Ajari Mengelola Keuangan Untuk Anak Sejak Dini
💵
Mengelola keuangan untuk anak itu sangat penting sekali karena segala
kebiasaan dan perilaku orang dewasa terbentuk di masa kanak-kanak.
Termasuk masalah keuangan banyak orang yang tidak dapat mengelola
keuangan dengan baik bukan karena gajinya kecil tetapi karena memang
sejak kecil tidak dibiasakan untuk mengelola uang dengan benar. Ayo
jujur kalau saat ini kita punya masalah keuangan, itu terjadi karena memang gaji kita yang kecil atau ada cara mengelola keuangan kita yang kurang baik ? Hehehe.
⏳Kapan
anak dikenalkan dengan uang ? Sejak usia dini yaitu usia 3 tahun
seperti yang saya kutip dari Money As You Grow Saat anak usia 3-5 tahun
paling tidak anak sudah dikenalkan dengan mentalitas keuangan yang
benar yaitu :
-Kita membutuhan uang untuk membeli barang.
-Kita harus bekerja untuk menghasilkan uang.
-Kita harus menunggu sebelum bisa membeli sebuah barang.
-Bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan.
⚖
💰Ketika
anak saya berusia 5 tahun dia selalu menganggap enteng kalau mau
membeli sesuatu misalkan mainan, dia selalu berkata papa khan punya uang
tinggal ambil di ATM. Dia belum tahu bagaimana uang kita bisa berada di
ATM dan seolah-0lah kita mau ambil uang berapapun tersedia di ATM. Dia
belum mengerti konsep kerja dan uang, kemudian ketika anak saya diajak
ke Kidz***a, di sana dia mulai sedikit belajar tentang uang. Untuk
mendapatkan uang dia harus bekerja terlebih dahulu dan uang yang dia
dapatkan baru dapat dia belikan makanan ataupun minuman. Sebuah cara
edukasi keuangan untuk anak yang bagus menurut saya karena dibuat secara
fun dan dalam suasana bermain.
👫
Banyak penelitian yang mengatakan bahwa anak yang mampu menunda kesenangan hidupnya jauh lebih baik ketika anak tersebut beranjak remaja dan dewasa. Penelitian ini yang dikaitkan dengan permen kesukaan anak-anak yaitu marshmallow.
🍡
🍬
Artinya kemampuan seseorang untuk menunda kesenangan itu sangat penting dan sangat vital untuk mulai diajarkan dan ditanamkan pada anak sejak dini di usia 3-5 tahun. Tetapi kadang sangat disayangkan sebagai orang tua kadang kita tidak mengajarkan anak untuk menunda kesenangan, malah sebaliknya mempercepat kesenangan itu di dapatkan oleh anak.
🎯
Misalkan anak mau beli sepeda,
🚴🏻
hari ini anak minta hari ini sepeda tersedia di rumah. Hari ini mau
beli mainan, hari ini mainan tersedia di rumah. Jalan-jalan ke mall
tunjuk mainan langsung beli mainan,
⚽ tunjuk coklat langsung belikan coklat,
🍫 tunjuk es krim langsung belikan es krim.
🍦
Sumber:
Andreas Hartono
www.mengelolakeuangan.com
Profil singkat:
Andreas Hartono
adalah seorang Mindset & Financial Motivator dan penulis 2 buah buku perencanaan keuangan "Nasibmu di Dompetmu"* dan *"Secangkir Cerdas Finansial". Andreas Hartono telah memberikan training kepada ratusan perusahaan dengan puluhan ribu alumni.
🔗
🔗
🔗
🔗
🔗
🔗
🔗
🔗
/Tim Buku Fasilitator Bunda Sayang Nasional/
-Kita membutuhan uang untuk membeli barang.
-Kita harus bekerja untuk menghasilkan uang.
-Kita harus menunggu sebelum bisa membeli sebuah barang.
-Bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan.
Banyak penelitian yang mengatakan bahwa anak yang mampu menunda kesenangan hidupnya jauh lebih baik ketika anak tersebut beranjak remaja dan dewasa. Penelitian ini yang dikaitkan dengan permen kesukaan anak-anak yaitu marshmallow.
Artinya kemampuan seseorang untuk menunda kesenangan itu sangat penting dan sangat vital untuk mulai diajarkan dan ditanamkan pada anak sejak dini di usia 3-5 tahun. Tetapi kadang sangat disayangkan sebagai orang tua kadang kita tidak mengajarkan anak untuk menunda kesenangan, malah sebaliknya mempercepat kesenangan itu di dapatkan oleh anak.
Misalkan anak mau beli sepeda,
Sumber:
Andreas Hartono
www.mengelolakeuangan.com
Profil singkat:
Andreas Hartono
adalah seorang Mindset & Financial Motivator dan penulis 2 buah buku perencanaan keuangan "Nasibmu di Dompetmu"* dan *"Secangkir Cerdas Finansial". Andreas Hartono telah memberikan training kepada ratusan perusahaan dengan puluhan ribu alumni.
/Tim Buku Fasilitator Bunda Sayang Nasional/
Komentar
Posting Komentar