Langsung ke konten utama

Pahlawan Sepanjang Zaman Itu Bernama Ibu





Al Ummu Madrosatul ulla... ibu adalah sekolah atau pendidik pertama bagi anak-anaknya. 

Seorang perempuan adalah unsur pokok bagi pembangunan masyarakat. Mereka memiliki peranan dalam mendidik dan membersamai anak-anaknya untuk tumbuh menjadi pribadi yang mulia, menemukan peranannya di dalam dunia ini. Ia adalah seorang yang pribadinya agung dan mulia. Sifatnya yang lemah lembut, berkasih sayang dan rela berkorban inilah yang menjadi selalu semangat dalam membersamai anak-anaknya. Seorang ibu rela berkorban demi harta, benda dan jiwanya untuk sang buah hatinya. Ia sangat antusias dalam mendidik anak-anaknya untuk menghantarkan menuju cahaya kebenaran walau apapun yang ditempuh, tekadnya selalu membaja, komitmen dan konsisten mengiringi langkahnya.
Pada zaman dahulu maupun zaman sekarang banyak tauladan yang dapat kita ambil contoh dalam kegigihannya, rela berkorban, gagah berani dalam kebenaran serta dalam membersamai anak-anaknya. Pada Zaman dahulu saya mencoba memaparkan kisah bunda Khodijah dan Ibunda Imam Syafi'i.
  • Bunda Khadijah radhiallahu 'anha, Istri Rasulullah ﷺ. 
Beliau adalah seorang wanita super istimewa, keistimewaannya adalah penghargaan terhadap peranan-peranannya. Ia adalah seorang wanita yang sukses dalam bisnis. Ia adalah wanita yang taat dan orang yang pertama kali mempercayai kerasulan Muhammad saw. Ia adalah wanita yang sangat penyabar. Ia adalah seorang ibu dan pendidik yang baik. Ia bertanggung jawab di rumah dan berperan untuk anak-anaknya. Diantara anak-anaknya adalah al-Qasim, Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum, Fathimah , dan Abdullah. Anak-anaknya terwarisi karakter mulia dan luhur. Anak-anak perempuannya mempunyai sifat yang tangguh dan sabar. Ia adalah orang yang terbaik bagi Rasulullah ﷺ.
  • Ibunda Imam Syafi'i ( Fathimah binti Ubaidillah)
Ayah Imam asy-Syafi’i wafat dalam usia muda. Ibunyalah yang membesarkan, mendidik, dan memperhatikannya hingga kemudian Muhammad bin Idris asy-Syafi’i menjadi seorang imam besar. Ibunya membawa Muhammad kecil hijrah dari Gaza menuju Mekah.
Di Mekah, ia mempelajari Alquran dan berhasil menghafalkannya saat berusia 7 tahun. Kemudian sang ibu mengirim anaknya ke pedesaan yang bahasa Arabnya masih murni. Sehingga bahasa Arab pemuda Quraisy ini pun jadi tertata dan fasih.
Setelah itu, ibunya memperhatikannya agar bisa berkuda dan memanah. Jadilah ia seorang pemanah ulung. 100 anak panah pernah ia muntahkan dari busurnya, tak satu pun meleset dari sasaran.
Dengan taufik dari Allah ﷻ kemudian kecerdasan dan kedalaman pemahamannya, saat beliau baru berusia 15 tahun, Imam asy-Syafi’i sudah diizinkan Imam Malik untuk berfatwa. Hal itu tentu tidak terlepas dari peranan ibunya yang merupakan seorang muslimah yang cerdas dan pelajar ilmu agama.
Imam asy-Sayfi’i bercerita tentang masa kecilnya, “Aku adalah seorang anak yatim. Ibukulah yang mengasuhku. Namun ia tidak memiliki biaya untuk pendidikanku… …aku menghafal Alquran saat berusia 7 tahun. Dan menghafal (kitab) al-Muwaththa saat berusia 10 tahun. Setelah menyempurnakan hafalan Alquranku, aku masuk ke masjid,duduk di majelisnya para ulama. Kuhafalkan hadits atau suatu permasalahan. Keadaan kami di masyarakat berbeda, aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas. Aku pun menjadikan tulang sebagai tempat menulis”.
Walaupun memiliki keterbatasan materi, ibu Imam asy-Syafi’i tetap memberi perhatian luar biasa terhadap pendidikan anaknya.

Sedangkan untuk zaman sekarang ini saya akan mencoba memaparkan Bunda Septi Peni W dan Guru sepanjang hidup saya yaitu ibu saya, mertua saya, dan guru spiritual
  • Bunda Septi Peni W
Sosoknya yang energik dan penuh dengan ide-ide. Beliau mendidik dan membersamai putra putri beliau dengan tangannya sendiri. Beliau menghantarkan putra putrinya sesuai dengan bakatnya. Kiprahnya dalam dunia pendidikan khususnya ibu dan anak tidak diragukan lagi. Dimulai dari beliau menjadi Ibu Profesional, kemudian memikirkan para perempuan indonesia menjadi Ibu Profesional sehingga tercetus Komunitas Institut Ibu Profesional. Beliau menekankan tidak ada hambatan dalam ibu profesioanal yang ada adalah tantangan.Komitmen dan konsisiten juga senantiasa ditekankan.
  • Guru sepanjang hidup saya adalah 2 ibu dan guru spiritual yang sabar dalam membimbing saya untuk taat terhadap Allah dan RasulNya
Karena Ibulah saya terlahir didunia. Beliau melahirkan dengan sekuat tenaga sepenuh jiwa dan raganya tercurah demi buah hatinya. Beliau  membimbing saya untuk mengerti dan memahami makna hidup, untuk senantiasa dalam rel kebenaran, menginjak usia baligh ibu sangat menjaga saya, mengantar jemput sekolah, kemudian les, memberi wejangan untuk menjaga kehormatan sebagai perempuan. Sampai detik inipun senantiasa memikirkan anak- anaknya. Semua dilakukan demi kebahagian hidup anak turunannya serta keutuhan rumahtangganya. Jasa jasanya takkan pernah terbalas dengan apapun. Ibu Mertua adalah ibuku beliau dengan lembut mendidik suami ku, beliau senantiasa memanjatkan doa untuk kami, untuk kebaikan kami. Karena beliaulah surga suamiku berada. Guru-guru spiritualku adalah seorang ibu yang rela berkorban waktu, tenaga untuk memberikan wejangan, pencerahan, mengingatkan dalam ketaatan dan kebenaran.
Teruntuk para guru kehidupanku, guru spiritualku terimaksaih tak terhingga untuk kebaikan yang telah engkau berikan, engkau membimbing ku hingga merubah pola pikirku, untuk mengenal kebaikan, mengenal RasulNya, menjadikan rasulullah sebagai tauladan dan Mengenal Allah.

Sosok Ibu adalah sangat mulia, ia rela berkorban dengan segenap raga dan jiwa demi anak-anak, suami dan keluarga tercintanya. Ia mendidik dan membersamai anak-anak sepanjang waktu hidupnya. Ia gagah berani dan tangguh dalam mengarungi bahtera rumahtangganya. Ia tak mudah putus asa dalam menjalaninya, tak ada rasa kapok dalam dirinya, pantang menyerah, semua daya dan upaya dicurahkan untuk keluargamya, sehingga layaklah ia disebut Ibu Pahlawan Sepanjang Zaman.

Sumber Bacaan:
http://kisahmuslim.com/5227-ibunda-para-ulama.htmlAhmad Hatta dkk, The Great Story Muhammad, Maghfira Pustaka,Jakarta, 2011
AhmadKhalilJum'ah, 20 SirahSahabiyahyang dijamin Masuk syurga, Al-I'thishom ,Jakarta,2011

#Tantangan01
#KamiMenulis
#IIPDepok
#IbuSebagaiPahlawan


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tantangan 10 Hari Apresiasi Kemandirian_Hari 7

Bismillahirrohmanirrohiim... Alhamdulillah hari terakhir one week one skill untuk aisyah, ya ini hari ke 7 melatih kemandirian aisy menyiapkan bekal kesekolah , atau menyiapkan makan untuk sarapan, makan siang, makan sore atau makan malam. Hari ini  jadwal aisyah masih ujian mid semester, jadi bekal yang dibawa adalah minuman dan snack.    Aisy menyiapkan minuman  Aisy menyiapkan snack Eh ada yang sibuk menyiapkan bekal juga nih... Sebelum mamasukkan bekal, makan doanat dulu ah... nyam-nyam, eunaak...  Atim masukin ketas dulu ya... Siip semua sudah ok, aku rit tasnya... Aisyah mandi dan berganti baju, kemudian membuka gorden   Agar rapi kubuka gorden kamarku... Alhamdulillah semua sudah siap, yuk go to school... Aktivitas sepulang sekolah tak lupa saya tawarkan kepada fatim untuk pipis, dan ia pun menyetujui.   Pipis ah...  Mi, atim pakai celananya ya..., ok soliha jawab umi yes, cel...

Tantangan 10 Hari Apresiasi Kemandirian_Hari 1

Tantangan 10 Hari Apresiasi Kemandirian _ Hari 1 Bismillahirrohmanirrohiim... Setelah bulan lalu mempelajari komunikasi produktif bulan ini Alhamdulillah kami mendapatkan materi Melatih Kemandirian Anak. Sungguh materi-materi yang diberikan sangat sesuai dengan kondisi dan permasalah seputar menjadi ibu. Bagaimana tidak tema yang pertama komunikasi produktif sangat bermanfaat jika benar- benar diterapkan, kemudian berlanjut melatih kemandirian anak ini sangat bermanfaat untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak dan kelak kalau mereka beranjak dewasa akan menjadi pribadi yang mandiri, cepat selesai dengan dirinya sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain. Kemandirian Anak mulai dilatih diusia sejak mereka tidak masuk kategori bayi lagi yaitu usia 1 tahun keatas. Adapun jenis kemandirian anak yang perlu dibangun adalah : 1. Kemandirian  dalam ketrampilan hidup  contoh : makan, mengenakan baju sendiri, mandi sendiri. 2. Kemandirian psikososial contoh :  melat...

Serunya Main di Dapur

Bismillahirrohmanirrohiim... Di hari ke 14 ini pagi bada subuh setelah tilawah kakak bermain bersama adek. Kakak dan adek selalu saja ada yang di kerjakan, mereka jarang diam, selalu bergerak dan ingin melakukan aktivitas. U: siapa yang mau mie goreng? K: aku... aku mau A: atimah zahra U: umi minta tolong isi air ya, untuk merebus mie K: seberapa mi? U: setengah dari wadahnya kak K: mie nya 1 aja ya mi... U:  itu baru 1/2, tambah in 1/2 lagi kak, ambil di rak atas K: gak ada mi, segitu aja ya U: ya sudah. Agak penasaran mengecek di lemari. Ternyata ada, kemudian di ambil dan digabungkan. K: Menasukkan mie nya kalau sudah mendidih ya mi? Kalau sudah ada tanda gelembung- gelembung? U: iya kak K: Aku masukin ya, kira- kira berapa lama ya? U: kakak masih ingat 3 menit kah? K: Ya, aku ingat. U: kalau kita- kira sudah agak mekar, di matikan kompornya dan di saring ya kak.( umi di ruang tamu, dzikir pagi) K: ya mi, udah ni mi, buruan di masak, aku sama ade main dulu. ...