rahim din walau si solih ganteng anak pertama di tempatkan di
JannahNya.
Seiring berputarnya waktu qodarullah din resign,beralih ke ranah domestik,
tanpa ART dan qta semakin kompak dalam membersamai anak- anak.
Anak- Anak adalah amanah yang telah Allah titipkan kepada qta, mari temukan
keunikan mereka,bangkitkan fitrahnya.
Dan ku yakin engkau adalah ayah yang hebat untuk permata qta… kau telah
membuktikan dengan tingkah laku,perbuatan, sabar saat membersamaimereka,bermain
bersama dan memberikan keteladanan.
Sungguh menikah dengan mu adalah kebahagian buatku….
Engkau pimpinku, engkau pelindungku dan engkau surgaku.
Masih ingat sayang lagu ini:
Dialog Dua Hati
by Suara Persaudaraan
Duhai kekasih hati
Kugubahkan nasyid ini
Sebagai tanda cinta suci
Dalam naungan ilahi
Hari demi hari
Bersamamu kulewati
Dalam suka dalam duka
Dalam meniti RidhoNya
Ikrarkan bersama
Untuk tetap di jalanNya
Bahtera rumah tangga
Tladan rasul mulia
Didik putra putri
Sebagai amanah ilahi
Bekali akhlaq Imani
Jadikan mukmin sejati
InsyaAllah...
Ya Allah ikatkanlah pernikahan ini hingga
menuju jannahNya
Depok, 021116
Yang sll mencintaimu
TantiAkur
Respon dari suami saya adalah membalas dengan berkirim surat karena pekan ini suami lagi tugas keluar kota. Dalam suratnya berisi iringan doa semoga Allah senantiasa menyempurnakan ilmu dan keikhlasan menuju kesempurnaan sebagai istri yang sholihah, keyakinan dan keteguhan hati untuk menerima apa yang Allah takdirkan, pasti akan berbuah keberkahan, walau terkadang akan banyak ujian karena itu sunatullah, hijrahnya keluarga kami ke Depok untuk dapat memulai dengan semangat baru dan komitmen baru (dulu kami tinggal di Yogyakarta dan anak pertama kami meninggal), sabar atau tidak sabar itu tergantung pada pengendaliannya kl bisa menahan maka tidak akan ada sumbu yang menyala, menyadari tanggung jawab pendidikan anak adalah pada orangtuanya terutama suami untuk menghantarkan menjadi Fatatun mu’tadzibah.... mar’atush sholihah kemudian ummu sholihah...
Bersama-sama berkomitmen untuk menciptakan suasana surgawi di rumah tangga dan keluarga, berkomitmen untuk menjadi yang pertama dalam urusan akhirat, berkomitmen dengan rizki yang halal, berkomitmen untuk mencetak anak-anak penghafal Al-Qur’an.
B. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
1. Aisyah H S (6y 4m)
Kekuatan
Sikap
kepemimpinan dominan
Selalu ingin/
berkeinginan kuat
Banyak bicara
Imajinasi
kuat
Daya ingat
baik
Karakter
keras
Rasa ingin
tahu tinggi
Kreatif
Rapi dalam
tulisan
Semangat corat–coret
, mengambar, mewarnai
Semangat
dalam menjalankan ibadah solat
|
Kelemahan
Emosi tidak
stabil (labil)
Kurang PD
Belum
disiplin
Suka memerintah
|
Peluang
Walau karakter keras masih bisa disentuh hatinya dengan diajak ngobrol, berkisah (kisah-kisah teladan) dan disentuh dengan ruh keagamaan. |
Ancaman
Jika ada hal-hal yg buruk/ contoh
buruk kadang masih terbawa
|
2. Hanifa F Z (22 m)
Kekuatan
Fitrah
keimanan tumbuh subur, semangat solat(mengikuti gerakan solat 1 rokaat) ke
mushola beberapa hari ini kl adzan subuh berkumandang bangun dan minta solat
ke mushola, kl tidak diizinkan nangis, semangat berdoa dan langsung tanggap
kl ada adzan, adzan adzan solat-solat begitulah katanya.
Mulai mandiri
(makan sendiri, pakai celana sendiri, mandi bareng kakak nya)
Bisa
mengungkapkan keinginannya (sakit, makan, minum)
Daya ingat
baik ( mengetahui ini punya kakakmya, abinya, uminya dan
Memiliki
keinginan yang kuat
Kosakata/kemampuan
verbal sudah mulai tampak
|
Kelemahan
Emosi tidak
stabil(labil)
Karena kuatnya keinginan tetapi
kemanpuan belum mendukung sering reaktif (marah, mencubit)
|
Peluang
Dengan fitrah keimanannya tumbuh subur
& daya ingat yang baik akan mudah menghafal Al-Qur’an
|
Ancaman
Karena lagi tahap mencopy, jadi
jika ada hal-hal yang buruk/ contoh buruk gampang mengikuti
|
C. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
Kekuatan
Semangat
belajar dan tekun, berusaha menularkan aura ini ke anak-anak (mengajak dan
membawa jika ada kajian)
Rajin
mencatat (tapi tidak rapi, ini yang sedang saya mulai menuliskan kembali ilmu
yang diperoleh)
Empati (jika
ada teman yang sakit, atau membutuhkan pertolongan ingin segera membantunya)
Semangat
dalam menjalankan Ibadah dan mempunyai target-target tertentu
Segala
sesuatu dihubungkan dengan keimanan jadi sesulit apapun, jika itu yg terbaik
menutut Allah, bismillah
Motivator dan
teladan untuk keluarga, dan beberapa teman dekat.
Berusaha
tertib dalam segala urusan
Berdasarkan
tes bakat adalah:
Motivator,
commander, Mediator, Care Taker, Server, safekeeper, Distributor, educator,
|
Kelemahan
Emosi tidak stabil (labil)
Kurang PD
Susah berbicara di depan umum
Berdasarkan www.tes bakat.com
adalah:
Seller, synthesizer, Marketer, visionary,
producer, interpreter, evaluator, restorer
|
Peluang
Dengan rajin mencatat dan
menuliskan kembali ilmu yang diperoleh akan bermanfaat buat diri sendiri dan
orang lain yang membutuhkan
|
Ancaman
Emosi yang
tidak stabil akan menganggu aktivitas keluarga, proses mendidik anak...
Ini ni yang
menjangkit pada diri saya...
Tapi insya
Allah sdh menemukan jawabnya yaitu Tazkiyatun Nafs.
Selain itu juga berdamai dengan
keadaan, menerima anak apa adanya( tidak menuntut dan berharap sesuai
keinginan saya)
|
Alhamdulillah saya dihadirkan di tengah – tengah keluarga ini, semua ini tidak ada yang kebetulan, ini adalah bagian dari takdir Allah agar saya mau berbenah diri (belajar menjadi ibu dan istri yang dirindukan, yang bermanfaat) dan fastabiqul Khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) bekal untuk menuju akhirat dengan anggota keluarga kami. Hadirnya saya di dalam keluarga ini adalah menjadi satu tim dengan suami dan anak -anak saling melengkapi (saya yang crewet suami cenderung tidak banyak bicara, saya yang labil gampang esmosa e esmosi suami saya sabar, ya… ya saya banyak diingatkan dan melihat suami bagaimana bersikap dengan kesabaran, saya yang cenderung tertib dan rapi dalam segala urusan suami saya cenderung tidak tertib dan rapi. Begitu juga dengan sifat kelebihan dan kekurangan anak-anak saya, dengan sifatnya itu saya harus belajar sabar semoga dengan bekal yang Allah berikan saya bisa memahami dan menghantarkan anak-anak sesuai fitrahnya), saya ada kekurangan, suami dan anak-anak menyempurnakan, mengingatkan begitu juga sebaliknya yang terjadi pada suami jika ada kekurangan tugas kami dan anak-anak menyempurnakan, mengingatkan suami, dan jika anak-anak ada kekurangan tugas kami orang tua menyempurnakan, mengingatkan anak-anak. Karena segala sesuatu akan dimintai pertanggung Jawabannya kelak di yaumil akhir...
Teringat akan
firman Allah dalam surat At- Tahrim ayat 6
“Wahai orang-orang
yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka
kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan.”
D. Lihat
lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan
anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan
disini?
Kami tinggal di
lingkungan perumahan yang keselurahannya muslim dengan pemahaman keislaman yang
berbeda-beda. Perumahan juga sudah difasilitasi dengan mushola tetapi belum ada
forum kajian keislaman.
Tantangannya adalah bagaimana keluarga kami bisa mengoptimalkan fungsi mushola sebagai sarana pengkajian ilmu-ilmu keislaman melalui pembentukan majlis taklim bapak-bapak dan ibu-ibu secara rutin.
Tantangannya adalah bagaimana keluarga kami bisa mengoptimalkan fungsi mushola sebagai sarana pengkajian ilmu-ilmu keislaman melalui pembentukan majlis taklim bapak-bapak dan ibu-ibu secara rutin.
Setelah menjawab pertanyaan - pertanyaan tersebut di atas, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya "peran spesifik keluarga" anda di muka bumi ini.
Menurut saya peran spesifik keluarga berdasarkan uraian diatas terbagi menjadi 2 yaitu:
1. Peran internal
Melihat potensi, kelemahan, peluang dan tantangan yang ada pada anak-anak maka peran keluaga adalah mendidik anak sesuai dengan potensi (fitrah) yang ada pada anak-anak sebagai kekuatan untuk mereduksi kelemahan menjadi kekuatan sehingga anak-anak akan berkembang sesuai dengan fitrahnya.
Sebagai istri yang menyadari sepenuhnya dengan kelemahan maka peran keluarga sebagai sarana untuk terus memperbaiki diri agar mampu berperan secara maksimal dalam mendidik anak-anak bersama suami.
2. Peran eksternal
Keluarga menginisiasi terbentuknya kajian keislaman di mushola sehingga mampu memberikan stimulus untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.
#NHW3
#KuliahMatrikulasiBatch #2
#Ibu Profesional
#IIP
Komentar
Posting Komentar