Al Ummu Madrosatul ulla... ibu adalah sekolah atau pendidik pertama bagi anak-anaknya.
Seorang perempuan adalah unsur pokok bagi pembangunan masyarakat. Mereka memiliki peranan dalam mendidik dan membersamai anak-anaknya untuk tumbuh menjadi pribadi yang mulia, menemukan peranannya di dalam dunia ini. Ia adalah seorang yang pribadinya agung dan mulia. Sifatnya yang lemah lembut, berkasih sayang dan rela berkorban inilah yang menjadi selalu semangat dalam membersamai anak-anaknya. Seorang ibu rela berkorban demi harta, benda dan jiwanya untuk sang buah hatinya. Ia sangat antusias dalam mendidik anak-anaknya untuk menghantarkan menuju cahaya kebenaran walau apapun yang ditempuh, tekadnya selalu membaja, komitmen dan konsisten mengiringi langkahnya.
Pada zaman dahulu maupun zaman sekarang banyak tauladan yang dapat kita ambil contoh dalam kegigihannya, rela berkorban, gagah berani dalam kebenaran serta dalam membersamai anak-anaknya. Pada Zaman dahulu saya mencoba memaparkan kisah bunda Khodijah dan Ibunda Imam Syafi'i.
- Bunda Khadijah radhiallahu 'anha, Istri Rasulullah ﷺ.
- Ibunda Imam Syafi'i ( Fathimah binti Ubaidillah)
Di Mekah, ia mempelajari Alquran dan berhasil menghafalkannya saat berusia 7 tahun. Kemudian sang ibu mengirim anaknya ke pedesaan yang bahasa Arabnya masih murni. Sehingga bahasa Arab pemuda Quraisy ini pun jadi tertata dan fasih.
Setelah itu, ibunya memperhatikannya agar bisa berkuda dan memanah. Jadilah ia seorang pemanah ulung. 100 anak panah pernah ia muntahkan dari busurnya, tak satu pun meleset dari sasaran.
Dengan taufik dari Allah ﷻ kemudian kecerdasan dan kedalaman pemahamannya, saat beliau baru berusia 15 tahun, Imam asy-Syafi’i sudah diizinkan Imam Malik untuk berfatwa. Hal itu tentu tidak terlepas dari peranan ibunya yang merupakan seorang muslimah yang cerdas dan pelajar ilmu agama.
Imam asy-Sayfi’i bercerita tentang masa kecilnya, “Aku adalah seorang anak yatim. Ibukulah yang mengasuhku. Namun ia tidak memiliki biaya untuk pendidikanku… …aku menghafal Alquran saat berusia 7 tahun. Dan menghafal (kitab) al-Muwaththa saat berusia 10 tahun. Setelah menyempurnakan hafalan Alquranku, aku masuk ke masjid,duduk di majelisnya para ulama. Kuhafalkan hadits atau suatu permasalahan. Keadaan kami di masyarakat berbeda, aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas. Aku pun menjadikan tulang sebagai tempat menulis”.
Walaupun memiliki keterbatasan materi, ibu Imam asy-Syafi’i tetap memberi perhatian luar biasa terhadap pendidikan anaknya.
Sedangkan untuk zaman sekarang ini saya akan mencoba memaparkan Bunda Septi Peni W dan Guru sepanjang hidup saya yaitu ibu saya, mertua saya, dan guru spiritual
- Bunda Septi Peni W
Sosoknya yang energik dan penuh dengan ide-ide. Beliau mendidik dan membersamai putra putri beliau dengan tangannya sendiri. Beliau menghantarkan putra putrinya sesuai dengan bakatnya. Kiprahnya dalam dunia pendidikan khususnya ibu dan anak tidak diragukan lagi. Dimulai dari beliau menjadi Ibu Profesional, kemudian memikirkan para perempuan indonesia menjadi Ibu Profesional sehingga tercetus Komunitas Institut Ibu Profesional. Beliau menekankan tidak ada hambatan dalam ibu profesioanal yang ada adalah tantangan.Komitmen dan konsisiten juga senantiasa ditekankan.
- Guru sepanjang hidup saya adalah 2 ibu dan guru spiritual yang sabar dalam membimbing saya untuk taat terhadap Allah dan RasulNya
Karena Ibulah saya terlahir didunia. Beliau melahirkan dengan sekuat tenaga sepenuh jiwa dan raganya tercurah demi buah hatinya. Beliau membimbing saya untuk mengerti dan memahami makna hidup, untuk senantiasa dalam rel kebenaran, menginjak usia baligh ibu sangat menjaga saya, mengantar jemput sekolah, kemudian les, memberi wejangan untuk menjaga kehormatan sebagai perempuan. Sampai detik inipun senantiasa memikirkan anak- anaknya. Semua dilakukan demi kebahagian hidup anak turunannya serta keutuhan rumahtangganya. Jasa jasanya takkan pernah terbalas dengan apapun. Ibu Mertua adalah ibuku beliau dengan lembut mendidik suami ku, beliau senantiasa memanjatkan doa untuk kami, untuk kebaikan kami. Karena beliaulah surga suamiku berada. Guru-guru spiritualku adalah seorang ibu yang rela berkorban waktu, tenaga untuk memberikan wejangan, pencerahan, mengingatkan dalam ketaatan dan kebenaran.
Teruntuk para guru kehidupanku, guru spiritualku terimaksaih tak terhingga untuk kebaikan yang telah engkau berikan, engkau membimbing ku hingga merubah pola pikirku, untuk mengenal kebaikan, mengenal RasulNya, menjadikan rasulullah sebagai tauladan dan Mengenal Allah.
Teruntuk para guru kehidupanku, guru spiritualku terimaksaih tak terhingga untuk kebaikan yang telah engkau berikan, engkau membimbing ku hingga merubah pola pikirku, untuk mengenal kebaikan, mengenal RasulNya, menjadikan rasulullah sebagai tauladan dan Mengenal Allah.
Sosok Ibu adalah sangat mulia, ia rela berkorban dengan segenap raga dan jiwa demi anak-anak, suami dan keluarga tercintanya. Ia mendidik dan membersamai anak-anak sepanjang waktu hidupnya. Ia gagah berani dan tangguh dalam mengarungi bahtera rumahtangganya. Ia tak mudah putus asa dalam menjalaninya, tak ada rasa kapok dalam dirinya, pantang menyerah, semua daya dan upaya dicurahkan untuk keluargamya, sehingga layaklah ia disebut Ibu Pahlawan Sepanjang Zaman.
Sumber Bacaan:
http://kisahmuslim.com/5227-ibunda-para-ulama.htmlAhmad Hatta dkk, The Great Story Muhammad, Maghfira Pustaka,Jakarta, 2011
AhmadKhalilJum'ah, 20 SirahSahabiyahyang dijamin Masuk syurga, Al-I'thishom ,Jakarta,2011
#KamiMenulis
#IIPDepok
#IbuSebagaiPahlawan

Komentar
Posting Komentar