Bismillahirrohmanirrohiim….
Rasa syukur tak henti - hentinya saya panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan nikmat berupa nikmat iman, islam dan bertholabul ilmi. Alhamdulillah Allah mudahkan ikut perkuliahan Bunda Sayang dan ada tantangannya, sehingga saya bisa untuk belajar dan berinstrospeksi sejauh mana pola komunikasi saya dengan keluarga kecil saya.
Di hari ke 2 tantangan ini saya mencoba untuk praktek berkomunikasi dengan Anak, khususnya anak kedua saya aisyah 6,5 tahun. Aisyah sudah bersekolah kelas 1 SD. Seperti biasanya aktivitas pagi adalah untuk bersiap - siap berangkat sekolah.
Aisy bangun tidur jam 5.15 an kemudian kekamar mandi pipis. Saya menginggatkan untuk solat subuh tapi masih ngantuk dan belum dilaksanakan. Kemudian nulis - nulis, dan saya tanya lagi belum solat, saya biarkan dan suami menginggatkan untuk solat subuh.
setelah itu terjadilah percakapan antara saya dan aisy,
Umi : kak umi sudah masak bawa bekel nasi, lauk dan sayur ya…,
Aisy : gak mau aku maunya nasi dan lauk aja.
Umi : ya kalau makan tu ya gak lauknya saja, pakai sayur, kemaren kan ngeluh sakit perut, apa karena aku kurang sayur ya mi… ( saya ingatkan begitu)
Aisy: gak mau…. Ya gak mau...
Umi: mulai dongkol emosi, ngomel. ya sudah kakak bawa bekel yang mau apa silahkan d ambil( intonasi suara rendah , tp blum ikhlas)
Aisy : mukul- mukul meja, nendang-nendang umi dan nangis
Siapkan bekalnya hua… hua… gak teman, umi sana...
Umi : (Kepancing emosi) gak teman biarin...
Kak… umi mau nyiapin bekal asal kakak tenang dan tidak mukul - mukul
Aisy : masih emosi… mulai diam
Umi : Kak coba lihat jam, kakak blum makan dan mandi, mau makan dan mandi jam berapa
Aisy : mau makan dulu baru mandi
Umi : nyiapin bekal
Aisy: Mandi bareng adek
Dari percakapan ini saya merasa dan ini menjadi kendala saya dan anak saya belum menemukan komunikasi produktif, saya menyadari sering ketika anak “berulah” dalam kaca mata saya( baca tidak sesuai harapan saya) mendorong emosi saya emosi negatif jadi tidak bisa berfikir jernih akhirnya yang keluar ketidak sabaran dan kata- kata yang tidak santun.
Dari pelajaran ini saya ingin memperbaiki komunikasi produktif saya dengan anak saya yaitu mulai mempraktekkan tahap demi tahap dalam komunikasi dengan Anak dan senantiasa bertazkiytun Nafs.
# hari 2
# tantangan 10 hari
#komunikasi produktif
#kuliahbunsayiip
Rasa syukur tak henti - hentinya saya panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan nikmat berupa nikmat iman, islam dan bertholabul ilmi. Alhamdulillah Allah mudahkan ikut perkuliahan Bunda Sayang dan ada tantangannya, sehingga saya bisa untuk belajar dan berinstrospeksi sejauh mana pola komunikasi saya dengan keluarga kecil saya.
Di hari ke 2 tantangan ini saya mencoba untuk praktek berkomunikasi dengan Anak, khususnya anak kedua saya aisyah 6,5 tahun. Aisyah sudah bersekolah kelas 1 SD. Seperti biasanya aktivitas pagi adalah untuk bersiap - siap berangkat sekolah.
Aisy bangun tidur jam 5.15 an kemudian kekamar mandi pipis. Saya menginggatkan untuk solat subuh tapi masih ngantuk dan belum dilaksanakan. Kemudian nulis - nulis, dan saya tanya lagi belum solat, saya biarkan dan suami menginggatkan untuk solat subuh.
setelah itu terjadilah percakapan antara saya dan aisy,
Umi : kak umi sudah masak bawa bekel nasi, lauk dan sayur ya…,
Aisy : gak mau aku maunya nasi dan lauk aja.
Umi : ya kalau makan tu ya gak lauknya saja, pakai sayur, kemaren kan ngeluh sakit perut, apa karena aku kurang sayur ya mi… ( saya ingatkan begitu)
Aisy: gak mau…. Ya gak mau...
Umi: mulai dongkol emosi, ngomel. ya sudah kakak bawa bekel yang mau apa silahkan d ambil( intonasi suara rendah , tp blum ikhlas)
Aisy : mukul- mukul meja, nendang-nendang umi dan nangis
Siapkan bekalnya hua… hua… gak teman, umi sana...
Umi : (Kepancing emosi) gak teman biarin...
Kak… umi mau nyiapin bekal asal kakak tenang dan tidak mukul - mukul
Aisy : masih emosi… mulai diam
Umi : Kak coba lihat jam, kakak blum makan dan mandi, mau makan dan mandi jam berapa
Aisy : mau makan dulu baru mandi
Umi : nyiapin bekal
Aisy: Mandi bareng adek
Dari percakapan ini saya merasa dan ini menjadi kendala saya dan anak saya belum menemukan komunikasi produktif, saya menyadari sering ketika anak “berulah” dalam kaca mata saya( baca tidak sesuai harapan saya) mendorong emosi saya emosi negatif jadi tidak bisa berfikir jernih akhirnya yang keluar ketidak sabaran dan kata- kata yang tidak santun.
Dari pelajaran ini saya ingin memperbaiki komunikasi produktif saya dengan anak saya yaitu mulai mempraktekkan tahap demi tahap dalam komunikasi dengan Anak dan senantiasa bertazkiytun Nafs.
# hari 2
# tantangan 10 hari
#komunikasi produktif
#kuliahbunsayiip
Komentar
Posting Komentar