Selasa, 18 Juli 2017
Pukul : 20.00-21.00
Narasumber: Diah Soehadi
Host : Ardaniya Rizka
Notulen : Tantia
MENSTIMULUS MATEMATIKA LOGIS PADA ANAK
Semua anak lahir cerdas, masing-masing diberikan potensi dan keunikan yang menjadi jalan mereka untuk cerdas di bidangnya masing-masing. Dua macam kecerdasan dasar yang memicu munculnya kecerdasan yang lain adalah kecerdasan bahasa dan kecerdasan matematis logis. Dimana di dua kecerdasan ini banyak orangtua yang salah menstimulus, tidak paham tujuannya untuk apa, ingin anak-anaknya segera cepat menguasai dua hal tersebut, sehingga banyak diantara anak-anak BISA menguasai dua kecerdasan tersebut tetapi mereka TIDAK SUKA. Sebagaimana kita ketahui di materi sebelumnya bahwa
" Membuat anak BISA itu mudah, membuatnya SUKA baru tantangan "
MATEMATIKA LOGIS
Pada dasarnya setiap anak dianugerahi kecerdasan matematika logis. Gardner mendefinisikan kecerdasan matematis logis sebagai kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan.
Dapat diartikan juga sebagai kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya
Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematika logis dan kecerdasan bahasa. Pada kemampuan matematika, anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan bahasa diperlukan untuk merunutkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa.
CIRI-CIRI ANAK DENGAN KECERDASAN MATEMATIKA LOGIS
a. Anak gemar bereksplorasi untuk memenuhi rasa ingin tahunya seperti menjelajah setiap sudut
b. Mengamati benda-benda yang unik baginya
c. Hobi mengutak-atik benda serta melakukan uji coba
d. Sering bertanya tentang berbagai fenomena dan menuntut penjelasan logis dari tiap pertanyaan yang diajukan.
e. Suka mengklasifikasikan berbagai benda berdasarkan warna, ukuran, jenis dan lain-lain serta gemar berhitung
Yang sering salah kaprah di dunia pendidikan dan keluarga saat ini adalah buru-buru menstimulus matematika logis anak dengan cara memberikan pelajaran berhitung sejak dini. Padahal berhitung adalah bagian kecil dari sekian banyak stimulus yang harus kita berikan ke anak untuk merangsang kecerdasan matematika logisnya.Dan harus diawali dengan berbagai macam tahapan pijakan sebelumnya.
Yang perlu kita pelajari di Ibu Profesional adalah Bagaimana kita merangsang kecerdasan matematis logis anak sejak usia dini? Bagaimana kita menanamkan konsep matematis logis sejak dini? bukan buru-buru mengajarkan kemampuan berhitung ke anak.
STIMULASI MATEMATIKA LOGIS DI SEKITAR KITA
Bermain Pasir
Dengan bermain pasir anak sesungguhnya belajar estimasi dengan menuang atau menakar yang kelak semua itu ada dalam matematika.
Bermain di Dapur
a.Saat berada di dapur, kita bisa mengenalkan konsep klasifikasi dan pengelompokan yang berkaitan dengan konsep logika matematika, misalnya dengan cara anak diminta mengelompokkan sayuran berdasarkan warna.
b. Mengasah kemampuan berhitung dalam pengoperasian bilangan sederhana, misalnya ketika tiga buah apel dimakan satu buah maka sisanya berapa.
c. Membuat bentuk-bentuk geometri melalui potongan sayuran.
d. Membuat kue bersama, selain dapat menambah keakraban dan kehangatan keluarga, anak-anak juga dapat belajar matematika melalui kegiatan menimbang, menakar, menghitung waktu.
Belajar di Meja Makan
Saat dimeja makan pun kita bisa mengajarkan pembagian dengan bertanya pada anak, misalnya supaya kita sekeluarga kebagian semua, roti ini kita potong jadi berapa ya? Lalu bila roti sudah dipotong-potong, angkat satu bagian dan tanyakan seberapa bagiankah itu? Hal ini terkait dengan konsep pecahan.
Belajar Memahami Kuantitas
a. ketika melihat akuarium, tanyakan berapa jumlah ikan hias di akuarium tersebut?
b.Ketika duduk di depan ruma atau sedang jalan-jalan, tanyakan berapa jumlah sepeda motor yang lewat dalam jangka waktu 1 menit?
Belajar mengenalkan konsep perbandingan, kecepatan, konsep panjang dan berat
a. Menanyakan pada anak roti mana yang ukurannya lebih besar, roti bolu atau donat?
b. Mengenalkan dan menanyakan pada anak, mana yang lebih cepat, mobil atau motor?
c. Mengenalkan dan menanyakan ke anak mana yang lebih tinggi pohon kelapa atau pohon jambu?
d. Menanyakan ke anak mana yang lebih berat, tas kakak atau tas adik?
Kegiatan di Luar Rumah
a.Mengajak anak berbelanja
ketika kita mengajak anak berbelanja, libatkan ia dalam transaksi sehingga semakin melatih keterampilan pengoperasian seperti penjumlahan dan pengurangan.
b. Bisa juga dengan permainan toko-tokoan atau pasar-pasaran dengan teman-temannya.
c. Kita juga dapat memberikan anak mainan-mainan yang edukatif seperti balok-balok, tiruan bentuk-bentuk geometri dengan dihubungkan dengan benda-benda disekitar mereka Ada bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang dan lain-lain. Pengenalan bentuk geometri yang baik, akan membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik. Saat melihat roda mobil misalnya anak akan tahu kalau bentuknya lingkaran, meja bentuknya segiempat, atap rumah segitiga dan sebagainya.
d. Permainan Tradisional
Permainan-permainan tradisional pun dapat merangsang dan meningkatkan kecerdasan matematis logis anak seperti permainan congklak atau dakon sebagai sarana belajar berhitung, permainan patil lele, permainan lompat tali, permainan engklek dll.
e.Belajar Memecahkan Masalah ( problem solving) melalui mainan
Menyusun lego atau bermain puzzle adalah cara agar anak berlatih menghadapi masalah, tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah. Misalnya ketika sedang menalikan sepatu, anak akan berusaha menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikan hingga tuntas.
Dengan memberikan stimulus-stimulus tersebut diharapkan anak akan menyukai pelajaran matematika karena matematika ternyata ada disekitar mereka dan mereka mengetahui tujuan belajar matematika. Dengan model stimulus ini anak-anak akan paham makna kabataku (kali, bagi, tambah, kurang) sebagai sebuah proses alamiah sehari-hari, bukan deretan angka yang bikin pusing. Mereka jadi paham bahwa :
Menambah ➡ proses menggabungkan
Mengurangi ➡ proses memisahkan
Mengalikan ➡ proses menambah/menjumlahkan secara berulang.
Membagi ➡ proses mengurangi secara berulang.
Tentu hal ini harus didukung dengan pola pengajaran matematika di rumah dan di sekolah yang menyenangkan, kreatif, kontekstual, realistik, menekankan pada proses dan pemahaman anak dan problem solving (pemecahan masalah).
Kreatif dalam mengenalkan dan mengajarkan konsep matematika serta dengan berbagai macam permainan dan alat peraga yang menarik.
Dengan demikian matematika akan menjadi pelajaran yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu.
Salam Ibu Profesional
/ Tim Fasilitator Bunda Sayang/
📚Sumber bacaan:
Hernowo, Menjadi Guru yang Mampu dan Mau Mengajar dengan Menyenangkan, MLC, 2005
Howard Gardner, Multiple Intelligence, Gramedia, 2000
Septi Peni Wulandani, Jarimatika, Mudah dan Mneyenangkan, Kawan Pustaka, Agromedia, 2009
??? Tanya Jawab???
1. Bunda Ika:
mba diah, membaca materi tadi pagi, tanpa sadar dan tanpa direncanakan saya sudah melakukan hal itu. Apakah sebaiknya untuk menstimulasi ini direncanakan Mba Diah? Untuk anak usia yang berbeda, tentunya stimulasi juga berbeda kan ya Mba? Stimulasinya berbeda atau bentuk stimulasi sama hanya berbeda tingkat derajat kesulitannya?
Jawab:
Stimulasi bisa direncanakan bisa juga tidak mba ika.
Untuk anak usia berbeda bisa dg stimulasi yg sama namun berbeda derajat kesulitan, bisa juga berbeda jenis stimulasinya
Silakan pilih yg mana yg paling nyaman untuk mendampingi ananda 🙏🏻
2. Bunda Laela:
Kesulitan saya ketika memberi stimulus utk dua anak secara bersamaan kadang materi nya terlalu tinggubutk anak kedua kadang dia hanya diam tapi kadang ikut nyeletuk asal, hal seperti ini mengganggu konsep anak yg lebih kecil ngga ya mba diah?
Contohnya membuat kue bersama saya serig meminta si kakak menimbang tepung, gula dan bahan lain kadangdengan takaran cup dan sendok, si kakak bertanya tentang konverso antara sendok dan gram, cup dan mili, saya biasa menyuruh dia konversi sendiri dgn sedikit penjelasan, disitu adeknya bingung kadang ikutan menyebutkan gram, kilo, mili, liter dsb kadang saya blm sempat menjelaskan si adek udah keburu lari kemana br nantonsaya jelaskan konsep vokume sederhana dgn sendok dan cup di lain waktu, membuat bingu ngga mba seperti itu?
Mba Diah:
Pertanyaan yg bagus mb laela
Bgmn teman2 yg lain ada yg pernah punya pengalaman spt mb laela?
Bunda Ika:
Kalau saya biasanya menyediakan dua alat, Mba Laela. Timbangan beneran buat si abang, sendok dan gelas/mangkok buat adek.
Si abang saya minta untuk timbang bahan-bahan semuanya. si adek, saya minta untuk menyendok terigu dan gula beberapa sendok (misalnya 5 sendok). Tapi memang jadi agak boros bahan dikit karena agak tumpah-tumpah di bagian si adek.
Bunda Laela:
Pernahbjuga begitu mba ika, nah si kakak suka pingin tau kenapa saya pake sendok dan pake cup,dia selalu pingin tau ukuran sebenarnya dan disimi adekmikut dengerin dan dia kaya bingung terua nyeletuk istilah2 berat dan voluma dan bosan dan lari 🙈
3. Mba Diah:
Kalo boleh tau siapa di sini yang anaknya terdeteksi memiliki keunggulan cerdas matematika logis ?
Bunda Oelfa:
Bsrdasarkan pengamatan pada materi yg disajikan tadi, sepertinya anak saya mbak.. 😬
A. Gemar bereksplorasi dan menjelajah tiap sudut :
Kalo kita lagi jalan-jalan, di taman misalnya, dia selalu ingin tahu semua tempat yg ada di taman tsbt. (padahal emak dah lunglai 🙈)
B. Mengamati benda unik (dalam pandangannya): kalo diajak ke toko atk dia senang mengamati benda2 yg sepertinya baru dilihatnya atau jarang ditemukan di tempat lain.
C. Mengutak atik benda : dia berhasil membuat tempat sampah khusus rautan dari hasil utak atikya dari kardus bekas.
Waktu TK sering membuat mainan dari barang bekas.
Seperti membuat kereta dari bekas botol yakult dll.
D. Bertanya tentang fenomena :
Dia sering bertanya tentang peristiwa alam, seperti kenapa kalau kita berjalan, bulan selalu ikuti kita? 🙈
Kenapa sayur bayam tidak boleh disimpan lama?
Kenapa jamur ada yg beracun dan ada yg bergizi?
Dan masih baaaaaanyyaaaaak laaagggiiii...
#emakngelapkeringetdulu😅
E. Mengklasifikasikan benda : dia sudah mulai memisahkan buku yang ukurannya besar dan ukurannya kecil. Biar mudah diambil katanya.
Bunda Ika:
Kalau adli, saya lihat cenderung memiliki kecerdasan verbal, tetapi ternyata di usianya yang belum 8 tahun, dia mampu menyelesaikan masalah math sederhana, misalnya menimbang bahan kue, sisa kembalian dari warung. Dan ciri-ciri yang disebutkan di materi sebagian besar ada di Adli.
#umminya underestimated si abang 😂
Mba Diah:
Toss dulu mb ika
Terkadang saya juga terjebak 😅
Fitrahnya semua anak memiliki kecerdasan matematika logis
Tinggal bgmn kita menstimulasi spy matematika tdk jadi momok yg menakutkan buat anak
4. Mba Diah:
Adakah teman2 yg memiliki atau pernah merasakan antipati dg mapel matematika?
Bunda Diyan :
Antipati sih ga, tp sy merasa sy lemah di penalaran soal2 cerita. Jd nya jaman sekolah dl, selalu berusaha ngerjain soal2 dibuku, sebelum disuruh 😬
Mba Diah :
Padahal soal cerita itu sarana belajar problem solving yg sangat dekat dg kehidupan kita sehari2
Saya sering mengambil bbrp contoh soal cerita untuk bahan stimulasi anak saya
5. Bunda Tantia :
Mba diah, adakah tahapan untuk menstimulasi matematika logik u/ setiap usia? Apa yg perlu di awal di stimulasi? Misal usia 1 th stimulasi apa?
Mba Diah:
Dunia anak adalah dunia bermain , jadi stimulasinya sambil bermain
Matematika betebaran di sekitar kita , tinggal kita manfaatkan saja
Bunda Tantia:
Noted mba di😊
Host:
Teman-teman, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Diskusi kita yang masih seru, masih boleh berlanjut dengan santai.
Namun, diskusi kelas ini saya tutup dulu. Setelah ini, Mba Diah akan mem-post game sesi #6 yang tentunya semakin menantang.
Terima kasih untuk kehadirannya di kelas. Semoga bermanfaat untuk dapat dimanfaatkan di kehidupan bersama anak-anak tersayang.
Mohon maaf atas kesalahan yang ada.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb
Pukul : 20.00-21.00
Narasumber: Diah Soehadi
Host : Ardaniya Rizka
Notulen : Tantia
MENSTIMULUS MATEMATIKA LOGIS PADA ANAK
Semua anak lahir cerdas, masing-masing diberikan potensi dan keunikan yang menjadi jalan mereka untuk cerdas di bidangnya masing-masing. Dua macam kecerdasan dasar yang memicu munculnya kecerdasan yang lain adalah kecerdasan bahasa dan kecerdasan matematis logis. Dimana di dua kecerdasan ini banyak orangtua yang salah menstimulus, tidak paham tujuannya untuk apa, ingin anak-anaknya segera cepat menguasai dua hal tersebut, sehingga banyak diantara anak-anak BISA menguasai dua kecerdasan tersebut tetapi mereka TIDAK SUKA. Sebagaimana kita ketahui di materi sebelumnya bahwa
" Membuat anak BISA itu mudah, membuatnya SUKA baru tantangan "
MATEMATIKA LOGIS
Pada dasarnya setiap anak dianugerahi kecerdasan matematika logis. Gardner mendefinisikan kecerdasan matematis logis sebagai kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan.
Dapat diartikan juga sebagai kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya
Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematika logis dan kecerdasan bahasa. Pada kemampuan matematika, anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan bahasa diperlukan untuk merunutkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa.
CIRI-CIRI ANAK DENGAN KECERDASAN MATEMATIKA LOGIS
a. Anak gemar bereksplorasi untuk memenuhi rasa ingin tahunya seperti menjelajah setiap sudut
b. Mengamati benda-benda yang unik baginya
c. Hobi mengutak-atik benda serta melakukan uji coba
d. Sering bertanya tentang berbagai fenomena dan menuntut penjelasan logis dari tiap pertanyaan yang diajukan.
e. Suka mengklasifikasikan berbagai benda berdasarkan warna, ukuran, jenis dan lain-lain serta gemar berhitung
Yang sering salah kaprah di dunia pendidikan dan keluarga saat ini adalah buru-buru menstimulus matematika logis anak dengan cara memberikan pelajaran berhitung sejak dini. Padahal berhitung adalah bagian kecil dari sekian banyak stimulus yang harus kita berikan ke anak untuk merangsang kecerdasan matematika logisnya.Dan harus diawali dengan berbagai macam tahapan pijakan sebelumnya.
Yang perlu kita pelajari di Ibu Profesional adalah Bagaimana kita merangsang kecerdasan matematis logis anak sejak usia dini? Bagaimana kita menanamkan konsep matematis logis sejak dini? bukan buru-buru mengajarkan kemampuan berhitung ke anak.
STIMULASI MATEMATIKA LOGIS DI SEKITAR KITA
Bermain Pasir
Dengan bermain pasir anak sesungguhnya belajar estimasi dengan menuang atau menakar yang kelak semua itu ada dalam matematika.
Bermain di Dapur
a.Saat berada di dapur, kita bisa mengenalkan konsep klasifikasi dan pengelompokan yang berkaitan dengan konsep logika matematika, misalnya dengan cara anak diminta mengelompokkan sayuran berdasarkan warna.
b. Mengasah kemampuan berhitung dalam pengoperasian bilangan sederhana, misalnya ketika tiga buah apel dimakan satu buah maka sisanya berapa.
c. Membuat bentuk-bentuk geometri melalui potongan sayuran.
d. Membuat kue bersama, selain dapat menambah keakraban dan kehangatan keluarga, anak-anak juga dapat belajar matematika melalui kegiatan menimbang, menakar, menghitung waktu.
Belajar di Meja Makan
Saat dimeja makan pun kita bisa mengajarkan pembagian dengan bertanya pada anak, misalnya supaya kita sekeluarga kebagian semua, roti ini kita potong jadi berapa ya? Lalu bila roti sudah dipotong-potong, angkat satu bagian dan tanyakan seberapa bagiankah itu? Hal ini terkait dengan konsep pecahan.
Belajar Memahami Kuantitas
a. ketika melihat akuarium, tanyakan berapa jumlah ikan hias di akuarium tersebut?
b.Ketika duduk di depan ruma atau sedang jalan-jalan, tanyakan berapa jumlah sepeda motor yang lewat dalam jangka waktu 1 menit?
Belajar mengenalkan konsep perbandingan, kecepatan, konsep panjang dan berat
a. Menanyakan pada anak roti mana yang ukurannya lebih besar, roti bolu atau donat?
b. Mengenalkan dan menanyakan pada anak, mana yang lebih cepat, mobil atau motor?
c. Mengenalkan dan menanyakan ke anak mana yang lebih tinggi pohon kelapa atau pohon jambu?
d. Menanyakan ke anak mana yang lebih berat, tas kakak atau tas adik?
Kegiatan di Luar Rumah
a.Mengajak anak berbelanja
ketika kita mengajak anak berbelanja, libatkan ia dalam transaksi sehingga semakin melatih keterampilan pengoperasian seperti penjumlahan dan pengurangan.
b. Bisa juga dengan permainan toko-tokoan atau pasar-pasaran dengan teman-temannya.
c. Kita juga dapat memberikan anak mainan-mainan yang edukatif seperti balok-balok, tiruan bentuk-bentuk geometri dengan dihubungkan dengan benda-benda disekitar mereka Ada bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang dan lain-lain. Pengenalan bentuk geometri yang baik, akan membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik. Saat melihat roda mobil misalnya anak akan tahu kalau bentuknya lingkaran, meja bentuknya segiempat, atap rumah segitiga dan sebagainya.
d. Permainan Tradisional
Permainan-permainan tradisional pun dapat merangsang dan meningkatkan kecerdasan matematis logis anak seperti permainan congklak atau dakon sebagai sarana belajar berhitung, permainan patil lele, permainan lompat tali, permainan engklek dll.
e.Belajar Memecahkan Masalah ( problem solving) melalui mainan
Menyusun lego atau bermain puzzle adalah cara agar anak berlatih menghadapi masalah, tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah. Misalnya ketika sedang menalikan sepatu, anak akan berusaha menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikan hingga tuntas.
Dengan memberikan stimulus-stimulus tersebut diharapkan anak akan menyukai pelajaran matematika karena matematika ternyata ada disekitar mereka dan mereka mengetahui tujuan belajar matematika. Dengan model stimulus ini anak-anak akan paham makna kabataku (kali, bagi, tambah, kurang) sebagai sebuah proses alamiah sehari-hari, bukan deretan angka yang bikin pusing. Mereka jadi paham bahwa :
Menambah ➡ proses menggabungkan
Mengurangi ➡ proses memisahkan
Mengalikan ➡ proses menambah/menjumlahkan secara berulang.
Membagi ➡ proses mengurangi secara berulang.
Tentu hal ini harus didukung dengan pola pengajaran matematika di rumah dan di sekolah yang menyenangkan, kreatif, kontekstual, realistik, menekankan pada proses dan pemahaman anak dan problem solving (pemecahan masalah).
Kreatif dalam mengenalkan dan mengajarkan konsep matematika serta dengan berbagai macam permainan dan alat peraga yang menarik.
Dengan demikian matematika akan menjadi pelajaran yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu.
Salam Ibu Profesional
/ Tim Fasilitator Bunda Sayang/
📚Sumber bacaan:
Hernowo, Menjadi Guru yang Mampu dan Mau Mengajar dengan Menyenangkan, MLC, 2005
Howard Gardner, Multiple Intelligence, Gramedia, 2000
Septi Peni Wulandani, Jarimatika, Mudah dan Mneyenangkan, Kawan Pustaka, Agromedia, 2009
??? Tanya Jawab???
1. Bunda Ika:
mba diah, membaca materi tadi pagi, tanpa sadar dan tanpa direncanakan saya sudah melakukan hal itu. Apakah sebaiknya untuk menstimulasi ini direncanakan Mba Diah? Untuk anak usia yang berbeda, tentunya stimulasi juga berbeda kan ya Mba? Stimulasinya berbeda atau bentuk stimulasi sama hanya berbeda tingkat derajat kesulitannya?
Jawab:
Stimulasi bisa direncanakan bisa juga tidak mba ika.
Untuk anak usia berbeda bisa dg stimulasi yg sama namun berbeda derajat kesulitan, bisa juga berbeda jenis stimulasinya
Silakan pilih yg mana yg paling nyaman untuk mendampingi ananda 🙏🏻
2. Bunda Laela:
Kesulitan saya ketika memberi stimulus utk dua anak secara bersamaan kadang materi nya terlalu tinggubutk anak kedua kadang dia hanya diam tapi kadang ikut nyeletuk asal, hal seperti ini mengganggu konsep anak yg lebih kecil ngga ya mba diah?
Contohnya membuat kue bersama saya serig meminta si kakak menimbang tepung, gula dan bahan lain kadangdengan takaran cup dan sendok, si kakak bertanya tentang konverso antara sendok dan gram, cup dan mili, saya biasa menyuruh dia konversi sendiri dgn sedikit penjelasan, disitu adeknya bingung kadang ikutan menyebutkan gram, kilo, mili, liter dsb kadang saya blm sempat menjelaskan si adek udah keburu lari kemana br nantonsaya jelaskan konsep vokume sederhana dgn sendok dan cup di lain waktu, membuat bingu ngga mba seperti itu?
Mba Diah:
Pertanyaan yg bagus mb laela
Bgmn teman2 yg lain ada yg pernah punya pengalaman spt mb laela?
Bunda Ika:
Kalau saya biasanya menyediakan dua alat, Mba Laela. Timbangan beneran buat si abang, sendok dan gelas/mangkok buat adek.
Si abang saya minta untuk timbang bahan-bahan semuanya. si adek, saya minta untuk menyendok terigu dan gula beberapa sendok (misalnya 5 sendok). Tapi memang jadi agak boros bahan dikit karena agak tumpah-tumpah di bagian si adek.
Bunda Laela:
Pernahbjuga begitu mba ika, nah si kakak suka pingin tau kenapa saya pake sendok dan pake cup,dia selalu pingin tau ukuran sebenarnya dan disimi adekmikut dengerin dan dia kaya bingung terua nyeletuk istilah2 berat dan voluma dan bosan dan lari 🙈
3. Mba Diah:
Kalo boleh tau siapa di sini yang anaknya terdeteksi memiliki keunggulan cerdas matematika logis ?
Bunda Oelfa:
Bsrdasarkan pengamatan pada materi yg disajikan tadi, sepertinya anak saya mbak.. 😬
A. Gemar bereksplorasi dan menjelajah tiap sudut :
Kalo kita lagi jalan-jalan, di taman misalnya, dia selalu ingin tahu semua tempat yg ada di taman tsbt. (padahal emak dah lunglai 🙈)
B. Mengamati benda unik (dalam pandangannya): kalo diajak ke toko atk dia senang mengamati benda2 yg sepertinya baru dilihatnya atau jarang ditemukan di tempat lain.
C. Mengutak atik benda : dia berhasil membuat tempat sampah khusus rautan dari hasil utak atikya dari kardus bekas.
Waktu TK sering membuat mainan dari barang bekas.
Seperti membuat kereta dari bekas botol yakult dll.
D. Bertanya tentang fenomena :
Dia sering bertanya tentang peristiwa alam, seperti kenapa kalau kita berjalan, bulan selalu ikuti kita? 🙈
Kenapa sayur bayam tidak boleh disimpan lama?
Kenapa jamur ada yg beracun dan ada yg bergizi?
Dan masih baaaaaanyyaaaaak laaagggiiii...
#emakngelapkeringetdulu😅
E. Mengklasifikasikan benda : dia sudah mulai memisahkan buku yang ukurannya besar dan ukurannya kecil. Biar mudah diambil katanya.
Bunda Ika:
Kalau adli, saya lihat cenderung memiliki kecerdasan verbal, tetapi ternyata di usianya yang belum 8 tahun, dia mampu menyelesaikan masalah math sederhana, misalnya menimbang bahan kue, sisa kembalian dari warung. Dan ciri-ciri yang disebutkan di materi sebagian besar ada di Adli.
#umminya underestimated si abang 😂
Mba Diah:
Toss dulu mb ika
Terkadang saya juga terjebak 😅
Fitrahnya semua anak memiliki kecerdasan matematika logis
Tinggal bgmn kita menstimulasi spy matematika tdk jadi momok yg menakutkan buat anak
4. Mba Diah:
Adakah teman2 yg memiliki atau pernah merasakan antipati dg mapel matematika?
Bunda Diyan :
Antipati sih ga, tp sy merasa sy lemah di penalaran soal2 cerita. Jd nya jaman sekolah dl, selalu berusaha ngerjain soal2 dibuku, sebelum disuruh 😬
Mba Diah :
Padahal soal cerita itu sarana belajar problem solving yg sangat dekat dg kehidupan kita sehari2
Saya sering mengambil bbrp contoh soal cerita untuk bahan stimulasi anak saya
5. Bunda Tantia :
Mba diah, adakah tahapan untuk menstimulasi matematika logik u/ setiap usia? Apa yg perlu di awal di stimulasi? Misal usia 1 th stimulasi apa?
Mba Diah:
Dunia anak adalah dunia bermain , jadi stimulasinya sambil bermain
Matematika betebaran di sekitar kita , tinggal kita manfaatkan saja
Bunda Tantia:
Noted mba di😊
Host:
Teman-teman, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Diskusi kita yang masih seru, masih boleh berlanjut dengan santai.
Namun, diskusi kelas ini saya tutup dulu. Setelah ini, Mba Diah akan mem-post game sesi #6 yang tentunya semakin menantang.
Terima kasih untuk kehadirannya di kelas. Semoga bermanfaat untuk dapat dimanfaatkan di kehidupan bersama anak-anak tersayang.
Mohon maaf atas kesalahan yang ada.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb
Komentar
Posting Komentar