KELAS BUNDA SAYANG IIP DEPOK
SELASA, 15 AGUSTUS 2017, PUKUL 20.00-21.00 WIB
SEMUA ANAK ADALAH BINTANG
Anak-anak yang terlahir ke dunia merupakan anak-anak pilihan, para juara yang membawa bintangnya masing-masing sejak lahir. Namun setelah mereka lahir, kita, orang dewasa yang diamanahi menjaganya, justru lebih sering “membanding-bandingkan” pribadi anak ini dengan pribadi anak yang lain.
BANDINGKANLAH ANAK-ANAK KITA DENGAN DIRINYA SENDIRI, BUKAN DENGAN ANAK ORANG LAIN
Jadi kalimat yang harus sering anda keluarkan adalah,
bukan dengan kalimat
Kita, orang dewasa yang dipercaya untuk melejitkan “ _mental jawara_” anak, justru lebih sering memperlakukan mereka menjadi anak rata-rata, yang harus sama dengan yang lainnya.
MEMBUAT GUNUNG, BUKAN MERATAKAN LEMBAH
Ikan itu jago berenang, jangan habiskan hari-harinya dengan belajar terbang dan berharap terbangnya sepintar burung
Seringkali kalau ada anak-anak yang tidak menyukai matematika, kita paksakan anak untuk ikut pelajaran tambahan matematika agar nilainya sama dengan anak-anak yang sangat menyukai matematika. Ini namanya meratakan lembah. Anak akan menjadi anak yang rata-rata.
Burung itu jago terbang, apabila sebagian besar waktunya habis untuk belajar terbang, maka dalam beberapa waktu ia akan menjadi maestro terbang
Anak yang terlihat berbinar-binar mempelajari sesuatu, kemudian orangtuanya mengijinkan anak tersebut menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempelajari hal tersebut, maka kita sedang mengijinkan lahirnya maestro baru. Ini namanya membuat gunung. Anak akan memahami misi spesifiknya untuk hidup di muka bumi ini.
ENJOY, EASY, EXCELLENT, EARN
Kita sebagai orangtua harus sering melakukan “discovering ability” agar anak menemukan dirinya, dengan cara mengajak anak kaya akan wawasan, kaya akan gagasan, dan kaya akan aktivitas.
Sehingga anak dengan cepat menemukan aktivitas yang membuat matanya berbinar-binar(enjoy) tak pernah berhenti untuk mengejar kesempurnaan ilmu seberapapun beratnya (easy) dan menjadi hebat di bidangnya (Excellent).
Setelah ketiga hal tersebut di atas tercapai pasti akan muncul produktivitas dan apreasiasi karya di bidangnya (earn).
ALLAH TIDAK PERNAH MEMBUAT PRODUK GAGAL
Tidak ada anak yang bodoh di muka bumi ini, yang ada hanya anak yang tidak mendapatkan kesempatan belajar dari orangtua/guru yang baik, yang senantiasa tak pernah berhenti menuntut ilmu demi anak-anaknya, dan memahami metode yang tepat sesuai dengan gaya belajar anaknya.
ANAK-ANAK TERLAHIR HEBAT, KITALAH YANG HARUS SELALU MEMANTASKAN DIRI AGAR SELALU LAYAK DI MATA ALLAH, MEMEGANG AMANAH ANAK-ANAK YANG LUAR BIASA
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
Sumber bacaan
Septi Peni Wulandani, Semua Anak adalah Bintang, artikel IIP, 2016
Abah Rama, Talents Mapping, Jakarta, 2016
Dodik Mariyanto, Belajar Cara Belajar, paparan seminar, 2016
???SESI TANYA JAWAB???
1. Tantia :
Assalamualaikum mba laila, Semua anak adalah bintang saya sepakat. Nah untuk mengoptimalkan mengajak anak kaya akan wawasan, kaya akan gagasan dan kaya akan aktivitas, apakah ini harus seiringan? Atau bisa satu-satu.
Mba Laila :
Wasalamualaikum wr.wb....Seingat saya ga bisa satu-satu mba @tantia aisy-atim, setelah anak-anak diperkaya wawasannya, diperbanyak gagasannya, kemudian kita siapkan anak-anak untuk action.
Tantia :
Seperti apakah contohnya mba?
Mba Laila :
Mba @tantia misalnya Michel anak saya sangat suka seluk/beluk crafting, saya ajak dia berselancar di youtube dunia kerajinan tangan yang beragam macamnya...
• Menyaksikan seni melipat kertas
• Seni Quiling paper seperti kokoru
• Seni dari bahan bekas
• Saya belikan buku2 crafting yg sale...
• Saya perlihatkan bussy book
Yang saya lakukan diatas adalah memperkaya wawasannya... Oh....ternyata ada banyak hal ya yang berkaitan dengan ide kerajinan tangan. Muncul gagasan, mana yg akan ia eksekusi, mana yang paling ia minati...Selanjutnya dia akan action....
Mba Laila : foto diatas salah satu actionnya Michel, melakukan aktivitas yang dia senangi....Saya biasanya membuka wawasannya dulu, seperti soal hari lingkungan hidup, saya jelaskan kondisi iklim, trus baru saya tanyakan :
Kira-kirakita bisa apa ya neuk?
• Pisahin sampah, yg organik jadi pupuk
• Kita tanam bunga di dalam jirgen bekas minyak goreng (daur ulang)...
Kami lakukan....
Demikian mba @tantiaaisy-atim, adik dilibatkan dengan stimulasi yg lain, seperti math around us, kemarin menghitung jumlah daun yang bertambah....dll....
Tantia : Jazakillah khoir Mba laila, sip mantap
2. Mba Nurul :
Assalamualaikum Mba Laila, ketika anak matanya berbinar-binar mempelajari sesuatu. Sementara orang tua tidak begitu setuju dengan apa yang dipelajari. Bagaimana menyikapinya? Disatu sisi kita tidak ingin mematikan potensinya. Tapi di sisi lain, kita memandang ilmu yg dipelajari tidak sesuai dengan visi misi keluarga.
Mba Laila :
Wslm wr wb mba @nurul narulitasari
Kita lihat dulu si anak usia berapa? Apakah masih dibawah 14 tahun? Bisa jadi, yg dia senangi saat ini bukan potensinya, hanya suka saja, atau kita lihat/tanyakan lagi faktor pencetus/pendorong menyukai aktivitas tersebut, bisa jadi karena sedang hits, atau ikut2an teman. Nahh.... Jika memang yg ia lakukan memang benar2 sudah 4e, dan usianya sudah 14 tahun ke atas, saatnya untuk fokus pada satu sampai 4 aktivitas produktif, maka bisa jadi kita ;
• Mengajaknya berkomunikasi tentang visi misi keluarga
• Mendiskusikan tujuan akhir dari pencapaian keluarga kita, mencari Ridho Allah, Ridho manusia, mencari nama?
• Insya Allah Allah gak akan pernah salah titip anak2. Sudah pasti Allah akan mengamanahkan anak yg syakilahnya (kecenderungannya) adalah sesuai visi misi keluarga....
Jadi....kuncinya apa? Insya Allah Sabar adalah kunci kita. Sama-sama sering-seing komunikasi sama yang Maha Menitipkan amanah. Demikian mba @nurul
Mba Nurul :
Sebelum usia itu mah ikutin az ya mba, biar dia mengeksplore kemampuanya. Jazalillah khoir Mba
Mba Laila:
Iyap....
3. Mba Arrsy:
Mba.....anak saya sangat banyak kelebihan cuma kurang di kematangan emosinya (itu bikin bintang dia redup dimata saya. Gimana biar saya bisa ikhlas dan bintang itu bersinar lagi.
Mbak Laila:
Sama dengan Michel anak saya mba @arssy (nayaka athifa). Idenya berloncatan di kepala tapi pundungan/ngambekan tak terkira. Apalagi kalau hasil proyeknya jauh dari ekspektasinya. Kuncinya sabar dan besarkanlah porsi melihat kelebihannya, kalau saya pribadi sering2 berkaca pada diri sendiri... Saya pun bukan ibu sempurna...
Mba Arssy : Makasih mba laila......
Mba Diah : Assalamu'alaikum…maaf baru bisa join
Mba Diah : Kita toss dulu ya Mab Arssy. Anak saya pun alhamdulillah memiliki kecakapan kognitif yang cukup baik tapi kurang berkembang di sisi EQ nya. Saya akui ada peran saya disitu . Yg saya lakukan sekarang masuk kelas remedial EQ bareng anak saya . Pelan-pelan kami belajar bareng mbak, ada kalanya berhasil tapi tidak jarang diam di tempat . Tapi tak mengapa dilatih terus , tarik ulur kayak maen layangan.
Mba Arrsy: Toooossss mba di.....
Mba Arrsy: Mba Diah gimana kiat-kiatanya nih mba.....Nayaka usia 5 tahun masih enggak malu buat nangis-nangis depan umum
Mba Diah: Pertama diterima dengan lapang dada segala kelebihan dan kekurangan ananda
Nayaka 5 tahun? Arya umur 8 tahun masih nangis di kelas kalo teman-temannya dirasa tidak serius mengerjakan tugas kelompok sgehing dia terpaksa harus menyelesaikan sendiri
Mbak Diah: Sering-sering ngobrol bareng mba. Ngobrol ya bukan kasih nasehat. Sambil dikuatkan mentalnya. Jangan bandingkan dia dengan anak yang lain bandingkan dia dengan saat dia kuat tidak menangis.
Mba Arrsy: Ini niiiih.....awalnya pingin mgobrol ko lama-lama jadi cerewet macem-macam
Mbak Diah : Hihihii.. bawaan emak-emak ya.... Kalo saya kadang saya cerita gimana waktu sekolah dulu bla bla blaaa..
Mba Wiwit:
Setiap anak adalah bintang
4. Mba Wiwit :
Dear tim fasil, bagaimana agar anak kita tidak cepat mencontoh misal dari saudara sepupu-sepupu. Tadinya saya tahu anak saya tidak minat terhadap sesuatu itu tapi ketika bersama saudara-saudaranya jadi ikut-ikutan. Bagamana menjaga anak tidak cepat terpengaruh ?
Mba Diah:
Ananda usia berapa ya mb wiwit?
Mba Wiwit :
Usia 6 tahun mba
Mba Wiwit:
Jadi dia seperti membandingkan dirinya ingin seperti sepupunya padahal sabenernya dia enggak suka. Tipe modeler jg
Mba Laila :
Hai mba Wiwit...Secara alamiah manusia itu memang punya kecenderungan ikut-ikutan kan mba? Yang kalau di kerumunan itu namanya Psikologi massa. Nah... Bagaimana caranya agar anak-anak kita tidak gampang ikut-ikutan?
• Kita perbanyak komunikasi produktif dengannya, baik dari segi intensitas maupun kualitas komunikasinya....
• Insya Allah anak-anak yang warna di rumahnya dominan, tidak akan mudah terwarnai oleh lingkungan
• Modalitas individualitas (egosentris) pada fitrah perkembangannya di usia 0-7 tahun wajib kita penuhi, tidak dipaksa seragam, tidak dipaksa berbagi mainan dengan temannya jika ia enggan, dll...
Mba Laila:
Mungkin ini terkait juga dengan bakat kompetisi, jadi ia ingin terlihat sejajar atau unggul dr temannya/sepupunya. Dalam tahapan wajar, enggak masalah mba, asal bukan hal negatif. Karena memang ada orang yang sudah dari sananya bakat kompetisinya kuat, apa-apa hrs lbh unggul...it’s ok...
Mba Wiwit:
Noted Mba Laila . Wah kalo yg berbagi mainan baiknya mulai usia berapa ya mba baiknya
Mba Laila: 7 tahun ke atas, saat anak sudah butuh lingkungan sosial, sudah faham bahwa aku bukan pusat semesta. Sudah tahu bahwa play is different with game, play ya main aja, mau menang sendiri, mau asik sendiri, tapi game adalah punya rule/aturan yang jelas, ada kalah menang, dll... Namun, bisa kita lihat lagi kesiapan anak, gak saklek 7 tahun, sambil kita beri pengertian, kita ceritakan kisah-kisah berbagi para shalafusshalih, juga perasaan kalau ia diposisi teman yg tidak dibagi...dll... Temannya yg tidak dibagi juga kita tawari solusi lain, bahwa si kakak belum mau berbagi yang ini, mau cari yang lainnya?
Mbak Diah: Setuju mb laila. Saat anak belajar peduli, saat itulah dia akan berbagi. Mulai dari lingkungan rumah, berikan contoh /teladan berbagi pd anak, bgmn senangnya berbagi. Lama-lama anak akan meniru , children see children do
Mba Laila: Baik bunda-bunda sekalian....Sudah jam 21.00... saya izin pamit ya...tagihan perhatian dari para bocah-bocah sudah menderu-deru...Mohon maaf atas segala kesalahan ya..
Assalamualaikum wr.wb. Pamit......Eit....nantikan game menariknya ya....
Tantia : Tidak berasa sudah pukul 21.00, padahal seru, lagi pengen ketik-ketik tanya. Baik mba laila. Waalaikumussalam
Mba Ika : Saya sering ngobrol dengan Adli. Adli juga pundungan. Kelas 2 masih suka nangis di kelas jika kesenggol temannya sedikit. Sekarang juga masih begitu. Pernah satu ketika dia bilang: kenapa sih ada orang yang suka gangguin kita? Saya katakan: setiap orang pasti ada yang tidak suka kita, Nak. Itu namanya adli lagi ditempa. Seperti pedang (dia lagi suka pedang, kalau pas lagi suka dino, saya contohnya dinosaurus). Pedang itu awalnya logam, dipukul-pukul, dibakar, dicelupin ke air dingin, lalu diasah. Mungkin kalau bisa teriak, logamnya bakal bilang: sakiiit bangeeet.. Tapi hasilnya dia jadi pedang. Kuat, tajam, untuk membela yang benar. Memang sakit, Nak, dan ngga enak di awal. Insyaa Allah hasilnya bagus. Boleh kok sedih atau nangis. Kalau abang sedih, abang bisa cerita ke ummi. Ummi siap dengerin abang.
Teteh Oelfa : Saya juga baru mau ikutan nanya setelah nyimak semuanya..
Mbak Diah Soehadi:. Silakan jika masih ada pertanyaan, ditulis aja. Nanti kami coba jawab lain waktu karena skrg waktu kembali ke keluarga
Mbak Diah Soehadi: Ketemu lagi besok malam ya pukul 20-21 wib
TeTeh Oelfa : Baik.. In Syaa Allaah. Terima kasih ilmu dan sharingnya.. 🏻
Mba Leni : Terimakasih ilmu dan sharingnya Mba..
Mba Wiwi : Jazakumullah khairan katsiraa
Mba Leni : Terkait game boleh tanya sekarang? Saya masih kurang paham dengan yg dimaksud change factor/melek perubahan.. Jawabnya besok juga ga papa Mba
Komentar
Posting Komentar