Selasa, 11 Agustus 2017
Pukul : 20.00-21.00
Narasumber : Mba Diah & Mba Laila
Host : Mba Ika
Notulen : Tantia
MENSTIMULUS KECERDASAN MATEMATIS LOGIS
Bunda setelah kurang lebih selama 1 bulan kita belajar bersama tentang bagaimana menstimulus kecerdasan matematis logis pada diri kita dan anak-anak, maka sekarang kita bisa merasakan bahwa matematika itu bukanlah sesuatu yang jadi momok buat anak-anak. Matematika itu sangat dekat dengan kita. Kalau dulu bahkan sampai saat ini kita merasakan bahwa "matematika" itu adalah pelajaran yang sulit, kemungkinan besar karena kita menjalani proses yang salah. Itulah pentingnya mengapa kita harus mengubah konsep pemahaman kita tentang matematika di Institut ibu Profesional ini, sehingga anak-anak kita akan selalu bahagia dengan matematika.
Sebagaimana kita tahu, matematika adalah sarana agar anak-anak kita memiliki kemampuan:
a. Berpikir logis
b. Berpikir Kritis
c. Memecahkan masalah secara sistematis
d.Melatih ketelitian, kecermatan dan kesabaran
e.Menarik kesimpulan secara deduktif (menarik kesimpulan berdasarkan pola yang umum. Hal ini akan membiasakan otak kita untuk berpikir secara objektif)
Apabila melihat kelima hal diatas, sudah selayaknya kita sebagai orangtua tidk terpaku dan bahkan stress untuk hal-hal kecil di konten matematikanya. Misal ketika anak-anak kita latih perkalian saja tidak hafal-hafal. Jangan sampai gagal fokus, karena yang kita sasar adalah kemampuan life skill anak melalui matematika, bukan kemampuan anak menghafal ilmu di matematika. Sehingga kita harus pandai untuk mencari celah dan mencari jalan lewat ilmu matematika yang mana agar anak-anak kita memiliki life skill seperti yang disebutkan di atas.
Contoh :
Studi Kasus: Ketika ada seorang anak yang sudah kelas 3 ke atas, sangat susah menghafal perkalian.
Solusi : maka kita tidak akan memaksa anak tersebut setiap hari dengan berbagai hafalan. Kita akan melatih kemampuan berpikir logisnya.
Kegiatan : Ambil matematika dalam kehidupan sehari-hari, misal, label obat, kemudian lihat di label tersebut, apoteker menuliskannya adalah 3 x 1. Kira-kira menurut kakak apa artinya 3 x1 di aturan minum obat ini? Anak-anak akan berpikir dan mencari jawaban berdasarkan pengalamannya minum obat saat sakit : pagi minum 1 kapsul, siang 1 kapsul dan malam 1 kapsul
Stimulus : Setelah jawaban berpikir logisnya berjalan, kita stimulus dengan berpikir kritisnya.
" Andaikata apoteker itu menulisnya 1 x 3, apa kira-kira yang harus kita lakukan, apakah ada bedanya dengan 3 x 1?"
Kegiatan : Anak mulai melatih kemampuan memecahkan masalahnya secara sistematis. Berikan ruang anak untuk menyampaikan gagasannya tentang 3 x 1 dan 1 x 3, tanpa kita buru-buru menyalahkan atau mengoreksi.
Kegiatan bermain:
a. Siapkan pernak-pernik yang berjumlah 6, (bisa 6 kerikil, 6 permen atau 6 buah mainan yang sama) dan 6 piring kecil-kecil
b. Ibu memberikan perintah, yuk kita lomba menata perkalian 3 x 1 dengan piring dan pernak-pernik.
c. Ibu menata piring dan kerikilnya sendiri, anak menata piring dan kerikilnya sendiri.
d. Ibu melihat apa yang ditata anak misal anak menata 3 piring, masing-masing diisi 1 kerikil. Ibu memberikan komentar "Aha, keren banget Ina sudah bisa membuat perkalian 3 x 1"
Kemudian anak diminta lihat apa yang ditata ibu, misal ibu mengambil 1 piring, diisi 3 kerikil.
"Kalau milik ibu ini model perkaliannya seperti apa ya kak?'
Anak mulai menyambungkan informasi satu persatu dan menjawab "1 x3"
e.Ibu memberikan tantangan baru, " Sekarang kita coba buat perkalian 3x2, yuk
Makin terasa ringan kan, kalau matematika kita dekatkan dengan hal-hal yang realistik di kehidupan anak-anak. Pendekatan matematika secara realistik ini harus bunda jadikan modal belajar agar anak-anak suka belajar matematika. Kalau anak-anak sudah suka, mereka akan menjadi pembelajar mandiri, dan kita cukup menjadi teman belajarnya saja.
Yang perlu kita ingat dalam pembelajaran matematika secara realistik adalah :
a.Anak-anak diajak untuk menemukan kembali bagaimana para ahli dulu menemukan rumus matematika dan ilmu matematika dengan bimbingan kita ( Guided Reinvention). Anak-anak akan mengalami proses menemukan kembali konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika sebagaimana ketika konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika itu dulu ditemukan. Sebagai sumber inspirasi untuk merancang pembelajaran matematika yang menekankan prinsip penemuan kembali (re-invention), dapat digunakan sejarah penemuan konsep/prinsip/rumus matematika.
b. Pengetahuan matematika dan pengetahuan lain secara umum, tidak dapat ditransfer atau diajarkan melalui pemberitahuan dari ibukepada anak, melainkan anak sendirilah yang harus mengkontruksi (membangun) sendiri pengetahuan itu melalui kegiatan aktif dalam belajar.
c, Menyiapkan model-model yang dibangun sendiri ( self-Developed Models). Sehingga kita bisa mengaktualisasikan masalah kontekstual ke dalam bahasa matematika, yang merupakan jembatan bagi anak untuk membuat sendiri model-model dari situasi nyata ke abstrak atau sebaliknya.
Semoga dengan pemahaman ini kita makin paham untuk apa anak-anak kita perlu belajar matematika. Bukan sekedar angka yang tertulis di rapot, bukan juga sekedar menambah hafalan anak-anak tentang rumus-rumus matematika, tapi lebih dari itu matematika merupakan salah satu pintu masuk anak untuk mendapatkan ketrampilan hidupnya sehingga bisa lebih siap menjalankan peran di dalam kehidupannya kelak.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
Sumber Bacaan:
Fauzan, A. (2002). Applying realistic mathematics education in teaching geometry in Indonesian primary schools. Doctoral dissertation. Enschede: University of Twente
Septi Peni (2004) Jarimatika : Mengenalkan Konsep Perkalian Secara Mudah dan Menyenangkan, Kawan Pustaka, Jakarta
??? DISKUSI???
Host:
Assalamu'alaikum teman-teman Bunda Sayang..
Malam ini, pukul 20.00-21.00 wib, kita akan berdiskusi mengenai T10H yang baru saja kita selesaikan bersama.
Apakah ada yang sudah siap berdiskusi?
Alhamdulillah sudah ada beberapa orang yang hadir.
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Insya Allah selama satu jam ke depan, kita akan berdiskusi mengenai Menstimulasi Kecerdasan Matematika Logis pada anak.
Dipandu oleh Mba Laila Muhammad dan Mba Diah Soehadi.
Mba Diah:
Setoran game teman2 disink sangat inspiratif 👍🏼👍🏼
Mba Laila:
Sepakaaaaaat.....
mulai dari dapur, ke gunung, sampai pembalut....kompliiiiiiiit....😂
Mba Diah:
Betul betul betul.. 😂😂
Adakah kesulitan saat menjalankan bersama ananda? Yuk ditunggu sharingnya 🤗
1. Mba Ika:
Alhamdulillah, ini T10H kali ini favorit saya.. kayaknya semua bisa dijadikan matematika 😁
Mba Diah:
Tosss 🙌🏼
Kali ini ga perlu mikir ya mb ika, ngalir aja 🤗
Mba Ika: Hihihihi. Iya mba... Sambil nyetir juga bisa mainan matematika
Mba Laila:
Ada yang kelelahan karena si adek selalu heboh dengan matematika?....
"ummi....lingkaran" (sambil tunjukin biskuit)
Besoknya tunjukin buku ayah lebih berat dari bukunya....
besoknya dia udah kelompokkan bola ajaib bdasarkan warna....
Emaknya g smpat cekrek apload....ehehehhehehe...
2. Mba Wita:
Dari semua tantangan, entah kenapa mbak, ini yang paliiiiing natural dan mengalir😍
Mba Diah:Toss juga mb wita 🙌🏼
Mba Wita: Hihihi 🤗
Mba Laila: Nyuruh mandi aja ada matematikanya ya....😆
3. Mba Diah: Kalo yang anandanya masih batita, ada yg mengalami kesulitankah? Mba Ika: Pernah sekali waktu, ngomongin besar kecil sama Aisyah tanpa gambar, tanpa benda. Asli, kacauu... Bis sama mobil lebih besar mobil. Abang dengan aisyah, lebih besar aisyah...
Tapi pas besoknya dicoba dengan gambar dan benda asli, aisyah paham besar dan kecil.
4. Mba Wiwit:
Bunda2..kmrn sempet saya stimulasi Satria (6 yo) mengenai waktu (jam)
tp msh sebatas jam nya di jarum pendek..hihi boleh minta saran dan sharing pengalaman klo ngajarin soal waktu?. Ada pengalaman dr fasil atau bunda2
Usia berapa yg tepat ya atau bs share pengalamannya 🙏
Mba laila:
Saya menstimulasi tentang jam pada Michel saat 7 tahun, tp ya tergantung kesiapan anaknya sih...
Saya buat model jam di karton yg bisa saya dan Michel pijak....
Saya jelasin per angka itu 5 menit... start dari angka 12.
Eiit....
saya awalnya mengajarkan jam 12 pas, jam 1 pas, 2.00 dan seterusnya....
Kemudian baru saya lanjutkan kalau jarumnya di angka 5 terus panjangnya di angka satu, artinya jam 5 lewat lima menit...
clue-nya udah saya kasih tau duluan per angka itu butuh waktu 5 menit
setelah agak faham... kami mulai loncat-loncat...
"Kalau ummi disini?"
(jarum pendeknya letakkan benda/penggaris)
kalau tanyain jarum pendek di angka berapa?
jarum panjang di angka berapa sdh sejak 5yo,
emak males liat jam ke ruang tengah misalnya...😆
Kalau ajarin menit nanti bisa maen stopwatch dg denyut nadi.....🙏🏿
atau main atur timer di hp ummi, 1 menit selesai baca brp kalimat d buku...
Mba Diah:
Mirip dg mb laila
Kalo saya dulu kenalkan dg jarum pendek dulu, lalu praktek dg rutinitas di rumah
Jam 4 sore waktunya mandi, jam 6 sholat maghrib, jam 8 tidur
Setelah paham, baru dikenalkan dg jarum panjang, setengah, seperempat, lalu ke menit
Mba Asti:
Dikaitkan dengan aktivitas mak. Misal, setengah 5 bangunin sambil mengucapkan bangun yuk, sudah jam setengah 5. Trus mandi pagi, mandi yuk, sudah jam setengah 7, sambil nunjuk jam analog. Dst
Mba Ika:
Ini saya, Mba. Tanya jam berapa sekarang? Jarum panjangnya di angka berapa, jarum pendek di angka berapa? Usia si abang 5 tahun. Baca buku cerita yang tentang jam. Lalu, kalau si abang tanya jam berapa, saya jawab lengkap deh.
Mba Wiwit:
Masyaa Allah 😍 sip2 tercerahkan..jazakunallah khairan ya tim fasil bunda2 🙏🏼
Noted :
dikaitkan dg aktifitas &
Bikin ilustrasi
Baru bikin jadwal harian Satria tp blm dibarengin sm ilustrasi jam nya, jd tercerahkan deh malam ini..terima kasih 😘
5. Mba Laila:
Ada pengalaman dengan anak2 yg udah sekolah?
Kelas 4 keatas?
Mba Diah:
Kalo klas 4 ke atas lebih gampang ngobrolnya
Ngebahas rumus math, cara kerja pedometer, papan penunjuk waktu kedatangan transjakarta, financial planning 😁
Mba Asti:
Hi3x emaknya yg sampai kewalahan ya
6. Mba Wiwit:
Serunyaaa 😄
Sharing tentang financial planning activity nya dung Mba Di
Mba Laila:
Financial planing Michel masi berkala....
Ada tipsnya biar dia semangat isi jurnal keuangannya mba @Diah Soehadi IIP Emaknya yg minderan klo g jago matematika, baiknya hrs gimana ya biar PeDenya muncul..?.🙏🏻
Mba Asti:
Pakai the power of google mb.. kadang pertanyaan2 anak gampang tapi jawabnya yg susah 😅
Kalau aku, mengakui di depan anakku kalau aku ga tau, yuk cari bareng
Mba Laila:
saya suka bilang "kita tanya ayah ya... ummi blm tau..."
jadi, bagi anak2 si ayahlah pak google...
Mba Diah:
Finplan saya mulai 2th yg lalu, saat arya ingin daoat uang saku spt teman2 sekolahnya
Setelah berdiskusi kami sepakat poin2 home chores yg dikerjakan arya busa ditukar dg koin, awalnya 5poin = 500, skrg 5poin = 1000
Seminggu sekali nukarnya, dari uang yg terkumpul wajib dibagi 3, jajan/infaq/tabungan , pembagiannya terserah arya, pemakaiannya juga terserah arya
7. Tantia:
Finplan mulai dapat di ajarkan usia berapa ya?
Mba Diah:
Waktu itu arya umur 8th
Imho saat anak sdh butuh uang itu saat yg tepat mengenalkan ttg fin plan
Mba Diah:
Awalnya jajan pasti dpt porsi plg banyak, ibarat 10rb , jajannya bisa 8rb sendiri 😅
Skrg alhamdulillah sdh cukup baik pengaturannya
Malah infaq dan tabungan kadang lbh besar drpd jajan
Mba Ika: Bisa dicoba pada adli ni. Pas 8 tahun
Adli lagi suka baca buku Keluarga Super Irit, ada buku pengeluaran keuangan. Dia tampak termotivasi membuat buku pengeluaran
Mba Diah:
Buat saya yg penting anak terbiasa kalo terima rejeki langsung dibagi 3 , meskipun rejeki itu hak nya
Mba Laila:
Alhamdulillah....
Tuntas sudah level#6 kita lewati bersama, sudah setengah perjalanan kita lalui di Kelas Bunda Sayang, mudah2an jadi bekal kita membersamai buah hati, dan jadi Saksi di Yaumil Mizan kelak, bahwa kita menginfakkan sebagian waktu kita bersama-sama saling belajar di sini... Allahumma Aamiiin...
Sampai ketemu di level selanjutnya...
Asslm.wr wb....😍💪🏿🙏🏿
Pukul : 20.00-21.00
Narasumber : Mba Diah & Mba Laila
Host : Mba Ika
Notulen : Tantia
MENSTIMULUS KECERDASAN MATEMATIS LOGIS
Bunda setelah kurang lebih selama 1 bulan kita belajar bersama tentang bagaimana menstimulus kecerdasan matematis logis pada diri kita dan anak-anak, maka sekarang kita bisa merasakan bahwa matematika itu bukanlah sesuatu yang jadi momok buat anak-anak. Matematika itu sangat dekat dengan kita. Kalau dulu bahkan sampai saat ini kita merasakan bahwa "matematika" itu adalah pelajaran yang sulit, kemungkinan besar karena kita menjalani proses yang salah. Itulah pentingnya mengapa kita harus mengubah konsep pemahaman kita tentang matematika di Institut ibu Profesional ini, sehingga anak-anak kita akan selalu bahagia dengan matematika.
Sebagaimana kita tahu, matematika adalah sarana agar anak-anak kita memiliki kemampuan:
a. Berpikir logis
b. Berpikir Kritis
c. Memecahkan masalah secara sistematis
d.Melatih ketelitian, kecermatan dan kesabaran
e.Menarik kesimpulan secara deduktif (menarik kesimpulan berdasarkan pola yang umum. Hal ini akan membiasakan otak kita untuk berpikir secara objektif)
Apabila melihat kelima hal diatas, sudah selayaknya kita sebagai orangtua tidk terpaku dan bahkan stress untuk hal-hal kecil di konten matematikanya. Misal ketika anak-anak kita latih perkalian saja tidak hafal-hafal. Jangan sampai gagal fokus, karena yang kita sasar adalah kemampuan life skill anak melalui matematika, bukan kemampuan anak menghafal ilmu di matematika. Sehingga kita harus pandai untuk mencari celah dan mencari jalan lewat ilmu matematika yang mana agar anak-anak kita memiliki life skill seperti yang disebutkan di atas.
Contoh :
Studi Kasus: Ketika ada seorang anak yang sudah kelas 3 ke atas, sangat susah menghafal perkalian.
Solusi : maka kita tidak akan memaksa anak tersebut setiap hari dengan berbagai hafalan. Kita akan melatih kemampuan berpikir logisnya.
Kegiatan : Ambil matematika dalam kehidupan sehari-hari, misal, label obat, kemudian lihat di label tersebut, apoteker menuliskannya adalah 3 x 1. Kira-kira menurut kakak apa artinya 3 x1 di aturan minum obat ini? Anak-anak akan berpikir dan mencari jawaban berdasarkan pengalamannya minum obat saat sakit : pagi minum 1 kapsul, siang 1 kapsul dan malam 1 kapsul
Stimulus : Setelah jawaban berpikir logisnya berjalan, kita stimulus dengan berpikir kritisnya.
" Andaikata apoteker itu menulisnya 1 x 3, apa kira-kira yang harus kita lakukan, apakah ada bedanya dengan 3 x 1?"
Kegiatan : Anak mulai melatih kemampuan memecahkan masalahnya secara sistematis. Berikan ruang anak untuk menyampaikan gagasannya tentang 3 x 1 dan 1 x 3, tanpa kita buru-buru menyalahkan atau mengoreksi.
Kegiatan bermain:
a. Siapkan pernak-pernik yang berjumlah 6, (bisa 6 kerikil, 6 permen atau 6 buah mainan yang sama) dan 6 piring kecil-kecil
b. Ibu memberikan perintah, yuk kita lomba menata perkalian 3 x 1 dengan piring dan pernak-pernik.
c. Ibu menata piring dan kerikilnya sendiri, anak menata piring dan kerikilnya sendiri.
d. Ibu melihat apa yang ditata anak misal anak menata 3 piring, masing-masing diisi 1 kerikil. Ibu memberikan komentar "Aha, keren banget Ina sudah bisa membuat perkalian 3 x 1"
Kemudian anak diminta lihat apa yang ditata ibu, misal ibu mengambil 1 piring, diisi 3 kerikil.
"Kalau milik ibu ini model perkaliannya seperti apa ya kak?'
Anak mulai menyambungkan informasi satu persatu dan menjawab "1 x3"
e.Ibu memberikan tantangan baru, " Sekarang kita coba buat perkalian 3x2, yuk
Makin terasa ringan kan, kalau matematika kita dekatkan dengan hal-hal yang realistik di kehidupan anak-anak. Pendekatan matematika secara realistik ini harus bunda jadikan modal belajar agar anak-anak suka belajar matematika. Kalau anak-anak sudah suka, mereka akan menjadi pembelajar mandiri, dan kita cukup menjadi teman belajarnya saja.
Yang perlu kita ingat dalam pembelajaran matematika secara realistik adalah :
a.Anak-anak diajak untuk menemukan kembali bagaimana para ahli dulu menemukan rumus matematika dan ilmu matematika dengan bimbingan kita ( Guided Reinvention). Anak-anak akan mengalami proses menemukan kembali konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika sebagaimana ketika konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika itu dulu ditemukan. Sebagai sumber inspirasi untuk merancang pembelajaran matematika yang menekankan prinsip penemuan kembali (re-invention), dapat digunakan sejarah penemuan konsep/prinsip/rumus matematika.
b. Pengetahuan matematika dan pengetahuan lain secara umum, tidak dapat ditransfer atau diajarkan melalui pemberitahuan dari ibukepada anak, melainkan anak sendirilah yang harus mengkontruksi (membangun) sendiri pengetahuan itu melalui kegiatan aktif dalam belajar.
c, Menyiapkan model-model yang dibangun sendiri ( self-Developed Models). Sehingga kita bisa mengaktualisasikan masalah kontekstual ke dalam bahasa matematika, yang merupakan jembatan bagi anak untuk membuat sendiri model-model dari situasi nyata ke abstrak atau sebaliknya.
Semoga dengan pemahaman ini kita makin paham untuk apa anak-anak kita perlu belajar matematika. Bukan sekedar angka yang tertulis di rapot, bukan juga sekedar menambah hafalan anak-anak tentang rumus-rumus matematika, tapi lebih dari itu matematika merupakan salah satu pintu masuk anak untuk mendapatkan ketrampilan hidupnya sehingga bisa lebih siap menjalankan peran di dalam kehidupannya kelak.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
Sumber Bacaan:
Fauzan, A. (2002). Applying realistic mathematics education in teaching geometry in Indonesian primary schools. Doctoral dissertation. Enschede: University of Twente
Septi Peni (2004) Jarimatika : Mengenalkan Konsep Perkalian Secara Mudah dan Menyenangkan, Kawan Pustaka, Jakarta
??? DISKUSI???
Host:
Assalamu'alaikum teman-teman Bunda Sayang..
Malam ini, pukul 20.00-21.00 wib, kita akan berdiskusi mengenai T10H yang baru saja kita selesaikan bersama.
Apakah ada yang sudah siap berdiskusi?
Alhamdulillah sudah ada beberapa orang yang hadir.
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Insya Allah selama satu jam ke depan, kita akan berdiskusi mengenai Menstimulasi Kecerdasan Matematika Logis pada anak.
Dipandu oleh Mba Laila Muhammad dan Mba Diah Soehadi.
Mba Diah:
Setoran game teman2 disink sangat inspiratif 👍🏼👍🏼
Mba Laila:
Sepakaaaaaat.....
mulai dari dapur, ke gunung, sampai pembalut....kompliiiiiiiit....😂
Mba Diah:
Betul betul betul.. 😂😂
Adakah kesulitan saat menjalankan bersama ananda? Yuk ditunggu sharingnya 🤗
1. Mba Ika:
Alhamdulillah, ini T10H kali ini favorit saya.. kayaknya semua bisa dijadikan matematika 😁
Mba Diah:
Tosss 🙌🏼
Kali ini ga perlu mikir ya mb ika, ngalir aja 🤗
Mba Ika: Hihihihi. Iya mba... Sambil nyetir juga bisa mainan matematika
Mba Laila:
Ada yang kelelahan karena si adek selalu heboh dengan matematika?....
"ummi....lingkaran" (sambil tunjukin biskuit)
Besoknya tunjukin buku ayah lebih berat dari bukunya....
besoknya dia udah kelompokkan bola ajaib bdasarkan warna....
Emaknya g smpat cekrek apload....ehehehhehehe...
2. Mba Wita:
Dari semua tantangan, entah kenapa mbak, ini yang paliiiiing natural dan mengalir😍
Mba Diah:Toss juga mb wita 🙌🏼
Mba Wita: Hihihi 🤗
Mba Laila: Nyuruh mandi aja ada matematikanya ya....😆
3. Mba Diah: Kalo yang anandanya masih batita, ada yg mengalami kesulitankah? Mba Ika: Pernah sekali waktu, ngomongin besar kecil sama Aisyah tanpa gambar, tanpa benda. Asli, kacauu... Bis sama mobil lebih besar mobil. Abang dengan aisyah, lebih besar aisyah...
Tapi pas besoknya dicoba dengan gambar dan benda asli, aisyah paham besar dan kecil.
4. Mba Wiwit:
Bunda2..kmrn sempet saya stimulasi Satria (6 yo) mengenai waktu (jam)
tp msh sebatas jam nya di jarum pendek..hihi boleh minta saran dan sharing pengalaman klo ngajarin soal waktu?. Ada pengalaman dr fasil atau bunda2
Usia berapa yg tepat ya atau bs share pengalamannya 🙏
Mba laila:
Saya menstimulasi tentang jam pada Michel saat 7 tahun, tp ya tergantung kesiapan anaknya sih...
Saya buat model jam di karton yg bisa saya dan Michel pijak....
Saya jelasin per angka itu 5 menit... start dari angka 12.
Eiit....
saya awalnya mengajarkan jam 12 pas, jam 1 pas, 2.00 dan seterusnya....
Kemudian baru saya lanjutkan kalau jarumnya di angka 5 terus panjangnya di angka satu, artinya jam 5 lewat lima menit...
clue-nya udah saya kasih tau duluan per angka itu butuh waktu 5 menit
setelah agak faham... kami mulai loncat-loncat...
"Kalau ummi disini?"
(jarum pendeknya letakkan benda/penggaris)
kalau tanyain jarum pendek di angka berapa?
jarum panjang di angka berapa sdh sejak 5yo,
emak males liat jam ke ruang tengah misalnya...😆
Kalau ajarin menit nanti bisa maen stopwatch dg denyut nadi.....🙏🏿
atau main atur timer di hp ummi, 1 menit selesai baca brp kalimat d buku...
Mba Diah:
Mirip dg mb laila
Kalo saya dulu kenalkan dg jarum pendek dulu, lalu praktek dg rutinitas di rumah
Jam 4 sore waktunya mandi, jam 6 sholat maghrib, jam 8 tidur
Setelah paham, baru dikenalkan dg jarum panjang, setengah, seperempat, lalu ke menit
Mba Asti:
Dikaitkan dengan aktivitas mak. Misal, setengah 5 bangunin sambil mengucapkan bangun yuk, sudah jam setengah 5. Trus mandi pagi, mandi yuk, sudah jam setengah 7, sambil nunjuk jam analog. Dst
Mba Ika:
Ini saya, Mba. Tanya jam berapa sekarang? Jarum panjangnya di angka berapa, jarum pendek di angka berapa? Usia si abang 5 tahun. Baca buku cerita yang tentang jam. Lalu, kalau si abang tanya jam berapa, saya jawab lengkap deh.
Mba Wiwit:
Masyaa Allah 😍 sip2 tercerahkan..jazakunallah khairan ya tim fasil bunda2 🙏🏼
Noted :
dikaitkan dg aktifitas &
Bikin ilustrasi
Baru bikin jadwal harian Satria tp blm dibarengin sm ilustrasi jam nya, jd tercerahkan deh malam ini..terima kasih 😘
5. Mba Laila:
Ada pengalaman dengan anak2 yg udah sekolah?
Kelas 4 keatas?
Mba Diah:
Kalo klas 4 ke atas lebih gampang ngobrolnya
Ngebahas rumus math, cara kerja pedometer, papan penunjuk waktu kedatangan transjakarta, financial planning 😁
Mba Asti:
Hi3x emaknya yg sampai kewalahan ya
6. Mba Wiwit:
Serunyaaa 😄
Sharing tentang financial planning activity nya dung Mba Di
Mba Laila:
Financial planing Michel masi berkala....
Ada tipsnya biar dia semangat isi jurnal keuangannya mba @Diah Soehadi IIP Emaknya yg minderan klo g jago matematika, baiknya hrs gimana ya biar PeDenya muncul..?.🙏🏻
Mba Asti:
Pakai the power of google mb.. kadang pertanyaan2 anak gampang tapi jawabnya yg susah 😅
Kalau aku, mengakui di depan anakku kalau aku ga tau, yuk cari bareng
Mba Laila:
saya suka bilang "kita tanya ayah ya... ummi blm tau..."
jadi, bagi anak2 si ayahlah pak google...
Mba Diah:
Finplan saya mulai 2th yg lalu, saat arya ingin daoat uang saku spt teman2 sekolahnya
Setelah berdiskusi kami sepakat poin2 home chores yg dikerjakan arya busa ditukar dg koin, awalnya 5poin = 500, skrg 5poin = 1000
Seminggu sekali nukarnya, dari uang yg terkumpul wajib dibagi 3, jajan/infaq/tabungan , pembagiannya terserah arya, pemakaiannya juga terserah arya
7. Tantia:
Finplan mulai dapat di ajarkan usia berapa ya?
Mba Diah:
Waktu itu arya umur 8th
Imho saat anak sdh butuh uang itu saat yg tepat mengenalkan ttg fin plan
Mba Diah:
Awalnya jajan pasti dpt porsi plg banyak, ibarat 10rb , jajannya bisa 8rb sendiri 😅
Skrg alhamdulillah sdh cukup baik pengaturannya
Malah infaq dan tabungan kadang lbh besar drpd jajan
Mba Ika: Bisa dicoba pada adli ni. Pas 8 tahun
Adli lagi suka baca buku Keluarga Super Irit, ada buku pengeluaran keuangan. Dia tampak termotivasi membuat buku pengeluaran
Mba Diah:
Buat saya yg penting anak terbiasa kalo terima rejeki langsung dibagi 3 , meskipun rejeki itu hak nya
Mba Laila:
Alhamdulillah....
Tuntas sudah level#6 kita lewati bersama, sudah setengah perjalanan kita lalui di Kelas Bunda Sayang, mudah2an jadi bekal kita membersamai buah hati, dan jadi Saksi di Yaumil Mizan kelak, bahwa kita menginfakkan sebagian waktu kita bersama-sama saling belajar di sini... Allahumma Aamiiin...
Sampai ketemu di level selanjutnya...
Asslm.wr wb....😍💪🏿🙏🏿
Komentar
Posting Komentar