Senin, 21 Agustus 2017
Energizer: Diyan Marenti
Energizer: Diyan Marenti
Anakmu Bukan Milikmu
Kiranya sudah tak asing lagi bagi kita sepenggal kalimat diatas, yang merupakan salah satu judul puisi karya Kahlil Gibran.
Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau, mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya, sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu, sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur asal anakmu, anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian, Dia merentangkanmu dengan kuasaNya, hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah, sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat, sebagaimana dikasihi-Nya pula busur yang mantap.
=================
Saat ego sebagai orang tua muncul, puisi diatas dapat menjadi pengingat bagi kita bahwa anak adalah amanah istimewa yang diberikan oleh Allah kepada kita dalam keadaan "full package". Tugas kita hanyalah sebagai fasilitator yang membantu mereka untuk dapat memunculkan potensi-potensi yang ada dalam mereka.
~diyan_mm
Kiranya sudah tak asing lagi bagi kita sepenggal kalimat diatas, yang merupakan salah satu judul puisi karya Kahlil Gibran.
Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau, mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya, sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu, sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur asal anakmu, anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian, Dia merentangkanmu dengan kuasaNya, hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah, sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat, sebagaimana dikasihi-Nya pula busur yang mantap.
=================
Saat ego sebagai orang tua muncul, puisi diatas dapat menjadi pengingat bagi kita bahwa anak adalah amanah istimewa yang diberikan oleh Allah kepada kita dalam keadaan "full package". Tugas kita hanyalah sebagai fasilitator yang membantu mereka untuk dapat memunculkan potensi-potensi yang ada dalam mereka.
~diyan_mm
Komentar
Posting Komentar