RESUME MATERI DAN TANYA JAWAB
KELAS BUNDA SAYANG IIP DEPOK BATCH #1
KULWAPP SESI 1, 23 JANUARI 2017, PUKUL
20.00-21.00
KOMUNIKASI PRODUKTIF
Selisih paham sering kali muncul
bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal
ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif, agar tidak mengganggu hal penting yang ingin
kita sampaikan, baik kepada diri
sendiri, kepada pasangan hidup kita dan
anak-anak kita.
KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI
Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri
kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa
komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.
Kita mulai dari pemilihan kata yang
kita gunakan sehari-hari.
Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir
dan cara kita berpikir
Ketika kita selalu berpikir positif
maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian
juga sebaliknya.
Kata-kata anda itu membawa energi,
maka pilihlah kata-kata anda
Kata
masalah gantilah dengan tantangan
Kata Susah gantilah dengan Menarik
Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu
Ketika kita berbicara “masalah” kedua
ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan
tidak bisa melihat solusi.
Tapi jika kita mengubahnya dengan
“TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan
bekerja mencari solusi.
Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah
pencerminan diri kita yang sesungguhnya
Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak.
Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan
lebih bermakna.
Jika diri kita masih sering berpikiran
negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif,
demikian juga sebaliknya.
KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN
Ketika berkomunikasi dengan orang
dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa
“aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.
Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang
berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda,
belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi
hal lainnya.
Maka sangat boleh jadi pasangan kita
memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda
dengan kita.
FoR adalah
cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal
dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.
FoE adalah
serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan
sikap mental seseorang.
FoE dan FoR mempengaruhi persepsi
seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.
Jadi jika pasangan memiliki pendapat
dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR
nya memang berbeda.
Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN
yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula
SEBALIKnya.
Komunikasi yang baik akan membentuk
FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA
Sehingga ketika datang informasi akan dipahami
secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan
sesuatu, pasangan akan menerima pesan
kita itu seperti yang kita inginkan.
Komunikasi menjadi bermasalah ketika
menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan
singkirkan sudut pandangmu.
Pada diri seseorang ada komponen
NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi
tinggi
Komunikasi antara 2 orang dewasa
berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek
emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.
Maka bila Anda dan pasangan masih
masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka
selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan
untuk problem solving.
Bila Emosi anda dan pasangan sedang
tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi
kembali dengan baik.
Ketika Emosi berada di puncak amarah
(artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi
disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang
bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.
Ada beberapa kaidah yang dapat
membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:
1. Kaidah 2C: Clear and Clarify
Susunlah pesan yang ingin Anda
sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan.
Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.
Berikan kesempatan kepada pasangan
untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak
dipahaminya.
2. Choose the Right Time
Pilihlah waktu dan suasana yang
nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski
demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya
berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.
3. Kaidah 7-38-55
Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada
komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek
verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.
Komponen yang lebih besar
mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh
(55%).
Anda tentu sudah paham mengenai hal
ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!"
namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang
maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang
lebih Anda percayai?
Nah, demikian pula pasangan dalam
menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata,
intonasi dan bahasa tubuh Anda.
4. Intensity of Eye Contact
Pepatah mengatakan mata adalah
jendela hati
Pada saat berkomunikasi tataplah mata
pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur,
tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat
mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi
sesuatu apapun.
5. Kaidah: I'm responsible for my communication results
Hasil dari komunikasi adalah tanggung
jawab komunikator, si pemberi pesan.
Jika si penerima pesan tidak paham
atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa
yang dipahaminya.
Perhatikan senantiasa responnya dari
waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi
bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya
rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.
KOMUNIKASI DENGAN ANAK
Anak –anak itu memiliki gaya
komunikasi yang unik.
Mungkin mereka tidak memahami
perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy
Sehingga gaya komunikasi anak-anak
kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.
Maka kitalah yang harus belajar gaya
komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk
memahami gaya komunikasi orangtuanya.
Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi
anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita
yang harus memahami mereka.
Bagaimana Caranya ?
a. Keep Information Short & Simple (KISS)
Gunakan kalimat tunggal, bukan
kalimat majemuk
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya
langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu,
dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.
✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya
langsung dijemur ya” ( biarkan aktivitas
ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)
b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ?
selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang
ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi
intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh
⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum,
tanpa menatap wajahnya)
✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya”
(suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)
Hasil perintah pada poin 1 dengan 2
akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut.
Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.
c. Katakan apa yang kita inginkan,
bukan yang tidak kita inginkan
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame
terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”
✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat
waktu dan rajin belajar”
d. Fokus ke depan, bukan masa lalu
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma
dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar,
lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok.
Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”
✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya
tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu
bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”
e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”
Otak kita akan bekerja seseai kosa
kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan
data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor
penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal
tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula
dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor
penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.
f. Fokus pada solusi bukan pada masalah
⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah
hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya,
tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”
✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara
mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap
kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain,
dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.
g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Berikanlah pujian dan kritikan dengan
menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik.
Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita
mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.
⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”
✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu
tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”
“Kak, bahasa tubuhmu saat kita
berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu,
bisakah kamu perbaiki lagi?”
h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman
⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas,
malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal
berangkat”
✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal
barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa
banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari
menjelang tidur.
I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah?
Main apa saja tadi di sekolah?
✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali
hari ini,sepertinya bahagia sekali di
sekolah, boleh berbagi kebahagiaan
dengan ibu?”
j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang
menunjukkan empati
⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja
capek?"
✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling
membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?
k. Ganti perintah dengan pilihan
⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”
✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan
main 5 menit lagi, baru mandi, atau
mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat
Salam Ibu Profesional,
/Tim Bunda Sayang IIP/
Sumber bacaan:
Albert Mehrabian, Silent Message :
Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000
Dodik mariyanto, Padepokan Margosari
: Komunikasi Pasangan, artikel, 2015
Institut Ibu Profesional, Bunda
Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014
Hasil wawancara dengan Septi Peni
Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari
SESI TANYA JAWAB
🎤Bunda Laela
Ketika dalam keadaan sadar,
pilihan kata utk komunikasi efektif ini
sudah ada di kepala, tapi pada prakteknya menguap ketika emosi menguasai,sudah
berusaha meredakan emosi menurunklan ointonasi,duduk minum air putih seperti
yang dilakukan bu septi tapi tetap pemilihan kata kata yang keluar tidk sesuai
komnsep awal. Bagaimana menyiasatinya?
Jawab:
Mbak Laila, memang butuh latihan.
Saat emosi menguasai, yang saya lakukan lebih baik diam, menarik nafas dalam,
beristigfar dan membaca taawudz, tidak mengatakan apapun. Sampai hati saya
tenang dan menccoba menyusun kata2 dulu dalam hati sebelum diucapkan.
Menimbang, kalau saya ucapkan ini apa yang akan terjadi, kalau mengucapkan itu
apa yang akan terjadi. Kalau marah sama anak, sebisa mungkin hanya menarik
nafas dalam sambil menatap matanya. Setelah merasa tenang baru menyampaikan
kesalahan apa yang dia lakukan. Apa yang seharusnya, lalu peluk dan sampaikan
kepercayaan kita kalau anak kita bisa melakukan sesuai dengan apa yg kita
harapkan.
Kalau kita belum bisa mengendalikan
kata2 kita, lebih baik diam.
Semangat untuk terus berlatih ya mbak
laila 💪✅
🎤Bunda Tika
Anak sy 6y terlanjur ngikutin gaya
marah saya 😖 dia copy paste saya bangeeettt
ampunnn
Dan ternyata nyebelinnya ruar biasa
Gimana ya cara utk merubahnya
Sy percaya pasti bisa tp kok belom
nemu kuncinya
Tiap sy berusaha utk bersikap
positif..ngomong baik2 kok malah makin diledek hihi
Jawab :
Bunda Tika, kunci yang pertama adalah
istigfar dan tanamkan dalam hati kalau kita tidak akan mengulangi kesalahan
kita, dan kembalikan menjadi sebuah doa dengan harapan bisa tercipta komunikasi
produktif di dalam keluarga kita.
Yang kedua, minta maaf sama anak kita
kalau tindakan marah yang kita lakukan dulu saat marah itu tidak baik dan bunda
tika menyesal. (Choose the right time)
Yang ketiga jangan berespon apapun
saat anak sedang marah, cuekin saja dan pantau dia.
Yang keempat berikan contoh yang baik
tentang komunikasi produktif dalam berbagai situasi, termasuk saat marah.
Cmiiw ✅
🎤Bunda Arssy
Assalamualaikum
Bagaimana cara memperbaiki komunikasi
efektif pada anak yg sudah terlanjur tidak efektif sblm nya........mksh
Jawab :
Bunda Arssy, jangan berpikir untuk
mengubah orang lain, apalagi berharap banyak dengan perubahan mereka. Terima
apapun kenyataannya.
Mulailah dengan diri sendiri. Berikan
contoh bagaimana cara berkomunikasi dengan produktif dirumah. Setahap demi
setahap. Lakukan dengan antusias. Sertai dengan doa.
InsyaAllah perubahan akan terjadi
walau sedikit demi sedikit.
Selamat berlatih...✅
🎤Bunda Ika
Assalamualaikum Bagaimana cara
mengkomunikasikan kpd org tua kita (kakek neneknya anak2) menjelaskan bahwa ada
beberapa pola asuh kami yg berbeda dengan pola asuh orang tua kita dulu. Agar
tidak menyinggung perasaan orang tua dan orang tua bisa menerima dan memahami
pilihan pola asuh kita. Terimakasih sebelumnya mbaa.. 😊
Jawab :
Bunda Ika...
Sebelum berkomunikasi dengan orang
tua, pastikan kondisi emosi kita sedang stabil. Pilih waktu yang tepat untuk
berkomunikasi dengan mereka. Terima mereka sebagi orang yang punya banyak
pengalaman dalam pengasuhan. Pilah dulu mana yang sesuai dan mana yang tidak
sesuai. Sampaikan apresiasi untuk pola asuh yang sesuai, baru sampaikan hal2
yang tidak sesuai.
Cmiiw ✅
🎤Bunda Resti
Pertanyaan saya bagaimana membatasi
penggunaan gadget (hp & laptop) utk anak2 karena walaupun sdh ada jdwlnya
dia selalu merengek..awal2 saya tega karena sdh kesepakatan bersama, tapi lama-
lama anak itu menjadi gampang emosi. Pertanyaan ke 2 Bagaimana cara komunikasi
yg paling efektif utk memberi pengertian padanya.
Jawab :
Bunda Resti...
Pastikan kita komitmen dengan
kesepakatan yang telah kita buat. Tidak mudah luluh dengan rengekan anak kita,
tegas (bukan galak)
Alihkan perhatian anak kita dengan permainan
yang lebih menarik daripada main gadget.
Kalau saya, biasanya dengan kalimat
"Aha, bunda punya ide... bagai mana kalau kita main petak umpet?"
Misalnya atau dengan mengajaknya jalan2. Ataw permainan apa saja yang anak kita
sukai.
Kalau kata Elan :"orang tua
harus lebih update" ketimbang game di gadget.
Kuncinya kita harus menciptakan
permainan yg lebih menarik. ✅
🎤Bunda Poppy
Dalam berkomunikasi dengan anak,
seperti kebiasaan pada umumnya, ada intonasi/kalimat2 yg secara tidak sadar
saya ucapkan di hadapan anak. Yang sebenarnya hal tersebut tidak saya sukai.
(biasanya terucap dalam keadaan
terburu-buru, tertekan, sambil mengerjakan pekerjaan deadline, dll).
Lalu ternyata di kesempatan lain,
anak meniru hal tersebut...
Bagaimana cara menyikapinya?
Bisakah saya dan anak saya berubah?
Jawab :
Bunda Popi, pertanyaannya mirip dengan
pertanyaan mbak Laela ya...
Apakah pernah mendengar kata
mindfulness?
Intinya adalah sadar penuh (utuh
100%) disini, dan saat ini.
Manajemen waktu.
Kalau bisa, saat bersama anak,
tinggalkan aktivitas yang lain. Hadirkan diri kita untuk anak 100%. Tanpa
memikirkan apapun. Buat kesepakatan bahwa kita akan bermain dengan anak mulai
pkl sekian sampai pkl sekian (pasang alarm). Sampaikan, kalau waktunya habis,
saatnya kita melakukan pekerjaan kita mulai pkl berapa sampai pukul berapa.
Lalu bisa main lagi sama anak kita.
Untuk pertanyaan kedua, jawabannya
adalah "*BISA*"
Sertai dengan tawakal dan doa, yakin
Allah yang akan membantu kita. Semangat 💪
🎤Bunda Wiwit
Assalamualaikum..
materi "Komunikasi
produktif" ini sgt Bergizi dan bermanfaat.
Mhn pencerahan bgmn kiat2 step2
komunikasi yg baik dan efektif utk menyamakan FoR & FoE dg orang tua kita
(lingkungan kakek nenek) dlm hal pengasuhan dan mendidik anak? . Bila terkadang
terdapat beda pandangan, agar tdk menyakiti perasaan mereka. Jazakillah khair 😊🙏🏼
Jawab :
Waalaikumussalam...
Bunda Wiwit, cara kita mengetahui FoE
dan FoR seseorang, intinya adalah memahami adat kebiasaan (bisa dipengaruhi
suku dan agama, boleh mencarinya dari berbagai referensi), menggali cerita dan
pengalaman masa lalunya. Sharing pendapat, dengan menceritakan contoh kasun,
dsb.
Intinya sering ngobrol.
Kalau untuk menyampaikan beda
pandangan, td sudah di bahas di jawaban pertanyaan bunda ika.
🎤Bunda Azay
Bagaimana menyatukan FoE & FoR
setiap orang yg berbeda menjadi FoE&FoR bersama? Apa yg mnjadi dasar
menentukan FoE&FoR mana yg lebih baik untuk digunakan? Terima kasih😊
Jawab :
Bunda azay, jawabannua adalah
"proses"
Komunikasi terus menerus. Ngobrol...
Belajar bersama tentang komunikasi
produktif ini. Sampaikan FoE dan FoR kita, dan gali FoE dan FoR suami.
Rujukan yang terbaik adalah
al-qur'an, hadits dan sunah rasul, insyaAllah.
🎤Bunda Hestya
Sebelumnya saya pernah mendapat
materi terkait komunikasi dg anak.Isinya kurang lebih sama dg yg disampaikan
dsini.Saya berusaha mempraktekkan sedini mungkin terhadap anak,mskipun belum
100%.Alhamdulillah,smua terasa lancar.Apapun yg saya sampaikan,seolah terserap
dg sangat baik.Hingga saya merasa sudah mulai banyak kebiasaan2 baik dalam diri
anak saya,seperti merapikan mainan kembali,membuang sampah pada tempatnya tanpa
diingatkan,dll.Tapi,semakin mendekati usia tiga tahun perlahan kebiasaan2 baik
itu seolah memudar.Ketika diingatkan,lebih banyak menolak.Saya merasa sekarang
ini dia lebih susah diatur dibanding sbelumnya.Kira2 faktor apa ya yang membuat
anak saya seperti ini?Lalu bagaimana sebaiknya saya menghadapinnya?
Jawab:
Menantang ya bunda Hestya...😅
Memang, umur 3 th, otak anak sedang
berkembang, rasa ingin tahunya meningkat. Segala hal ingin dia coba...
Kesabaran kita memang diuji.
Tazkiyatunafs secara berkala memang
diperlukan dalam komunikasi produktif ini.
Coba tetap tersenyum saat melihat
tingkah anak yang tidak berkenan di hati kita. Jangan bereaksi saat anak
melakukan hal yang menjengkelkan, dan apresiasi dengan kebaikan yang dilakukannya
(sebutkan kebaikannya) ✅
🎤Bunda Silvia
Ketika gaya komunikasi kita yg
negatif terlanjur sudah ditiru oleh anak ( anak balita khususnya), apa yg harus
dilakukan? Sementara krn sedikitnya ilmu, kita baru memulai merubah diri, dan
dlm proses nya jg sering gagal dan jatuh lagi, kembali mengulang komunikasi
negatif. Bagaimana spy yg membekas di anak adalah yg baik dan positif? Trm ksh
Jawab :
Segera perbaiki, dan tetap konsisten.
InsyaAllah seiring proses yang kita
lakukan kebiasaan lama akan terganti dengan kebiasaan baru, yakinlah..
Sertai dengan tawakal dan doa.
🎤Bunda Dikey
Bolehkah dikaitkan kestabilan emosi
sso berhubungan dg kualitas iman sso?hehehe,,dulu pas jaman blm punya
anak,,bercita2 banget jd ibu yg ngk marah,ngk cerewet,,hehehe,,ternyata ngk
gitu juga y😅klo lihat rumput tetangga,,kok bisa y
sesabar itu,,hehehe,,terus berkaca,,oooo,,bisa jd kualitas iman ibadah sy yg
kurang😅
Jawab:
Betul Bunda,
Dan saat kita mengazamkan diri untuk
menjadi orang yang seperti "itu", disitulah kita akan diuji.
Contoh, saat kita berjanji menjadi
orang yang lebih sabar. Ya... tantangan yang menguji kesabaran kita kan terus
datang.
Pola asuh orang tua kita dulu, tanpa
sadar akan kita tiru saat kita mengasuh anak kita.
Makanya belajar secara kontinu dan
terus menerus mengupgrade diri kita itu sangatlah penting.
Tazkiyatunnafs sepanjang hayat.
Komentar
Posting Komentar