JAZIRAH ARAB
NEGARA DAN AGAMA
Senin, 16 Januari 2018
by: ustadzah Amalia B (uz. Yuyu)
Masih ada 4 orang lagi yang akan di bahas pada modul ini sebagai golongan Hanifiyyun di kota Mekkah, sebagai berikut :
2. Waraqah bin Naufal
Diriwayatkan bahwa bahwa Waraqah pergi bersama Zaid bin Amru bin Nufail dalam rangka mencari agama yang benar untuk dianut. Namun akhirnya Waraqah memilih agama Nashrani, sedangkan Zaid bin Amru bersikukuh memeluk agama Ibrahim as.
Pada suatu hari, Rasulullah mengatakan kepada Khadijah r.a. bahwa beliau baru saja melihat seberkas sinar dan beliau khawatir sinar itu adalah para jin. Khadijahpun menentramkan beliau. Kemudian ia menjumpai Waraqah dan menceritakan kepadanya tentang apa yang dialami oleh Rasulullah. Waraqah berkata, apabila ia benar, sinar itu adalah wahyu seperti sinar Nabi Musa. Dan sesuangguhnya apabila beliau (Muhammad) diutus (menjadi Nabi) saat aku masih hidup, niscaya aku akan memuliakannya, membantunya dan beriman kepadanya.”
Berbagai khabar dan Atsar lain yang menceritakan proses keislaman tokoh ini akan kita kupas lebih dalam di bahasan tentang permulaan turunnya wahyu kepada Muhammad dan kaum muslimin generasi pertama.
3. Quss Ibnu Sa’idah Al Iyadi
Ubadah bin Shamit r.a. dan beberapa perawi lain menceritakan bahwa ketika para utusan Iyad datang menemui Rasulullah, beliau menanyakan kepada mereka tentang Quss bin Sa’idah. Mereka mengatakan bahwa ia telah meninggal. Maka Rasulullah bersabda, Pada suatu hari aku pernah melihat di Ukazh. Ia berada di atas seekor unta berwarna coklat tua seraya melontarkan pernyataan-pernyataan yang sangat bagus, tetapi sayang aku tidak hafal ucapannya. Kemudian salah seorang dari utusan tadi mengaku masih hafal ucapan Quss bin Sa’idah saat itu. Ia menirukannya sebagai berikut, “Wahai manusia, berkumpullah. Ketauhilah, setiap yang mati itu telah kehilangan segala kesempatan. Segala sesuatu yang akan datang pastilah terjadi. Perhatikanlah malam yang gelap gulita, langit yang dipenuhi bintang-bintang, laut yang bergemuruh, bintang-bintang yang berkilauan, gunung-gunung yang terpancang, dan sungai-sungai yang senantiasa mengalir. Sesungguhnya pada langit itu terdapat berbagai pelajaran. Dan mengapa aku melihat orang-orang yang pergi itu tak mau kembali? Bila mereka ingin menetap, menetaplah mereka. Atau, bila ingin meninggalkannya, merekapun menumpang tidur saja. Sesungguhnya Quss bersumpah atas nama Allah tanpa keraguan sedikitpun, Bahwa sesungguhnya Allah memiliki agama yang lebih diridhai-Nya dari pada agama kalian ini.” Setelah itu ia mendendangkan sebuah syair.
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika para utusan Abdul Qois datang, Rasulullah menanyakan kepada mereka kabar Quss. Mereka mengabarkan kepada beliau bahwa Quss telah meninggal. Kemudian beliau berkata seperti yang telah disebutkan dalam riwayat Ibnu Shamit tadi.
Ibnu Katsir dan Baihaqi meriwayatkan pula beberapa hadits lain yang berhubungan dengan kisah Quss ini. Substansi ceritanya sama dengan riwayat di atas, yakni tentang keteguhan Quss dalam mempertahankan agama Ibrahim, berbagai perkataannya yang mengarah kepada hal itu dan syair-syairnya yang berhubungan dengan religiusitas dirinya. Ini berarti kisah tentang Quss memang memiliki sumber sejarah.
💦💦Alhamdulillah, sudah 3 golongan Hanifiyyun yang kita kenal, Insya Allah dipertemuan selanjutnya akan kita tuntaskan pembahasannya.
🌈🌈Semangat dan semangalah terus menempuh jalanilmu, ilmu... kisah-kisah yang benar yang menjadikan kita bercermin, bahwa sejak dulu di kehidupan manusia, terdapat orang-orang yang senantiasa menjaga keimanannya... Maasya Allah. 🌈🌈
NEGARA DAN AGAMA
Senin, 16 Januari 2018
by: ustadzah Amalia B (uz. Yuyu)
Masih ada 4 orang lagi yang akan di bahas pada modul ini sebagai golongan Hanifiyyun di kota Mekkah, sebagai berikut :
2. Waraqah bin Naufal
Diriwayatkan bahwa bahwa Waraqah pergi bersama Zaid bin Amru bin Nufail dalam rangka mencari agama yang benar untuk dianut. Namun akhirnya Waraqah memilih agama Nashrani, sedangkan Zaid bin Amru bersikukuh memeluk agama Ibrahim as.
Pada suatu hari, Rasulullah mengatakan kepada Khadijah r.a. bahwa beliau baru saja melihat seberkas sinar dan beliau khawatir sinar itu adalah para jin. Khadijahpun menentramkan beliau. Kemudian ia menjumpai Waraqah dan menceritakan kepadanya tentang apa yang dialami oleh Rasulullah. Waraqah berkata, apabila ia benar, sinar itu adalah wahyu seperti sinar Nabi Musa. Dan sesuangguhnya apabila beliau (Muhammad) diutus (menjadi Nabi) saat aku masih hidup, niscaya aku akan memuliakannya, membantunya dan beriman kepadanya.”
Berbagai khabar dan Atsar lain yang menceritakan proses keislaman tokoh ini akan kita kupas lebih dalam di bahasan tentang permulaan turunnya wahyu kepada Muhammad dan kaum muslimin generasi pertama.
3. Quss Ibnu Sa’idah Al Iyadi
Ubadah bin Shamit r.a. dan beberapa perawi lain menceritakan bahwa ketika para utusan Iyad datang menemui Rasulullah, beliau menanyakan kepada mereka tentang Quss bin Sa’idah. Mereka mengatakan bahwa ia telah meninggal. Maka Rasulullah bersabda, Pada suatu hari aku pernah melihat di Ukazh. Ia berada di atas seekor unta berwarna coklat tua seraya melontarkan pernyataan-pernyataan yang sangat bagus, tetapi sayang aku tidak hafal ucapannya. Kemudian salah seorang dari utusan tadi mengaku masih hafal ucapan Quss bin Sa’idah saat itu. Ia menirukannya sebagai berikut, “Wahai manusia, berkumpullah. Ketauhilah, setiap yang mati itu telah kehilangan segala kesempatan. Segala sesuatu yang akan datang pastilah terjadi. Perhatikanlah malam yang gelap gulita, langit yang dipenuhi bintang-bintang, laut yang bergemuruh, bintang-bintang yang berkilauan, gunung-gunung yang terpancang, dan sungai-sungai yang senantiasa mengalir. Sesungguhnya pada langit itu terdapat berbagai pelajaran. Dan mengapa aku melihat orang-orang yang pergi itu tak mau kembali? Bila mereka ingin menetap, menetaplah mereka. Atau, bila ingin meninggalkannya, merekapun menumpang tidur saja. Sesungguhnya Quss bersumpah atas nama Allah tanpa keraguan sedikitpun, Bahwa sesungguhnya Allah memiliki agama yang lebih diridhai-Nya dari pada agama kalian ini.” Setelah itu ia mendendangkan sebuah syair.
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika para utusan Abdul Qois datang, Rasulullah menanyakan kepada mereka kabar Quss. Mereka mengabarkan kepada beliau bahwa Quss telah meninggal. Kemudian beliau berkata seperti yang telah disebutkan dalam riwayat Ibnu Shamit tadi.
Ibnu Katsir dan Baihaqi meriwayatkan pula beberapa hadits lain yang berhubungan dengan kisah Quss ini. Substansi ceritanya sama dengan riwayat di atas, yakni tentang keteguhan Quss dalam mempertahankan agama Ibrahim, berbagai perkataannya yang mengarah kepada hal itu dan syair-syairnya yang berhubungan dengan religiusitas dirinya. Ini berarti kisah tentang Quss memang memiliki sumber sejarah.
💦💦Alhamdulillah, sudah 3 golongan Hanifiyyun yang kita kenal, Insya Allah dipertemuan selanjutnya akan kita tuntaskan pembahasannya.
🌈🌈Semangat dan semangalah terus menempuh jalanilmu, ilmu... kisah-kisah yang benar yang menjadikan kita bercermin, bahwa sejak dulu di kehidupan manusia, terdapat orang-orang yang senantiasa menjaga keimanannya... Maasya Allah. 🌈🌈
Komentar
Posting Komentar