RESUME MATERI DAN TANYA JAWAB KULWAPP SESI 3, Selasa 1 November 2016 Pukul 20.00 – 21.00 MATRIKULASI IIP DEPOK BATCH #2
๐จ๐ฉ๐ฆ๐ฆ MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH๐จ๐ฉ๐ง๐ง
“
Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota
keluarganya menuju peran peradabannya ”
Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita
berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui
pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan
dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan
sungguh-sungguh.
Maka tugas utama kita sebagai
pembangun peradaban adalah mendidik
anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi
dengan “ misi spesifiknya ”, tugas kita memahami kehendakNya.
Kemudian ketika kita dipertemukan dengan
pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk
melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita.
Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah
untuk lebih memahami apa sebenarnya “ peran spesifik keluarga” kita di muka
bumi ini.
Hal ini yang kadang kita lupakan, meski
sudah bertahun-tahun menikah.
Darimana kita harus memulainya?
๐ PRA NIKAH
Buat anda yang masih dalam taraf
memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang
cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:
a. Bagaimana proses anda dididik oleh
orangtua anda dulu?
b. Adakah yang membuat anda bahagia?
c. Adakah yang membuat anda “sakit
hati/dendam’ sampai sekarang?
d. Apabila ada, sanggupkah anda
memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati
beliau dengan tulus?
Kalau empat pertanyaan itu sudah
terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan.
Tanyakan ke calon pasangan anda ke
empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.
Karena,
ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK
LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK
๐จ๐ฉ๐ง๐ง NIKAH
Untuk anda yang sudah berkeluarga,
ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda
dengan langkah-langkah sbb:
๐Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba
ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang
membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga
terhadap suami anda?
๐Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita
miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh
dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah
terhadap diri kita di muka bumi ini?
๐Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar
biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin
anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya
untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada
keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
๐Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini.
Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal
saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita
didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?
Empat pertanyaan di atas, apabila
terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “ misi pernikahan” sehingga
membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.
๐ฉ๐ง๐ง ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)
Buat anda yang saat ini membesarkan
anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke
empat hal tersebut di atas.
a. Apakah proses berpisahnya anda
dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?
b. Kalau ada luka, sanggupkah anda
memaafkannya?
c. Apabila yang ada hanya kenangan
bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif
yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?
Setelah ketiga pertanyaan
tambahan di atas terjawab dengan baik,
segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan
pola pendidikan anda dan anak-anak.
Karena,
IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD
Perlu orang satu kampung untuk mendidik
satu orang anak
Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun
peradaban, kita akan makin paham apa
potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa
berjalan di jalanNya.
Karena
Orang yang sudah berjalan di
jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru
sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang
Tahap berikutnya nanti kita akan
makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok
untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam
sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa
antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang
terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan
Semuanya akan berjalan beriring
selaras dengan harmoni irama kehidupan.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan
Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based
Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji
Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban,
E-book, tanggal akses 24 Oktober 20
Sesi tanya jawab:
1⃣ Bunda
Yeni
Jika luka masa lalu masih ada dalam
kehidupan kita. Bagaimana cara paling efektif untuk memaafkan yang orang yang
membuat luka di masa lalu kita?
1⃣ Bunda
Yeni
Bunda Yeni, luka yang kita alami bisa
jadi itu akibat dari perilaku yang tidak baik. Perilaku itu bisa terjadi karena
banyak sebab, bisa karna khilaf atau karena kefakiran ilmu, maka MAAFKANLAH
SETULUSNYA.
Tidak ada jalan yang lebih melegakan
selain memaafkannya. Sampaikan padanya bahwa kita sudah memaafkan perbuatannya.
Doakan ia yang melukai kita diberikan hidayah Allah agar menemukan hikmah dari
kejadiannya kepada kita dan disampaikan ilmu kepadanya bahwa hal itu tidak
baik.
Lalu move on! Ganti peta pikiran kita
yang bilang: "Dia orang yang melukai kita!" Menjadi: "Dengan apa
yang dilakukannya aku menjadi lebih kuat!", karena nyatanya hingga detik
ini kita masih dapat melanjutkan hidup bukan?.
Maka selesaikan urusan yang belum
selesai ini, sehingga kita akan melangkah dengan lebih ringan, tanpa beban.✅
2⃣ Bunda
Wiwit
Subhanallah stelah menyimak materi
pekan ke 3 ini,yg paling saya garis bawahi yaitu
Membangun peradaban dari Rumah dengan
mendidik anak sesuai Kehendak-Nya,bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Bagaimana langkah2 konkrit yg hrs
kita tempuh utk mewujudkannya?. Utk mengarahkan anak kita sesuai Kehendak Nya ๐
2⃣ Bunda
Wiwit, kuncinya jangan pernah menitipkan mimpi kita sebagai orang tua kepada
anak. Biarkan anak anak mengeksplore rasa dan minatnya sesuai fitrahnya. Fitrah
keimanannya, fitrah perkembangannya, fitrah belajar dan fitrah lainnya. Di
materi berikutnya akan kita pelajari bagaimana kita bisa belajar cara belajar.
Sehingga kita bisa menggali potensi anak secara inside out bukan_outside in_. ✅
3⃣ bunda
Tantia
Bagaimana cara mendidik
anak-anak sesuai kehendakNya bukan
mencetak sesuai keinginan kita?
3⃣ mbak
Tantia, pertanyaannya senada dengan Bunda Wiwit ya, sekali lagi tidak menitipkan
mimpi kita kepada anak anak.
Misal: Saya ingin anak anak jadi
dokter karena dulu saya kepingin jadi dokter tapi karena tidak ada biaya maka
gak bisa.
Kalo anak memang mau jadi dokter
harus tumbuh dari keinginannya sendiri itulah inside out ✅
4⃣ bunda
Dinda
Bagaimana cara membuat visi misi
keluarga? Apakah perlu dibuat checklist juga? Selama ini kami hanya
membicarakan saja,, blm menuangkan dalam tulisan,, hehehe,, terkadang
autopilot,, let it flow saja,, bagaimana caranya mengembalikan ke fungsi dan harapan
keluarga kami kembali?
Sungguh ketika saya memutuskan utk
menikah usia muda,, banyak menaruh harapan terbaik,, usia pernikahan kami
hampir 11 tahun dan setelah mengikuti martikulasi ini saya merasa diingatkan
kembali atas cita dan niatan awal kami,, masih banyak yg tertinggal dibelakang๐ญ
4⃣ Mbak
Dinda, saatnya dimulai lagi untuk dituliskan, jika sekarang anak anak sudah
hisa diajak berdiskusi maka libatkan juga anak-anak. Dengan input bersama dan ditulis maka nanti
akan ketemu apakah visi misi kita sudah on track sejak 11 tahun lalu, jika
terasa adanya perlambatan maka cek kembali. Apakah strategi keluarga kita dalam
menjalankannya sudah tepat. Karena pesan bu Septi dalam keluarga:
"There is NO FAILURE, only WRONG
RESULT, so we have to CHANGE our strategy." ✅
5⃣ bunda
Yekti
saya dididik dlm lingkungan yg cukup
keras dgn ortu saya. dmn saya hrs disiplin, tdk blh lemah dan mengeluh. waktu
saya kecil sgt sedih krn teman2 bebas bermain, namun saya sdh punya rutinitas
yg sdh di plot dr awal.sesudah memiliki anak saya merasa apa yg diajarkan ortu
saya ada benarnya krn membentuk mental saya. namun suami saya sebaliknya.
dibesarkam dr keluarga yg santai sekali. kira2 bagaimanakah menyatukan visi
misi kami yg mungkin keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan. trims
5⃣ Bunda
Yekti, begitulah manusia diciptakan oleh Allah beragam latar belakang dari
banyak hal termasuk pola asuh. Ketika pernikahan terjadi maka Allah telah ridho
terhadap penyatuan dua insan yang berbeda dan pasti Allah memiliki maksud kita
dipertemukan dengan pasangan kita.
Maka perbanyaklah ngobrol dan
beraktivitas bersama, ini dua hal yang selalu ditekankan oleh Pak Dodik dan bu
Septi dalam implementasi visi misi keluarganya. Dengan ngobrol, heart to heart
talk, pillow talk dengan pasangan maka akan muncul poin pendidikan keluarga apa
yang bunda lebih unggul dan apa yang suami lebih unggul lalu bersinergilah.
Saya kutip pernyataannya bu Septi
relevan dengan hal ini:
"Menurut pengalaman saya dan pak
Dodik, ternyata kuncinya adalah di nomor satu, penerimaan kita terhadap
pasangan. Ketika secara lahir dan batin kami berdua sudah saling menghargai
kehebatan masing-masing, menyiasati kekurangan-kekurangan yang ada pada kami.
Hal tersebut memudahkan jalan kami untuk menemukan misi spesifik keluarga."
✅
6⃣
bundaPoppy
Alhamdulillah saya dan suami sudah
sejalan utk masalah pengasuhan anak. Begitu juga saya merasa sudah selesai
dengan masa lalu saya. Bagaimana jika malah orangtua kami yg belum selesai
menitipkan harapan mereka kepada kami (saya terutama) ?. Contoh kasus. orangtua
yg masih ingin saya melanjutkan karier di luar rumah.
6⃣ Mbak
Poppy, yang diajarkan oleh bu Septi yaitu dengan mendengarkan dengan senyuman
apa yang disampaikan oleh orang tua kita, hargailah pendapatnya dan
keinginannya. Lalu kemudian pelan pelan utarakan visi misi keluarga mbak Poppy
kepada orang tua. Komunikasikan secara produktif, karena sebetulnya ini masalah
komunikasi. Keberhasilan komunikasi manakala frame of reference dengan frame of
experience sudah sama dengan orang tua, komunikasi akan lebih nyaman. Setelah
itu cobalah pelan pelan diyakinkan bahwa ini adalah jalan hidup yang telah kita
yakini dan minta doa padanya sehingga akan kita buktikan keberhasilannya.
Kebanyakan orangtua hanya khawatir
saja anaknya tidak berhasil terhadap pilihan tersebut
Saya coba tulis ulang yang pernah
disampaikan bu Septi, ketika ibunya ragu
atas pilihan bu Septi menjadi Ibu Rumah Tangga (redaksi tidak persis sama):
"Ibu, Ketika perempuan belum
menikah ridho Allah terletak pada ridho orangtua. Setelah menikah, bagi seorang
perempuan ridho Allah terletak pada ridho suami. Izinkan saya untuk dapat
mentaati suami dalam bidang yang telah kami pilih sehingga Allah ridho pada
saya dan Ibu beroleh pahala dengan ketaatan saya pada suami."
Lalu ibu bu Septi mengatakan
"Buktikan."
Dan bu Septi telah membuktikannya ๐
Demikian semoga ada inspirasi ✅
7⃣ bunda
Tria
Saya masih bingung dengan panduan 4
langkah memulai peradaban bersama suami ๐.
Adakah tipsnya agar dpt menjawab
pertanyaan2 tsb?
7⃣ mbak Tria,
coba direnungkan mendalam dan berdiskusi dengan suami. Karena semua yang
terjadi pada kita selalu ada tujuan dan maksud dari Allah. ✅
8⃣ bunda iya
Yang di maksud dengan "peran
spesifik keluarga" dimuka bumi itu apa? Bukanya kita berkeluarga memang
buat meneruskan keturunan dan melengkapi satu sama lain antara suami istri
8⃣ Mbak Iya,
betul. Namun jika hanya meneruskan keturunan saja apa bedanya dengan makhluk
lain seperti hewan dan tumbuhan. Allah katakan manusia adalah kalifatul fil
'ardh.
Setiap manusia sudah dibekali program
untuk memberikan peran yang spesifik dari dirinya untuk mengumpulkan bekal
pulang ke kampung Akhirat.
Spesifik karena setiap keluarga tidak
akan sama. Keluarga bu Septi menjadi inspirator dan motivator. Nah kita coba
gali yuk keluarga kita akan memberi peran apa dalam kehidupan ini, karena
keahlian dan kondisi masing masing keluarga berbeda. ✅
9⃣ bunda
Arum
Bagaimana cara menentukan visi unik
keluarga dalam membangun peradaban?
9⃣ Mba Arum,
diselaraskan dengan keunikan dan passion keluarga kita.
Setiap anggota keluarga pasti unik
namun dalam keunikannya masing masing memberi benang merah "ciri"
keluarga kita. Maka gali passion bersama keluarga kita. ✅
๐ bunda Febi
Bagaimana cara terbaik menghilangkan
"luka hati" pada anak karena kesalahan kita dalam mendidik di masa
lalu, misalnya karena dulu blm bisa berkomunikasi dengan baik pada anak?
๐ Mba Febi, minta maaf setulusnya pada anak. Tatap
matanya dan sampaikan secara verbal kesalahan kita. Peluk dan cium lalu
berkomitmen untuk memperbaiki kesalahan.
Selalu upgrade diri kita dengan
tambahan ilmu terus menerus demi continous improvement bukan lagi continous
mistakes. ✅
Yang bertugas :
Host : Dinda Permatasari
Co-host : Ardiani Putri
Narasumber - Nia Nio
Komentar
Posting Komentar