MasyaAllah betapa bahagianya masuk dalam komunitas yang saling mensupport untuk menjadi baik. Tema 11 ini unik, kami dari masing-masing member kelas Bunda Sayang mendapat bagian untuk berdiskusi kelompok dan memaparkan nya. Sesuai kesepakatan hari Ahad adalah GFOS, tetapi karena level #11 ini diskusi setiap harinya dan kami melakukan di malam hari sehingga Ahad malam pun kami tetap diskusi. Diskusi kami sudah memasuki grup yang terdiri dari Mba Azay dan Mba Wiwit S, mereka sangat kreatif. sebelum diskusi diberikan 3 study kasus yang di share di pagi, siang dan sore, sekaligus sebagai camilan weekend. ke 3 kasus antara lain adalah:
Studi Kasus 1
KETIKA LAKI-LAKI DAN NEGARA TAK BERFUNGSI
Penulis : Ria Fariana
Sumber : http://www.voa-islam.com
Hari ini, saya ngobrol dengan seorang nenek penjual nasi pecel. Usianya 83 tahun dan sudah sakit-sakitan. Ia memunyai satu anak laki-laki yang tinggal serumah dengannya bersama dengan istri dan dua anaknya. Anak laki-laki ini bekerja sebagai tukang becak tapi jarang beroperasi becaknya. Dia lebih memilih duduk atau tiduran di becaknya sambil menikmati semilir angin. Intinya, anak laki-laki ini malas bekerja keras demi menafkahi anak dan istrinya.
Si istri atau menantu nenek penjual nasi pecel ini tidak mau membantu mertuanya berjualan. Ia lebih memilih nonton TV dengan santai di rumah. Anak pertamanya yang perempuan pun harus drop out dari SMK karena hamil duluan. Setelah dinikahkan dan melahirkan, ia, bayi serta suaminya yang pengangguran tinggal di rumah tersebut dan menjadi beban si nenek tersebut. Bayangkan, setua itu dia harus memberi makan 7 mulut di rumahnya.
Di kesempatan yang lain, nenek berusia 87 tahun penjual kerupuk seharga seribuan curhat pada saya. Ia keliling dari kampung ke kampung menjajakan dagangannya demi laba seratus rupiah per bungkus kerupuk. Anaknya sembilan dan sudah menikah semua. Tak ada satu pun yang mau menanggung biaya hidup ibunya. Nenek ini sebetulnya memunyai uang pensiun dari suaminya yang mantan angkatan. Tapi karena ada salah satu anaknya yang hidupnya sangat miskin sehingga ia tidak tega dan memberikan uang tersebut untuk keluarga anaknya. Jadilah untuk makan dan biaya kostnya, ia berjualan kerupuk tersebut.
Dua ilustrasi di atas, bisa jadi membuat hati kita iba dan miris. Sosok yang seharusnya sudah beristirahat di masa tua, masih saja membanting tulang bukan demi dirinya tapi anak dan cucu juga. Salah satu teman, mengatakan bahwa fenomena demikian tidak membuatnya iba tapi marah. Kemana nurani anak dan cucunya? Kemana pemahaman dan bakti si muda pada yang tua? Apalagi bila ada sosok laki-laki di sana, betapa teganya ia membiarkan ibunya mencari receh demi memberi makan keluarga.
Sobat muslimah, kejadian di atas terjadi bukan tanpa sebab. Bentuk anak adalah hasil didikan orang tua. Betapa banyak orang tua di luar sana yang beralasan demi sayangnya pada si anak, tidak memberikan pendidikan yang seharusnya pada buah hati. Ibu dan ayah sibuk membersihkan rumah, memasak, berkebun, mencuci baju, sementara anak dibiarkan sibuk dengan HP dan nonton TV. Mereka tidak dididik untuk memunyai rasa welas asih terhadap orang tua. Dalam benaknya: biar orang tua saja yang susah, anak biar menikmati masa muda. Persepsi salah seperti inilah yang merupakan cikal bakal fenomena dua nenek dalam kisah di atas.
Pola didik yang salah, diperparah dengan nihilnya pemahaman agama membuat masa tua orang tua seperti ini makin merana. Sampai tua, bahkan sampai mati ia akan terus berperan sebagai pihak yang bekerja dan ‘membahagiakan’ anak. Begitu pun dengan si anak, hingga ia dewasa, beranjak tua bahkan mati pun, hidupnya hanya berisi malas-malasan dan enggan bekerja keras. Inilah yang dinamakan hasil didikan, menuai apa yang telah ditanam sebelumnya.
Bila ia laki-laki,
jiwa ‘qowwam’ atau pemimpinnya tak nampak Ia tak tersentuh dengan kondisi orang tua yang renta. Ia sampai hati memakan jatah dari keringat ibunya yang terbungkuk-bungkuk bekerja supaya keluarga bisa makan. Ia melanjutkan apa yang telah menjadi didikan ibunya di masa kecil dulu. Dan ketika akhirnya menjadi orang tua, ia pun tak tahu apa tugas dan kewajibannya sebagai ayah. Tak heran bila anak perempuannya akhirnya juga hamil di luar nikah.
Minimnya pemahaman keislaman membuat ia mengambil langkah umum yang diambil kebanyakan orang. Dinikahkah, habis perkara. Ia tak tahu bahwa menikahkan perempuan yang sudah hamil itu batal atau tidak sah hingga ia melahirkan. Ketidaktahuan ini dibawa terus tanpa ada pembaruan akad nikah. Jadilah seumur hidup anak perempuannya melakukan hubungan haram hingga membuahkan anak demi anak lagi dan lagi.
Suami yang asal comot karena sudah terlanjur hamil semakin memperburuk keadaan ini. Penyakit masyarakat tipe ini semakin membudaya seiring dengan semakin bebasnya pergaulan anak muda yang miskin ilmu agama. Kembali, orang tua yang seharusnya sudah bisa menikmati masa tua dengan bahagia harus terus diliputi masalah demi masalah tanpa kenal ujung.
Lihatlah, PR umat ini demikian besar. Ketika individu dan masyarakat kualitasnya demikian, maka pilar negara seharusnya memunyai jalan keluar. Dan ketika negara pun sebelas dua belas alias sama saja kualitasnya tanpa tahu harus bagaimana dengan fenomena kisah di atas, maka inilah saatnya kita mulai sadar diri. Ada yang salah dalam sistem ini.
Islam, sebagai the way of life punya semua jalan keluar atas penyakit umat. Islam ini tak bisa ditegakkan per individu. Ia harus hadir dalam sebuah sistem untuk memberi penyadaran dan tatanan bagi individu, masyarakat dan negara. Posisi laki-laki didudukkan di tempat semestinya. Ia harus menjadi pemimpin dalam keluarga, pencari nafkah utama. Tak ada tempat bagi laki-laki pemalas.
Proses penyadaran dan pendidikan di tengah masyarakat yang ‘sakit’ ini tak bisa dianggap sepele. Harus ada kekuatan sebuah negara untuk memberlakukan gerakan penyadaran ini. Dan ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang negara kecuali benar-benar negara yang mendasarkan dirinya pada ketakwaan terhadap Sang Pencipta. Marilah kita bercermin, bagaimana kah wajah negara ini? Wallahu alam. [riafariana/voa-islam.com]
Studi Kasus 2
KALIANLAH YANG MENDZALIMI WANITA
Penulis : Ustadz Budi Ashari
Sumber : www.parentingnabawiyah.com
Kita coba sekarang masuk ke ilmu fikih lebih dalam. Fikih tentang: apakah wanita boleh menjadi hakim. Saya nukilkan beberapa penjelasan ulama besar di bidang fikih.
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 13/146-147:
“Mereka (para ulama) sepakat dengan syarat laki-laki untuk menjadi hakim, kecuali Hanafiyah dan mereka hanya mengecualikan masalah hudud (hukuman-hukuman fisik). Adapun Ibnu Jarir memutlakkan hal ini. Hujjah Jumhur Ulama adalah hadits shahih: Tidaklah bahagia suatu kaum yang mengangkat pemimpin mereka seorang wanita."
Al Mawardi dalam Al Ahkam As Sulthoniyyah h. 110:
“Adapun Ibnu Jarir Ath Thabari berpendapat syudzudz (aneh dan sendiri) dengan membolehkan wanita menjadi hakim pada semua hukum. Tetapi sebuah pendapat tidak dihiraukan jika ditolak oleh Ijma’, apalagi ada firman Allah Ta’ala: {Laki-laki (suami) itu qowwam bagi perempuan (istri), karena Allah telah Melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan)}. Yakni: pada akal dan logika, maka wanita tidak boleh memimpin laki-laki."
Ibnu Qudamah dalam Al Mughni 10/36:
“Bagi kami (yang diambil) adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: (Tidak berbahagia suatu kaum yang mengangkat pemimpin mereka seorang wanita.) Karena seorang hakim harus hadir di majlis pertikaian dan laki-laki, diperlukan kesempurnaan logika, akal dan kecerdasan. Adapun wanita kurang akal, sedikit logika. Tidak tepat hadir di kumpulan laki-laki, tidak diterima kesaksiannya walau berjumlah 1000 wanita kecuali jika ada laki-laki bersama mereka. Tidak boleh memimpin kepemimpinan besar, tidak boleh memimpin negeri-negeri. Untuk itulah Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengangkat seorang wanita menjadi hakim dan pemimpin negeri, demikian juga para khalifah setelahnya dan juga siapapun setelah mereka."
Sebenarnya ada beberapa pembahasan di dalam kalimat-kalimat para ulama di atas. Diperlukan ruang yang lebih luas untuk membahasnya. Karena dipastikan akan banyak yang protes. Itu disebabkan oleh cara pandang yang menggunakan kacamata hari ini. Tapi pembahasan kita hanya pada satu poin saja: wanita menjadi penentu hukum.
Dari penjelasan di atas, jelas bahwa wanita tidak diperkenankan menjadi hakim, penentu hukum. Bahkan Al Mawardi menyebutnya sebagai ijma’(kesepakatan para ulama). Dan pendapat Ath Thabari dianggap sebagai pendapat yang syadz.
Banyak yang akan mengkritik konsep Islam ini. Dan silakan. Itulah mengapa tulisan dengan judul ini hadir.
Apa keberatan orang-orang hari ini terhadap konsep yang satu ini?
Ada kelompok yang menuntut kesamaan hak dan derajat antara wanita dan laki-laki. Ada kelompok yang ‘yakin’ sedang berjuang ‘mengangkat’ harkat dan martabat wanita. Ada yang merasa memuliakan wanita dan sebagai bukti pemuliaan adalah mengangkatnya di kepemimpinan publik.
Mereka itulah yang ketika wanita dilarang menjadi hakim dalam Islam, berkata: Anda telah menuduh wanita itu makhluk yang hina dan lemah. Anda merendahkan wanita yang telah dengan luar biasa melahirkan Anda sendiri. Anda menganggap wanita tidak bisa adil. Ini tindakan diskriminatif!
Baiklah. Coba duduk sebentar. Dan renungi ulasan berikut ini.
Yang pertama, laki-laki dan wanita jelas berbeda. Tanyakan langsung kepada ahli otak. Apakah otak laki-laki secara fisik dan secara fungsi kerjanya sama persis dengan otak wanita? Jawaban mereka: Tidak sama. Sementara itu, dunia hukum memerlukan kecerdasan otak dan logika yang kuat. Inilah rahasia mengapa Nabi mengatakan bahwa akal wanita setengah laki-laki. Bukan dalam rangka menyingkirkan wanita. Sama sekali bukan. Tetapi Nabi sedang mengungkapkan sesuatu yang baru bisa diungkap secara penelitian ilmiah 15 abad berikut. Ya, itu di zaman kita sekarang.
Yang kedua, ini berhubungan langsung dengan tema keluarga. Renungilah kalimat Nabi tentang sebagian ciri istri ideal berikut,
تزوجوا الودود الولود
“Nikahilah(wanita) yang banyak kasih sayangnya dan banyak anaknya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasai)
Wanita yang banyak kasih sayangnya. Kalimat ini harus digarisbawahi. Karena keluarga dengan kasih sayang istri yang terbatas, akan membatasi usia pernikahan. Wanita harus memiliki persediaan kasih sayang yang sangat cukup untuk bisa dirasakan oleh suami dan anak-anaknya. Dan inilah salah satu rahasia penting langgengnya keluarga. Karena kasih sayang mampu meredam semua kelelahan, kepenatan, kebosanan dan rasa sakit.
Apa hubungannya dengan pembahasan kita tentang wanita yang menjadi penentu hukum?
Karakter hukum itu logis dan tidak basa-basi. Para penegak hukum dituntut untuk memiliki logika kuat yang cerdas dan cerdik. Perasaan dibatasi masuk ke wilayah ini.
Seorang wanita yang telah menikah mengaku berzina di zaman Nabi dan terbukti pengakuannya sah, maka tidak ada basa-basi dan tidak ada perasaan di sini. Hukum ditegakkan. Wanita itu mati mulia dengan dihukum rajam.
Seorang penegak hukum tidak berkata: menurut perasaan saya, anda melanggar hukum.
Tapi akan berkata: sesuai dengan undang-undang, pasal sekian ayat sekian, Anda diancam hukuman sekian.
Seorang penegak hukum tidak berkata: saya tidak tega memvonis anda, maka saya jatuhi vonis sekian saja.
Tapi akan berkata: sesuai dengan fakta persidangan, anda terbukti bersalah dan divonis sekian.
Bayangkan suasana seperti itu menjadi seluruh kehidupan seorang wanita. Bertahun, berpuluh tahun bergelut dengan suasana seperti itu. Bukankah, perlahan tapi pasti perasaan wanita yang mahal itu terkikis. Logika menggeser rasa. Seiring dengan itu, kasih sayang menipis bahkan bisa sirna.
Suami yang penat seharian dalam tugas wajibnya mencari nafkah, hanya perlu sentuhan rasa seorang istri yang akan membangkitkan kembali tenaga dan semangatnya. Tapi apa daya, kasih sayang itu telah menipis dan hampir sirna.
Anak-anak yang sedang terus belajar menapaki terjalnya kehidupan ini terkadang terseok terjatuh, hanya perlu sentuhan rasa seorang bunda yang akan meraih tangan mereka untuk bangkit dan belajar lebih baik lagi. Tapi apa daya, kasih sayang itu telah menipis dan hampir sirna.
Rumah, ‘surga’ keluarga muslim di dunia perlu diatur dengan sentuhan rasa dan kasih seorang wanita. Agar terlihat semakin rapi, indah dan nyaman. Tapi apa daya, kasih sayang itu telah menipis dan hampir sirna.
Suatu saat saya menyampaikan hal ini di masyarakat. Selesai kajian, saya disalami oleh seorang bapak yang berkata: Luar biasa. Saya ini pengacara dan teman-teman saya yang suami istri berprofesi pengacara rata-rata cerai. Ternyata ini jawabannya.
Ya. Laki dan perempuan yang diciptakan berbeda, justru bertujuan untuk saling melengkapi dan saling menutupi. Karena kelebihan dan kekurangan masing-masing berbeda. Kalau seorang wanita yang harusnya memiliki kasih sayang dan rasa lebih dari laki-laki, telah berubah menjadi seperti laki-laki yang sangat logis dan hampir sirna rasanya, maka seakan laki-laki itu menikah dengan ‘laki-laki’. Kalau sudah begini, jelas bukan rumahtangga namanya. Keretakan, selanjutnya karamnya bahtera tak terhindarkan.
Jadi, perdebatan jangan hanya dihentikan di bab: apakah wanita tidak bisa adil seperti laki-laki. Karena sangat mungkin wanita bisa adil seperti laki-laki.
Tapi itu bukan dunianya. Sehingga wanita pasti akan memaksakan diri. Wanita akan menabrak dan mendobrak pagar fitrahnya.
Ini peradaban egois. Wanita diminta untuk bekerja di luar kemampuannya.
Ini peradaban egois. Wanita dipuji di luar sana, tetapi tidak pernah dipikirkan nasib rumah tangganya.
Jadi...
Siapa yang sebenarnya dzalim terhadap wanita?
Studi Kasus 3
POTRET KELUARGA DALAM AL QURAN
Penulis : Ust.Budi Ashari
Sumber :www.parentingnabawiyah.com
Jika setiap kita ditanya, apa kitab sucinya, akan dijawab Al Quran.
Jika ditanya, apa mukjizat terbesar Nabi kita, akan dijawab: Al Quran
Jika ditanya, apa fungsinya, akan dijawab di antaranya: sebagai hudan (petunjuk)
Bahkan ditanamkan ke dalam diri setiap kita bahwa Al Quran adalah sumber segala ilmu.
Hingga hari ini ramai dibahas tentang kemukjizatan ilmiah Al Quran.
Tapi sayang, sementara ini Al Quran masih disingkirkan dari fungsinya sebagai panduan bagi keluarga muslim.
Bicara tentang pola hubungan suami dan istri, sumbernya bukan Al Quran. Membahas tentang komunikasi orangtua dan anak, diambil dari berbagai teori yang bukan dari Al Quran. Bagaimana melahirkan orang-orang besar dari rahim keluarga, tidak mengacu pada ayat-ayat Al Quran. Tolok ukur keberhasilan rumah tangga juga terlalu sederhana, karena tidak menggali dari jernihnya mata air Al Quran.
Apalagi jika telah bicara teknis. Banyak yang berpikir bahwa Al Quran global dan tidak rinci. Sehingga, Al Quran hanya dijadikan stempel legalitas untuk melegalkan tips-tips yang terkadang menabrak Al Quran sendiri.
Musibah...
Pendidikan seksual untuk anak, umpamanya. Dikarenakan bukan diambil dari Al Quran dan Nabi, maka hasilnya justru mengerikan. Alih-alih membuat anak menjadi berhati-hati dalam pergaulan, mereka malah pulang dari seminar dengan otak kotor. Mengapa? Karena sumbernya justru teori musuh Islam yang disadari atau tidak, sering mengandung racun yang dikemas dengan madu. Kasihan, keluarga muslim...
Maka, sudah saatnya kita berlari kembali kepada Al Quran dan Sunnah Nabi. Panduan yang abadi dan tidak akan rusak oleh apapun zaman yang dilaluinya.
Panduan yang telah melahirkan generasi hebat pemimpin bumi lebih dari 1000 tahun.
Dari Nabi Hingga Manusia Biasa
Beberapa Nabi digambarkan oleh Al Quran sebagai kepala rumah tangga.
Sehingga menjadi pelajaran dan keteladanan bagi keluarga kita.
Masing-masing dengan karakter keluarga yang berbeda-beda. Kisah-kisah itu disampaikan dengan pelajaran yang berbeda-beda.
Nabi Ibrahim umpamanya, sosok yang digambarkan sangat dominan sebagai sosok ayah istimewa. Semua sepakat bahwa Ibrahim adalah ayah hebat karena tidak saja melahirkan orang shaleh tetapi melahirkan dua Nabi sekaligus; Ismail dan Ishaq. Dari keduanya, lahir para Nabi berikutnya.
Subhanalloh...
Keberhasilan Ibrahim dalam melahirkan dua muara kemuliaan itu, ditebarkan kisahnya dalam sekian banyak Surat dalam Al Quran. Bahkan ada satu surat sendiri yang bernama Surat Ibrahim. Sebegitu pentingnya untuk mendapatkan perhatian setiap keluarga muslim.
Setiap lantunan doa Ibrahim mengandung pelajaran sangat agung bagi konsep pendidikan keluarga. Bahkan susunan kata serta urutan tema doanya, sungguh di dalamnya terdapat panduan penting bagi keluarga yang ingin melahirkan muara kemuliaan.
Uniknya, Al Quran tidak hanya menyampaikan keberhasilan para Nabi di dalam rumah tangga. Nabi Nuh, ditegur Allah dalam Surat Hud karena kegagalannya mendidik salah satu anak laki-lakinya. Teguran itu seharusnya tidak membuat kita masih terus bertahan dengan dalih kegagalan Nabi Nuh, saat ada di antara kita yang gagal mendidik anaknya. “Nabi Nuh saja gagal mendidik anaknya, apalagi hanya saya...” begitulah dalih sebagian kita. Kalau hal itu untuk menghibur diri sesaat tidak masalah. Tetapi jika untuk lari dari tanggung jawab, ketahuilah bahwa Nabi Nuh saja telah ditegur Allah karenanya. Kisah Nuh gagal mendidik anaknya, lengkap dengan penyebab utamanya dalam Surat At Tahrim.
Hingga potret keluarga Rasulullah Muhammad yang diabadikan dalam Al Quran. Ada yang menggelitik perhatian kita tentang cara Al Quran mengabadikan keluarga Rasulullah. Jika Ibrahim sangat dominan digambarkan perannya sebagai kepala keluarga, Rasulullah Muhammad justru digambarkan dengan cara sebaliknya. Justru yang banyak digambarkan dari keluarga Rasulullah adalah pihak wanita; Ummahatul Mu’minin (istri-istri beliau). Apa pelajaran di balik semua ini? Itulah pentingnya kita menelurusi ayat per ayat dalam Al Quran untuk meraih pelajaran dan panduannya bagi keluarga kita.
Tak hanya para Nabi yang digambarkan dalam Al Quran. Keluarga manusia biasa juga digambarkan dalam Al Quran. Jika semua Nabi adalah manusia pilihan, walapun sebagian mereka gagal mendidik keluarganya. Manusia biasa yang keluarganya diabadikan dalam Al Quran ada dua macam; orang yang baik dan orang yang jahat. Orang yang baik diwakili oleh Imron dan Luqman. Orang jahat diwakili oleh Abu Lahab dan istrinya.
Ada yang lagi-lagi sangat menarik. Dari 114 Surat dalam Al Quran, hanya satu surat yang namanya mengandung kata: keluarga. Yaitu Ali Imron (keluarga Imron). Padahal Imron bukanlah Nabi. Seakan ada sebuah perintah agar kita punya fokus dalam mengambil pelajaran dari keluarga manusia biasa yang istimewa ini. Sebuah keluarga yang utuh keberhasilannya. Pasangan, anak hingga cucu. Bagaimana caranya, harus menelusuri kata per kata dalam ayat-ayatnya.
Kalau Imron adalah tokoh di masyarakatnya, bahkan seorang imam besar. Berbeda lagi dengan Luqman yang hanya masyarakat biasa. Bukan pemimpin. Hanya seorang penggembala kambing miskin yang tersingkirkan. Lengkap dengan penampilan yang tidak dilirik orang sama sekali. Tetapi, Allah muliakan dalam Al Quran. Bahkan nasehatnya dipilih Allah dari sekian banyak nasehat para ayah hebat di muka bumi ini. Jelas, ini bukan sembarang ayah. Pelajaran sangat khusus bagi setiap ayah.
Hanya Satu Sahabat, Itupun Tentang Keluarga
Dari ratusan ribu sahabat Nabi yang mulia. Dari orang-orang istimewa yang ada di antara mereka. Dari para pemimpin mulia dari kalangan sahabat yang tercatat istimewa dalam sejarah. Dari yang telah dijamin masuk surga. Dari banyak kisah mereka yang diabaikan dalam Al Quran.
Hanya ada satu sahabat saja yang namanya secara jelas disebut dalam Al Quran.
Ya, hal itu ada dalam Al Ahzab: 37. Sahabat itu adalah Zaid bin Haritsah radhiallahu anhu, putra angkat Rasulullah. Tentu ada sebuah fokus pelajaran yang ingin disampaikan Al Quran. Ternyata pembahasan ayat tersebut, selain tentang sebuah hukum dalam syariat Islam, berbicara tentang: Keluarga.Bacalah ayat tersebut dan kita pun akan terheran-heran. Karena ternyata yang dikisahkan malah tentang retak dan karamnya bahtera rumah tangga.
Lho, mengapa?
Ya, karena di sana ada sebuah masalah serius pada keluarga umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam ini.
Antara Anak Laki dan Perempuan
Ada pembahasan bagaimana melahirkan anak laki-laki yang istimewa seperti Ismail dan Ishaq (anak dari Ibrahim), Yusuf (anak dari Ya’qub), Sulaiman (anak dari Dawud). Atau pelajaran dari kegagalan mendidik anak laki-laki seperti kisah salah satu putra Nuh.
Ternyata, secara khusus Al Quran menyampaikan tentang potret keluarga yang berhasil mendidik anak perempuan. Dalam Surat Al Qoshosh disebutkan kisah dua wanita sholehah yang berinteraksi dengan Musa. Sebagian ulama tafsir menyebut bahwa dua wanita itu adalah putri dari Nabi Syu’aib.
Dari sinilah lahir sebuah karya ilmiah, tesis S2 di Universitas Yarmuk, Yordan. Ditulis oleh Lina Ahmad Muhamad Mulhim dengan judul: Ash Shifat at Tarbawiyyah lil Maratil Muslimah fil Quranil Karim (Pendidikan wanita muslimah dalam Al Quran Al Karim).
Sungguh sebuah panduan yang sangat lengkap...
Berorientasi Hasil
Apapun latar belakang keluarga, yang penting hasilnya istimewa. Tidak setiap keluarga beruntung sejak awal. Kalau Nabi Dawud adalah raja, kemudian Sulaiman juga menjadi raja. Maka itu kita katakan lumrah.
Tetapi dari kampung di pelosok padang pasir. Hidup dalam perjalanan yang setiap segmennya adalah cobaan berat. Ternyata mampu menghantarkannya sampai di kursi kepemimpinan negeri besar Mesir. Bacalah bagaimana Ya’qub menghantarkan Yusuf dari baduwi hingga singgasana Mesir.
Ada yang hidup dalam asuhan langsung orangtuanya sendiri. Ada yang hidup dalam asuhan orang lain. Apapun, hasilnya harus tetap istimewa. Lihatlah dengan jeli bagaimana ayat berbicara lahirnya wanita termulia di muka bumi ini: Maryam
Kesalahan yang dilakukan oleh seorang suami atau seorang istri dalam perjalanan hidup rumah tangga, tetap tidak boleh menggagalkan hasil yang baik. Kisah keluarga Nabi Muhammad dalam Al Quran mewakili hal tersebut. Tapi, siapa yang tidak kenal dengan putra-putri dan cucu beliau.
Sangat Teknis...
Sekali lagi, salah yang menganggap bahwa Al Quran sangat global dan tidak bicara teknis. Bagi yang menganggapnya seperti itu, berarti belum pernah menggali Al Quran secara dalam sebagaimana para ahli tafsir mengkaji. Karena Al Quran mengandung ilmu besar bahkan pada pilihan kata dan hurufnya.
Lihatlah dengan mata para ahli tafsir tentang teknis sangat detail berhadapan dengan ibu hamil. Yaitu dalam Surat Maryam: 22 – 26. Jika diberi judul: Bahaya kesedihan bagi Ibu Hamil dan cara mengatasinya.
Dahsyat bukan...
Bahkan ayat-ayat tersebut menantang para peneliti untuk datang meneliti setiap kata dari ayat-ayat tersebut.
Contoh lain, sebuah tesis S2 di Universita Ummul Quro, Mekah membahas tentang aplikasi pendidikan dari dialog orangtua dan anak dalam Al Quran. judul tesis tersebut adalah: Hiwar al Aba’ ma’al Abna’ fil Quranil Karim wa Tathbiqotuhut Tarbawiyyah(Dialog antara orangtua dan anak dalam Al Quran Al Karim dan aplikasi pendidikannya). Ditulis oleh: Sarah binti Halil Al Muthairi.
Di mana dibahas oleh penulisnya bahwa ada 17 tema dialog antara orangtua dan anak dalam Al Quran yang dicantumkan dalam 9 Surat. Apa saja isinya dialognya, bagaimana cara berdialog yang baik, apa aplikasi pendidikannya bagi keluarga kita, dan sebagainya, merupakan pembahasan yang dikaji detail dalam tesis tersebut.
Single Parent
Pembahasan tentang orangtua yang sendirian mengasuh anaknya, menjadi permasalahan yang dibahas serius oleh berbagai kelas parenting hari ini. Karena memang tidak mudah menjadi single parent dalam mengawal pendidikan anak-anak.
Tetapi lagi-lagi, belum menjadikan Al Quran sebagai acuan utamanya.
Al Quran memberikan dua potret orangtua yang seorang diri membesarkan dan mendidik anaknya hingga berhasil.
Potret pertama adalah single parent hakiki. Yaitu seorang ibu yang membesarkan dan mendidik anaknya seorang diri, dikarenakan suaminya telah wafat.
Potret kedua adalah single parent majazi (kiasan). Yaitu seorang ibu yang membesarkan dan mendidik anaknya seorang diri, dikarenakan suami jauh dari dirinya dalam waktu yang lama.
Yang pertama adalah potret Hana membesarkan dan mendidik Maryam, tanpa Imron yang telah wafat.
Yang kedua adalah potret Hajar membesarkan dan mendidik Ismail di lembah Mekah, tanpa Ibrahim yang tinggal di Palestina.
Bagaimana bisa tetap lahir Maryam dan Ismail yang hebat dan mulia, kita harus belajar dari Hana dan Hajar.
Sungguh, ini hanya sebagian dari begitu banyaknya pelajaran yang diberikan Al Quran kepada setiap keluarga muslim.
Ini hanya mukaddimah. Parenting Nabawiyah telah menyiapkan materi ini dalam 30 pertemuan. Semoga segera bisa dinikmati oleh keluarga muslim.
Ya Allah bimbing kami...
Tepat pukul 08.00 mba wiwit membuka forum dan menyampaikan sistematika dan durasi waktu forum.
Susunan : Pembukaan forum (5'), Sesi sharing opini dari 3 studi kasus (15'), Presentasi Materi group 4 (15'), Sesi diskusi (20'), Penutup (5').
Alhamdulillah sudah dibuka forum nya saatnya beralih ke sesi yang ditunggu2 hihi..sesi pembahasan studi kasus yg akan dipandu oleh Bunda Azay 😊
Silahkan Bunda Azay untuk membuka forum studi kasus..hihi
Bakal seru dengan diramaikan opini dari Bunda2 semua.
Durasi nya kurang lebih 15 menit ya Bunda2 😊
Mba Azay S:
Bismillahirrohmanirrohim...Hari ahad ini, kami sebagai tim 4 sudah membagi 3 cemilan (studi kasus) untuk menemani bunda-bunda yang dimaksudkan untuk lebih memahami tema pembahasan materi fitrah seksual kali ini.Adakah dari bunda yang mau menceritakan tentang esensi studi kasus tsb?
Mba Marie:
Kalau menurut saya ada bbrp poin penting yg saya note :
- pendidikan berbasis fitrah menjadi sangat penting, terutama dlm pengembangan fitrah seksualitas yang menyiapkan anak2 sesuai dengan gendernya dmn laki2 sebagai calon ayah/kepala keluarga dan perempuan sebagai calon ibu/madrasah pertama dan utama untuk anak2.
- kita butuh "a village to raise a kid", kita sbg ortu ga bs sendirian mendidik anak2. Butuh lingkungan yg kondusif untuk membentuk anak2.apalagi dg adanya perkembangan teknologi dan ghozwul fikri yg dahsyat saat ini. Peran lingkungan sangat besar utk perkembangan fitrah seksualitas anak.
Maap panjang #sekalianselfreminder 🙏🏻 cmiiw mamak2 sekaliyan...🙏🏻😊
Mba Ika :
Di cemilan ke-3, menohok saya. Betapa kami, yang belajar di psikologi sering kali lupa untuk kembali ke Al-Quran.
Betapa banyak teori parenting yang berseliweran tidak berdasarkan Al-Quran melainkan dari observasi ataupun penelitian/pemikiran orang-orang yang bahkan tidak percaya Tuhan. Yang akhirnya adalah LGBT dihapus dari DSM IV yanh berarti gerakan itu bukan lagi penyimpangan seksual.
Bunda Ina:
Apalagi kasus asusila phedofilia yg baru terjadi di Tanggerang sampai 41 anak menjadi korban.
Hikmah manusia memang perlu kelompok yg saling mengingatkan.
Bila melampaui batas bisa spt nb Luth asKalau rujukan Al Quran dan as sunnah insyaAllah selamat dunia akhirat
Mba Azay S:
Sebelum mendalami materi ini, sebelumnya saya juga hanya mengira fitrah seksualitas ini hanya sebatas pengetahuan tentang jenis kelamin dan yg berhubungan dengannya, ternyata materi fitrah seksualitas ini sangat luas cakupannya dan sangat penting dalam pemahaman dan praktek yang benar.
Adakah tambahan dari bunda lainnya untuk merangkum pembahasan studi kasus 1-3?
Tantia:
Kasus 1
Betapa pondasi agama itu penting
Pola asuh orang tua mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Sesuai fitrahnya, anak laki2 disiapkan utuk mrnjadi pemimpin
Perempuan disiapkan untuk taat
Mba Nurul :
Kasus 1, pola asuh yg salah dng alasan sayang malah menyebabkan anak menjadi tdk bertanggung jawab. Proes mempersiapkan akilnya tidak optimal. : #proses
Mba Wiwit:
Masyaa Allah seru banget pembahasan studi kasusnya..senang bisa tahu berbagai persepsi dan opini dari Bunda2
Tapi Maafkan bunda2 waktu pembahasan sekitar 3 menit lagi ya..
Tantia:
Kasus 2
Hak wanita di lindungi.
Laki2 mempunyai kelebihan senagai qowwam dan peremouan mmpnyai kelebihan sifat kasih sayang yang di perlukan dalam rumahtangga, untuk mrmbersamai anak2 dan suami
Mba Nurul N :
Sebagai muslim, sebaiknya teori parenting terutama tentang fitrah seksual kembali ke Al quran dan hadist.
Mba Wiwit:
Bunda Azay afwan mungkin bisa diambil kesimpulannya dari pembahasan studi kasus
Mba Azay S:
Jika bisa disimpulkan dari pembahsan 3 studi kasus diatas:
Pola asuh sesuai fitrah seksual yg didasarkan kepada Al Qur'an dan hadist, wajib dipahami dan dipraktekkan dengan benar oleh setiap Orang tua kepada anak-anaknya. Jadi kewajiban kita sebagai orang tua untuk terus belajar dan mengkaji Al Qur'an dan akan lebih baik lagi mengkajinya dalam komunitas.
Tantia:
Kasus ke 3
Kembali ke Al qur an dan as sunah
Genggam erat
Mba Azay:
Terima kasih mba Tantia atas opininya yg lengkap untuk ketiga kasus diatas😃
Mba Nurul:
Kasus ke 2,kegagalan pendidikan anak mengenali fitrahnya baik sebagai perempuan atau sebagai laki2.
Mba Wiwit:
Afwan Kita cukupkan ya Bunda2 untuk studi kasusnya..ternyata dari 3 studi kasus tsb banyak yg kita bisa bahas dan dapatkan ibroh nya ga: *ya..
Mba Azay:
Terima kasih atas partisipasinya dalam sesi studi kasus ya bunda. Tak terasa sudah saatnya untuk memasuki sesi presentasi materi yang akan disampaikan oleh mba wiwit.
Mba Wiwit:
Alhamdulillah senang sekali menyimak opini2 dari bunda2 semua 😍 Karena keterbatasan waktu kita akan beralih ke sesi berikutnya yaitu presentasi materi dari Group 4 Bismillahirrahmanirrahiim.. In sya Allah saya akan memberikannya bertahap dan perlahan Assalamu'alaikum Bunda
Saat ini saya akan mencoba sharing materi yang kami susun mengenai Fitrah seksualitas yang kami beri judul Mendidik Anak Laki- Laki dan Perempuan sesuai dengan fitrah yang diciptakannya.

Materi kami ekstraksi dari berbagai referensi dan tentunya sumber utama dari Qur'an dan Hadist in syaa Allah.
Berikut sumber2 referensi yang menjadi rujukan kami dalam menyusun materi ini.
Dalam membahas fitrah laki-laki dan wanita sudah sangat jelas mempunyai peran yang berbeda.
Seperti yang dijelaskan dalam Al Qur'anul Karim Surat An Nisa ayat 34 yang menjadi LANDASAN UTAMA pentingnya memperkenalkan dan mendidik anak sesuai fitrahnya.
Penjelasan Fitrah Laki -Laki dan Wanita :
Dari ayat 34 surat An Nisa sudah sangat jelas peran masing-masing gender :
Laki-laki dan wanita TIDAK SAMA
tetapi SALING MELENGKAPI
Kaum laki-laki sebagai :
1. PEMIMPIN (Qowwam) dan
2. Pencari Nafkah
Wanita Shaleh :
Qanitat & Hafidzhoh Lil Ghoib
Wanita yang :
1. Taat kepada Allah
2. Taat kepada suami
3. Ikhlas dalam ketaatannya
4. Menjaga diri dan
cintanya saat suami
Tidak ada
5. Menjaga harta suami
dengan baik
Kemudian TANTANGAN YANG DIHADAPI SAAT INI dapat dilihat dari pembahasan 3 studi kasus tadi yaitu :
Ketiga poin diatas akan menyebabkan efek domino dari awalnya yaitu :
1. Ketika kita tidak mengetahui landasan jelas peran kita masing-masing sesuai fitrah diciptakannya, belum berdasarkan sumber utama landasan hidup : Al Qur'an dan Hadist.
Hanya merujuk dari pandangan masyarakat umum, hegemoni komunitas, pengalaman turun temurun, referensi barat yang dibalut dengan penelitian ilmiah.
Akan menyebabkan menjadi :
2. Kurangnya pemahaman dan ilmu dalam mendidik anak sesuai dengan fitrah
Kurangnya teladan dari Orang tua, hanya sekedar menjadi orang tua secara fisik semata.
Dari kurangnya ilmu dan teladan, anak akan menjadi hampa relung jiwa dan pikirannya.
Ini akan menyebabkan penyimpangan fitrah
3. Penyimpangan Fitrah
- Ketidakpahaman Tugas dan Peran Laki- Laki sesuai fitrahnya
- Ketidakpahaman tugas dan peran Wanita sesuai fitrahnya
- sehingga bisa terjadi penyimpangan seksual
Dari Tantangan tersebut Berikut kami sampaikan Solusi dan Media Edukasi nya
Mendidik anak laki-laki
1. Anak Laki-laki QowammahMenjelaskan PERAN mereka sebagai pemimpin dan pencari nafkah
2. Orang Tua sebagai TeladanTeladan Aqidah, Teladan Ibadah, Teladan Akhlaq
3. Dekatkan dengan Mesjid
memakmurkan mesjid
Jauhkan dari lingkungan kemusyrikan
4. Asupan Makanan halal
Halal Zatnya dan Sifatnya
Baik dan tidak merusak tubuh
Akan lebih memudahkan anak untuk bersyukur
5. Pilihkan Temannya
Teman Baik Pengaruh teman sebaya
6. Melatih Kekuatan Fisik
Perhatikan pola makan, tidur dan istirahat
Melatih olahraga seperti bela diri, berkuda, memanah dan berenang
7. Memperkaya dengan Ilmu
Melatih kebiasaan membaca
Melatih kebiasaan menulis
Melatih kebiasaan menganalisa
Belajar dasar-dasar ilmu Agama dan non agama
Belajar menguasai ilmu-ilmu alat (bahasa)
Mengarahkan kepada kepeminatan atau spesialisasi bidang
MENDIDIK ANAK PEREMPUAN
1) Perempuan yang dipersiapkan menjadi madrasah yang berkualitas baik untuk keturunan
modal utama membentuk suatu bangsa bernasab baik
2) Pendidikan yang mempersiapkan anak-anak untuk dunia dan akhirat
(Pendidikan di rumah + Pendidikan di sekolah dan masyarakat) = Wanita muslimah yang siap menjadi tonggak peradaban
3) Wanita Muslimah yang berkarakter
Taat kepada Allah dan Rasul Nya
istri shalihah
tunduk dan patuh terhadap kepemimpinan laki-laki shalih
Berkapasitas sebagai pendidik
Anak Muslimah dan Hijab
Memerangi pola hidup boros dan konsumtif
Anak muslimah dan aneka keterampilan
TARBIYAH JINSIYAH DALAM ISLAM
Masalah besar yang sering dibicarakan oleh buku pendidikan dan psikologi di masa sekarang adalah masalah seksual .
Dalam Islam seksual memang bukan suatu masalah, hanya saja dorongan kuat dan rasa penasaran tentang seksual dimasukkan dalam Frame yang aman
Tarbiyah Jinsiyah dalam Islam sangat dijaga kesuciannya dan tidak perlu vulgar dalam menjelaskannya
Sangat berhati-hati dengan istilah asing : Wawasan seksual yang merupakan perang pemikiran dan akhlak berbalut ilmiah
Yang begitu vulgar menjelaskan hal seksualitas, alat reproduksi , istilah ilmiah kepada anak yang belum siap mencerna dalam pikirannya
Benar, memang ada dalam Al Quran dan Sunnah Rasul tetapi dengan cara yang suci, adab yang tinggi, bahasa yang baik, keindahan yang tinggi, kebersihan yang agung, ia tidak hina dan telanjang dari adab dan fitrah manusia, rasa malu dan kesuciannya.
Sesungguhnya telanjang itu adalah istilah dalam kamus syetan dan pengikutnya.
Allah berfirman:
QS. Al A’raf: 26-27
26. “Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutup auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa , itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.
27. “Wahai anak cucu Adam! Janganlah kamu sampai tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga , dengan menanggalkan pakain keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.
Pendidikan seksual adalah lahan subur bagi pengikut syahwat untuk menebarkan kebatilan mereka, penyimpangan moral dan pemikiran sesat dengan dalih ilmiah. Dengan klaim bahwa mereka takut anakanak tumbuh dengan gangguan-gangguan psikologis dan ketersesatan seksual.
KAIDAH PENDIDIKAN SEKSUAL DALAM ISLAM
1. Pendidikan Seksual sama seperti pendidikan lain;
Memerlukan waktu, tahapan dan bukan sebuah penjelasan singkat yang tiba-tiba
2. Ilmu untuk menjaga kesucian harus diajarkan dengan cara dan bahasa yang suci
Dalam Al Qur’an memakai bahasa perumamaan yang baik
Al Baqarah 223
Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladang mu tu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah ( yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.
3. Fikih adalah pintu utama dan paling mulia untuk pembahasan pendidikan seksual. Karena bernilai IBADAH.
4. Penjelasan seksual hanya diberikan kepadamereka yang bertanya. Adapun mereka yang tidak sibuk memikirkan hal tersebut dan tidak bertanya, maka tidak boleh dibangkitkan dengan penjelasan kecuali pada hal yang sangat terbatas.
5. Perlu ketenangan orangtua saat menerima pertanyaan anak-anak dalam bab ini. Dan menjawabnya dengan baik, benar dan sesuai dengan usianya.
6. Membatasi detailnya penjelasan agar tidak mengotori otak dan membangkitkan syahwat
Berhati-hati dalam penjelasan, mengukur setiap kalimat yang disampaikan
7. Ada pembahasan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan
8. Kisah dan ilustrasi pada tumbuhan dan binatang merupakan salah satu cara baik untuk menjelaskan.
Dan penutup
Wassalamu'alaikum Alhamdulillah maafkan bila terlalu banyak dan lama 🙏🏼
hanya berusaha sharing sedikit apa yg saya dapat dan ingin menyampaikan nya secara bertahap: Monggo berikutnya ke sesi diskusiAfwan ketua dan tim fasil mhn izin apakah bisa berlanjut? Atau dicukupkan saja
Sesi Tanya Jawab:
Tantia:
Melihat kasus 1,2,3 mmg ada di ralita sekitar kita.
Alahamdulillah kita berada di komunitas ini dan bisa saling sharing
Akan tetapi, bagaiman dengan tetangga, atau saudara atau masyarakat disekitar kita yang belum tersadarkan atau belum tau, atau binggung dari mana memulainya.
Kadang beban ekomoni yang mungkin minim yang menyebabkan mereka belum mau belajar atau enggan dgn alasan mendidik turun temyrun dsb.
Adalah saran dari mba azay?
Langkah 1 apa yg kita lakukan.
Mba Azay S:
Menurut opini sy pribadi: Mulai dengan mengajak keluarga, saudara, tetangga dan orang2 disekitar kita untuk ikut kajian ilmu agama yg berdasarkan pada Al Qur'an dan hadist. Baik melalui streaming atau datang langsung. Kita ajak orang-orang untuk kembali kepada tuntunan yang Allah berikan. Dgn begitu, insya Allah perlahan akan mengubah kondisi yang kurang baik menjadi lebih berkah dan diridhoiNya.
Mohon maaf itu yg ada dibenak sy mba Tantia, mohon koreksinya.
Mba Wiwit:
Menambahkan Bunda Azay
In syaa Allah dengan mengajak kepada kebaikan secara bertahap perlahan..
Dg memberikan contoh bukan menggurui
In syaa Allah الله akan membimbing hamba Nya.
Hanya الله sebaik - baik Maha Pemberi Petunjuk 😊
Kita berikhtiar dan berdoa in syaa Allah
Bunda berhubung sudah tidak ada yang bertanya lagi..dan waktu sudah hampir pukul 10.
Forum pembelajaran ini kami tutup Barakallah bagi Bunda-Bunda semua yang sudah ikut berpartisipasi dalam forum ini. Semoga الله membalas setiap niat dan amal kebaikan yang dilakukan..
Semoga dengan ilmu menjadi barokah bagi kehidupan dunia akhirat kita
Aamiin Ya Robbal'alamiin
mari kita tutup forum pembelajaran ilmu ini dengan sama sama mengucapkan
Hamdalah
الْحمد لّله رب الْعالميْن
Istighfar
أسْتغْفر الّله الْعظيْم
Doa kafaratul majelis
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.
آمينَ.. آمينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ..
Mohon maaf bila ada kesalahan
Salam hangat dan selamat beristirahat dari kami yang bertugas,
🌸Group 4🌸
Bunda Wiwit Simponi dan Bunda Azay Saputri
🙏🏼Wassalamu'alaikum🙏🏼
Mba Azay:
Maaf ada yg terlupa....
Berikut adalah bunda yang berhasil mendapatkan Gift 🎁
❤ tanda cinta❤
dari group kami atas pemberian opininya yang paling pertama dari 3 studi kasus adalah.......
🌸🌸🌸Mba Marie Satya🌸🌸🌸
Selamat ya mba....
Terima kasih untuk bunda lainnya yang sudah bergabung tetapi belum mendapatkan gift, tetap semangat dan sehat selalu. 🙏🏻
#fitrahseksualitas
#learningby teaching
#kuliahbundasayangsesi11
#harike4
Studi Kasus 1
KETIKA LAKI-LAKI DAN NEGARA TAK BERFUNGSI
Penulis : Ria Fariana
Sumber : http://www.voa-islam.com
Hari ini, saya ngobrol dengan seorang nenek penjual nasi pecel. Usianya 83 tahun dan sudah sakit-sakitan. Ia memunyai satu anak laki-laki yang tinggal serumah dengannya bersama dengan istri dan dua anaknya. Anak laki-laki ini bekerja sebagai tukang becak tapi jarang beroperasi becaknya. Dia lebih memilih duduk atau tiduran di becaknya sambil menikmati semilir angin. Intinya, anak laki-laki ini malas bekerja keras demi menafkahi anak dan istrinya.
Si istri atau menantu nenek penjual nasi pecel ini tidak mau membantu mertuanya berjualan. Ia lebih memilih nonton TV dengan santai di rumah. Anak pertamanya yang perempuan pun harus drop out dari SMK karena hamil duluan. Setelah dinikahkan dan melahirkan, ia, bayi serta suaminya yang pengangguran tinggal di rumah tersebut dan menjadi beban si nenek tersebut. Bayangkan, setua itu dia harus memberi makan 7 mulut di rumahnya.
Di kesempatan yang lain, nenek berusia 87 tahun penjual kerupuk seharga seribuan curhat pada saya. Ia keliling dari kampung ke kampung menjajakan dagangannya demi laba seratus rupiah per bungkus kerupuk. Anaknya sembilan dan sudah menikah semua. Tak ada satu pun yang mau menanggung biaya hidup ibunya. Nenek ini sebetulnya memunyai uang pensiun dari suaminya yang mantan angkatan. Tapi karena ada salah satu anaknya yang hidupnya sangat miskin sehingga ia tidak tega dan memberikan uang tersebut untuk keluarga anaknya. Jadilah untuk makan dan biaya kostnya, ia berjualan kerupuk tersebut.
Dua ilustrasi di atas, bisa jadi membuat hati kita iba dan miris. Sosok yang seharusnya sudah beristirahat di masa tua, masih saja membanting tulang bukan demi dirinya tapi anak dan cucu juga. Salah satu teman, mengatakan bahwa fenomena demikian tidak membuatnya iba tapi marah. Kemana nurani anak dan cucunya? Kemana pemahaman dan bakti si muda pada yang tua? Apalagi bila ada sosok laki-laki di sana, betapa teganya ia membiarkan ibunya mencari receh demi memberi makan keluarga.
Sobat muslimah, kejadian di atas terjadi bukan tanpa sebab. Bentuk anak adalah hasil didikan orang tua. Betapa banyak orang tua di luar sana yang beralasan demi sayangnya pada si anak, tidak memberikan pendidikan yang seharusnya pada buah hati. Ibu dan ayah sibuk membersihkan rumah, memasak, berkebun, mencuci baju, sementara anak dibiarkan sibuk dengan HP dan nonton TV. Mereka tidak dididik untuk memunyai rasa welas asih terhadap orang tua. Dalam benaknya: biar orang tua saja yang susah, anak biar menikmati masa muda. Persepsi salah seperti inilah yang merupakan cikal bakal fenomena dua nenek dalam kisah di atas.
Pola didik yang salah, diperparah dengan nihilnya pemahaman agama membuat masa tua orang tua seperti ini makin merana. Sampai tua, bahkan sampai mati ia akan terus berperan sebagai pihak yang bekerja dan ‘membahagiakan’ anak. Begitu pun dengan si anak, hingga ia dewasa, beranjak tua bahkan mati pun, hidupnya hanya berisi malas-malasan dan enggan bekerja keras. Inilah yang dinamakan hasil didikan, menuai apa yang telah ditanam sebelumnya.
Bila ia laki-laki,
jiwa ‘qowwam’ atau pemimpinnya tak nampak Ia tak tersentuh dengan kondisi orang tua yang renta. Ia sampai hati memakan jatah dari keringat ibunya yang terbungkuk-bungkuk bekerja supaya keluarga bisa makan. Ia melanjutkan apa yang telah menjadi didikan ibunya di masa kecil dulu. Dan ketika akhirnya menjadi orang tua, ia pun tak tahu apa tugas dan kewajibannya sebagai ayah. Tak heran bila anak perempuannya akhirnya juga hamil di luar nikah.
Minimnya pemahaman keislaman membuat ia mengambil langkah umum yang diambil kebanyakan orang. Dinikahkah, habis perkara. Ia tak tahu bahwa menikahkan perempuan yang sudah hamil itu batal atau tidak sah hingga ia melahirkan. Ketidaktahuan ini dibawa terus tanpa ada pembaruan akad nikah. Jadilah seumur hidup anak perempuannya melakukan hubungan haram hingga membuahkan anak demi anak lagi dan lagi.
Suami yang asal comot karena sudah terlanjur hamil semakin memperburuk keadaan ini. Penyakit masyarakat tipe ini semakin membudaya seiring dengan semakin bebasnya pergaulan anak muda yang miskin ilmu agama. Kembali, orang tua yang seharusnya sudah bisa menikmati masa tua dengan bahagia harus terus diliputi masalah demi masalah tanpa kenal ujung.
Lihatlah, PR umat ini demikian besar. Ketika individu dan masyarakat kualitasnya demikian, maka pilar negara seharusnya memunyai jalan keluar. Dan ketika negara pun sebelas dua belas alias sama saja kualitasnya tanpa tahu harus bagaimana dengan fenomena kisah di atas, maka inilah saatnya kita mulai sadar diri. Ada yang salah dalam sistem ini.
Islam, sebagai the way of life punya semua jalan keluar atas penyakit umat. Islam ini tak bisa ditegakkan per individu. Ia harus hadir dalam sebuah sistem untuk memberi penyadaran dan tatanan bagi individu, masyarakat dan negara. Posisi laki-laki didudukkan di tempat semestinya. Ia harus menjadi pemimpin dalam keluarga, pencari nafkah utama. Tak ada tempat bagi laki-laki pemalas.
Proses penyadaran dan pendidikan di tengah masyarakat yang ‘sakit’ ini tak bisa dianggap sepele. Harus ada kekuatan sebuah negara untuk memberlakukan gerakan penyadaran ini. Dan ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang negara kecuali benar-benar negara yang mendasarkan dirinya pada ketakwaan terhadap Sang Pencipta. Marilah kita bercermin, bagaimana kah wajah negara ini? Wallahu alam. [riafariana/voa-islam.com]
Studi Kasus 2
KALIANLAH YANG MENDZALIMI WANITA
Penulis : Ustadz Budi Ashari
Sumber : www.parentingnabawiyah.com
Kita coba sekarang masuk ke ilmu fikih lebih dalam. Fikih tentang: apakah wanita boleh menjadi hakim. Saya nukilkan beberapa penjelasan ulama besar di bidang fikih.
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 13/146-147:
“Mereka (para ulama) sepakat dengan syarat laki-laki untuk menjadi hakim, kecuali Hanafiyah dan mereka hanya mengecualikan masalah hudud (hukuman-hukuman fisik). Adapun Ibnu Jarir memutlakkan hal ini. Hujjah Jumhur Ulama adalah hadits shahih: Tidaklah bahagia suatu kaum yang mengangkat pemimpin mereka seorang wanita."
Al Mawardi dalam Al Ahkam As Sulthoniyyah h. 110:
“Adapun Ibnu Jarir Ath Thabari berpendapat syudzudz (aneh dan sendiri) dengan membolehkan wanita menjadi hakim pada semua hukum. Tetapi sebuah pendapat tidak dihiraukan jika ditolak oleh Ijma’, apalagi ada firman Allah Ta’ala: {Laki-laki (suami) itu qowwam bagi perempuan (istri), karena Allah telah Melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan)}. Yakni: pada akal dan logika, maka wanita tidak boleh memimpin laki-laki."
Ibnu Qudamah dalam Al Mughni 10/36:
“Bagi kami (yang diambil) adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: (Tidak berbahagia suatu kaum yang mengangkat pemimpin mereka seorang wanita.) Karena seorang hakim harus hadir di majlis pertikaian dan laki-laki, diperlukan kesempurnaan logika, akal dan kecerdasan. Adapun wanita kurang akal, sedikit logika. Tidak tepat hadir di kumpulan laki-laki, tidak diterima kesaksiannya walau berjumlah 1000 wanita kecuali jika ada laki-laki bersama mereka. Tidak boleh memimpin kepemimpinan besar, tidak boleh memimpin negeri-negeri. Untuk itulah Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengangkat seorang wanita menjadi hakim dan pemimpin negeri, demikian juga para khalifah setelahnya dan juga siapapun setelah mereka."
Sebenarnya ada beberapa pembahasan di dalam kalimat-kalimat para ulama di atas. Diperlukan ruang yang lebih luas untuk membahasnya. Karena dipastikan akan banyak yang protes. Itu disebabkan oleh cara pandang yang menggunakan kacamata hari ini. Tapi pembahasan kita hanya pada satu poin saja: wanita menjadi penentu hukum.
Dari penjelasan di atas, jelas bahwa wanita tidak diperkenankan menjadi hakim, penentu hukum. Bahkan Al Mawardi menyebutnya sebagai ijma’(kesepakatan para ulama). Dan pendapat Ath Thabari dianggap sebagai pendapat yang syadz.
Banyak yang akan mengkritik konsep Islam ini. Dan silakan. Itulah mengapa tulisan dengan judul ini hadir.
Apa keberatan orang-orang hari ini terhadap konsep yang satu ini?
Ada kelompok yang menuntut kesamaan hak dan derajat antara wanita dan laki-laki. Ada kelompok yang ‘yakin’ sedang berjuang ‘mengangkat’ harkat dan martabat wanita. Ada yang merasa memuliakan wanita dan sebagai bukti pemuliaan adalah mengangkatnya di kepemimpinan publik.
Mereka itulah yang ketika wanita dilarang menjadi hakim dalam Islam, berkata: Anda telah menuduh wanita itu makhluk yang hina dan lemah. Anda merendahkan wanita yang telah dengan luar biasa melahirkan Anda sendiri. Anda menganggap wanita tidak bisa adil. Ini tindakan diskriminatif!
Baiklah. Coba duduk sebentar. Dan renungi ulasan berikut ini.
Yang pertama, laki-laki dan wanita jelas berbeda. Tanyakan langsung kepada ahli otak. Apakah otak laki-laki secara fisik dan secara fungsi kerjanya sama persis dengan otak wanita? Jawaban mereka: Tidak sama. Sementara itu, dunia hukum memerlukan kecerdasan otak dan logika yang kuat. Inilah rahasia mengapa Nabi mengatakan bahwa akal wanita setengah laki-laki. Bukan dalam rangka menyingkirkan wanita. Sama sekali bukan. Tetapi Nabi sedang mengungkapkan sesuatu yang baru bisa diungkap secara penelitian ilmiah 15 abad berikut. Ya, itu di zaman kita sekarang.
Yang kedua, ini berhubungan langsung dengan tema keluarga. Renungilah kalimat Nabi tentang sebagian ciri istri ideal berikut,
تزوجوا الودود الولود
“Nikahilah(wanita) yang banyak kasih sayangnya dan banyak anaknya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasai)
Wanita yang banyak kasih sayangnya. Kalimat ini harus digarisbawahi. Karena keluarga dengan kasih sayang istri yang terbatas, akan membatasi usia pernikahan. Wanita harus memiliki persediaan kasih sayang yang sangat cukup untuk bisa dirasakan oleh suami dan anak-anaknya. Dan inilah salah satu rahasia penting langgengnya keluarga. Karena kasih sayang mampu meredam semua kelelahan, kepenatan, kebosanan dan rasa sakit.
Apa hubungannya dengan pembahasan kita tentang wanita yang menjadi penentu hukum?
Karakter hukum itu logis dan tidak basa-basi. Para penegak hukum dituntut untuk memiliki logika kuat yang cerdas dan cerdik. Perasaan dibatasi masuk ke wilayah ini.
Seorang wanita yang telah menikah mengaku berzina di zaman Nabi dan terbukti pengakuannya sah, maka tidak ada basa-basi dan tidak ada perasaan di sini. Hukum ditegakkan. Wanita itu mati mulia dengan dihukum rajam.
Seorang penegak hukum tidak berkata: menurut perasaan saya, anda melanggar hukum.
Tapi akan berkata: sesuai dengan undang-undang, pasal sekian ayat sekian, Anda diancam hukuman sekian.
Seorang penegak hukum tidak berkata: saya tidak tega memvonis anda, maka saya jatuhi vonis sekian saja.
Tapi akan berkata: sesuai dengan fakta persidangan, anda terbukti bersalah dan divonis sekian.
Bayangkan suasana seperti itu menjadi seluruh kehidupan seorang wanita. Bertahun, berpuluh tahun bergelut dengan suasana seperti itu. Bukankah, perlahan tapi pasti perasaan wanita yang mahal itu terkikis. Logika menggeser rasa. Seiring dengan itu, kasih sayang menipis bahkan bisa sirna.
Suami yang penat seharian dalam tugas wajibnya mencari nafkah, hanya perlu sentuhan rasa seorang istri yang akan membangkitkan kembali tenaga dan semangatnya. Tapi apa daya, kasih sayang itu telah menipis dan hampir sirna.
Anak-anak yang sedang terus belajar menapaki terjalnya kehidupan ini terkadang terseok terjatuh, hanya perlu sentuhan rasa seorang bunda yang akan meraih tangan mereka untuk bangkit dan belajar lebih baik lagi. Tapi apa daya, kasih sayang itu telah menipis dan hampir sirna.
Rumah, ‘surga’ keluarga muslim di dunia perlu diatur dengan sentuhan rasa dan kasih seorang wanita. Agar terlihat semakin rapi, indah dan nyaman. Tapi apa daya, kasih sayang itu telah menipis dan hampir sirna.
Suatu saat saya menyampaikan hal ini di masyarakat. Selesai kajian, saya disalami oleh seorang bapak yang berkata: Luar biasa. Saya ini pengacara dan teman-teman saya yang suami istri berprofesi pengacara rata-rata cerai. Ternyata ini jawabannya.
Ya. Laki dan perempuan yang diciptakan berbeda, justru bertujuan untuk saling melengkapi dan saling menutupi. Karena kelebihan dan kekurangan masing-masing berbeda. Kalau seorang wanita yang harusnya memiliki kasih sayang dan rasa lebih dari laki-laki, telah berubah menjadi seperti laki-laki yang sangat logis dan hampir sirna rasanya, maka seakan laki-laki itu menikah dengan ‘laki-laki’. Kalau sudah begini, jelas bukan rumahtangga namanya. Keretakan, selanjutnya karamnya bahtera tak terhindarkan.
Jadi, perdebatan jangan hanya dihentikan di bab: apakah wanita tidak bisa adil seperti laki-laki. Karena sangat mungkin wanita bisa adil seperti laki-laki.
Tapi itu bukan dunianya. Sehingga wanita pasti akan memaksakan diri. Wanita akan menabrak dan mendobrak pagar fitrahnya.
Ini peradaban egois. Wanita diminta untuk bekerja di luar kemampuannya.
Ini peradaban egois. Wanita dipuji di luar sana, tetapi tidak pernah dipikirkan nasib rumah tangganya.
Jadi...
Siapa yang sebenarnya dzalim terhadap wanita?
Studi Kasus 3
POTRET KELUARGA DALAM AL QURAN
Penulis : Ust.Budi Ashari
Sumber :www.parentingnabawiyah.com
Jika setiap kita ditanya, apa kitab sucinya, akan dijawab Al Quran.
Jika ditanya, apa mukjizat terbesar Nabi kita, akan dijawab: Al Quran
Jika ditanya, apa fungsinya, akan dijawab di antaranya: sebagai hudan (petunjuk)
Bahkan ditanamkan ke dalam diri setiap kita bahwa Al Quran adalah sumber segala ilmu.
Hingga hari ini ramai dibahas tentang kemukjizatan ilmiah Al Quran.
Tapi sayang, sementara ini Al Quran masih disingkirkan dari fungsinya sebagai panduan bagi keluarga muslim.
Bicara tentang pola hubungan suami dan istri, sumbernya bukan Al Quran. Membahas tentang komunikasi orangtua dan anak, diambil dari berbagai teori yang bukan dari Al Quran. Bagaimana melahirkan orang-orang besar dari rahim keluarga, tidak mengacu pada ayat-ayat Al Quran. Tolok ukur keberhasilan rumah tangga juga terlalu sederhana, karena tidak menggali dari jernihnya mata air Al Quran.
Apalagi jika telah bicara teknis. Banyak yang berpikir bahwa Al Quran global dan tidak rinci. Sehingga, Al Quran hanya dijadikan stempel legalitas untuk melegalkan tips-tips yang terkadang menabrak Al Quran sendiri.
Musibah...
Pendidikan seksual untuk anak, umpamanya. Dikarenakan bukan diambil dari Al Quran dan Nabi, maka hasilnya justru mengerikan. Alih-alih membuat anak menjadi berhati-hati dalam pergaulan, mereka malah pulang dari seminar dengan otak kotor. Mengapa? Karena sumbernya justru teori musuh Islam yang disadari atau tidak, sering mengandung racun yang dikemas dengan madu. Kasihan, keluarga muslim...
Maka, sudah saatnya kita berlari kembali kepada Al Quran dan Sunnah Nabi. Panduan yang abadi dan tidak akan rusak oleh apapun zaman yang dilaluinya.
Panduan yang telah melahirkan generasi hebat pemimpin bumi lebih dari 1000 tahun.
Dari Nabi Hingga Manusia Biasa
Beberapa Nabi digambarkan oleh Al Quran sebagai kepala rumah tangga.
Sehingga menjadi pelajaran dan keteladanan bagi keluarga kita.
Masing-masing dengan karakter keluarga yang berbeda-beda. Kisah-kisah itu disampaikan dengan pelajaran yang berbeda-beda.
Nabi Ibrahim umpamanya, sosok yang digambarkan sangat dominan sebagai sosok ayah istimewa. Semua sepakat bahwa Ibrahim adalah ayah hebat karena tidak saja melahirkan orang shaleh tetapi melahirkan dua Nabi sekaligus; Ismail dan Ishaq. Dari keduanya, lahir para Nabi berikutnya.
Subhanalloh...
Keberhasilan Ibrahim dalam melahirkan dua muara kemuliaan itu, ditebarkan kisahnya dalam sekian banyak Surat dalam Al Quran. Bahkan ada satu surat sendiri yang bernama Surat Ibrahim. Sebegitu pentingnya untuk mendapatkan perhatian setiap keluarga muslim.
Setiap lantunan doa Ibrahim mengandung pelajaran sangat agung bagi konsep pendidikan keluarga. Bahkan susunan kata serta urutan tema doanya, sungguh di dalamnya terdapat panduan penting bagi keluarga yang ingin melahirkan muara kemuliaan.
Uniknya, Al Quran tidak hanya menyampaikan keberhasilan para Nabi di dalam rumah tangga. Nabi Nuh, ditegur Allah dalam Surat Hud karena kegagalannya mendidik salah satu anak laki-lakinya. Teguran itu seharusnya tidak membuat kita masih terus bertahan dengan dalih kegagalan Nabi Nuh, saat ada di antara kita yang gagal mendidik anaknya. “Nabi Nuh saja gagal mendidik anaknya, apalagi hanya saya...” begitulah dalih sebagian kita. Kalau hal itu untuk menghibur diri sesaat tidak masalah. Tetapi jika untuk lari dari tanggung jawab, ketahuilah bahwa Nabi Nuh saja telah ditegur Allah karenanya. Kisah Nuh gagal mendidik anaknya, lengkap dengan penyebab utamanya dalam Surat At Tahrim.
Hingga potret keluarga Rasulullah Muhammad yang diabadikan dalam Al Quran. Ada yang menggelitik perhatian kita tentang cara Al Quran mengabadikan keluarga Rasulullah. Jika Ibrahim sangat dominan digambarkan perannya sebagai kepala keluarga, Rasulullah Muhammad justru digambarkan dengan cara sebaliknya. Justru yang banyak digambarkan dari keluarga Rasulullah adalah pihak wanita; Ummahatul Mu’minin (istri-istri beliau). Apa pelajaran di balik semua ini? Itulah pentingnya kita menelurusi ayat per ayat dalam Al Quran untuk meraih pelajaran dan panduannya bagi keluarga kita.
Tak hanya para Nabi yang digambarkan dalam Al Quran. Keluarga manusia biasa juga digambarkan dalam Al Quran. Jika semua Nabi adalah manusia pilihan, walapun sebagian mereka gagal mendidik keluarganya. Manusia biasa yang keluarganya diabadikan dalam Al Quran ada dua macam; orang yang baik dan orang yang jahat. Orang yang baik diwakili oleh Imron dan Luqman. Orang jahat diwakili oleh Abu Lahab dan istrinya.
Ada yang lagi-lagi sangat menarik. Dari 114 Surat dalam Al Quran, hanya satu surat yang namanya mengandung kata: keluarga. Yaitu Ali Imron (keluarga Imron). Padahal Imron bukanlah Nabi. Seakan ada sebuah perintah agar kita punya fokus dalam mengambil pelajaran dari keluarga manusia biasa yang istimewa ini. Sebuah keluarga yang utuh keberhasilannya. Pasangan, anak hingga cucu. Bagaimana caranya, harus menelusuri kata per kata dalam ayat-ayatnya.
Kalau Imron adalah tokoh di masyarakatnya, bahkan seorang imam besar. Berbeda lagi dengan Luqman yang hanya masyarakat biasa. Bukan pemimpin. Hanya seorang penggembala kambing miskin yang tersingkirkan. Lengkap dengan penampilan yang tidak dilirik orang sama sekali. Tetapi, Allah muliakan dalam Al Quran. Bahkan nasehatnya dipilih Allah dari sekian banyak nasehat para ayah hebat di muka bumi ini. Jelas, ini bukan sembarang ayah. Pelajaran sangat khusus bagi setiap ayah.
Hanya Satu Sahabat, Itupun Tentang Keluarga
Dari ratusan ribu sahabat Nabi yang mulia. Dari orang-orang istimewa yang ada di antara mereka. Dari para pemimpin mulia dari kalangan sahabat yang tercatat istimewa dalam sejarah. Dari yang telah dijamin masuk surga. Dari banyak kisah mereka yang diabaikan dalam Al Quran.
Hanya ada satu sahabat saja yang namanya secara jelas disebut dalam Al Quran.
Ya, hal itu ada dalam Al Ahzab: 37. Sahabat itu adalah Zaid bin Haritsah radhiallahu anhu, putra angkat Rasulullah. Tentu ada sebuah fokus pelajaran yang ingin disampaikan Al Quran. Ternyata pembahasan ayat tersebut, selain tentang sebuah hukum dalam syariat Islam, berbicara tentang: Keluarga.Bacalah ayat tersebut dan kita pun akan terheran-heran. Karena ternyata yang dikisahkan malah tentang retak dan karamnya bahtera rumah tangga.
Lho, mengapa?
Ya, karena di sana ada sebuah masalah serius pada keluarga umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam ini.
Antara Anak Laki dan Perempuan
Ada pembahasan bagaimana melahirkan anak laki-laki yang istimewa seperti Ismail dan Ishaq (anak dari Ibrahim), Yusuf (anak dari Ya’qub), Sulaiman (anak dari Dawud). Atau pelajaran dari kegagalan mendidik anak laki-laki seperti kisah salah satu putra Nuh.
Ternyata, secara khusus Al Quran menyampaikan tentang potret keluarga yang berhasil mendidik anak perempuan. Dalam Surat Al Qoshosh disebutkan kisah dua wanita sholehah yang berinteraksi dengan Musa. Sebagian ulama tafsir menyebut bahwa dua wanita itu adalah putri dari Nabi Syu’aib.
Dari sinilah lahir sebuah karya ilmiah, tesis S2 di Universitas Yarmuk, Yordan. Ditulis oleh Lina Ahmad Muhamad Mulhim dengan judul: Ash Shifat at Tarbawiyyah lil Maratil Muslimah fil Quranil Karim (Pendidikan wanita muslimah dalam Al Quran Al Karim).
Sungguh sebuah panduan yang sangat lengkap...
Berorientasi Hasil
Apapun latar belakang keluarga, yang penting hasilnya istimewa. Tidak setiap keluarga beruntung sejak awal. Kalau Nabi Dawud adalah raja, kemudian Sulaiman juga menjadi raja. Maka itu kita katakan lumrah.
Tetapi dari kampung di pelosok padang pasir. Hidup dalam perjalanan yang setiap segmennya adalah cobaan berat. Ternyata mampu menghantarkannya sampai di kursi kepemimpinan negeri besar Mesir. Bacalah bagaimana Ya’qub menghantarkan Yusuf dari baduwi hingga singgasana Mesir.
Ada yang hidup dalam asuhan langsung orangtuanya sendiri. Ada yang hidup dalam asuhan orang lain. Apapun, hasilnya harus tetap istimewa. Lihatlah dengan jeli bagaimana ayat berbicara lahirnya wanita termulia di muka bumi ini: Maryam
Kesalahan yang dilakukan oleh seorang suami atau seorang istri dalam perjalanan hidup rumah tangga, tetap tidak boleh menggagalkan hasil yang baik. Kisah keluarga Nabi Muhammad dalam Al Quran mewakili hal tersebut. Tapi, siapa yang tidak kenal dengan putra-putri dan cucu beliau.
Sangat Teknis...
Sekali lagi, salah yang menganggap bahwa Al Quran sangat global dan tidak bicara teknis. Bagi yang menganggapnya seperti itu, berarti belum pernah menggali Al Quran secara dalam sebagaimana para ahli tafsir mengkaji. Karena Al Quran mengandung ilmu besar bahkan pada pilihan kata dan hurufnya.
Lihatlah dengan mata para ahli tafsir tentang teknis sangat detail berhadapan dengan ibu hamil. Yaitu dalam Surat Maryam: 22 – 26. Jika diberi judul: Bahaya kesedihan bagi Ibu Hamil dan cara mengatasinya.
Dahsyat bukan...
Bahkan ayat-ayat tersebut menantang para peneliti untuk datang meneliti setiap kata dari ayat-ayat tersebut.
Contoh lain, sebuah tesis S2 di Universita Ummul Quro, Mekah membahas tentang aplikasi pendidikan dari dialog orangtua dan anak dalam Al Quran. judul tesis tersebut adalah: Hiwar al Aba’ ma’al Abna’ fil Quranil Karim wa Tathbiqotuhut Tarbawiyyah(Dialog antara orangtua dan anak dalam Al Quran Al Karim dan aplikasi pendidikannya). Ditulis oleh: Sarah binti Halil Al Muthairi.
Di mana dibahas oleh penulisnya bahwa ada 17 tema dialog antara orangtua dan anak dalam Al Quran yang dicantumkan dalam 9 Surat. Apa saja isinya dialognya, bagaimana cara berdialog yang baik, apa aplikasi pendidikannya bagi keluarga kita, dan sebagainya, merupakan pembahasan yang dikaji detail dalam tesis tersebut.
Single Parent
Pembahasan tentang orangtua yang sendirian mengasuh anaknya, menjadi permasalahan yang dibahas serius oleh berbagai kelas parenting hari ini. Karena memang tidak mudah menjadi single parent dalam mengawal pendidikan anak-anak.
Tetapi lagi-lagi, belum menjadikan Al Quran sebagai acuan utamanya.
Al Quran memberikan dua potret orangtua yang seorang diri membesarkan dan mendidik anaknya hingga berhasil.
Potret pertama adalah single parent hakiki. Yaitu seorang ibu yang membesarkan dan mendidik anaknya seorang diri, dikarenakan suaminya telah wafat.
Potret kedua adalah single parent majazi (kiasan). Yaitu seorang ibu yang membesarkan dan mendidik anaknya seorang diri, dikarenakan suami jauh dari dirinya dalam waktu yang lama.
Yang pertama adalah potret Hana membesarkan dan mendidik Maryam, tanpa Imron yang telah wafat.
Yang kedua adalah potret Hajar membesarkan dan mendidik Ismail di lembah Mekah, tanpa Ibrahim yang tinggal di Palestina.
Bagaimana bisa tetap lahir Maryam dan Ismail yang hebat dan mulia, kita harus belajar dari Hana dan Hajar.
Sungguh, ini hanya sebagian dari begitu banyaknya pelajaran yang diberikan Al Quran kepada setiap keluarga muslim.
Ini hanya mukaddimah. Parenting Nabawiyah telah menyiapkan materi ini dalam 30 pertemuan. Semoga segera bisa dinikmati oleh keluarga muslim.
Ya Allah bimbing kami...
Tepat pukul 08.00 mba wiwit membuka forum dan menyampaikan sistematika dan durasi waktu forum.
Susunan : Pembukaan forum (5'), Sesi sharing opini dari 3 studi kasus (15'), Presentasi Materi group 4 (15'), Sesi diskusi (20'), Penutup (5').
Alhamdulillah sudah dibuka forum nya saatnya beralih ke sesi yang ditunggu2 hihi..sesi pembahasan studi kasus yg akan dipandu oleh Bunda Azay 😊
Silahkan Bunda Azay untuk membuka forum studi kasus..hihi
Bakal seru dengan diramaikan opini dari Bunda2 semua.
Durasi nya kurang lebih 15 menit ya Bunda2 😊
Mba Azay S:
Bismillahirrohmanirrohim...Hari ahad ini, kami sebagai tim 4 sudah membagi 3 cemilan (studi kasus) untuk menemani bunda-bunda yang dimaksudkan untuk lebih memahami tema pembahasan materi fitrah seksual kali ini.Adakah dari bunda yang mau menceritakan tentang esensi studi kasus tsb?
Mba Marie:
Kalau menurut saya ada bbrp poin penting yg saya note :
- pendidikan berbasis fitrah menjadi sangat penting, terutama dlm pengembangan fitrah seksualitas yang menyiapkan anak2 sesuai dengan gendernya dmn laki2 sebagai calon ayah/kepala keluarga dan perempuan sebagai calon ibu/madrasah pertama dan utama untuk anak2.
- kita butuh "a village to raise a kid", kita sbg ortu ga bs sendirian mendidik anak2. Butuh lingkungan yg kondusif untuk membentuk anak2.apalagi dg adanya perkembangan teknologi dan ghozwul fikri yg dahsyat saat ini. Peran lingkungan sangat besar utk perkembangan fitrah seksualitas anak.
Maap panjang #sekalianselfreminder 🙏🏻 cmiiw mamak2 sekaliyan...🙏🏻😊
Mba Ika :
Di cemilan ke-3, menohok saya. Betapa kami, yang belajar di psikologi sering kali lupa untuk kembali ke Al-Quran.
Betapa banyak teori parenting yang berseliweran tidak berdasarkan Al-Quran melainkan dari observasi ataupun penelitian/pemikiran orang-orang yang bahkan tidak percaya Tuhan. Yang akhirnya adalah LGBT dihapus dari DSM IV yanh berarti gerakan itu bukan lagi penyimpangan seksual.
Bunda Ina:
Apalagi kasus asusila phedofilia yg baru terjadi di Tanggerang sampai 41 anak menjadi korban.
Hikmah manusia memang perlu kelompok yg saling mengingatkan.
Bila melampaui batas bisa spt nb Luth asKalau rujukan Al Quran dan as sunnah insyaAllah selamat dunia akhirat
Mba Azay S:
Sebelum mendalami materi ini, sebelumnya saya juga hanya mengira fitrah seksualitas ini hanya sebatas pengetahuan tentang jenis kelamin dan yg berhubungan dengannya, ternyata materi fitrah seksualitas ini sangat luas cakupannya dan sangat penting dalam pemahaman dan praktek yang benar.
Adakah tambahan dari bunda lainnya untuk merangkum pembahasan studi kasus 1-3?
Tantia:
Kasus 1
Betapa pondasi agama itu penting
Pola asuh orang tua mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Sesuai fitrahnya, anak laki2 disiapkan utuk mrnjadi pemimpin
Perempuan disiapkan untuk taat
Mba Nurul :
Kasus 1, pola asuh yg salah dng alasan sayang malah menyebabkan anak menjadi tdk bertanggung jawab. Proes mempersiapkan akilnya tidak optimal. : #proses
Mba Wiwit:
Masyaa Allah seru banget pembahasan studi kasusnya..senang bisa tahu berbagai persepsi dan opini dari Bunda2
Tapi Maafkan bunda2 waktu pembahasan sekitar 3 menit lagi ya..
Tantia:
Kasus 2
Hak wanita di lindungi.
Laki2 mempunyai kelebihan senagai qowwam dan peremouan mmpnyai kelebihan sifat kasih sayang yang di perlukan dalam rumahtangga, untuk mrmbersamai anak2 dan suami
Mba Nurul N :
Sebagai muslim, sebaiknya teori parenting terutama tentang fitrah seksual kembali ke Al quran dan hadist.
Mba Wiwit:
Bunda Azay afwan mungkin bisa diambil kesimpulannya dari pembahasan studi kasus
Mba Azay S:
Jika bisa disimpulkan dari pembahsan 3 studi kasus diatas:
Pola asuh sesuai fitrah seksual yg didasarkan kepada Al Qur'an dan hadist, wajib dipahami dan dipraktekkan dengan benar oleh setiap Orang tua kepada anak-anaknya. Jadi kewajiban kita sebagai orang tua untuk terus belajar dan mengkaji Al Qur'an dan akan lebih baik lagi mengkajinya dalam komunitas.
Tantia:
Kasus ke 3
Kembali ke Al qur an dan as sunah
Genggam erat
Mba Azay:
Terima kasih mba Tantia atas opininya yg lengkap untuk ketiga kasus diatas😃
Mba Nurul:
Kasus ke 2,kegagalan pendidikan anak mengenali fitrahnya baik sebagai perempuan atau sebagai laki2.
Mba Wiwit:
Afwan Kita cukupkan ya Bunda2 untuk studi kasusnya..ternyata dari 3 studi kasus tsb banyak yg kita bisa bahas dan dapatkan ibroh nya ga: *ya..
Mba Azay:
Terima kasih atas partisipasinya dalam sesi studi kasus ya bunda. Tak terasa sudah saatnya untuk memasuki sesi presentasi materi yang akan disampaikan oleh mba wiwit.
Mba Wiwit:
Alhamdulillah senang sekali menyimak opini2 dari bunda2 semua 😍 Karena keterbatasan waktu kita akan beralih ke sesi berikutnya yaitu presentasi materi dari Group 4 Bismillahirrahmanirrahiim.. In sya Allah saya akan memberikannya bertahap dan perlahan Assalamu'alaikum Bunda
Saat ini saya akan mencoba sharing materi yang kami susun mengenai Fitrah seksualitas yang kami beri judul Mendidik Anak Laki- Laki dan Perempuan sesuai dengan fitrah yang diciptakannya.

Materi kami ekstraksi dari berbagai referensi dan tentunya sumber utama dari Qur'an dan Hadist in syaa Allah.
Berikut sumber2 referensi yang menjadi rujukan kami dalam menyusun materi ini.
Kami menekankan pembahasan Materi ini bertitik poin pada :
Fitrah peran laki-laki dan perempuan
Fitrah peran laki-laki dan perempuan
Dalam membahas fitrah laki-laki dan wanita sudah sangat jelas mempunyai peran yang berbeda.
Seperti yang dijelaskan dalam Al Qur'anul Karim Surat An Nisa ayat 34 yang menjadi LANDASAN UTAMA pentingnya memperkenalkan dan mendidik anak sesuai fitrahnya.
Penjelasan Fitrah Laki -Laki dan Wanita :
Dari ayat 34 surat An Nisa sudah sangat jelas peran masing-masing gender :
Laki-laki dan wanita TIDAK SAMA
tetapi SALING MELENGKAPI
Kaum laki-laki sebagai :
1. PEMIMPIN (Qowwam) dan
2. Pencari Nafkah
Wanita Shaleh :
Qanitat & Hafidzhoh Lil Ghoib
Wanita yang :
1. Taat kepada Allah
2. Taat kepada suami
3. Ikhlas dalam ketaatannya
4. Menjaga diri dan
cintanya saat suami
Tidak ada
5. Menjaga harta suami
dengan baik
Kemudian TANTANGAN YANG DIHADAPI SAAT INI dapat dilihat dari pembahasan 3 studi kasus tadi yaitu :
Ketiga poin diatas akan menyebabkan efek domino dari awalnya yaitu :
1. Ketika kita tidak mengetahui landasan jelas peran kita masing-masing sesuai fitrah diciptakannya, belum berdasarkan sumber utama landasan hidup : Al Qur'an dan Hadist.
Hanya merujuk dari pandangan masyarakat umum, hegemoni komunitas, pengalaman turun temurun, referensi barat yang dibalut dengan penelitian ilmiah.
Akan menyebabkan menjadi :
2. Kurangnya pemahaman dan ilmu dalam mendidik anak sesuai dengan fitrah
Kurangnya teladan dari Orang tua, hanya sekedar menjadi orang tua secara fisik semata.
Dari kurangnya ilmu dan teladan, anak akan menjadi hampa relung jiwa dan pikirannya.
Ini akan menyebabkan penyimpangan fitrah
3. Penyimpangan Fitrah
- Ketidakpahaman Tugas dan Peran Laki- Laki sesuai fitrahnya
- Ketidakpahaman tugas dan peran Wanita sesuai fitrahnya
- sehingga bisa terjadi penyimpangan seksual
Dari Tantangan tersebut Berikut kami sampaikan Solusi dan Media Edukasi nya
Mendidik anak laki-laki
1. Anak Laki-laki QowammahMenjelaskan PERAN mereka sebagai pemimpin dan pencari nafkah
2. Orang Tua sebagai TeladanTeladan Aqidah, Teladan Ibadah, Teladan Akhlaq
3. Dekatkan dengan Mesjid
memakmurkan mesjid
Jauhkan dari lingkungan kemusyrikan
4. Asupan Makanan halal
Halal Zatnya dan Sifatnya
Baik dan tidak merusak tubuh
Akan lebih memudahkan anak untuk bersyukur
5. Pilihkan Temannya
Teman Baik Pengaruh teman sebaya
6. Melatih Kekuatan Fisik
Perhatikan pola makan, tidur dan istirahat
Melatih olahraga seperti bela diri, berkuda, memanah dan berenang
7. Memperkaya dengan Ilmu
Melatih kebiasaan membaca
Melatih kebiasaan menulis
Melatih kebiasaan menganalisa
Belajar dasar-dasar ilmu Agama dan non agama
Belajar menguasai ilmu-ilmu alat (bahasa)
Mengarahkan kepada kepeminatan atau spesialisasi bidang
1) Perempuan yang dipersiapkan menjadi madrasah yang berkualitas baik untuk keturunan
modal utama membentuk suatu bangsa bernasab baik
2) Pendidikan yang mempersiapkan anak-anak untuk dunia dan akhirat
(Pendidikan di rumah + Pendidikan di sekolah dan masyarakat) = Wanita muslimah yang siap menjadi tonggak peradaban
3) Wanita Muslimah yang berkarakter
Taat kepada Allah dan Rasul Nya
istri shalihah
tunduk dan patuh terhadap kepemimpinan laki-laki shalih
Berkapasitas sebagai pendidik
Anak Muslimah dan Hijab
Memerangi pola hidup boros dan konsumtif
Anak muslimah dan aneka keterampilan
TARBIYAH JINSIYAH DALAM ISLAM
Masalah besar yang sering dibicarakan oleh buku pendidikan dan psikologi di masa sekarang adalah masalah seksual .
Dalam Islam seksual memang bukan suatu masalah, hanya saja dorongan kuat dan rasa penasaran tentang seksual dimasukkan dalam Frame yang aman
Tarbiyah Jinsiyah dalam Islam sangat dijaga kesuciannya dan tidak perlu vulgar dalam menjelaskannya
Sangat berhati-hati dengan istilah asing : Wawasan seksual yang merupakan perang pemikiran dan akhlak berbalut ilmiah
Yang begitu vulgar menjelaskan hal seksualitas, alat reproduksi , istilah ilmiah kepada anak yang belum siap mencerna dalam pikirannya
Benar, memang ada dalam Al Quran dan Sunnah Rasul tetapi dengan cara yang suci, adab yang tinggi, bahasa yang baik, keindahan yang tinggi, kebersihan yang agung, ia tidak hina dan telanjang dari adab dan fitrah manusia, rasa malu dan kesuciannya.
Sesungguhnya telanjang itu adalah istilah dalam kamus syetan dan pengikutnya.
Allah berfirman:
QS. Al A’raf: 26-27
26. “Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutup auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa , itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.
27. “Wahai anak cucu Adam! Janganlah kamu sampai tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga , dengan menanggalkan pakain keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.
Pendidikan seksual adalah lahan subur bagi pengikut syahwat untuk menebarkan kebatilan mereka, penyimpangan moral dan pemikiran sesat dengan dalih ilmiah. Dengan klaim bahwa mereka takut anakanak tumbuh dengan gangguan-gangguan psikologis dan ketersesatan seksual.
KAIDAH PENDIDIKAN SEKSUAL DALAM ISLAM
1. Pendidikan Seksual sama seperti pendidikan lain;
Memerlukan waktu, tahapan dan bukan sebuah penjelasan singkat yang tiba-tiba
2. Ilmu untuk menjaga kesucian harus diajarkan dengan cara dan bahasa yang suci
Dalam Al Qur’an memakai bahasa perumamaan yang baik
Al Baqarah 223
Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladang mu tu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah ( yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.
3. Fikih adalah pintu utama dan paling mulia untuk pembahasan pendidikan seksual. Karena bernilai IBADAH.
4. Penjelasan seksual hanya diberikan kepadamereka yang bertanya. Adapun mereka yang tidak sibuk memikirkan hal tersebut dan tidak bertanya, maka tidak boleh dibangkitkan dengan penjelasan kecuali pada hal yang sangat terbatas.
5. Perlu ketenangan orangtua saat menerima pertanyaan anak-anak dalam bab ini. Dan menjawabnya dengan baik, benar dan sesuai dengan usianya.
6. Membatasi detailnya penjelasan agar tidak mengotori otak dan membangkitkan syahwat
Berhati-hati dalam penjelasan, mengukur setiap kalimat yang disampaikan
7. Ada pembahasan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan
8. Kisah dan ilustrasi pada tumbuhan dan binatang merupakan salah satu cara baik untuk menjelaskan.
Dan penutup
Wassalamu'alaikum Alhamdulillah maafkan bila terlalu banyak dan lama 🙏🏼
hanya berusaha sharing sedikit apa yg saya dapat dan ingin menyampaikan nya secara bertahap: Monggo berikutnya ke sesi diskusiAfwan ketua dan tim fasil mhn izin apakah bisa berlanjut? Atau dicukupkan saja
Sesi Tanya Jawab:
Tantia:
Melihat kasus 1,2,3 mmg ada di ralita sekitar kita.
Alahamdulillah kita berada di komunitas ini dan bisa saling sharing
Akan tetapi, bagaiman dengan tetangga, atau saudara atau masyarakat disekitar kita yang belum tersadarkan atau belum tau, atau binggung dari mana memulainya.
Kadang beban ekomoni yang mungkin minim yang menyebabkan mereka belum mau belajar atau enggan dgn alasan mendidik turun temyrun dsb.
Adalah saran dari mba azay?
Langkah 1 apa yg kita lakukan.
Mba Azay S:
Menurut opini sy pribadi: Mulai dengan mengajak keluarga, saudara, tetangga dan orang2 disekitar kita untuk ikut kajian ilmu agama yg berdasarkan pada Al Qur'an dan hadist. Baik melalui streaming atau datang langsung. Kita ajak orang-orang untuk kembali kepada tuntunan yang Allah berikan. Dgn begitu, insya Allah perlahan akan mengubah kondisi yang kurang baik menjadi lebih berkah dan diridhoiNya.
Mohon maaf itu yg ada dibenak sy mba Tantia, mohon koreksinya.
Mba Wiwit:
Menambahkan Bunda Azay
In syaa Allah dengan mengajak kepada kebaikan secara bertahap perlahan..
Dg memberikan contoh bukan menggurui
In syaa Allah الله akan membimbing hamba Nya.
Hanya الله sebaik - baik Maha Pemberi Petunjuk 😊
Kita berikhtiar dan berdoa in syaa Allah
Bunda berhubung sudah tidak ada yang bertanya lagi..dan waktu sudah hampir pukul 10.
Forum pembelajaran ini kami tutup Barakallah bagi Bunda-Bunda semua yang sudah ikut berpartisipasi dalam forum ini. Semoga الله membalas setiap niat dan amal kebaikan yang dilakukan..
Semoga dengan ilmu menjadi barokah bagi kehidupan dunia akhirat kita
Aamiin Ya Robbal'alamiin
mari kita tutup forum pembelajaran ilmu ini dengan sama sama mengucapkan
Hamdalah
الْحمد لّله رب الْعالميْن
Istighfar
أسْتغْفر الّله الْعظيْم
Doa kafaratul majelis
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.
آمينَ.. آمينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ..
Mohon maaf bila ada kesalahan
Salam hangat dan selamat beristirahat dari kami yang bertugas,
🌸Group 4🌸
Bunda Wiwit Simponi dan Bunda Azay Saputri
🙏🏼Wassalamu'alaikum🙏🏼
Mba Azay:
Maaf ada yg terlupa....
Berikut adalah bunda yang berhasil mendapatkan Gift 🎁
❤ tanda cinta❤
dari group kami atas pemberian opininya yang paling pertama dari 3 studi kasus adalah.......
🌸🌸🌸Mba Marie Satya🌸🌸🌸
Selamat ya mba....
Terima kasih untuk bunda lainnya yang sudah bergabung tetapi belum mendapatkan gift, tetap semangat dan sehat selalu. 🙏🏻
#fitrahseksualitas
#learningby teaching
#kuliahbundasayangsesi11
#harike4










Komentar
Posting Komentar